
"Dulu aku menangis saat meminta semur ayam ini, tapi sekarang aku menangis lagi untuk ucapan syukurku yang sekarang bisa makan dengan semur ayam ini kapanpun aku mau. Alhamdulillah ya Allah. . .makasih atas nikmat yang Engkau berikan pada kami"
Selesai makan, Embun langsung membereskan dan gelas kotor dan mencucinya di dekat sumur yang berada di belakang rumah. Terdapat beberapa ember disana yang sudah terisi penuh dengan air.
Sumur di keliling dengan pagar pembatas hampir menutupi sebagian tubuhnya. Dulu waktu kecil, Embun selalu mandi di tempat itu. Ibu dengan sabar menimba air untuk Embun mandi.
Waktu terus berjalan, jam menunjukkan pukul 4 sore. Embun mengambil handuk di dalam lemari kamarnya dan melenggang jalan menuju kamar mandi yang baru setahun di buat supaya Ibu tidak perlu mandi di sumur lagi.
Selesai mandi, Embun mengambil mukenah berwarna cokelat tua di dalam lemari dan sajadah kecil berwarna cokelat muda. Embun melaksanakan ibadah sholat ashar, sejak kecil Ibu selalu membiasakan dirinya untuk taat beribadah. Hanya itulah yang bisa mereka lakukan agar bisa lebih dekat dengan sang pencipta dan menjaga dirinya supaya tidak takabur dan selalu mengingat Allah SWT.
Tokk. . . tokk. . .tokk. .
"Embun. . Ibu ke tempat Bu Wati ya, ada pengajian disana sekalian arisan. Kamu istirahat saja, kalau lapar makan saja dulu ya Nak." Ucap Ibu yang sudah memakai gamis berwarna biru donker dan kerudung berwarna cokelat muda.
"Iya Bu. . Hati-hati ya Bu. . ." Ucap Embun.
"Iya Sayang. . " Ibu segera pergi dari kamar Embun dan mengambil tas kecil di kursi.
Embun memilih untuk pergi ke ruang tamu sambil menonton TV disana. Sudah lama Embun tidak menonton TV karena terlalu sibuk bekerja dan bahkan pulang larut jika harus lembur.
Sebuah TV berukuran 32 inchi yang di belikan untuk Ibunya supaya tidak kesepian. Tak setitikpun debu yang menempel disana, Ibu setiap hari membersihkannya dan memastikan rumahnya bersih meski hanya rumah kecil.
Siaran TV channel iklan terbang menayangkan sinetron yang sedang hits, dimana seorang suami yang mengusir isterinya yang sedang hamil besar demi seorang wanita yang tak memiliki hati.
"Apakah dulu Ayah juga seperti itu? sampai-sampai Ibu tak sudi membahas Ayah lagi? Jika benar, aku tidak akan pernah mencari Ayah. Biarkan saja aku menikah tanpa wali, daripada aku harus membuka kembali luka yang mungkin belum mengering di hati Ibu." -Batin Embun.
Terdengar suara adzan dari masjid yang berjarak 2km dari rumah kecilnya. Embun masih duduk di kursi menunggu sampai alunan adzan berhenti sebelum dia mengambil air wudhu.
"Kok Ibu belum pulang? Apa mungkin dia sholat berjama'ah di rumah Bu Wati ya. Atau mampir untuk sholat di masjid? Ibu kan selalu sholat di masjid kalau tidak ada kesibukkan di rumah. Ya sudahlah, tidak apa-apa." Ucap Embun seraya bangun dari tempat duduknya dan melangkahkan kaki menuju sumur untuk mengambil air wudhu.
Selesai sholat maghrib, Embun duduk di tepi kasur untuk mengecek ponselnya yang sejak tadi dia biarkan di atas nakas samping kasurnya. Terlihat 50 pesan whatsApp yang belum dia baca dari Sita teman kerjanya.
__ADS_1
[Embun, kamu jadi pulang]
[*Kapan kembali ke kota lagi?]
[Mendadak Pak Roy menugaskan aku untuk perjalanan ke luar kota. Lalu siapa yang akan menghandle di sini kalau tidak ada kamu?]
[Oh iya pertemuan dengan Pak Rian tadi siang sudah ada feedback, beliau meminta aku/kamu untuk datang ke Perusahaannya untuk menyetujui kontrak perjanjian kerjasama*.]
[Ini yang membuatku bingung. Aku besok lusa ada perjalanan ke luar kota. Bagaimana aku bisa datang ke Perusahaannya. Pak Rian meminta kita datang besok kamis. Apa kamu bisa Mbun?]
[*Kabari aku kalau kamu bisa Mbun. Kalau tidak tolong kamu minta waktu beberapa hari lagi sampai aku pulang ya Mbun.]
[dan seterusnya*. . . ]
Sebelum membalas pesan WhatsApp dari Sita, Embun memikirkan dengan matang-matang tentang rencana kepulangannya yang tak lain adalah untuk memboyong Ibunya ke kota.
[Kasih aku waktu ya Sit, ini masih senin. Akan aku usahakan malam ini sudah ada keputusan. Kamu tau kan? Maksud kepulanganku adalah membujuk Ibu supaya mau ikut denganku ke kota]
Ibu baru saja pulang dari pengajian bulanan di rumah Bu Wati. Embun masih berdiri di depan pintu kamarnya mencari sosok Ibunya yang belum terlihat.
"Maaf Nak, Ibu pulang terlambat. Tadi mampir ke Masjid untuk sholat Maghrib. Kamu sudah sholat Nak?" Tanya Ibu dengan lembutnya.
"Sudah Bu. . Ya sudah Ibu mandi. Nanti aku yang akan menyiapkan makan malamnya." Ucap Embun pada Ibunya.
"Iya sayang, makasih ya." Ujar Ibu dengan senyuman yang terus melekat di wajahnya.
Ibu berjalan menuju kamarnya yang terletak di dekat dapur. Embun masih berdiam di tempatnya berdiri sampai Ibu menghilang dari pintu kamarnya.
Embun segera pergi ke dapur dan mengecek bahan makanan di kulkas. Isinya penuh dengan sayur dan juga ada buah di sana. Ibu pasti membelinya setelah mendengar Embun akan pulang.
Dengan cekatan Embun memasak sup ayam untuk mereka berdua. Kebetulan di luar sedang gerimis, dan udara dingin masuk melewati celah-celah ventilasi rumahnya.
__ADS_1
Terdengar jelas geluduk yang terus saja bersautan. Embun mulai merebus Ayam sampai Ayam empuk sebelum di tambahkan dengan wortel, buncil dan juga kol.
Sambil menunggu ayam yang sedang di rebus, Embun mengupas wortel dan memotongnya dengan bentuk bunga-bunga. Dulu waktu kecil, Embun susah sekali makan sayur. Sampai akhirnya Ibu memotong wortel dengan bentuk bunga dan usahanya berhasil, Embun mau makan sayur.
Dan sampai sekarang, ketika memasak sop Embun selalu membuat karakter bunga dengan wortelnya.
"Dulu Ibu membujukku untuk makan sayur dengan membuat karakter bunga yang cantik. Dan sekarang aku yang akan membuatkannya untuk Ibu. Semoga Ibu menyukainya meski tak seenak masakannya." Batin Embun.
Setelah sop matang, Embun menyiapkan di meja makan sebelum Ibu keluar dari kamarnya. Piring dan sendok sudah tertata rapi di atas meja. Embun segera menuangkan air putih ke dalam gelas untuk Ibu dan dirinya.
Tak beberapa lama kemudian, Ibu keluar dari kamar dengan daster bercorak warna cream. Ibu mendekati meja makan dan tersenyum melihat hasil masakan Embun.
"Maaf ya Bu, kalau Embun hanya menyiapkan sop hangat ini. Besok pagi Embun janji akan masakib Ibu." Ucap Embun.
"Apapun yang anak ibu masak, pasti Ibu menyukainya sayang." Ucap Ibu membuat Embun terharu.
Mereka makan malam diiringi denfan derasnya air hujan yang turun malam itu. Petir semakin menggelegar bersahutan.
Selesai makan malam, Embun membereskan piring dan yang kainnya kemudian di cucinya. Selesai membereskan semuanya, Embun menyusul Ibu yang sedang duduk di depan TV.
"Bu, ada sesuatu yang ingin Embun bicarakan pada Ibu." Ucap Embun dengan ragu.
"Apa Nak? Katakan. . " ucap Ibu sembari mengurangi volume TV.
_____________________________________________
》Kritik dan Saran dari kalian selalu aku tunggu 😊
🌺CAHAYA EMBUN EPS. 03🌺
~Teşekkürler, Sizi seviyorum millet 😙😙~
__ADS_1