Lembayung Rindu

Lembayung Rindu
Ch. 12 Dia Mengenalnya


__ADS_3

~Di sebuah kamar bernuansa putih~


Embun baru saja selesai mandi, ia keluar dari kamar mandi masih menggunakan kimono. Diambilnya hairdryer untuk mengeringkan rambutnya yang baru saja keramas.


Setelah rambut kering, dan di sisir ala kadarnya, Embun pergi mendekati lemari baju di pojok kamar. Celana bahan berwarna hitam lolos dari pilihannya, di ikuti dengan blazer berwarna senada.


"Aku pakai warna ini saja, siapa tau nanti ada yang dadakan mengajakku pergi ke tempat acara yang resmi. Kalaupun tidak, ya tidak apa toh aku menyukainya." celetuknya saat memilih pakaian yang akan ia kenakan.


Selesai berganti pakaian, ia kembali duduk di depan meja rias. Memoles sedikit wajahnya agar tidak terlihat kumal di depan Pak Rian nanti. Ia mulai mengambil beberapa macam skincare yang akan ia gunakan pagi ini.


Dengan perlahan, step by step telah di lewati. Setelah di lihat beberapa kali untuk memastikan make up di wajahnya tidak ada yang terlalu mencolok karena sejujurnya Embun tidak suka berhias, namun pekerjaan menuntutnya untuk selalu berpenampilan cantik dan menarik.


"Huhh. . . Aku sebenarnya malas menggunakan semua skincare ini. Tapi kalau aku tidak memakainya wajahku akan terlihat buluk. Dan bagaimana kalau klien ku mundur alon-alon karena penampilanku. Semoga saja aku mendapatkan suami yang tidak menuntutku untuk full makeup setiap harinya." Tiba-tiba kalimat itu lolos begitu saja dari dalam benaknya.


"Eh, apa yang aku ucap barusan? Astaghfirulloh Mbun. . Otakmu. Bagaimana bisa lagi ngomong masalah pekerjaan sampai ke suami. Kerja dulu Mbun kerja, masalah jodoh itu nomor sekian setelah kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan baru deh kamu boleh mikirin calon. Emm. . Tapi kalau Allah mempertemukannya dalam waktu dekat gak apa-apa sih. Anggap saja menyelam sambil minum air, sekali mendayung dua pulau terlampaui." Celetuk Embun membuatnya tertawa sendiri karena otaknya yang sedikit oleng pagi itu.


______


~Di Dapur~


"Ibu. . " Panggilnya saat kedua kakinyan telah menginjak di anak tangga paling bawah.


"Iya sayang. Ayo Nak sarapan. Nasi goreng sudah siap. Kamu harus makan sebelum berangkat, supaya kamu bisa konsentrasi nanti saat bekerja." Ucap Ibunya.


"Iya Bu, makasih ya Bu. Ibu juga sarapan temani aku." Ucap Embun.


"Hmm. . Baiklah. Tapi Ibu ambilkan minum dulu untukmu." Ucap Ibu pergi ke dapur mengambil dua gelas air putih.


Sepiring nasi goreng telah habis tak tersisa, air dalam gelas pun sudah habis. Embun begitu bersemangat menyantap masi goreng buatan Ibunya yang selalu enak dan tak ada kata kenyang saat memakan masakan Ibu.


"Hmm. . Alhamdulillah. . Makasih ya Bu, nasi gorengnya enak. Apapun masakah yang ibu bikin selalu enak." Ucap Embun memuji masakan Ibunya dengan menunjukkan dua jempolnya pada Ibu.


"Dan kamu yang selalu memuji Ibi, selalu saja begitu. Padahal kadang makanan Ibu biasa saja tidak mewah seperti masakan orang pada umumnya." Ujar Ibu merendah.

__ADS_1


"Kata siapa? Yabg terpenting rasa dan kasih sayang yang ibu bubuhkan di dalamnya. Tak perlu mewah-mewah Bu, karena kemewahan tak menjamin makanan akan terasa enak." Ucap Embun lagi.


"Iya sayang. Ya sudah, kamu sebaiknya berangkat sudah jam 8 loh ini." Ucap Ibu menunjukk sebuah jam yang terpasang di dinding ruang makan.


"Ya sudah, Embun berangkat dulu ya Bu. Doakan semoga pertemuan hari ini lancar, dan Embun bisa pulang cepat. Kalau ada apa-apa Ibu panggil Mang Jaka saja. Mbak Tini juga sebentar lagi datang." Ucap Embun.


"Iya sayang, semoga hari ini pekerjaanmu lancar. Yang penting selalu ingat sama Allah ya Nak." Ucap Ibunya dengan lembut.


"Iya Ibuku sayang. Embun berangkat dulu, Assalamu'alaikum Bu." Ucap Embun seraya mencium punggung tangan Ibunya dan mencium pipi Ibunya sebelum pergi meninggalkan ruang makan.


"Hati-hati ya Sayang. Wa'alaikumussalam." Jawab Ibunya yang masih duduk di meja makan karena makanan belum habis.


Embun segera berjalan keluar, melangkahkan kakinya menuju garasi. Suara sepatu dengan lantai saling beradu menghasilkan suara yang bernada membuat Mang Jaka segera membukakan pagar rumahnya untuk Embun.


"Selamat pagi Non." Sapa Mang Jaka saat mobilnya melewati pagar rumah.


"Pagi Mang, semangat kerjanya ya." Ucap Embun dengan senyuman di wajahnya.


"Siap Non." Jawab Mang Jaka.


"Hmm. . Tumben sekali jam segini jalan masih ramai. Semoga aku tidak terlambat, jangan sampai kerjasama kali ini gagal karena aku datang terlambat." Gumam Embun sambil tangan sibuk dengan setir mobil.


______


~Cahaya Property~


Setibanya di depan gedung yang tinggi menjulang ke atas, Embun turun dari dalam mobilnya dan berjalan menuju meja resepsionis untuk meminta jadwal temu dengan Pak Rian.


"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" Tanya seorang resepsionis dengan senyum ramahnya.


"Selamat Siang Mbak, Saya ingin bertemu dengan Pak Rian. Apakah bisa?" Tanya Embun dengan sopan.


"Dengan Mbak siapa? Apakah sebelumnya sudah ada janji temu dengan beliau?" Tanya Resepsionis lagi.

__ADS_1


"Saya Embun dari AceStory, sebelum nya saya dan Pak Rian sudah bertemu. Dan sekarang adalah pertemuan kedua kami. Beliau yang meminta saya untuk datang hari ini." Ucap Embun.


"Sebentar saya hubungi dulu untuk konfirmasi ya. Silakan di tunggu dulu." Ucapnya.


Embun duduk di kursi tunggu depan meja resepsionis untuk menunggu perintah selanjutnya dari resepsionis. Saat sedang menunggu, seseorang memanggil namanya dari kejauhan.


"Ca. . . " Panggilnya saat baru memasuki pintu depan.


Embun mengangkat kepalanya, mencari sumber suara yang memanggilnya. Terlihat sosok pria dengan berjas hitam kemeja putih lengkap dengan gasi berwarna biru garis-garis.


Dia berjalan mendekati Embun dengan langkah tegap, Embun hanya diam saat melihatnya tak berkedip. Dia tak mengenal pria yang memanggilnya.


"Siapa pria itu? Darimana dia tau namaku?" Pikir Embun saat menatapnya.


"Sedang apa kamu disini?" Tanya sembari duduk di sebelah Embun.


"Maaf, anda siapa?" Tanya Embun dengan sopannya.


"Hei apa kau lupa denganku? Astaga, sudah lama kita tidak bertemu kan?" Ucapnya lagi seolah sudah lama mengenal Embun.


"Mungkin Anda salah orang. . " Ucap Embun bangun dari tempat duduk nya.


"Hei tunggu, kamu Cahaya Embun kan?" Bahkan dia menyebut nama lengkap Embun, dan semua yang berhubungan dengan Embun di masa lalunya membuat Embun mengurungkan niatnya, dan kembali duduk di sampingnya.


"Anda mengenalku? Hmm... Sebentar. . Diam. . Jangan bergerak." Ucap Embun yang berusaha mengingat-ingat siapa sosok pria yang kini berada di hadapannya.


____________________________________


>> Terimakasih yang sudah berkenan membaca coretan ini😍😍


Jangan lupa Like, Komen, rate 5 dan Vote ya 😍


🌺CAHAYA EMBUN EPS. 12🌺

__ADS_1


~Teşekkürler, Sizi seviyorum millet 😙😙~


__ADS_2