Lembayung Rindu

Lembayung Rindu
Ch. 05 Ayah


__ADS_3

"Bayi mungil itu adalah kamu Nak. . Kalau Ibu lagi kangen biasanya Ibu selalu lihat foto itu. Kamu sejak kecil memang sudah menggemaskan." Ujar Ibu dengan mata yang kembali berkaca-kaca.


"Benarkah ini aku? Kenapa aku tidak pernah melihatnya. Lalu ini Ibu dan Ayah?" Tanya Embun dengan sedikit tertahan.


"Iya itu Ayahmu. . .Maafin Ibu yang selama ini sudah menutupinya darimu."Ucap Ibu.


"Tidak apa Bu, setidaknya sekarang aku sudah bisa melihatnya walaupun hanya sebuah foto yang sudah usang. Aku tidak mau bertanga terlalu banyak tentang Ayah." Ujar Embun.


"Boleh Embun membawa foto ini Bu?" Tanya Embun.


"Bawa saja Nak." Ujar Ibu.


"Ya sudah, sekarang Ibu istirahat. Sudah malam. Ibu sudah sholat isya?" Tanya Embun.


"Sudah, kamu juga istirahat ya. Kamu pasti capek." Ujar Ibu.


"Hmm. . Iya Bu. Embun kembali ke kamar ya. Selamat malam Bu." Ucap Embun mengecup pipi Ibu.


"Selamat malam sayang."Ucap Ibu.


Embun keluar dari kamar Ibu. Dia mengambil air wudhu karena belum sholat Isya.


"Ya Allah. . .makasih. . Akhirnya aku bisa melihat wajah Ayahku. Orang yang selama ini ingin aku lihat meski dalam mimpi. Tapi sekarang bisa melihatnta meski hanya dari sebuah foto yang telah usang.


Aku bisa melihat cinta di antara ke dua nya. Tapi aku tidak tau kenapa Ibu masih berat untuk menceritakan tentang Ayah padaku. Aku juga tidak tau sekarang Ayah masih hidup arau sudah kembali berpulang ke pangkuan-Mu.


Ya Allah, kalau Ayah masih hidup. . Berikan kesempatan untuk aku melihatnya secara langsung. Aku ingin mencium punggang tanggannya. Dan meminta maaf padanya kalau kehadiranku yang mungkin membuat Ibu dan Ayah terpisah begitu saja."


Embun masih terjaga di bawah temaram lampu kamar yang sudah redup. Selembar foto usang masih berada di genggamannya. Sesekali dia memeluknya untuk bisa merasakan pelukan Ayahnya meski dia tidak ingat bagaimana rasanya saat dia berada dalam pelukan Ayah saat bayi dulu.


Hujan sudah  berhenti sejak dua jam yang lalu. Namun udara dingin semakin menusuk menembus tulang. Embun enggan untuk memejamkan matanya.


Entah apa yang sesang berkecamuk di dalam kepalanya saat itu. Dia hanya diam, menyandarkan badannya pada kepala ranjang kecil yang sudah tua.


***


Matahari telah nampak di ufuk timur sana. Cahayanya menembus kamar Embun melalui lubang ventilasi diatas jendela kamarnya. Suara burung berkicauan menjadi alunan merdu pagi itu.


Embun masih terjaga di bawah selimut setelah dia selesai sholat subuh. Udara yang dingin membuatnya enggan untuk cepat-cepat keluar dari balutan selimut yang hangat.


Ceklek. . .


Ibu masuk ke dalam kamar Embun, dan melihat putrinya masih terlelap di bawah selimut. Ibu segera membuka jendela kamarnya agar udara dari luar masuk.

__ADS_1


Terlihat mukenah dan sajadah masih tergeletak di tepi kasurnya. Ibu melipatnya dan meletakkan diatas meja kecil yang berada di sudut kamar.


"Sayang. . .sudah pagi. . .ayo bangun. Masa anak gadis jam segini masih ngumpet di bawah selimut." Ujar Ibu.


"Hoamm. . Iya Bu. Selepas sholat Embun tidur lagi. . Selamat pagi Bu." Ucap Embun.


"Selamat pagi sayangnya Ibu. Ayo bangun, cuci muka atau mandi sekalian. Ibu sudah menyiapkan nasi goreng dan teh hangat di atas meja. Ibu mau bantu masak di rumah Bu RT, karena hari ini mengadakan aqiqah cucu pertamanya." Ujar Ibu.


"Hmm. . .Iya Bu. . ." Ucap Embun segera turun dari kasur dan nelipat selimut nya dengan rapih.


Embun segera pergi mandi, supaya rasa kantuknya segera hilang. Selesai mandi, Embun pergi ke meja makan. Terhidang sepiring nasi goreng buatan Ibu dan segelas teh yang masih hangat kuku.


Sesuap nasi sudah mendarat ke dalam mulutnya. Ibu memang pandai memasak, apapun yang Ibu masak selalu membuatnya ingin lagi dan lagi.


"Alhamdulillah. . .kenyang. . Sekarang aku mau bebenah dulu selagi tenagaku baru terisi." Ujar Embun dengan semangatnya.


Ia bergegas membawa piring dan gelas kotor ke tempat cuci piring. Selesai membereskan dapur, Embun segera beralih menuju ruang tengah. Matanya tertuju pada sebuah lemari usang berisikan boneka di bagian tengah dan gelas juga piring di sebelah kanan dan kirinya.


"Entah kenapa aku ingin membuka lemari itu. Mungkin ada sesuatu yang aku lupakan." Pikirnya.


"Hah. . apa ini? Aku buka ah." Ujar Embun saat melihat sebuah kotak berisikan beberapa kumpulan foto.


Terlihat beberapa foto dirinya saat masih sekolah dulu. Seorang gadis cantik yang kala itu berusia 16 tahun sedang duduk bersama teman-temannya menantikan bel pulang sekolah.


Tapi saat di lihatnya lebih banyak fotonya yang diambil secara diam-diam. Entah siapa yang diam-diam mengambilnya, Embun melihatnya satu-persatu.


Astaghfirulloh. . Bagaimana bisa dia mengambil gambarku saat aku tertidur di kelas. . .Apakah dia mengajak perang? Huhh awas saja kalau aku tau orangnya." Gerutu Embun saat mendapati foto dirinya yang tertidur di dalam kelas.


Satu persatu lembaran foto telah Embun lihat semuanya. Di paling bawah kotak terdapat kertas berwarna merah muda dan sebuah gelang berwarna emas. Entah asli atau hanya sebuah imitasi.


[ Hai Caca. .


Mungkin aku satu-satunya orang yang memanggilmu Caca hehe.


Sebelum kamu memarahiku atau bahkan memu****** aku mau minta maaf dulu padamu.


Maaf sudah mengambil gambarmu secara diam-diam.


Tapi aku pastikan kamu suka kan? Fotonya aku sengaja kumpulin dan aku kirim ke kamu, siapa tau kamu ingin melihat wajahmu saat masih piyik.


Kamu tak perlu tau siapa aku,


Yang jelas aku sudah lama mengagumimu. .

__ADS_1


Tapi aku tau, kamu belum ingin berpacaran saat itu.


Dan aku cuma bisa mengambil gambarmu secara diam-diam dan sebisaku.


Aku udah janji sama diriku sendiri, suatu saat nanti aku akan untuk melamarmu dan menjemputmu untuk tinggal bersamaku di istana kita berdua. .


Aku berharapnya semoga kamu belum menikah sekarang.


Karena aku masih berjuang mengumpulkan pundi-pundi untuk masa depan kita.


Suatu hari aku kembali melihatmu saat di Jakarta.


Mungkin saat itu kamu sedang terburu-buru.


Aku cuma bisa melihatmu dari jauh,


Kamu tau apa yang aku katakan saat itu?


Aku bilang, aku akan segera melamarmu.


Tapi saat aku datang ke rumahmu, tidak ada orang.


Mungkin kamu masih di Jakarta, dan aku tidak tau dimana Ibumu saat itu.


Jadi aku pergi saja dan menuliskan surat untuk meninggalkan kotak ini di meja teras rumahmu.


Aku harap, kamu sudi memakai gelang ini Ca.


Aku akan menemuimu lagi kalau waktunya sudah tepat.


KALAU MAU KANGEN BOLEH KOK CA


KALAU JODOH GAK AKAN KEMANA, AKU PERCAYA RENCANA ALLAH KEBIH INDAH DARI APA YANG KITA RENCANAKAN.]


"Siapa dia sebenarnya? Apa yang membuatnya bisa kagum pada gadis sepertiku kala itu?" Ujar Embun.


______________________


》Untuk sementara CAHAYA EMBUN Up setiap hari minggu ya 😍😍


》Tapi kalau banyak yamg baca mungkin Up nya bisa setiap hari hehe.😍😍


》Jangan lupa meninggalkan jejak LIKE dan KOMEN n RATE 5 ya 😍😍

__ADS_1


🌺CAHAYA EMBUN EPS. 05🌺


~Teşekkürler, Sizi seviyorum millet 😙😙~


__ADS_2