Lembayung Rindu

Lembayung Rindu
Ch. 15 Mencintainya?


__ADS_3

"Mau makan apa Ca?" Tanya Yudhis pada Embun.


"Sama kan saja Dis, aku sedang malas mikir menu makanan." Celetuk Embun membuat Yudhis menggelengkan kepalanya.


"Ikan panggang saus tomat keju?" Tanya Yudhis pada Embun.


"Hmm. . . Boleh boleh. . " Jawabnya seraya menganggukkan kepalanya.


" Ok, minumnya?" Tanya Yudhis.


"Air putih saja, tapi aku juga mau coffe late." Ucapnya.


"Baik Tuan Putri Caca. . " Ujar Yudhis dengan sabarnya.


Entah kenapa setelah pertemuannya dengan Yudhis membuat Embun ingin kembali ke masa kecilnya dulu, dimana dia manja sekali padanya hingga membuat Yudhis kesal padanya.


" Kok dia nggak kesal sih? Padahal kan aku maunya dia kesal." Gerutu Embun.


"Kenapa cemberut? Sedang ada masalah sama pacar? Dia menyakitimu?" Tanya Yudhis pada Embun.


"Aku tidak punya pacar Dis, aku masih ingin fokus dengan karirku, aku masih ingin fokus membahagiakan Ibu." Jawab Embun.


"Benarkah? Oh iya bagaimana kabar Ibu? Sudah lama aku tidak melihatnya." Tanya Yudhis merubah posisi duduknya memandang Embun.


"Ibu baik Dis, oh iya sekarang Ibu ikut aku. Kamu main saja ke rumah kalau ingin bertemu Ibu, pasti Ibu senang bisa ketemu kamu." Ucap Embun pada Yudhis.


"Iya lain waktu aku pasti akan main ke rumahmu. Share saja alamat mu, nanti kalau kangen pasti aku datang." Ucap Yudhis.


"Haiiss. . Kamu ini, siapa yang kangen sama kamu. " Cibir Embun.


" Diihh, aku juga gak bilang kamu yang kangen. Tapi aku kangen Ibu, GR ih kamu Ca. . . " Goda Yudhis pada Embun.


Wajah Embun berubah bersemu merah karena merasa malu dirinya yang sudah GR duluan. Untunglah makanan yang mereka pesan segera datang, setidaknya Yudhis tidak menggodanya terus.


Selesai menyantap makan siang nya, mereka segera kembali ke Perusahaan Yudhis, lebih tepatnya Embun mengantar Yudhis kembali ke Perusahaan untuk lanjut bekerja.


"Makasih Ca. . . " Ucap Yudhis dengan senyum manisnya.


" Sama-sama Dis... btw, thank's buat makan siangnya. Semoga kita bertemu lagi lagi di lain waktu." Ucap Embun.

__ADS_1


"Tentu kita akan bertemu lagi, karena ada pertemuan pasti ada perpisahan, dan besok akan ada pertemuan lagi pastinya." Ucap Yudhis.


"Aduh, ngomong apa sih kamu Dis. Ya udah aku balik dulu ya." Pamit Embun pada sahabatnya.


"Salam buat Ibu ya Ca, InsyaAllah kalau ada waktu aku main ke rumahmu." Ucap Yudhis.


"Iya Dis, akan aku sampaikan salamnya. See you Dis. . " Embun melambaikan tangan kanannya di ikuti dengan menutup kaca mobil.


" See you Ca. . . " Teriak Yudhis agar Embun mendengarnya.


" Astaga, apa yang dia lakukan, untuk apa dia berteriak. Ada-ada saja kelakuannya." Celoteh Embun.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, jalanan tidak terlalu ramai karena jam makan siang telah usai, pasti semua orang telah kembali sibuk dengan aktivitasnya.


.... Yudhis POV....


Selepas kepergian Embun, Yudhis kembali masuk ke gedung tempatnya ia bekerja. Dia langsung menuju lift untuk segera kembali ke ruang kerjanya. Sesampainya di depan ruang kerjanya, ia melihat pintu ruangan terbuka sedikit.


Dengan mengendap-endap Yudhis masuk untuk mencari tau siapa yang ada di dalam karena sebelum dia pergi untuk makan siang, pintu sudah dia tutup kembali dan memastikan semua aman.


"Kau tak perlu mengendap-endap. Ini kan ruang kerjamu, kau seperti maling saja." Ujar Reza yang rupanya sudah berdiri di belakang pintu.


"Aku tidak mengagetkan ku Dis, tapi kau sendiri yang kaget, jadi jangan salahkan aku. Kau darimana? Aku sudah disini sejak sejam yang lalu, tapi katanya kau sedang pergi bersama seorang wanita. Apa kau sudah memiliki seorang kekasih? Kenapa tidak bilang padaku?" pertanyaan beruntun keluar dari mulut Reza.


"Dia bukan kekasihku, dia sahabat di masa kecilku. Kami bertemu tanpa sengaja, kebetulan dia ada temu dengan Pak Rian." Jelas Yudhis pada Reza.


"Benarkah? Bagaimana wajahnya? Apa dia cantik? Kenalkan aku dengannya. . " Ujar Reza bersemangat dan duduk di sofa.


" Enak saja, aku tidak akan membiarkanmu mengenalnya. Kau hanya akan membuatnya menangis, obati dulu luka di hatimu. Jangan cari pelarian untuk masalah yang sedang kamu hadapi sekarang." Ujar Yudhis dengan wajah yang serius.


"Kau menyukainya?" Tanya Reza.


"Tidak. . "Jawab Yudhis spontan.


" Kau menyayanginya?" Tanya Reza lagi.


"Tentu saja, aku menyayanginya karena dia sahabatku sejak kecil." Jawab Yudhis lagi tanpa memperdulikan Reza yang sejak tadi tertawa melihat tingkah sahabatnya.


"Pertanyaan terakhir. . Apa kau mencintainya?" Tanya Reza lagi untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


"Ti. . Aku tak perlu menjawabnya, yang pasti aku tidak akan memperkenalkanmu padanya. Aku tak ingin dia mengenal pria b******* sepertimu." Ucap Yudhis.


"Hey, aku tidak seburuh seperti yang kau kira kawan. Aku pria baik-baik. Percayalah." Ucap Reza.


"Tidak semudah itu aku bisa percaya padamu kawan, kau lupa semalam mabuk karena satu wanita? Dan bahkan belum ada sehari kau sudah ingin mencari wanita lain. Cari yang kain saja, jangan Caca." Ucap Yudhis dengan tegas.


"Oh jadi namanya Caca, ya ya ya. Aku akan mencari tau siapa dia, seperti apa dia, hingga bisa membuat sahabatku tak ingin memperkenalkannya padaku." Ucap Reza lagi.


"Keluarlah, aku masih banyak pekerjaan." Usir Yudhis pada sahabatnya.


"OK aku akan keluar, ingat aku akan mencari tau sendiri seperti apa gadis yang bernama Caca itu kawan." Ucap Reza yang sengaja memancing emosi Yudhis untuk melihat ekspresinya.


Pintu telah kembali tertutup, Yudhis membuka laptop diatas meja kerjanya dan menyalakannya untuk memeriksa file yang baru saja di kirim oleh klien nya siang ini.


Tapi konsentrasinya terpecah karena ucapan Reza barusan. Entah kenapa dia begitu takut jika Embun akan bertemu dengan Reza. Yudhis takut, Reza akan mempermainkan perasaan sahabatnya hanya untuk pelarian semata.


"Aku tidak akan membiarkanmu bertemu dengan Caca Za. Dia gadis baik-baik, tidak pantas jika harus menjadi pelarianmu saja. Cari saja gadis lain kalau kau ingin lari dari kenyataanmu." Ujar Yudhis dengan lirih.


Tringg....


Notifikasi pesan whatsApp masuk, Yudhis segera merogoh ponselnya yang masih di saku jas nya. Saat di lihatnya, tertulis nama Caca di layar ponsel. Senyum kembali mengembang di wajahnya, tak sabar dia segera membuka isi pesan dari Embun.


¬Hai Dis, aku sudah sampai rumah. Salam mu sudah ku sampaikan ke Ibu.¬


¬Syukurlah kalau sudah sampai Ca, Makasih ya. ¬


¬Makasih untuk makan siangnya, Oh iya, aku tunggu kedatanganmu ke rumah Dis. Ibu pasti senang kalau kau datang.¬


¬Aku pasti datang, tunggu kedatanganku Ca.¬


______________________________________________________


>> Terimakasih yang sudah berkenan membaca coretan ini😍😍


Jangan lupa Like, Komen, Rate5 dan Vote😍


🌺CAHAYA EMBUN EPS. 15🌺


~Teşekkürler, Sizi seviyorum millet 😙😙~

__ADS_1


__ADS_2