Let Me Enjoy My New Life As A Duchess

Let Me Enjoy My New Life As A Duchess
Bab 10 Margareth Lewis ( Part 1)


__ADS_3

" Hm.. Wangi teh Chrysanthemum ini sungguh membuat hati dan pikiranku tenang."


Entah apa yang terjadi, tiba- tiba saja Mayuri mengatakan bahwa dia akan menikmati siangnya dengan menikmati secangkir teh Chrysanthemum dengan di temani oleh beberapa kue yang cantik dan manis di taman kediaman Bright.


Berbagai bunga terlihat sangat cantik mengelilingi seluruh taman. Tepat di depan Mayuri terlihat sebuah danau dengan air yang sangat bening. Tiupan angin sepoi pun menjadi tambahan.


" Saya merasa hari ini perasaan nona sedang baik." sahut Emilia.


" Oh? Tentu saja. Aku berharap hari ini akan menjadi hari yang sungguh luar biasa.. Hehe.."


Tiba-tiba saja terlihat seorang sosok pria datang mendekat. Dan seketika raut wajah Mayuri berubah total. Emilia yang melihat ekspresi tuannya itu langsung terkekeh kecil.


" Apa yang kamu ketawakan, Emi?" tanya Mayuri dengan wajah cemberut.


" Ehem.. Tidak ada apa-apa,nona." jawab Emilia sambil menahan tawa.


" Selamat siang,ladies."


" Selamat siang, duke." sapa Emilia.


" Zen, apa lagi yang kau lakukan di sini?" tanya Mayuri dengan wajah yang masih cemberut.


" Hm? Tentu saja bertemu dengan tunangan tersayangku." jawabnya sambil mencium punggung tangan Mayuri.


" Nona, saya kembali dulu. Masih banyak kerjaan yang belum saya kerjakan." sambungnya lagi.


Mayuri hanya mengangguk. Kemudian dia mengarahkan pandangan matanya ke arah Zen.


" Bisa tidak kamu tidak mengeluarkan kata-kata yang menjijikan seperti tadi?" tanya Mayuri.


" Kata-kata menjijikan? Seperti apa? Aku tidak merasa pernah berkata-kata menjijikan." tanya Zen kembali.


" Kata-kata seperti kesayangan.."


" Loh, kamu kan memang kesayanganku." sahut Zen sambil tersenyum lembut.


" Kh! Sungguh sangat menguras tenaga jika berbicara denganmu!" gerutu Mayuri sambil menuangkan secangkir teh Chrysanthemum dan memberikannya kepada Zen.


" Kuharap kamu tidak memilih-milih teh." sahut Mayuri.


Zen pun menyesap teh tersebut dan menatap ke arah Mayuri.


" Tentu saja tidak. Teh yang di tuangkan oleh tunanganku ini sungguh enak. Aku suka." sahut Zen.


Dan lagi, raut wajah kesal Mayuri terlihat. Zen pun terkekeh kecil.


...****************...


-Kediaman Count Lewis-


" Sarah! Sarah!" panggil Margareth.


" Ya, ada apa,ma?"


Sarah Lewis, putri dari Margareth dan Count Lewis. Saat ini berusia 18 tahun.


" Mama sudah menemukan pasangan yang cocok buatmu!"


" Lagi-lagi hal itu! Sudahlah,ma! Aku tidak ingin menikah!"


" Duke Fridzen Emerald Primos! Dia pria yang cocok untukmu!" sahut Margareth.


" Duke Zen? Bukankah dia sudah punya tunangan? Seluruh kerajaan sudah tahu akan hal itu." tanya Sarah kebinggungan.


" Hmph! Masih bertunangan! Bukan menikah. Dengarkan mama! Kamu harus bisa menakluk kan hati pria itu! Dengan begitu, kita akan bisa hidup tanpa kekurangan! Di tambah lagi, bukankah Duke Zen itu sangat tampan?"


Sarah berpikir sejenak.


" Baiklah kalau begitu." sahut Sarah.


" Bagus."


...****************...


TOK!


TOK!


" Masuklah."


" Selamat siang, duke Leon." sapa Zen.


" Saya mendengar bahwa anda ingin membahas sesuatu?" tanya Leon.


Raut wajah Zen mendadak berubah menjadi serius.


" Margareth Lewis." jawab Zen singkat.

__ADS_1


Leon terdiam.


" Jangan pernah menyebut nama wanita itu lagi."


" Kami bertemu dengannya semalam."


" Apa? Kami?"


" Iya. Saya dan Mayuri semalam berkencan. Menonton sebuah pertunjukan di gedung Meredian. Dan bertemu dengan Margareth Lewis." jawab Zen.


" Tu.. Tunggu dulu! Siapa berkencan dengan siapa?" tanya Leon.


" Saya dan Mayuri,pa." jawab Leon sambil tersenyum kecil.


Leon terlihat sangat kesal. Tetapi dia berusaha memendam amarahnya.


" Terus? Apa yang di lakukan oleh wanita itu?" tanya Leon.


" Tidak ada. Hanya memanggil Mayuri. Hanya dengan satu kata saja, Mayuri sudah gemetaran."


Leon terduduk lemas.


" Hah.. Seharusnya waktu itu saya tetap mengeksekusi wanita itu..."


" Apakah cukup hanya dengan mengeksekusinya?" tanya Zen.


" Apa maksudmu?"


" Dia sudah menyiksa Mayuri. Sampai-sampai hanya dengan mendengar suaranya saja, Mayuri sudah sampai gemetaran begitu."


Leon berpikir sejenak.


" Apa rencanamu?" tanya Leon.


Zen tersenyum.


" Hancurkan dari luar dan dalam.." gumam Zen.


Leon mengernyitkan keningnya. Kemudian Zen tersenyum kecil dan lu keluar dari ruangan.


...****************...


Setelah menyelesaikan urusannya dengan Leon, Zen berniat untuk kembali ke kediamannya. Tetapi dalan perjalanan menuju kereta kudanya, dia melihat Mayuri sedang menikmati secangkir teh di taman.


Akhirnya dia memutuskan untuk menemui Mayuri sebentar.


Setelah mengobrol beberapa saat, Zen akhirnya pamit.


" Hm? Sudah mau balik?" tanya Mayuri.


Zen membalikkan badannya.


" Kenapa? Masih merindukanku?" tanya Zen sambil tersenyum kecil.


" Si.. Siapa yang merindukanmu! Jangan terlalu percaya diri!"


Kemudian Zen pun mencium punggung tangan Mayuri.


" Maaf,ya. Tidak bisa menemanimu lebih lama hari ini. Aku ada urusan." sahut Zen.


" Hmph! Aku tidak mengharapkan apa-apa dari kamu." balas Mayuri ketus.


" Sana! Pergilah! Jangan menggangguku lagi!" sambung Mayuri.


Zen tersenyum dan kemudian pergi dari hadapan Mayuri. Setelah memastikan bahwa Zen sudah benar-benar pergi, Mayuri akhirnya memutuskan untuk kembali ke dalam vila.


" Huff.. Apa yang dia lakukan di sini sebenarnya? Apakah bertemu dengan papa? Tapi kenapa tiba-tiba..?"


" Mayuri? Apa yang sedang kamu lakukan di sini? Berdiri termenung begitu?" tanya seseorang.


Mayuri terkejut dan langsung menoleh ke arah suara tersebut.


" Papa! Eh.. Tidak ada apa-apa. Hanya saja tadi bertemu dengan Zen. Ada apa ya dia kemari?" tanya Mayuri.


Leon terdiam.


" Apa dia datang bertemu dengan papa?" sambung Mayuri.


" Tidak apa-apa. Bersiaplah. Sebentar lagi kita akan makan malam bersama." jawab Leon.


Mayuri terlihat cemberut. Kemudian dia menganggukan kepalanya dan bergegas kembali ke kamarnya.


Begitu masuk ke dalam kamar, Mayuri melihat Emilia sedang sibuk menyiapkan segala keperluannya untuk mandi dan bersiap untuk makan malam bersama ayahnya.


" Loh,nona? Koq cepat?" tanya Emilia.


" Apanya yang cepat?" tanya Mayuri balik.

__ADS_1


" Bukannya anda dan duke Zen sedang bersantai di taman tadi? Waktu yang bagus untuk mendekatkan diri dengam duke Zen, serta mengenalnya lebih baik." jawab Emilia.


" HIH! Siapa pula yang mau dekat-dekat dengannya? Pria seperti itu ,hanya manis di mulut saja. Tapi dalamnya siapa yang tau!" balas Mayuri.


Emilia hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menghela nafas panjang.


" Sepertinya perjalanan duke Zen untuk menakhlukkan hati nona Mayuri masih panjang." gumam Emilia pelan.


" Apa? Coba kamu ulangi?"


" Ah ,tidak apa-apa,nona! Ayo kita segera bersiap untuk makan malam!" sahut Emilia.


...****************...


" Leo! Leo!"


" Hah? Apa, Sagitarius?" tanya Leon.


" Hey, aku mendengar bahwa kamu melakukan kontrak dengan manusia?" tanya Sagitarius.


" Terus?" tanya Leon.


" Dan yang kudengar manusia itulah yang membuat Aries.. "


" Hentikan itu! Bukan Mayuri yang mencelakai Aries!"


" Hmm.. Kenapa kamu membela wanita manusia itu ketimbang Aries, yang merupakan wanitamu?"


Leo terdiam.


" .. Yang jelas, Aries bisa seperti sekarang ini, bukanlah di karenakan oleh Mayuri." jawab Leo dan kemudian menjauhi Sagitarius.


" Hmm.. Ada sesuati yang di tutupi oleh Leo. Sepertinya akan seru! Hihihi.." gumam Sagitarius sambil tersenyum kecil.


" Jangan mencari tahu, dan jangan pernah mau tahu." sahut seseorang dari arah belakang Sagitarius.


" WHOAA!! CANCER!" teriak Sagitarius.


" Hei." sapa Cancer.


" Apa maksudmu?" tanya Sagitarius.


Cancer berpikir sejenak.


" Maksudku, jangan pernah mencampuri urusan orang lain. Leo, sudah ada banyak hal yang membebaninya. Jangan lagi kamu menambah bebannya." jawab Cancer.


" Hm.. Aku jadi semakin ingin mencari tahu. Adios!" sahut Sagitarius dan kemudian pergi me jauh dari Cancer.


Cancer berdecak kesal.


" Sudahlah. Sekali dia sudah tertarik dengan sesuatu, tidak akan ada yang bisa membuatnya berubah pikiran." sahut Taurus yang muncul dari tempat persembunyiannya.


" Hmph.. Aku cuma kasihan sama Leo. Sudah banyak beban di pundaknya."


Taurus menatap ke arah Cancer.


" Apa?" tanya Cancer.


" Tidak apa-apa." jawab Taurus.


...****************...


Malam itu di kediaman Primos.


" Bagaimana? Informasi yang kuminta sudah ada?" tanya Zen terhadap Rico.


Rico meletakan beberapa lembar kertas di atas meja kerja Zen. Zen pun mengambil kertas itu dan membacanya dengan serius. Setelah beberapa menit dia membaca laporan itu, dia pun meletakkannya kembali. Sesekali dia memijit ringan keningnya itu.


" Kamu sudah boleh beristirahat,Rico. Terima kasih atas laporannya." sahut Zen.


Rico pun memberi salam dan kemudian keluar dari ruangan kerja Zen.


" Aiden." gumam Zen.


Tiba-tiba sebuah bayangan muncul. Seorang pria dengan pakaian serba hitam berlutu di hadapan Zen.


" Anda memanggil,tuan?"


Aiden merupakan pasukan rahasia milik keluarga Primos, Black Bull.


" Dalam beberapa hari ini, aku akan melakukan perjalanan bisnis. Sehingga aku tidak akan bisa berada di samping Mayuri. Jadi, lindungi Mayuri. Jangan sampai ada yang menyentuhnya sehelai rambut pun. Mengerti?!"


Aiden mengangguk dan kemudian menghilang dari hadapan Zen.


" Margareth Lewis. Tertawalah selagi bisa."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2