Lembayung Rindu

Lembayung Rindu
Ch. 09 Pecel


__ADS_3

Adzan subuh telah berkumandang, udara dingin membuat rasa malasnya semakin menguasai dirinya. Dengan perlahan Embun membuka kedua matanya, di lihatnya jarum jam menunjukkan pukuk 04.30 pagi.


Selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya ia buka ke samping agar ada jalan untuk dirinya bisa keluar dari balutan selimut yang sudah menghangatkan tubuhnya selama ia tertidur. Sebelum turun dari atas ranjang, Embun mengambil segelas air putih yang sudah ia siapkan sebekum tidur.


"Alhamdulillah, masih bisa bertemu dengan hari berikutnya dalam keadaan sehat wal'afiat. Ya Allah, makasih sudah memberikan umur yang panjang untukku."


Embun segera turun dari ranjang dan memakai sendal berwarna ungu yang ia letakkan di samping ranjang. Ia pergi ke belakang untuk mengambil air wudhu, samar-samar terdengar suara Ibu yang sedang berdoa setelah selesai sholat subuh. Membuat Embun tersenyum sendiri, merasa senang dan beruntung bisa lahir dari rahim seorang Ibu yang kuat selalu taat kepada-Nya.


_____


Selesai sholat, Embun segera merapikan sajadah dan mukenah di lanjut dengan merapikan tempat tidurnya sebelum ia keluar dari kamar untuk membantu Ibunya di dapur.


"Bu, Embun bantu ya." Ucap Embun ketika baru tiba di dapur dan melihat Ibu sepertinya sedang sibuk masak.


"Boleh Nak, makasih ya udah mau bantu Ibu." Ucap Ibu nya dengan lembut.


Ibu dan anak tampak sibuk bekerja di dapur, keduanya saling membantu sama lain. Momen langka tak mereka sia-siakan begitu saja. Sudah lama Embun tidak membantu Ibunya di dapur, meski hanya untuk ikut mencicipi atau memotong beberapa sayuran untuk di masak.


Terlihat kebahagiaan di raut wajah Ibunya, kini putrinya telah pandai memasak melebihi dirinya. Sesekali terdengar gelak tawa dari keduanya, saat Embun sedang bercerita selama dia berada di kota bersama rekan-rekan kerjanya.


Pagi ini Ibu memasak pecel, sayur kol, kacang panjang, tauge dan daun bayam sudah di rebus. Sambal kacang sudah siap di mangkuk kecil atas meja. Tempe gorengpun tak lupa mereka sajikan pagi itu. Ibu memasak sesuai permintaan Embun semalam, karena dia rindu dengan pecel buata ibunya yang lezat.



"Alhamdulillah sudah siap, makasih Bu udah masakin pecel buat Embun. CUPP. ."


Sebuah kecupan mendarat di pipi kanan Ibunya, Embun memeluk ibunya dengan erat. Dia benar-benar merasa senang karena masih bisa menikmati pecel masakan yang paling enak baginya.

__ADS_1


"Ya sudah Ibu ke meja makan dulu aja, Embun mau bikin teh hangatnya." Ucap Embun.


Embun kembali ke dapur untuk membuat teh hangat manis untuknya dan juga Ibu untuk menemaninya sarapan dengan pecel yang pedas. Dalam waktu kurang dari 10 menit dua gelas teh hangat manis sudah siap dia buat.


Embun segera membawanya ke meja makan, ikut bergabung bersama Ibu yang sudah menunggunya sejak tadi.


Selesai sarapan, Embun membantu Ibu mengemasi baju untuk di bawa ke kota. Embun melarang Ibu membawa baju terlalu banyak, karena Embun sudah menyiapkan baju untuk Ibu di sana.


"Alhamdulillah, Ibu mau ikut denganku ke kota. Setidaknya aku bisa dekat dengan Ibu setiap saat. Dan aku ada teman sarapan dan juga makan malam di rumah. Semoga Ibu di berikan umur panjang, supaya aku bisa terus membahagiakan Ibu membayar semua perjuangan Ibu sekama aku kecil dulu meski apa yang aku lakukan tak akan pernah cukup untuk membayarnya."


______


Pagi telah berganti menjadi siang, jam di dinding rumahnya sudah menunjukkan pukul 12.30.,Embun mengambil air wudhu di belakang untuk melaksanakan sholat Dzuhur.


Samar-samar terdengar suara ketukan pintu, Ibu segera berjalan ke ruang tamu untuk melihat siapa yang datang. Ternyata Mbak Dian yang datang bersama putri kecilnya yang masih berusia 10 bulan.


"Wa'alaikumussalam Yan. Ayo masuk, di luar panas. Nanti Rara kepanasan loh."


"Makasih Bu Lek." Ucap Mbak Dian dengan sopannya.


Mbak Dian masuk dan duduk di sofa, Ibu membuatkan teh hangat untuk Mbak Dian karena biar bagaimanapun tamu harus di jamu. Embun yang sudah selesai sholat segera keluar kamar, dan menemui Mbak Dian.


"Mbak. . Maaf aku baru selesai sholat." Ucap Embun duduk di samping Mbak Dian dan menggoda Rara yang menggemaskan.


"Iya Mbun ndak apa-apa, semua sudah siap? Ndak ada barang yang tertinggal?" Tanya Mbak Dian.


"Iya Mbak, InsyaAllah semua sudah di bawa. Oh iya Aura mana Mbak? Kok gak di ajak?" Tanya Embun.

__ADS_1


"Aura kalau sudah keluar rumah ya susah di cari Mbun, kecuali kalau dia lapar baru lari pulang. Sekarang udah pergi lagi sama teman-temannya ndak tau kemana." Ucap Mbak Dian.


"Namanya juga anak kecil Mbak, ini juga sebentar lagi Ikutan Mba Aura ya pasti. Lucu banget sih kamu." Ucap Embun yang begitu gemas dengan anak kecil di depannya.


Ibu datang membawakan teh hangat untuk Mbak Dian, Embun mengambil alih dengan menggendong Rara suoaya Mbak Dian dan Ibu bisa mengobrol dengan tenang. Embun membawanya ke teras rumah agar Rara tidak kepanasan.


"Bu Lek disana jaga kesehatan, sekarang sudah ndak kesepian lagi di rumah." Ucap Mbak Dian.


"Iya Yan, walaupun berat buat ninggalin rumah ini, tapi jujur Bu Lek juga ndak bisa jauh-jauh dsri Embun. Apalagi sekarang dia sibuk banget, jadi ndak bisa sering pulang lagi. Daripada dia bolak-balik mending Bu Lek ikut sama dia." Ucap Ibu dengan senyum yang masih terukir di wajahnya.


Memang sebaiknya seperti itu Bu Lek. Sekarsng Embun sudah sukses, sudah dewasa, punya rumah dan mobil juga di kota. Pasti Embun juga ingin menikmati hasil kerih payahnya sama Ibunya disana. Bu Lek ndak usah mikirin rumah yang disini, InsyaAllah aku rawat dengan baik Bu Lek." Ucap Mbak Dian seraya menggenggam kedua tangan Ibu dengan erat.


"Iya Yan, Bu Lek titip ya. Dengar kamu yang mau jagain rumah ini, Bu Lek juga merasa lega. Kamu orang baik, insyaAllah selalu amanah." Ucap Ibu dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya Bu Lek, InsyaAllah Dian amanah. Bu Lek sudah Dian anggap seperti Ibu Dian sendiri sejak Ibuku meninggal dua tahun yang lalu Bu Lek." Ucap Dian dengan senyum penuh arti.


"Kalau gitu jangan panggil Bu Lek, panggil Ibu aja ya. Ibu juga sudah menganggapmu seperti anak sendiri." Ucap Ibu segera merengkuh tubuh Mbah Dian ke dalam pelukannya.


"Aku juga sudah menganggap Mbak Dian seperti saudaraku sendiri Mbak, sejak dulu saat aku masih kecil..."


__________________________________


>> Terimakasih yang sudah berkenan membaca coretan ini😍😍


Jangan lupa Like, Komen, rate 5 dan Vote ya 😍


🌺CAHAYA EMBUN EPS. 09🌺

__ADS_1


~Teşekkürler, Sizi seviyorum millet 😙😙~


__ADS_2