Lembayung Rindu

Lembayung Rindu
Ch. 11 Berjemur


__ADS_3

Hari telah berganti malam, setelah menempuh hampir 8 jam perjalanan merekapun tiba di tempat tujuan. Seseorang membukakan pagar rumahnya setelah melihat mobil Embun datang.


Sebuah rumah minimalis berlantai dua terlihat di depan matanya. Sudah beberapa kali Ibu datang ke kota, tapi setiap ia datang selalu ada saja perubahan yang terlihat meski hanya sedikit.


Ibu masih berdiri selepas turun dari mobil, ia menatap sekeliling rumah putrinya dengan perasaan bangga. Putrinya bisa memiliki rumah dengan hasil kerja kerasnya sendiri tanpa bantuan dari siapapun.


"MasyaAllah. . Tidak henti-hentinya hamba mengucap syukur atas keberkahan yang Engkau berikan melalui putri hamba, sekarang Engkau angkat derajat hamba secara perlahan melalui putri hamba. Maafkan diri hamba yang tak pernah ada puasnya." Batin Ibu dengan sedikit air mata yang tertahan di kedua bola matanya.


"Ibu, ayo kita masuk." Ucap Embun merangkul Ibunya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Hmm Iya sayang. . . " Ucap Ibu berjalan beriringan dengan Embun.


Assalamu'alaikum. . . Wa'alaikumussalam. .


Embun dan Ibu mengucap salam secara bersamaan setelah kaki kanan melangkah masuk ke dalam rumah, dan menjawabnya sendiri karena tidak ada orang di rumahnya selain mereka.


"Ibu istirahat saja, biar Embun siapkan minum hangat untuk Ibu." Ucap Embun.


Embun segera berlalu meninggalkan Ibunya di ruang tamu. Dapur minimalis yang ia tinggalkan selama tiga hari masih terlihat bersih dan rapih, setiap hari ada orang yang akam datang untuk membersihkan rumahnya tapi sorenya dia akan pulang.


Awalnya Embun memang tidak ingin memperkerjakan seseorang di rumahnya, karena dia masih bisa masak untuk dirinya sendiri. Tapi untuk membersihkan rumahnya tenaganya tak sekuat itu, sampai akhirnya Mang Jaka mengusulkan untuk memperkerjakan seseorang untuk membersihkan rumahnya.


Untung saja Mang Jaka memberikan saran sekaligus solusinya, diapun mencarikan orang yang amanah untuk bekerja di rumah Embun. Dan setelah beberapa bulan bekerja di rumah Embun, mereka sudah seperti keluarga sendiri.


Begitupun dengan Embun, yang orangnya tidak suka pilih-pilih. Diapun merasa nyaman bekerja sama dengan Mba Tini yang umurnya hampir sepadan dengan Ibu, tapi maunya di panggil Mbak.


Air telah mendidih, Embun segera memindahkan air panas dari dalam ceret ke dalam gelas di hadapannya. Setelah di aduknya beberapa detik, Embun mengambil sebuah nampan kecil di dalam nakas atas kepalanya.


"Ibu, di minum dulu tehnya. Supaya rasa capeknya berkurang." Ucap Embun meletakkan nampan di atas meja kaca.


"Makasih ya Nak. Ya sudah kamu duduk sini, istirahat. Pasti kamu juga capek kan." Ucap Ibunya.


Selesai menghabiskan segelas teh hangat buatan Embun, Ibu masuk ke kamarnya yang berada di sudut lantai satu. Embun sengaja memberikan kamar Ibu di lantai satu supaya Ibu tidak perlu capek-capek naik turun tangga karena usianya yang sudah tidak muda lagi.

__ADS_1


Mereka memutuskan untuk membersihkan badannya dan mengistirahatkan bdannya sejenak setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh melewati beberapa daerah di sepanjang perjalanan.


Drrttt. . Drttt..


Ponselnya bergetar membuatnya terbangun dari tidurnya yang baru 30 menit setelah selesai mandi tadi. Saat di lihatnya ternyata dari Mang Jaka yang sedang berjaga di depan.


"Iya Mang?" Jawab Embun saat panggilan sudah tersambung.


"Maaf Non, pesanan makanan sudah datang. Baru saja di antar." Ucap Mang Jaka memberitahukan kepada Embun.


"Astaghfirulloh. . Aku hampir lupa sedang memesan makan. Untung Mang Jaka menelepon, jadi tidak kebablasan aku tidurnya. Huhh. . Ibu belum makan, aku harus segera turun menyiapkan makam malam."


"Oh iya Mang, makasih ya. Embun udah mau turun, nanti kita makan malam bareng-bareng aja Mang, biar ramai." Ucap Embun sebelum mengakhiri obrolannya dengan Mang Jaka.


_____


~Di Dapur~



Setelah semua siap, Embun memanggil Ibu yang berada di kamarnya untuk makan malam sebelum tidur.


Tokk.. Tokk. . Cklekk. .


"Bu, udah tidur?" Tanya Embun demgan setengah badannya yang masuk ke dalam kamar Ibunya.


"Belum Nak.. "Jawab ibu yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.


"Kita makan dulu yuk Bu, kan dari siang Ibu belum makan. Jangan biarkan kita tidur dalam keadaan perut kosong. Embun udah pesan makanan untuk kita." Ucap Embun pada Ibunya.


"Iya, Yuk. . Kamu panggil juga Mang Jaka. Ajak dia makan, kasihan kan kalau dia tidak ikut makan." Ucap Ibu mengingatkan Embun.


"Iya Bu, siap. Nanti Embun panggil Mang Jaka nya kok. Sekarang kan manggil Ibu dulu. " Ucap Embun.

__ADS_1


Dan benar saja, setelah memanggil Ibunya. Embun pergi keluar untuk memanggil Mang Jaka dan mengajaknya makan malam bersama. Setelah terjadi beberapa kali perbincangan akhirnya Mang Jaka mengalah dan mengikuti kemauan Embun untuk makan malam bersama.


"Silakan Mang duduk, ayo kita makan bareng. Sudah lama kita ndak makan bareng, sayangnya ndak ada Mbak Tini ya, pasti tambah ramai kalau ada dia." Ucap Ibu.


"Iya Bu... Makasih." Ucap Mang Jaka duduk di kursi dengan sungkan.


"Tidak usah sungkan Mang, anggap saja kita keluarga. Mang Jaka kan sudah lama bekerja disini, jadi gak perlu Mang Jaka merasa tidak enak, apa yang ada disini ya kita makan bareng-bareng." Ucap Embun pada Mang Jaka.


"Iya Non." Ucap Mang Jaka lagi dengan sopan.


Ketiganya menikmati santapan malam sederhana yang Embun pesan di sebuah dapur keci dan minimalis.


Perlahan gerimis turun membasahi bumi, membuat susasana malam semakin terasa sunyi. Setelah makan Embun dan Ibu kembali ke kamar untuk beristirahat. Sedangkan Mang Jaka, kembali ke ruang jaga di temani sebuah TV dan secangkir kopi panas yang Ibu buatkan untuknya.


_____


Pagi menjelang, mentari telah beranjak ke atas kembali menghangatkan bumi. Embun tengah duduk di taman belakang di atas rerumputan setelah melakukan aktivitas olahraga kecil.


Kepalanya mengadah keatas, menatap sang surya yang masih malu-malu untuk mengeluarkan sinarnya. Awan terlihat sedikit mendung pagi ini, tak mengurungkan niatnya untuk menikmati sinar pagi beberapa menit sebelum dia memilih untuk mandi.


Ibu datang membawakan segelas jus jeruk untuknya, dan ikut duduk di samping Embun untuk berjemur di bawah sinar matahari yang belum bersinar sepenuhnya.


"Alhamdulillah ya Bu, kita masih di berikan umur panjang, masih bisa menikmati seluruh fasikitas yang Allah berikan. Termasuk berjemur menikmati hangatnya sinar mentari pagi." Ucap Embun dengan pandangan jauh kedepan.


______________________________________


>> Terimakasih yang sudah berkenan membaca coretan ini😍😍


Jangan lupa Like, Komen, rate 5 dan Vote ya 😍


🌺CAHAYA EMBUN EPS. 11🌺


~Teşekkürler, Sizi seviyorum millet 😙😙~

__ADS_1


__ADS_2