Lembayung Rindu

Lembayung Rindu
ch. 16 Keinginan Sebelum Menikah


__ADS_3

¬Makasih untuk makan siangnya, Oh iya, aku tunggu kedatangan mu ke rumah Dis. Ibu pasti senang kalau kau datang.¬


¬Aku pasti datang, tunggu kedatanganku Ca.¬


Sebuah senyuman terlukis di wajahnya setelah membalas pesan whats App dari Embun. Yudhis pun merasakan yang sama dengan Embun, dia merasa seperti dunia nya kembali berputar.


" Hmm. . rasanya seperti aku sedang kembali ke usia sekolah, dimana setiap harinya sepulang sekolah selalu bermain bersamanya. Di ikuti nya kemanapun aku pergi. Membuatnya menangis, sungguh dia lucu saat itu." Batin Yudhis.


Yudhis kembali berkutik dengan laptop dan beberapa lembar kertas di atas meja kerjanya. Kebetulan hati ini tidak ada pertemuan di luar, jadi dia bisa menyelesaikan semua pekerjaannya dengan cepat dan bisa pulang lebih cepat dari biasanya.


....Embun POV....


Selepas pulang dari pertemuan dengan Pak Rian juga sahabatnya, Embun segera masuk ke kamar untuk berganti pakaian rumahan dan mengistirahatkan sebentar badannya.


Dia memilih duduk di karpet samping ranjangnya sambil membuka ponselnya untuk mengecek pesan WhatsApp dari Sita. Seketika dia ingat belum mengabari sahabatnya jika dirinya telah sampai rumah.


Sepanjang berkirim pesan, wajahnya terus berseri seperti anak remaja yang sedang saling jatuh cinta. Sesekali tawa pecah begitu saja memecah kesunyian di sudut kamarnya.


"Astaghfirulloh Mbun, ingat. . dia sahabatmu, mungkin dia sudah memiliki calon, kamu jangan kegatelan Mbun. Jaga image mu." Gerutu Embun pada dirinya sendiri.


"Astaghfirulloh, sudah jam 2. Aku belum sholat dzuhur." Ucap Embun yang seketika teringat jika dirinya belum sholat.


Selesai sholat dzuhur, Embun segera turun dari kamar mencari keberadaan Ibunya. Ternyata Ibu sedang duduk di teras belakang, menikmati angin sepoi meski langit begitu terik.


"Ibu. . . " Panggil Embun seraya mencium pipi kanan ibunya dengan gemas.


"Iya Sayang, kamu kenapa? Sepertinya sedang bahagia sekali." Tanya Ibu nya dengan heran karena Embun terlihat sumringah siang itu.


"Gak apa-apa Bu, Embun lagi bahagia aja. Pertemuan siang ini lancar, dan kontrak kerja sama sudah aku dapatkan. Jadi aku tidak perlu lagi revisi semua proposal dan laporan yang begitu banyak." Jawab Embun.

__ADS_1


"Yakin tidak ada yang lain?" Tanya Ibunya.


"Yakin Bu, sejak kapan Embun berbohong pada Ibu." Ungkap Embun pada Ibunya.


"Coba sini, tatap mata Ibu. Kamu tidak bisa bohong pada Ibumu Nak." Ucap Ibu menatap kedua mata Embun lekat-lekat.


"Mulutmu bisa saja berbohong, tapi matamu tidak. Apakah kamu menyukai Yudhis?" Tanya Ibu membuat wajah Embun bersemu kemerahan.


"Ih. . Ibu, apaan sih? Aku sama Yudhis hanya sahabat, Ibu tahu sendiri bukan? Mungkin sekarang Yudhis sudah ada calon Bu, kan dia sudah lama tinggal di Jakarta. Kecil kemungkinan kalau dia masih sendiri." Ucap Embun dengan di barengi helaan nafas panjang seolah berat untuk mengatakannya.


"Jodoh tidak akan kemana Nak, bisa saja sekarang Nak Yudhis atau kamu bersama orang lain. Tapi kalau Allah menghendaki kalian untuk bersatu pasti kalian akan bersatu, dan Ibu harap tidak akan ada hati yang tersakiti karenanya." Ucap Ibu dengan lembut.


"Huhh Ibu. . Berapa kali Embun bilang, sekarang Embun hanya ingin fokus pada karir dan membahagiakan Ibu. Embun ingin, Ibu bisa menikmati hasil jerih payah Embun sebelum Embun menikah dengan orang lain." Ucapnya seraya bergelayut manja di pundak Ibunya.


"Apa kamu pikir selama ini Ibu belum menikmati hasil kerja kerasmu? Bahkan Ibu sudah banyak menghabiskan uang yang kamu berikan setiap bulannya Nak. Itu sudah lebih dari cukup untuk Ibu, melihatmu berada di posisi yang sekarang saja sudah membuat Ibu bahagia Nak." Ucap Ibunya lagi seraya membelai rambut anak gadisnya dengan lembut.


Embun merubah posisi tiduran di atas pangkuan Ibu, sudah lama dia tak melakukan setelah beberapa bulan lamanya. Dulu saat masih di kampung, setiap malam setelah sholat Isya Embun dan Ibu duduk berdua di teras dengan Embun kepala nya di atas paha Ibu memandangi bulan yang bersinar terang di langit yang gelap.


Angin siang itu berhembus dengan pelan, membuat Embun semakin larut terbuai dalam kenyamanan. Lama kelamaan rasa kantuknya semakin berat, kedua matanya seolah terkunci begitu saja dengan rapat.


Tangan Ibu pun masih terus bergerak, membuat usapan lembut di atas kepalanya, hingga Embun benar-benar tertidur dalam buaiannya.


"Ibu tidak tau, apa alasanmu yang sebenarnya Nak. Kamu hanya sedang membentengi dirimu sendiri, untuk suatu hal yang Ibu belum tau. Ibu hanya bisa mendoakan, semoga apapun yang kamu inginkan segera terwujud Nak."


....Di sudut ruang kerja lantai 4....


¬Sayang, pulang jam berapa? Mau aku masakan apa untukmu?¬


¬Aku pulang lebih cepat, jam 16.00 dari kantor. Apapun yang kamu masak pasti terasa lebih enak sayang.¬

__ADS_1


¬Okey, aku akan memasak apapun untukmu. Beruntunglah aku menikah dengan pria sepertimu. Selalu menghargai masakan istrimu meski tak seenak masakan di resto. See you, Honey¬


¬See you too, Baby¬


Itulah sepenggal chat pria paruh baya dengan istrinya yang usianya berjarak 16 tahun. Meski usia pernikahannya sudah hampir 20 tahun, tapi hubungannya tetap harmonis, bahkan mengalahkan para remaja yang sedang bucin.


Namanya Rian Prasetyo, ia menikah dengan putri seorang pengusaha ternama pada masanya. Karena kejujuran dan kepolosannya, membuat Bos nya menitipkan putri tunggalnya pada orang yang baru dia kenal dua bulan lamanya.


Pernikahan pun berlangsung dengan sangat meriah, semua tamu yang berdatangan pun bukan dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Namanya Cindy Putri, meski usia yang terpaut cukup jauh tak membuatnya menolak permintaan Ayahnya untuk menikah dengan Pria yang belum dia kenal sebelumnya.


Dari pernikahannya mereka di anugrahi sepasang anak, laki-laki dan perempuan. Tentunya menambah suasana kebahagiaan di dalam keluarganya kecilnya.


Pak Rian terkenal sebagai sosok Pengusaha yang ramah dan rendah hati. Mungkin karena dua karakter yang di milikinya membuat semua klien merasa senang bekerja sama dengannya. Termasuk dari Perusahaan dimana Embun bekerja.


Tokk. . .tokk. . tok. . .


"Selamat siang, Pak. Maaf menyita sedikit waktunya. Ada berkas yang harus Bapak tanda tangani." Ucap sekretarisnya dengan ramah.


"Oh, baik. Kemari." Ucap Pak Rian dengan senyuman khas yang seolah tak pernah hilang di wajahnya.


______________________________________________________


>> Terimakasih yang sudah berkenan membaca coretan ini😍😍


Jangan lupa Like, Komen, Rate 5 dan Vote😍


🌺CAHAYA EMBUN EPS. 16🌺


~Teşekkürler, Sizi seviyorum millet 😙😙~

__ADS_1


__ADS_2