
"Aku juga sudah menganggap Mbak Dian seperti saudaraku sendiri Mbak, sejak dulu saat aku masih kecil..."
Rara kecil sudah tertidur pulas di pelukan Embun, rupanya semilir angin siang itu membuatnya merasa ngantuk dan tertidur begitu saja. Embun masih berdiam diri di balik pintu, tak ingin mengganggu Ibu dan Mbak Dian yang masih dalam suasana haru.
"Kamu beruntung, lahir dari rahim seorang ibu yang begitu baik, hatinya seluas samudera, ibu mu adalah orang yang sangat pemberani. Dulu waktu aku kecil, ibumu lah yang mengajakku main, melindungi ku kalau ada yang mengusik. Semoga kelak kamu tumbuh menjadi anak yang sholih, bisa mengangkat derajat kedua orangtuamu ya sayang." Ucap Embun pada Rara yang sudah tertidur lelap terbuai dalam mimpi.
"Wah, jarang-jarang loh Rara bisa tidur dengan orang lain Mbun, itu tandanya kamu sudah saatnya untuk menikah dan bersanding dengan laki-laki pilihanmu." Ucap Mbak Dian yang sudah berdiri di belakang Embun.
"Ih Mbak Dian, aku belum mikir kesitu Mbak, tapi kalau Allah mempertemukan aku dalam waktu dekat ya aku terima saja." Ucap Embun.
"Lalu yang mengirim kotak sebulan lalu itu siapa Mbun? Ibu pikir calon menantu Ibu yang masih kamu sembunyikan." Ucap Ibu muncul di belakang Mbak Dian.
"Ih Ibu, Embun juga belum tau dia siapa. Dan pemberian dia juga masih Embun simpan Bu. Niatnya kalau suatu saat Embun ketemu sama dia, Embun mau kembalikan. Embun merasa itu terlalu mahal buat Embun, sedangkan Embun belum pernah bertemu sama dia kan." Ucap Embun menjelaskan pada Ibunya.
"Tapi sepertinya dia serius Mbun, sampai-sampai dia memiliki banyak koleksi fotomu loh. Walaupun Ibu tidak tau di dalamnya ada apa lagi, kalau memang dia jodohmu pasti suatu saat Allah akan mempertemukan kalian di waktu yang baik dan tepat." Ucap Ibu.
"Aamiin. . " Ucap Embun dan Mbak Dian secara bersamaan.
" Ya sudah, Ibu sama Embun bersiap-siap dulu. Sini Rara nya aku tidurkan saja di sofa." Ucap Mbak Dian.
"Iya Mbak." Embun menyerahkan Rara yang masih tertidur ke Mbak Dian.
Embun dan Ibu mulai bersiap-siap, sedangkan Mbak Dian mulai merapikan rumah Embun sebelum yang punya rumah berangkat ke kota. Mbak Dian memang rajin dan cekatan, tak heran kalau Budhe Umi selalu memuji menantunya.
____
"Yan, Ibu pamit ya. Titip rumah, kamu jaga kesehatan. Yang sabar merawat kedua cucuku, suatu saat merekalah yang akan mengangkat derajatmu dan suamimu." Ucap Ibu menatap Mba Dian dengan haru.
"Nggih Bu, doakan Dian supaya tetap sabar dan bisa merawat anak-anak dengan baik, seperti Ibu yang selalu sabar dan kuat. Ibu jaga kesehatan disana, selalu doakan Dian ya Bu." Ucap Mbak Dian mencium punggung tangan Ibu, dan memeluknya dengan erat.
__ADS_1
Embun menatap keduanya dengan haru, air mata keluar dari sudut matanya membasahi kedua pipinya. Embun hanya diam tak mampu berkata-kata, entah kenapa hatinya terasa perih melihat Mbak Dian bersama Ibunya.
Bukan Embun tak suka atau cemburu melihat keduanya, tapi karena Embun memposisikan dirinya sebagai Mbak Dian. Yang harus kehilangan Ibunya saat dia sedang hamil anak keduanya. Untung saja Budhe Umi tak pernah membeda-bedakan antara anak dan menantu.
"Mbun, Mbak titip Ibu ya. Jaga Ibu baik-baik, selalu kabari Mbak ya Mbun. Kalau ada apa-apa hubungi Mbak, walaupun Mbak jauh dan tidak bisa membantumu setidaknya Mbak bisa mendoakanmu juga Ibu disana." Ucap Mbak Dian memeluk tubuh Embun dengan erat.
"Hmm. . . Embun akan ingat pesan Mbak, Mbak juga jaga kesehatan, kalau ada apa-apa kabari Embun. Jangan merasa sungkan, Embun kan adik Mbak juga." Ucap Embun pada Mbak Dian.
"Iya Mbun, adik Mbak yang cantik dan baik." Ucap Mbak Dian mengelus kedua pipi Embun.
"Ini sedikit rezeki untuk keponakan Embun, jangan menolak. Embun tau Mbak masih punya uang, simpan saja uang ini buat tabungan siapa tau nanti ada keperluan yang mendadak." Ucap Embun menyerahkan amplop pada Mbak Dian.
"Iya sayang, makasih ya. Mbak akan simpan untuk tabungan anak-anak. Mbak doakan kamu selalu sehat, rezeki nya lancar, cepat di pertemukan dengan jodoh, dan semua yang kamu inginkan di semogakan sama Allah." Ucap Mbak Dian.
"Aamiin, semua doa yang yang baik juga berbalik ke Mbak Dian. Kami pergi dulu ya Mbak. Assalamu'alaikum." Ucap Embun mencium punggung tangan Mbak Dian.
"Ibu pergi dulu ya Yan, Assalamu'alaikum." Ucap Ibu.
"Wa'alaikumussalam Bu." Jawab Mbak Dian.
"Makasih ya Allah, hamba masih di pertemukan dengan orang-orang yang baik. Hamba punya keluarga baru, berikan kesehatan dan keberkahan pada keduanya ya Allah."
Setelah memastikan lampu tengah sudah menyala, pintu belakang sudah terkunci, semua jendela juga terkunci, Mbak Dian memutuskan untuk pulang dan mengunci pintu rumah yang kini kosong di tinggal oleh pemiliknya.
~Di Mobil~
Mobil melaju dengan kecepat sedang, memasuki jalanan sepi yang kanan kirinya terdapat pohon pinus. Ibu melihat ke samping kiri, menatap lekat-lekat seolah merekam semua gambar di dalam memorinya.
"5 bulan lagi kita juga pulang Bu, InsyaAllah setiap lebaran kalau Embun tidak ada keperluan yang benar-benar penting, Embun akan usahakan untuk kita bisa pulang." Ucap Embun sembari tangannya sibuk dengan setir mobil di depannya.
__ADS_1
"Iya Nak, Ibu hanya sedang melihat-lihat supaya kalau Ibu kangen bisa Ibu bayangin lagi pulang melewati jalan ini. Biar rasanya nyata Nak." Ucap Ibu.
"Iya Bu, nanti Embun usahakan pulang kerja tepat waktu, kalau perlu bawa pekerjaan ke rumah saja kalau belum selesai. Supaya Ibu tidak kesepian di rumah." Ucap Embun lagi.
"Tidak usah Nak, jangan jadikan keberadaan Ibu malah membuatmu terkekang dalam menyelesaikan pekerjaanmu." Ucap Ibu.
"Iya Bu, tidak ada kata terkekang kalau untuk Ibu. Semua akan Embun lakukan untuk Ibu." Ucap Embun.
Butuh waktu 2 jam untuk mobil mulai memasuki daerah perkotaan. Bus besar, beberapa motor dan mobil seolah berlomba adu kecepatan di jalanan. Ibu tak henti-hentinya mengingatkan Embun untuk tetao berhati-hati dan tidak usah ngebut.
Embun hanya tersenyum dan tertawa ketika Ibu terus mengucap istighfar karena merasa takut saat Embun menyalip kendaraan yang berada di depannya, apalagi saat truk tronton.
"Aduh Nak, kamu ini bikin jantung Ibu deg-degan terus loh, ndak usah nyalip udah di belakang aja." Ucap Ibu.
"Lah kalau gak nyalip kita mau sampai jam berapa Bu? Yang ada nanti Ibu capek di jalan." Ucap Embun kepada Ibunya.
"Ndak apa-apa capek di jalan, yang penting kita baik-baik aja. Alon-alon asal kelakon Nak." Ucap Ibunya lagi.
"Nggih kanjeng Ibu yang cantik nya MasyaAllah. . " Ucap Embun menggoda Ibunya untuk mencairkan suasana.
__________________________________
>> Terimakasih yang sudah berkenan membaca coretan ini😍😍
Jangan lupa Like, Komen, rate 5 dan Vote ya 😍
🌺CAHAYA EMBUN EPS. 10🌺
~Teşekkürler, Sizi seviyorum millet 😙😙~
__ADS_1