
Tokk. . .tokk. . tok. . .
"Selamat siang, Pak. Maaf menyita sedikit waktunya. Ada berkas yang harus Bapak tanda tangani." Ucap sekretarisnya dengan ramah.
"Oh, baik. Kemari." Ucap Pak Rian dengan senyuman khas yang seolah tak pernah hilang di wajahnya.
Seorang sekretaris masuk ke ruangan dengan membawa beberapa berkas di kedua tangannya. Namanya Ana, gadis berusia 27 tahun berperawakan tinggi langsing dan cantik. Banyak pria yang menyukainya, tapi tidak satupun diantara mereka yang mampu menarik perhatiannya kecuali Yudhis.
Ya, Ana diam-diam menyukai Yudhis. Tapi sepertinya Yudhis tak memiliki rasa padanya, bagi Yudhis Ana sudah seperti kakaknya sendiri karena usianya yang lebih dewasa 4 tahun darinya.
"Setelah ini apakah masih ada pertemuan lagi?" Tanya Pak Rian sembari jemarinya memegangi pulpen membentuk garis bersambung di atas kertas bagian bawah pojok kanan.
"Untuk sementara belum ada jadwal lagi untuk pertemuan yang akak datang Pak." Jawabnya dengan lugas.
"Hmm. . syukurlah. Hari ini aku pulang lebih awal, kalau ada pertemuan mendadak, segera hubungi Yudhis. Aku percayakan padanya." Perintah Pak Rian di ikuti dengan menutup berkas yang barusan di bawa Ana.
"Baik, Pak." Jawab Ana segera mengambil file dan membawanya keluar dari ruang kerja Pak Rian.
Di Sudut Ruang yang berbeda. .
"Berjalanku di jalan setapak, berusaha menemukan arti setiap tapak yang telah aku lewati dan mencari tapak yang lain pada jalanku ini"
Pria berkulit sawo matang tengah duduk menghadap kaca di belakang meja kerjanya. Semua pekerjaan hari ini telah selesai lebih cepat dari waktu yang dia targetkan.
Cuaca siang ini terlihat begitu cerah, tak terlihat ada setitik pun awan putih di langit. Pantulan sinar mataharinmenembus masuk melewati kaca besar di hadapannya, namun panasnya terkalahkan dengan hembusan AC yang menyala dengan temperatur suhu 20°C.
Tiba-tiba terbesit kerinduan pada sosok wanita yang sangat berarti dalam hidupnya. Siapa lagi kalau bukan Ibunya, tidak ada wanita lain yang begitu spesial di hatinya kecuali Ibu wanita tangguh yang telah mengajarkan akan artinya kesabaran untuknya.
Tuuut. tuutt. . .tuuut. . .
"Assalamu'alaikum. . . " Ucapnya dengan lembut.
"Wa'alaikumussalam, Bu. Pripun kabare Ibu?" Tanya Yudhis dengan sopan.
__ADS_1
"Alhamdulillah Le. Ibu sehat wa'afiat. Lah awakmu piye Le? Isih nek kantor opo libur?" Tanya Ibu lagi dengan menggunakan bahasa daerahnya.
"Masih di kantor Bu, kebetulan pekerjaan sudah selesai, jadi Yudhis menghubungi Ibu. Ibu sedang apa sekarang?" Tutur Yudhis pada Ibunya dengan sopan.
"Ibu baru saja selesai sholat Dzuhur, Le. Kamu sudah sholat belum?" Tanya Ibu dengan medok nya.
"Alhamdulillah sampun Bu." Ucap Yudhis seraya tersenyum.
"Piye? Apakah sudah ada tanda-tanda calon menantu Ibu akan di bawa pulang untuk kamu perkenalkan?" Tanya Ibu membuat Yudhis tertawa karenanya.
"hahaha. .Astaghfirulloh Bu, Yudhis baru 23 tahun. Sepertinya masih kurang matang untuk Yudhis melangkah ke jenjang pernikahan. Toh Yudhis belum menemukan seseorang yang sreg di hati Yudhis." Jawab Yudhis dengan jujur.
"Kamu sma Mas mu saja aja kalau Ibu tanyakan soal menikah. Yang penting kalau kamu punya teman wanita kenalkan sama Ibu. Tetangga pada nanya kapan bujang-bujang nya Bu Erna puoang bawa calon isteri, Le." Ujar Ibu.
"Nggih Bu, insyaAllah. Doakan ya, semoga Yudhis kerjanya lancar, dan bisa membawa pulang menantu Ibu kalau udah tiba waktunya." Ucap Yudhis dengan santainya.
"Aamiin Ya Allah, sek penting ojo lali sholat, nyuwun marang Gusti Allah yo Le." Pesan Ibunya pada Yudhis.
"Nggih Bu, InsyaAllah. Ibu selalu jaga kesehatan, kalau ada apa-apa kabari Yudhis" Ucap Yudhis sebelum panggilan berakhir siang itu.
tokk tokk tokk*
"Mas Yudhis. . .Boleh Ana masuk?" Tanya Ana dengan kepala yang baru masuk.
"Silakan Mba An." Ucap Yudhis mempersilakan Ana masuk.
"Makasih Mas. . ." Ucapnya .
Suasana tiba-tiba kembali sunyi, Ana hanya diam sejak dia masuk ke dalam ruang kerja Yudhis dan duduk di kursi seberang meja kerja Yudhis.
"Mba An kenapa diam? Bukan kah Mba An kesini ada sesuatu yang ingin di bicarakan?" Tanya Yudhis.
" Emm. Mas Yudhis ada hubungan apa dengan Bu Embun? Tadi gak sengaja Ana lihat Mas Yudhis sama Bu Embun bergandengan." Tanya Ana langsung menggigit bibirnya setelah pertanyaan terlontar.
__ADS_1
"Dia sahabatku di kampung, dan sudah lama kami tak bertemu. Mana mungkin kami menyia-nyiakan kesempatan yang ada begitu saja, aku mengajaknya untuk makan siang sekalian berbagi cerita satu sama lain." Ucap Yudhis.
"Hmm. . aku kira itu kekasih Mas Yudhis. . " Ucap Ana dengan perasaan sedikit lega.
"Saat ini hubunganku dengan Caca masih sebatas teman Mba An, belum tau kedepannya akan seperti apa." Ucap Yudhis yang kali ini membuat wajah Ana berubah menjadi cemburu.
"Semoga mereka tetap bersahabat, aku gak akan rela kalau Mas Yudhis bersama wanita lain. Aku akan mencari cara untuk bisa mengalihkan perhatianmu Mas." Batin Ana dengan penuh harap.
Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30, Yudhis sedang membereskan ruang kerjanya sebelum dia pulang. Seperti biasa, Reza selalu datang untuk menghampiri sahabatnya untuk jalan ke parkiran bersama.
"Kau ini, sudah ada Cleaning Service yang membereskan Dis. Nanti mereka ke enakan kalau datang-datang ke ruangan mu semua sudah beres." Ujar Reza yang baru masuk dan menjatuhkan badannya di atas sofa.
"Setidaknya aku membantu mereka Za.." Timpal Yudhis.
"Terserah mu saja lah." Ucapnua seraya sibuk dengan ponsel yang saat ini berada di dalam genggamannya.
Setelah semua selesai, Yudhis dan Reza berjalan menyusuri lorong menuju lift. Semua karyawan sudah pulang, lorong begitu lengang hanya terdengar suara sepatu dan lantai. Ketika pintu lift mulai terbuka, terdengar suara seorang perempuan dari arah belakang memanggil Yudhis.
Spontan Yudhis dan Reza sudah mengenali siapa pemilik suara itu, merekapun langsung memutar badan untuk memastikannya kalau itu memang dia yang memanggil bukan suara yang lainnya.
"Hmm. . dia begitu tergila-gila padamu Dis. Kenapa kau tak mengajak nya kencan saja? Aku rasa dia akan dengan suka rela menyerahkan seluruhnya kepadamu." Ucap Reza dengan senyum kecut.
"Dasar omes. . apakah yang ada di pikiran mu hanya itu? Astaghfirulloh." Yudhis tak habis pikir jika Reza mulai lagi seperti dulu.
"Ini yang aku takutkan kalau kau sampai bertemu dengan Caca, Za."
______________________________________________________
>> Terimakasih yang sudah berkenan membaca coretan ini😍😍
Jangan lupa Like, Komen, Rate 5 dan Vote😍
🌺CAHAYA EMBUN EPS. 17🌺
__ADS_1
~Teşekkürler, Sizi seviyorum millet 😙😙~