Lembayung Rindu

Lembayung Rindu
Ch. 19 Menyetujui Tawaran


__ADS_3

..Reza's Apartemen...


Entah apa yang membuatnya seperti saat ini, seseorang yang telah di anggap sahabat dengan mudahnya mengiyakan ajakan seorang wanita yang sedang berusaha meluluhkan hati sahabatnya.


Wanita berwajah lokal, dengan rambut tergerai sebahu telah duduk di hadapannya. Setelah obrolan di dalam mobil saat perjalanan pulang, mereka memutuskan untuk ke apartemen. Reza masih duduk berseberangan dengan sepuntung rokok yang menyala di tangan kirinya.


[Flashback On]


"Temani aku malam ini. . ." Ucapnya dengan wajah datar yang sulit diartikan.


Deg


Sesaat Ana terdiam setelah mendengar ucapan pria disampingnya, ia benar-benar tidak menyangka jika rekan kerjanya meminta sesuatu yang membuatnya berfikir sejenak.


"Dasar pria otak mesum." pikirnya.


"Kalau aku mengiyakan apakah sudah pasti Mas Yudhis kau denganku?" Tanya Ana meminta kejelasan dari Reza.


"Aku tak bilang seperti itu, aku hanya bilang akan mencari tau siapa wanita itu Ana. Selebihnya kau usaha saja sendiri." Ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya yang saat ini sedang fokus menyetir.


"Hmm, baiklah. Asal kau membantuku." Ana pun menyetujui tawaran Reza tanpa berfikir dua kali.


"Rupanya wanita ini benar-benar tergila-gila pada mu Dis." Batin Reza tersenyum kecut.


[Flashback Off]


"Aku akan mandi dulu, dimana kamar mandinya?" Tanya Ana meletakkan tas selempang berwana hitam di atas sofa.


"Masuk saja ke kamar. Kau akan menemukan kamar mandi di sana. Jangan buat berantakan di dalam, aku tidak suka." Ucap Reza di ikuti dengan menghindar sepuntung rokok yang asapnya mengebul sejak tadi.


"Tanpa kau peringatkan pun aku tidak akan melakukannya Za." Ujar Ana dengan ketus meninggalkan Reza begitu saja di sofa.


...Ana POV...


Sesampainya di kamar yang bernuansa dark, matanya tak bisa diam, menyapu seluruh ruangan. Meski kamar seorang pria, tapi l sangat rapih tak terlihat sedikitpun lipatan sprei di atas nya.


"Hmm...Rapih juga kamarnya. . apakah dia yang melakukannya sendiri. Hillih, mana mungkin. Pasti cleaning servise yang merapikan."


Ana segera berlalu memasuki sebuah ruangan kecil, meski berukuran kecil tapi terlihat lebih luas dengan bantuan kaca besar di dindingnya. Setelah pintu di tutup Ana segera menanggalkan satu persatu pakaiannya, dan masuk ke dalam bath up yang sudah di aliri dengan air hangat dan busa yang melimpah.

__ADS_1


"Mas, aku akan melakukan apapun demi mendapatkan mu. Bahkan aku rela menemani sahabatmu malam ini demi mencari tau siapa wanita yang telah memiliki hatimu selama ini.


Mas Yudhis hanya milikku seorang, aku tidak akan membiarkan siapapun merebut Mas dariku. Sebentar lagi, aku pasti akan bisa membuatmu mengejar-ngejar ku Mas."


Selesai mandi, Ana hanya mengenakan kimono karena tidak membawa baju ganti. Tanpa malu-malu Ana mendekati Reza yang masih berada di posisi nya semula.


"Za aku tak ada baju, bisakah belikan aku baju?" Tanya Ana duduk di samping Reza.


"Kau pilih saja, mau yang mana. ." Ucapnya menyerahkan ponselnya pada Ana.


Reza berlalu meninggalkan Ana sendirian dan memilih untung mandi karena badan terasa lengket setelah seharian berkutik dengan pekerjaan di kantor.


"Za, kita jadi?" Tanya Ana saat melihat Reza keluar dari kamar mandi.


"Kau pikirkan saja sendiri." Ucapnya tanpa memperdulikan Ana yang saat ini duduk di atas kasur.


Tanpa di duga-duga, Ana bangun dari duduknya dan memeluk Reza dari belakang melekatkan tubuhnya dengan punggung Reza. Tangannya meraba dada bidang Reza yang hanya berbalut handuk sepinggang.


"Malam ini aku milikmu." Bisik nya di telinga Reza.


"Lakukan saja apa yang kau inginkan." Ucapnya tanpa bergerak.


...Embun POV...


Di sudut kamar yang berbeda, tampak seorang gadis sedang duduk di ruang kerja yang berukuran 6x3 meter yang bersebelahan dengan kamarnya. Laptop telah menyala, terlihat beberapa dokumen di layar monitor.


Tangannya dengan cekatan mengetik di atas keyboard, baru saja ia menerima beberapa laporan dari rekan kerjanya yang saat ini sedang perjalanan bisnis ke luar provinsi dan mengharuskan dirinya untuk membuat laporan sebagai bentuk kerjasamanya.


Tidak perlu di ragukan lagi, Embun dan Sita seolah sudah memiliki ikatan batin antar keduanya. Mereka selalu melakukannya setiap salah satu diantara mereka sedang kerja lapangan. Dan tak heran, banyak teman-temannya yang memanggil mereka kembar karena hampir semua sifat dan karakter sama, hanya wajahnya saja yang berbeda.


Tring. . tring. . tring. .


"Hai Sit. . " Ucap Embun saat terlihat wajah sahabatnya di layar ponsel miliknya


"Hai Mbun, wah aku kangen sekali. . .sudah lama kita tidak bertemu ya." Ujar Sita tanpa ragu.


"Belum ada seminggu Sit, bagaimana pekerjaanmu di sana? Apakah berjalan dengan baik?" Tanya Embun pada sahabatnya.


"Alhamdulillah Mbun, semua berjalan sesuai yang aku harapkan. Dan rencananya besok pagi aku pulang dari sini. Oh iya, btw. . Congrats Mbun. . akhirnya kerjasama kita dengan Pak Rian berhasil. Meski ini bukan pertama kalinya, tapi rasanya lega sekali." Ucap Sita.

__ADS_1


"Hahah. . Ini semua juga hasil kerja kerasmu sayang. Aku sudah tidak ingin merayakannya berdua denganmu besok. Lekas lah pulang." Ucap Embun.


"Hmm. . Kita akan bertemu 3 hari lagi Mbun, Oh iya, bagaimana kabar Ibu?"Tanya Sita.


"Ibu Alhamdulillah sehat, sekarang pasti sudah tidur. Kamu belum tidur Sit?" Ucap Embun setelah melirik jam di layar laptop yang telah menunjukkan pukul 22.00 WIB.


"Belum Mbun, sebentar lagi aku akan tidur. Kamu jangan begadang, aku tidak ingin kamu sakit." Perkataan Sita membuat Embun mengembangkan sedikit senyumnya di wajahnya.


"Baik, Sayangku. Kamu juga, jaga kesehatan. See you on Monday, Sita." Ucap Embun.


Panggilan video call melalui sebuah aplikasi pun terputus, Embun kembali meletakan ponsel di atas meja kerja nya dan perhatiannya segera beralih pada layar laptop yang sudah hampir satu jam ia campakkan.


Dalam waktu tiga puluh menit akhirnya pekerjaan selesai, dengan perasaan lega Embun pun segera mematikan laptop dan mematikan lampu di ruang kerja sebelum ia pergi meninggalkan ke kamarnya.


Tak lupa, Embun pun melakukan ritual malam sebelum tidur. Selesai melakukan ritual, ia segera naik ke atas ranjang untuk memejamkan kedua matanya mengobati sedikit lelah setelah aktivitasnya hari ini.


....


Pagi Hari di Balkon kamar. . .


Mentari bersinar dengan cerahnya, cahayanya menghangatkan tubuh seorang gadis yang kini sedang melakukan yoga di atas matras berwarna ungu yang ia gelar teras balkon. Alunan musik Sunrise - Norah Jones mengalun dengan volume sedang.


Sudah satu jam lamanya, Embun melakukan kegiatan yoga pagi ini. Selesai yoga, Embun segera menggulung matras dan menempatkan kembali pada tempatnya sebelum turun ke dapur melihat Ibunya yang saat ini sedang sibuk di sana.


"Selamat pagi, Ibu ku yang cantik." Sapa Embun seraya mengecup pipi Ibu yang saat ini sedang memotong sayuran.


"Pagi Nak, kamu masih libur?" Tanya Ibu dengan lembut.


"Hmmm . masih Bu. Hari ini Ibu mau pergi kemana? Biar aku temani." Ucap Embun dengan semangat.


______________________________________________________


>> Maafkan kalau jalan cerita gak nyambung, karena otak sepertinya sedang malas untuk berfikir😂😂


>>Terimakasih yang sudah berkenan membaca coretan ini😍😍


Jangan lupa Like, Komen, Rate 5 dan Vote😍


🌺CAHAYA EMBUN EPISODE 19🌺

__ADS_1


~Teşekkürler, Sizi seviyorum millet 😙😙~


__ADS_2