Let Me Enjoy My New Life As A Duchess

Let Me Enjoy My New Life As A Duchess
Bab 17 Margareth Lewis ( Last Part )


__ADS_3

CLANG!


Ketika pisau yang di pegang oleh Sarah hampir menyentuh jantung Mayuri, seseorang menepis serangan itu.


Leo terlihat sedikit lega. Sedangkan Succubus berdecak kesal.


" Maafkan saya, nona Mayuri." sahut seseorang yang mendadak muncul di hadapan Mayuri.


" Si.. Siapa?" tanya Mayuri.


" Saya, Terra, di tugaskan oleh Duke Zen untuk melindungi anda." jawabnya.


" Melindungiku? Kamu berada di mana saat Leo kesusahan melawan Succubus?"


Mayuri sangat kesal. Tetapi dia berusaha untuk tidak menunjukkan rasa kesalnya itu. Kemudian dia menatap ke arah Sarah yang terduduk diam setelah dia gagal membunuh Mayuri.


" Nona Lewis." panggil Mayuri.


Tetapi Sarah tidak bergeming sedikitpun. Mayuri perlahan mendekatinya.


" Nona Mayuri!" Terra berusaha menghentikan Mayuri untuk mendekati Sarah.


" Jelaskan padaku. Kenapa kamu memperingatkanku tentang Margareth, jika kamu sendiri mengincar nyawaku?" tanya Mayuri.


Sarah masih tidak bergeming. Tetapi Mayuri tidak menyerah di situ saja. Dia harus mendapatkan jawaban dari Sarah untuk menghilangkan rasa penasarannya.


" Sarah.. Tatap saya." sahut Mayuri.


Sarah pun kemudian menatap Mayuri. Kali ini dia menunjukan tatapan penuh kebencian.


" Jika saja kau tidak pernah ada di dunia ini, maka hal yang aku mau pasti bisa kudapatkan dengan mudah. Harta, status, bahkan.. Zen.." balas Sarah.


" Zen? Kenapa anda membawa-bawa nama Zen di sini?" tanya Mayuri.


" Iya! Zen! Awalnya aku hanya mengikuti keinginan mama untuk merebut Zen darimu! Jika Zen bisa jatuh di tanganku, hartanya bisa kami kuasi! Tetapi siapa sangka kalau aku jadi benar-benar jatuh hati padanya!" balas Sarah.


" Uwaa.. Ternyata ada gadis yang benar-benar jatuh hati pada pria itu."


" Mama berniat untuk membunuhmu gara harta Zen bisa dengan mudah kami dapatkan. Tetapi aku tidak menginginkan itu. Aku mau kau merasa tersiksa melihat tunanganmu bisa dengan mudah kurebut." sambung Sarah dengan senyuman menyeringai di wajahnya.


Mayuri berdengus sambil tersenyum kecil setelah mendengar perkataan Sarah.


" Aku tidak yakin bahwa pria itu akan dengan bisa kamu dapatkan dengan mudah." sahut Mayuri.


Sarah terlihat kesal.


" Apa kau sedang menghinaku karena gagal mendapatkan hati Zen?" tanya Sarah.


" Oh? Tentu tidak. Aku akan mendukungmu jika kamu benar-benar bisa mendapatkan hati dari pria itu." balas Mayuri.


" Kh.. Kau sepertinya sangat yakin sekali bahwa Zen tidak akan perna bisa kudapatkan.."


Mayuri berusaha untuk tersenyum.


" Karena aku merasakan bahwa Zen tertarik denganku. Tetapi aku berpura-pura untuk tidak mengubris semua tindakannya."


Sarah kemudian berdiri. Matanya menatap tajam ke arah Mayuri. Terra segera berdiri di harapan Mayuri, berjaga-jaga agar Sarah tidak berbuat hal yang aneh.


" Yah.. Apapun yang akan kulakukan sekarang, tidak ada gunanya lagi. Zen baru saja menghancurkan keluargaku." sahut Sarah.


" Me.. Menghancurkan? Apa maksudmu?"


" Hmph.. Apa kau akan berpura-pura tidak tahu?"


Mayuri menatap Sarah penuh dengan kebinggungan. Kemudian terdengar teriakan seseorang.

__ADS_1


" MAYURI!!"


Mayuri segera melihat ke arah pemilik suara itu, Zen yang sedang berlari ke arahnya di temani oleh beberapa orang penjaga yang ikut lari bersamanya. Langkah kaki Zen terhenti ketika melihat Sarah berada tepat di depan Mayuri.


" Apa.. Yang anda lakukan terhadap tunangan saya?" tanya Zen dengan nada yang ketus.


Sarah kemudian di tahan oleh penjaga. Kemudian dia tersenyum. Kemudian melihat ke arah Succubus.


" Sebaiknya kamu akhiri perjanjian dengam Margareth. Karena wanita itu akan segera di hukum mati, begitu juga denganku." sahut Sarah sambil menunjuk ke arah Succubus.


" Hmph.. Bukankah itu hal yang bagus buatku? Jika wanita tua itu mati, maka jiwanya akan segera menjadi milikku. Apakah kau juga ingin membuat perjanjian denganku?" tanya Succubus sambil tersenyum menyeringai.


Sarah terdiam dan kemudian dia di bawa oleh para penjaga kembali ke dalam kediaman Count Lewis.


CLANG!


Aiden melancarkan beberapa serangannya ke arah Succubus. Tidak seperti saat melawan Leo, kali ini Succubus terlihat kewalahan melawan Aiden.


" Hm? Kemana Leo pergi?"


Tiba-tiba Mayuri mendengar suara Leo.


" Maaf, kutinggal. Sepertinya pangeranmu telah datang."


" Pa.. Pangeran matamu..!!"


" .. Yuri! Mayuri!"


Panggilan Zen membuat Mayuri tersadar.


" A.. Apa?" tanya Mayuri.


" Kamu tidak apa-apa?"


" Tidak apa-apa. Terra melindungiku tadi. Kalau saja tidak ada dia, mungkin aku beneran sudah tidak ada di sini lagi. Hahaha.." jawab Mayuri.


" Kumohon jangan mengatakan hal seperti itu lagi."


" A.. Apa yang kukatakan?"


" Mengatakan bahwa kamu beneran sudah tidak ada lagi di sini." gumam Zen pelan.


Mayuri terdiam melihat ekspresi wajah Zen yang tidak seperti biasanya. Kemudian Mayuri pun memeluk Zen.


" Hm.. Aku tidak akan mengatakan hal itu lagi. Maaf.." balas Mayuri.


Sementara itu, Succubus yang sudah di pojokan oleh serangan-serangan dari Aiden, memutuskan untuk kabur. Sebelum dia melarikan diri dari tempat itu, dia sempat mengeluarkan sebuah serangan dan mengarahkan serangan itu ke arah Zen.


Mayuri menyadari bahwa Succubus berusaha untuk menyerang Zen, langsung memutarkan badannya ke arah serangan itu sambil memeluk Zen dengan erat.


Detik selanjutnya, serangan Succubus berhasil melukai bahu Mayuri. Mayuri menggerang kesakitan. Aiden yang melihat hal itu langsung kembali menyerang Succubus, tetapi makhluk sihir itu sudah pergi dari tempat itu.


" Mayuri!!" teriak Zen.


" Khh.. Tidak apa-apa.. Hanya tergores saja." sahut Mayuri.


Darah mulai menguncur dari bahu Mayuri. Mayuri berdengus kesal.


" Bodoh. Kenapa melindungiku?" gumam Zen.


Mayuri menatap Zen kesal.


" Ah.. Apa aku salah menolong orang yang sedang dalam bahaya?" tanya Mayuri kesal.


Zen terdiam.

__ADS_1


" Sudahlah. Jangan berlebihan. Ini cuma tergores saja. Ayo balik." sambung Mayuri.


Saat Mayuri hendak menjauh dari situ, tiba-tiba saja Zen menarik tangannya.


" Hm? Kenapa?" tanya Mayuri.


Tanpa basa-basi lagi Zen langsung menggendong Mayuri dan membawanya menuju kereta kuda. Mayuri sempat kaget dan meronta minta di turunkan. Tetapi Zen tidak mengubrisnya.


Merasa sudah tidak mempunya tenaga untuk meronta minta turun, akhirnya Mayuri terpaksa menyerah. Wajahnya seketika merona melihat wajah Zen dari jarak yang sangat dekat.


...****************...


" MAYURI!" teriak Leon.


" Hm? Papa?"


Selama dalam perjalanan pulang, Mayuri sempat tertidur karena kelelahan. Sebelumnya, dia sudah mendapat pertolongan pertama dari salah satu bangsawan yang berprofesi sebagai dokter.


Meskipun kehilangan banyak darah, tetapi nyawa Mayuri tidak berada dalam bahaya. Dia hanyak perlu banyak beristirahat dan memakan makan yang sehat.


Mayuri masih terasa lemas untuk berdiri. Zen pun akhirnya memutuskan untuk mengendong Mayuri sampai ke kamar tidurnya. Leon berusaha mengambil alih untuk mengendong Mayuri, tetapi Zen tidak mau menyerahkan Mayuri padanya.


Leon terlihat sangat kesal. Tetapi dia tidak mau terlalu berlebihan. Saat ini, keadaan Mayuri lah yang terpenting.


" Mayuri.. " gumam Leon.


...****************...


-Kamar Mayuri-


" Tuan Zen, anda bisa mempercayakan nona Mayuri pada saya." sahut Emilia.


" Tidak apa. Biarkan saya menjaganya sampai dia bangun." balas Zen.


Melihat raut wajah Zen yang terlihat sedih itu akhirnya Emilia terdiam. Dan kemudian dia pamit keliar dari kamar Mayuri.


Sedangkan Zen menatap Mayuri yang sedang tertidur itu. Zen pun menggengam erat tangannya.


" Dasar bodoh.." gumam Zen.


" Siapa yang bodoh?"


Zen terkejut mendengar suara itu.


" Ma.. Mayuri.. Maaf, aku membangunkanmu ya?" tanya Zen.


" Tidak. Memang akunya saja yang terbangun." jawab Mayuri sambil berusaha untuk duduk di tempat tidurnya.


Mayuri pun kemudian melirik ke arah Zen.


" Kamu.. Masih memikirkan kejadian tadi?" tanya Mayuri.


Zen terdiam. Mayuri pun mencubit pipi Zen.


" Dengar, ya! Untuk kesekian kalinya kubilang! Ini semua bukan salahmu! Ini semua kemauanku untuk menolongmu! Paham?!" sahut Mayuri.


Zen mengangguk. Mayuri tersenyum.


" Pulang dan beristirahatlah. Aku sudah tidak apa." sambung Mayuri.


Tetapi Zen enggan untuk menjauh dari sisi Mayuri.


" Biarkan aku di sini menjagamu malam ini." pinta Zen.


Mayuri menghela nafas.

__ADS_1


" Baiklah kalau begitu. Selamat malam." sahut Mayuri dan kemudian kembali tertidur.


...****************...


__ADS_2