
"Dari mana kamu Nak?" Tanya Ibu yang baru saja keluar dari dalam rumah membawa sebuah baskom berukuran besar.
"Habis jalan-jalan Bu, keliling kampung. Sudah lama aku tidak melihat-lihat suasana kampung kan. Ibu mau ke tempat Bu RT lagi?" Tanya Embun pada Ibunya.
"Iya, Ibu hanya mengambil baskom ini saja karena di sana kekurangan tempat untuk yang lainnya. Kamu mau ikut atau di rumah aja?" Tanya Ibu untuk memastikan.
"Boleh ikut Bu?" Tanya Embun pada Ibunya.
"Boleh Nak, ikut saja yuk. Nanti sekalian biar kamu bisa silaturahim sama yang lainnya. Mereka juga nanyain kamu katanya ingin lihat kamu kok." Ucap Ibunya.
"Hmm. .Ya sudah Embun ikut Ibu. Tapi Embu ambil ponsel dulu ya Bu." Ucap Embun.
"Iya, Ibu tunggu di sini ya." Ujar Ibu duduk di kursi teras rumahnya.
Embun segera masuk menuju kamarnya untuk mengambil ponsel yang ia letakkan diatas nakas samping kasur. Sesaat sorot matanya tertuju pada kotak merah kecil yang tadi pagi ia buka. Sebuah senyum mengembang di wajahnya. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu.
Embun segera berlalu meninggalkan kamar dan menutupnya rapat-rapat. Dia segera keluar karena Ibunya sudah menunggu nya di luar sejak tadi.
"Ayo Bu. . . ."Ajak Embun setelah mengunci pintu rumahnya.
"Sudah?" Tanya Ibu.
"Udah Bu." Jawab Embun sambil menganggukkan kepalanya.
Embun dan Ibu jalan berjejeran menuju rumah Bu RT yang letaknya di belakang rumah Embun dan harus jalan memutar melewati beberapa rumah.
Setiap orang yang berpapasan selalu menebar senyum dan menyapa Ibu. Hingga mereka terlibat obrolan beberapa saat dan Embun hanya mendengarkan nya kecuali jika dia di tanya.
Sesampainya di rumah Bu RT, Embun tak sungkan-sungkan langsung mencium punggung tangan semua orang yang lebih tua darinya. Bahkan mereka langsung memeluk Embun karena saking lamanya tidak bertemu.
"Ealah. . .ini toh yang anaknya Bu Maya. Cantik sekali. Pantas saja, lah wong Ibunya cantik." Ujar Budhe Umi.
"Makasih Budhe. . " Jawab Embun dengan sopan nya.
"Besok kalau Ibu sudah di sana, kamu jangan lupa telepon yang ada gambarnya ya Mbun, biar Budhe bisa lihat Ibumu di sana." Ujar Bude Umi lagi.
"Iya Budhe. . . siap." Ucap Embun.
Embun ikut membantu Budhe Umi membungkus makanan kering ke dalam plastik kecil. Mereka terlibat beberapa kali obrolan dan di iringi dengan gelak tawa di antara keduanya.
~Di Tempat yang sama di sisi yang berbeda~
__ADS_1
"Dia memang pandai bersosialisasi. . padahal baru saja bergabung dengan mereka. Tapi sekarang sudah bisa membaur dengan yang lainnya tanpa sungkan lagi. Kecantikannya sudah terlihat sejak dulu saat dia masih usia belia, dan sekarang semakin terpancar." Ujar seseorang yang sejak tadi melihat Embun dari kejauhan.
Dulu setiap dia pulang sekolah, saya berjalan kaki sendirian di antara persawahan selalu bertemu dengannya. Dia selalu tersenyum kepada semua orang yang berpapasan dengannya.
Dia sudah menganggapnya seperti adiknya sendiri, karena sejak kecil Embun sering bermain ke rumahnya. Kebetulan usianya sepantaran dengan adiknya yang sekarang sudah tinggal di Jakarta dan jarang sekali pulang karena sibuk dengan urusannya.
[Flashback On]
"Assalamu'alaikum. . ." Ucap Embun saat datang ke rumahnya.
"Wa'alaikumussalam. . . Cari siapa Dek. Tanyanya saat membuka pintu rumahnya.
"Cari adik nya Mas, kan aku ada tugas kelompok." Ucap Embun.
"Oh, dia lagi ikut Ibu ke rumah Bulik di desa sebelah. Tunggu dulu saja disini. Sebentar lagi juga nanti pulang." Ujar nya dengan ramah.
"Oh iya Mas. . ." Ucap Embun.
"Ya udah, ayo masuk. Duduk dulu di dalam. Kalau di luar panas. . . " Ujarnya lagi mempersilakan Embun untuk segera masuk.
"Iya Mas. . . Makasih ya Mas." Ucap Embun.
"Iya Dek. . .Mas sambil nulis juga ya Dek. Kamu nonton TV saja." Ujarnya menyalakan TV untuk Embun.
"Nggak kok. . .Ini juga santai." Ucapnya dengan senyum yang ramah.
"Mas sekolah di SMA favorit itu susah nggak sih?" Tanya Embun.
"Nggak kok Dek, kamu pasti bisa masuk. Kamu kan pintar, yang penting jangan bolos sekolah, setiap tugas di kerjakan bukan di tinggal main." Ujar nya menceramahi.
"Iya Mas. . . ." Jawab Embun.
"Kamu rencananya mau sekolah di SMA itu juga toh?" Tanya nya.
"Pingin nya gitu Mas, kan lumayan kalau dapat beasiswa jadi gak perlu keluar banyak duit." Ucap Embun.
"Lah iya. . .yang penting otak siap-siap jangan sampai panas aja Dek." Ujarnya.
"Helleh. . . Lah emang bisa ya otak sampe panas? Mas Bayu bisa aja." Ujar Embun tertawa.
"Lah kamu ini. . .teman mu aja bnyak yang ngeluh kok. Apalagi si Anu. . .wes. . pusing aku. . ." Ujarnya lagi.
__ADS_1
"Si Anu siapa sih Mas?" Tanya Embun.
"Itu anak kecil di dalam foto."Ujar Mas Bayu menunjukkan sebuah foto yang terpajang di dinding.
"Ealahhh Mas . .sama Adik sendiri kok pake Anu segala." Ucap Embun.
"Biarin, wong dia manjanya sampai bikin aku pusing. Kalau bisa tukar tambah sudah aku tukar di pasar loak." Ujar Mas Bayu.
Embun hanya tertawa di buatnya. Saat itu dia berusia 14 tahun, tapi karena sering main bersama teman yang usianya rata-rata lebih dewasa membuat pikirannya ikut dewasa sebelum waktunya.
[Flash Back Off]
"Tawanya masih sama seperti dulu, tapi apakah kamu juga masih sama seperti yang dulu Dek?" Batin mas Bayu yang sedang duduk di kursi ruang tengah dengan laptop di depannya sedang mengedit lembaran untuk nama keponakannya yang baru lahir 7 hari yang lalu.
~Di Rumah Belakang~
"Kamu sudah ada calon belum Mbun?" Tanya Budhe Umi.
"Belum Budhe. . . Masih ingin fokus kerja dulu. Belum ada tabungan buat ke arah sana." Ujarnya.
"Lah kamu kan pihak wanita, jadi gak perlu siapin banyak anggaran buat nikah kan?" Ujar Budhe.
"Tapi kan seenggaknya aku harus ada tabungan sendiri untuk jaga-jaga Budhe. Biarpun suami ku orang kaya sekalipun, tapi aku gak mau bergantung padanya Budhe." Ujar Embun.
"Mbun. . Mbun. . Andai Budhe masih punya anak yang bujang. Pasti Budhe udah datang ke rumahmu untuk lamar kaku jadi menantuku." Ujar Budhe Umi.
"Tapi kan sekarang Budhe sudah punya membatu yang baik-baik toh. Apalagi Mbak Dian, baik banget malah." Ujar Embun.
"Kamu udah ketemu sama Dian toh? Dia nanyain kamu kemarin katanya udah lama gak lihat kamu." Ujar Budhe Ari yang teringat dengan menantunya yang tempo hari bilang ingin ketemu Embun.
"Udah Budhe. . .tadi kami udah ngobrol. Bahkan Mbak Dian nawarin diri buat jaga rumah Embun." Ujar Embun
________________________________________
》Untuk sementara CAHAYA EMBUN Up setiap hari minggu ya 😍😍
》Tapi kalau banyak yang baca mungkin Up nya bisa setiap hari hehe.😍😍
》Jangan lupa meninggalkan jejak LIKE dan KOMEN , rate 5 dan Vote seikhlasnya. 😍😍
🌺CAHAYA EMBUN EPS. 07🌺
__ADS_1
~Teşekkürler, Sizi seviyorum millet 😙😙~