
"Bu, ada sesuatu yang ingin Embun bicarakan pada Ibu." Ucap Embun dengan ragu.
"Apa Nak? Katakan. . " ucap Ibu sembari mengurangi volume TV.
"Bu. . ijinkan Embun untuk memboyong Ibu ke kota. Embun ingin selalu di dekat Ibu apapun yang terjadi nantinya. Embun tau, Embun sudah besar, sudah saatnya Embun berumah tangga. Tapi Embun ingin Ibu ikut Embun meski Embun sudah menikah nanti dan ikut dengan suami Embun Buk." Ujar Embun menyandarkan kepalanya di pundak Ibunya dan memeluk tubuh Ibunya.
"Nak. . . Bukankah lebih baik kau hidup bersama suamimu saja setelah menikah nanti?" Ujar Ibu.
"Bu, sejak kecil Ibu selalu menjaga Embun, menyayangi Embun dan membesarkan Embun seorang diri. Bagaimana bisa Embun meninggalkan Ibu seorang diri lagi? Ijinkan Embun membahagiakan Ibu, meski tak pernah sebanding dengan perjuangan Ibu selama ini." Ujar Embun lagi.
"Sayang. . ." Ucap Ibu.
"Iya Ibu??" Ujar Embun dengan mengecup pipi kiri ibunya berulang kali hingga membuat Ibu tertawa karena tingkah putrinya.
"Nak. . ibu malu. . .lepaskan." Ucap Ibu.
"Embun tidak akan melepaskan pelukan Embun dan ciuman Embun sampai Ibu mau ikut dengan Embun pindah ke kota. Bagaimana bisa Embun hidup enak di sana, sedangkan Ibu sendirian di sini tanpa sanak saudara." Ujar Embun lagi.
"Terus siapa yang akan merawat gubuk ini Nak? Ini adalah kenangan kita berdua. Mana mungkin Ibu bisa meninggalkannya begitu saja." Ujar Ibu.
"Embun akan meminta Pak RT untuk mencarikan orang untuk seminggu sekali membersihkan rumah ini Bu. Nanti jika ada libur panjang atau lebaran kita bisa kok pulang kesini." Ujar Embun.
"Kapan kamu akan kembali ke kota Nak??" Tanya Ibu.
"Kamis Embun ada pertemuan dengan klien Bu. Mungkin Rabu kita berangkat. Ibu mau kan???" Tanya Embun lagi.
"Akan ibu pikirkan dulu ya Nak. . " Ujar Ibu pada Embun.
Ibu kembali masuk ke kamar dengan perasaan yang kacau. Ibu begitu berat meninggalkan rumah yang selama ini menjadi tempatnya berteduh. Rumah yang telah menjadi saksi bisu perjuangannya saat harus berjuang membesarkan putri semata wayangnya seorang diri.
__ADS_1
[FlashBack On]
Malam itu hujan turun dengan lebatnya, aku masih menunggu kepulangannya. Malam sudah semakin larut, petir di langit kian menggelegar bersautan.
Aku menunggunya sejak pukul 7 malam setelah menidurkan putri semata wayang ku yang masih berusia 10 bulan. Sejak 1 bulan terakhir suamiku tak pernah memberikan kabar padaku.
Dia pamit pergi ke Kota untuk bekerja mencari nafkah untuk kami. Dengan berat hati aku mengizinkan dia pergi meski sebenarnya aku tak ingin melepaskannya. Aku ingin dia bersamaku, merawat putri kami berdua.
Tapi kebutuhan ekonomi membuatku harus merelakan untuknya pergi ke kota. Setiap satu bulan sekali dia selalu pulang untuk melepas rindu dengan keluarganya.
Tapi setelah hampir 6 bulan berada di kota, dia sedikit berubah. Bahkan selalu menolak jika aku ingin menyusulnya bersama putri kami. Dia bilang hidup di kota sangatlah mahal, sebaiknya aku tetap menunggunya di kampung.
Terlibat perdebatan kecil saat dia mendengar aku akan tetap menyusulnya. Untuk pertama kalinya dia membentukku, dan setelah kejadian itu kami putus komunikasi. Nomornya susah untuk di hubungi.
Aku masih berfikir positif, mungkin dia sibuk karena pekerjaannya yang banyak. Atau mungkin ponselnya lupa belum di charg. Hampir setiap malam aku menunggunya di teras. Tapi dia tak kunjung pulang.
Dan malam itu dia benar-benar pulang dengan sebuah mobil berwarna hitam berplat B. Penampilannya sudah berubah drastis, dia terlihat lebih muda dan lebih tampan tentunya. Baju yang dia kenakan pun terlihat begitu mewah.
Aku menyusulnya dari belakang, aku merebus air untuk membuatkannya kopi supaya badannya sedikit merasa hangat. Aku lihat dia sedang tiduran di samping putri kami. Dia menciumnya, berkali-kali memeluknya.
Pemandangan yang sudah lama tidak aku lihat, akhirnya malam itu aku melihatnya. Air mata tak sanggup ku bendung hingga mengalir begitu saja membasahi kedua pipiku.
Aku pikir setelah malam itu hubungan kami akan baik-baik saja, tapi besoknya dia pamit ke kota. Meninggalkan uang yang jauh lebih banyak untukku. Dia bilang mungkin akan lama tidak pulang karena ia harus pergi tugas ke luar provinsi.
Benar apa yang dia katakan, dia tak kunjung pulang hingga usia putri kami 5 tahun. Dan setelah itu aku tak banyak berharap, aku bekerja keras untuk bisa membesarkan putriku, harta satu-satunya yang aku punya saat ini.
[Flashback Off]
"Mas. . .Kamu dimana? Kenapa tidak kunjung pulang? Putri kita sudah besar sekarang. Dia sudah memiliki rumah dan mobil di kota. Apa kamu tidak ingin melihatnya? Dia tumbuh menjadi gadis yang cantik. Aku berharap suatu saat kamu pulang kembali pada keluargamu. Kalaupun kamu sudah memiliki keluarga baru di sana, aku akan belajar untuk ikhlas." Ucap Ibu memandangi sebuah foto kecil bersama suami dan juga Embun saat masih bayi.
__ADS_1
Embun diam-diam masuk ke dalam kamar Ibu karena mendengar suara tangisan Ibunya. Embun dengan perlahan membuka pintu kamar Ibu tanpa mengeluarkan suara.
Terlihat Ibu sedang duduk di tepi ranjang yang menghadap jendela kamar. Meski hanya melihat punggungnya, Embun tau Ibu sedang menangis.
"Ibu kenapa menangis? Apa aku sudah salah bicara? Aku hanya ingin mengajak Ibu untuk tinggal bersamaku." Batin Embun.
Perlahan Embun mendekati Ibunya dan ikut duduk di tepi kasur. Embun hanya diam mengusap punggung ibunya dari belakang. Hatinya terasa sakit saat melihat Ibu memilih untuk masuk ke kamar dan menangis sendirian.
"Bu, Embun salah ngomong ya? Maafin Embun Bu. . ." Ujar Embun dengan perlahan.
"Ti. . tidak nak. Kamu tidak salah, maafin Ibu. Kamu belum tidur?" Tanya Ibu berusaha menghapus air matanya.
"Ibu kenapa nangis? Cerita sama aku. Aku sudah besar, aku akan mendengarkan semua cerita Ibu. Meski aku tidak bisa membantunya. Tapi seenggaknya Ibu ada tempat untuk berbagi cerita." Ujar Embun.
"Nak .. . Ibu menyayangimu. Ibu juga tidak bisa berjauhan denganmu. Ibu mau ikut denganmu ke kota Nak. Ibu tidak mau lagi kehilangan separuh nafas Ibu." Ujar Ibu memeluk Embun dengan sangat kencang.
"Ibu. . .kenapa?? Embun tidak mungkin meninggalkan Ibu, Sejauh mana pun Embun pergi. . Embun pasti akan pulang ke rumah. Dan Ibu adalah rumahnya Embun." Ujar Embun.
"Terimakasih Nak .. . kamu gadis yang baik. Ibu bangga memilikimu." Ucap Ibu mencium seluruh wajah Embun berkali-kali.
"Ibu. . ini siapa?? Embun belum pernah melihatnya kan?" Tanya Embun saat melihat selembar foto di depannya.
_____________________________________________
》Kritik dan Saran dari kalian selalu aku tunggu 😊
Semoga kalian suka dengan ceritanya. 😍😍
🌺CAHAYA EMBUN EPS. 04🌺
__ADS_1
~Teşekkürler, Sizi seviyorum millet 😙😙~