
Selama dalam perjalanan, Mayuri memilih untuk diam. Zen yang tidak tahan dengan segala kebisuan ini akhirnya membuka suara.
" Kenapa? Koq daritadi diam saja?" tanya Zen.
" Ha? Oh.. Tidak ada apa-apa." jawab Mayuri.
" Aku tanya kenapa?" tanya Zen sekali lagi.
Mayuri terdiam. Kemudian dia menatap ke arah Zen.
" Apakah ada cara untuk membuatku semakin kuat?" tanya Mayuri.
" Cara untuk membuatmu semakin kuat? Memangnya kenapa kamu ingin semakin kuat? Aku masih sanggup untuk melindungimu."
Mayuri kembali terdiam.
" Sewaktu melawan bicorn di desa Floran, aku merasa tidak berdaya. Kamu sendiri saja kewalahan melawannya bukan?"
" A..h.. Aku bukannya kewalahan melawannya. Hanya saja.." kata-kata Zen terputus.
" Hanya saja?"
" Hanya saja aku tidak bisa menggunakan kekuatan penuhku di desa itu." jawab Zen.
" Hah?! Kenapa?!"
" Itu karena.. Kekuatanku akan menghancurkan desa itu tanpa sisa.."
Mayuri terdiam. Dia tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.
" Apa kamu tau Master of Magic Tower?" tanya Zen.
Mayuri menggelengkan kepalanya.
" Master of Magic Tower dia adalah penguasa dari menara sihir. Dia sudah mencapai sihir tingkat tinggi serta menguasi semua elemen sihir." sambung Zen.
" Terus hubungannya dengan kamu bisa menghancurkan desa Floran itu apa?" tanya Mayuri.
Zen terdiam.
" Master of Magic Tower itu.. Aku.." jawab Zen.
" .. HAHH?!"
...****************...
CLANG!
CLANG!
CLANG!
" Ayo nona Bright! Serang saya dari arah mana saja! Sesuka anda!" teriak Yuma.
Saat ini konvoi Mayuri dan Zen sedang beristirahat sebentar di tengah perjalanan menuju kediaman Primos. Mayuri meminta bantuan Yuma untuk menjadi partner sparingnya.
Para prajurit yang sedang beristirahat pun satu persatu mengamati Mayuri dan Yuma berlatih pedang. Beberapa kali Mayuri mengayunkan pedangnya ke arah Yuma. Tetapi dengan gesit Yuma dapat menghindari semua serangan Mayuri.
" Bagaimana kamu bisa segesit itu!!" teriak Mayuri.
" Oh? Terima kasih atas pujian anda!" balas Yuma di sertai dengan senyuman khasnya.
Mayuri tampak kesal. Dia kemudian bersiap untuk mengeluarkan sihirnya.
" Oops! Nona, di larang memakai sihir! Anda sendiri yang membuat peraturan ini." sahut Yuma.
" Ah.."
Mayuri pun langsung menghentikan sihirnya. Dan dia pun berlari sekuat tenaga sambil mengayunkan pedangnya. Para prajurit yang menonton pun terdiam.
TRANG!
Yuma mengayunkan pedangnya dan menepis serangan Mayuri. Alhasil, pedang Mayuri terlempar jauh.
" Ah.. Aku menyerah.." gumam Mayuri.
Yuma tersenyum.
" Teknik berpedangmu sungguh bagus. Belajar dari mana?" tanya Yuma.
Mayuri menatap Yuma sambil menyeka keringatnya.
" Dari teman papaku." jawab Mayuri sambil tersenyum lebar.
" Ron Falena." sahut Zen dari arah balik prajurit yang menonton.
" Ron Falena?! Bukankah dia komandan pasukan Bright yang terkenal itu?" tanya Yuma.
__ADS_1
" Komandan pasukan sih, iya. Tetapi kalau soal terkenal, aku tidak tahu akan hal itu. Apakah Ron sehebat itu sampai dia terkenal?" tanya Mayuri.
" Tentu saja! Aku ini pengemar beratnya!" sahut Yuma bersemangat.
" Hee.. Ini berarti aku sungguh beruntung bisa belajar teknik berpedang darinya!" sahut Mayuri sambil tersenyum lebar. Kemudian matanya tertuju pada Zen.
" Selamat pagi." sahut Zen sambil menatap lembut ke arah Mayuri.
" Hmm.." gumam Mayuri dan langsung pergi dari tempat itu
Yuma pun merasa heran dengan sikap Mayuri dan kemudian menatap Zen.
" Kenapa? Lagi berantem?" tanya Yuma.
Zen mengangkat bahu sebelah dan kemudian dia pergi menyusul Mayuri.
...****************...
" Mayuri!" panggil Zen.
Mayuri tidak mengubris panggilan Zen
" Oi! Mayuri!" panggil Zen sekali lagi.
Sekali lagi, Mayuri tidak mengubrisnya. Zen pun sudah kehilangan kesabaran dan menarik tangan Mayuri.
" A.. Apa?" tanya Mayuri.
" Aku dari tadi memanggilmu. Memangnya kamu tidak mendengarnya?" tanya Zen kesal.
" A.. Aku mendengarnya, koq!" jawab Mayuri.
" Terus, kenapa kamu tidak menjawabku?" tanya Zen lagi.
Mayuri terdiam dam membuang mukanya. Zen pun mencoba untuk memegang dagu Mayuri, tetapi Mayuri mencoba untuk menghindar.
Kali ini Zen benar-benar tidak bisa menahan amarahnya lagi. Dia pun langsung menggendong Mayuri dan membawanya ke tenda kemah mereka.
Begitu sampai di tenda kemah, Zen pun menghempaskan tubuh Mayuri di atas kasur.
" Sekarang, kamu tidak akan bisa menghindar lagi." sahut Zen.
Wajah Zen masih terlihat kesal. Sedangkan Mayuri terdiam dan kemudian menggigit bibirnya sendiri.
" Jangan menggigit bibirmu." sambung Zen.
" Tidak sampai kamu memberi tahuku kenapa kamu menghindariku."
" A.. Aku tidak menghindarimu."
" Terus, kenapa waktu kupanggil kamu diam saja? Bahkan waktu aku ucapkan selamat pagi pun, kamu hanya 'hmm' gitu saja!"
" .. Hu.." gumam Mayuri pelan.
" Hah? Apa? Yang keras sedikit."
" Aku tidak tahu harus bersikap apa terhadap Master of Magic Tower!" teriak Mayuri.
" HAH? Apa maksudmu?!"
" Mak.. Maksudku.. Kamu itu orang penting, kan? Tentu saja aku harus bersikap sopan atau semacamnya gitu?"
Zen terdiam dan kemudian tertawa keras.
" Ke.. Kenapa tertawa? Apa yang lucu?" tanya Mayuri panik.
Zen pun mencium bibir Mayuri dengan lembut.
" Ngh! Lagi-lagi kamu menciumku.." sahut Mayuri di sertai dengan wajahnya yang memerah.
" Karena bibirmu ada di situ." balas Zen dengan senyuman menyeringai khas miliknya.
Mayuri pun terdiam.
" Mayuri, apa kamu mau belajar sihir dariku?" tanya Zen.
" A.. Apa? Belajar sihir darimu? Apa boleh?" tanya Mayuri tidak percaya.
Zen mengangguk.
" Tentu saja! Aku melihat sepertinya kamu memiliki affinitas elemen air?" tanya Zen.
" Affinitas elemen air? Apa maksudnya?" tanya Mayuri balik.
" Sewaktu melawan bicorn bukannya kamu menggunakan Breath of Ice dan juga Ice Wall? Kedua sihir itu memiliki elemen air."
" Eh.. Um.. Itu.. Sihir yang kupinjam dari.." Kata-kata Mayuri terhenti.
__ADS_1
" Dari?"
" Nona Mayuri, tidak apa-apa memberitahunya. Jika Master of Magic Tower bisa membuat kami menjadi kuat.." sahut Gemini yang tiba-tiba muncul di hadapan Mayuri dan Zen.
" Gemini!" sahut Mayuri.
" Gemini?" tanya Zen.
" Perkenalakan, tuan Zen. Kami Gemini, salah satu dari 12 Zodiac."
" Zodiac?" tanya Zen.
" Aku.. Seorang summoner." gumam Mayuri pelan.
Zen terdiam.
" .. Jadi kamu mampu menggunakan kekuatan summoner miliknya." gumam Zen dengan nada kecil di sertai senyuman kecil.
" Hm? Zen?" panggil Mayuri.
" Baiklah kalau begitu. Begitu tiba di kediaman Primos, aku akan melatihmu menggunakan sihir." sahut Zen.
Wajah Mayuri pun kembali berseri.
" Yeah! Dengan begini, kami akan bisa melindungi nona Mayuri lebih baik." sahut Gemini dengan riang.
" Urusan melindungi Mayuri, itu adalah urusanku sebagai tunangan dan juga calon suaminya." sahut Zen.
Mayuri terdiam. Sedangkan Gemini mengangguk.
" Baiklah kalau begitu! Kami serahkan nona Mayuri padamu, tuan Zen!" sahut Gemini dan kemudian menghilang dari hadapan mereka.
Tak lama kemudian terdengar suara panggilan Emilia.
" Nona Mayuri, makan malam sudah siap!" panggil Emilia.
" Iya!" sahut Mayuri dan segera keluar dari tenda kemah.
" Nona Mayuri, kenapa anda dekil begitu?" tanya Emilia.
Mayuri terkejut.
" De.. Dekil katamu? Ah.. Sehabis spar dengan Yuma, aku belum mandi.." sahut Mayuri sambil mengendus badannya.
" Masih.. Bau keringat.." gumam Mayuri pelan.
" Mungkin sebaiknya anda mandi dulu sebelum menyantap makan malam."
" Apa yang di katakan Emilia, ada benarnya. Sebaiknya kamu mandi dulu." sahut Zen yang baru saja keluar dari tenda kemah.
" Apa yang anda berdua lakukan tadi di tenda kemah?" tanya Emilia.
Zen pun menatap ke arah Emilia.
" Apa? Ya hal yang biasa di lakukan oleh sepasang kekasih." jawab Zen.
" A.. Apa yang kamu katakan, Zen! Jangan memberikan ide-ide yang aneh ke Emilia!!" teriak Mayuri.
Zen terkekeh melihat reaksi Mayuri.
" Dari arah situ ada danau. Airnya cukup segar. Kamu bisa mandi di situ." sahut Zen.
Mayuri menatap Zen.
" Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Mayuri.
Zen terdiam sebentar. Dan kemudian tersenyum menyeringai.
" A.. Apa sih?!"
Emilia hanya bisa menghela nafas panjang melihat kedua manusia ini.
...****************...
-Di sebuah tempat yang jauh dan gelap-
" Ck! Ini yang kau bilang membantuku untuk melenyapkan gadis itu? Dia sekarang masih hidup!"
" Tenanglah. Masih ada banyak cara untuk melenyapkan gadis itu! Percaya saja padaku!"
" Padahal aku sudah berharap bahwa bicron akan bisa mencabik-cabik tubuhnya!"
" Hahaha..! Sarah.. Aku pasti akan bisa melenyapkan gadis itu. Demi kamu.."
" Hmph.. Kuharap kau bisa memegang janjimu!"
...****************...
__ADS_1