
-Kediaman Lewis-
" SARAH! SARAH!" teriak Margareth.
" Apa,ma?" tanya Sarah.
" Lihat! Mama memesankan gaun baru untukmu!" sahut Margareth.
Sebuah gaun pesta yang seksi berwarna merah. Sarah mengamati gaun itu dari atas ke bawah. Wajahnya tersenyum riang. Dia menyukai gaun itu.
" Tapi,ma. Kenapa memesan gaun? Memangnya ada acara apa?" tanya Sarah.
" Bukankah sebentar lagi kamu berulang tahun? Kita harus mengadakan pesta ulang tahun yang meriah buatmu!" sahut Margareth.
" Hm? Terus? Aku tau mama pasti punya rencana terselubung."
Margareth tersenyum licik.
" Duke Zen!" jawab Margareth singkat.
" Ah, maksud mama aku harus mengundangnya? Tapi bagaimana dengan nona Bright? Bukan kah mereka..?"
" Hmph.. Anak itu jangan di hiraukan! Yang penting kamu bisa mendapatkan hati Duke Zen! Jika dia sudah jatuh di tanganmu, maka dia pasti akan membatalkan pertunangannya dengan anak itu! Lagian, jika Duke Zen tidak mau membatalkannya, kita yang memikirkan rencana yang lain!"
" Apa? Apa yang kalian rencanakan?" tanya seseorang.
Margareth dan Sarah terkejut dan langsung membalikan badan mereka untuk mencari asal suara tersebut.
" S.. Sayang!" sahut Margareth terkejut.
Saat ini yang berdiri di depan mereka berdua adalah Count Lewis. Dengan wajah yang letih, count Lewis mengamati seisi ruangan serta menatap ke arah istri dan anak perempuannya itu bergantian.
" Apa yang kalian rencanakan kali ini?"
" Eh.. Em.."
" Pa.. Papa! Kami berdua hanya merencanakan acara ulang tahunku!" jawab Sarah.
" Acara ulang tahun?" tanya Count Lewis sambil berpikir sejenak.
" Ah.." Count Lewis kemudian menatap ke arah anak perempuannya itu.
" Sebaiknya di batalkan saja." sahut Count Lewis.
" Apa?! Mana bisa begitu!" teriak Margareth.
Count Lewis menatap ke arah Margareth. Tampaknya dia sedang tidak dalam emosi yang bagus.
" Mar.. Apa kamu tahu jika bisnisku dalam beberapa hari sedang tidak bagus? Apa kamu tetap akan mengadakan acara ulang tahun untuk Sarah jika kondisi keuangan kita sedang tidak bagus?" tanya Count Lewis.
" Kh..!" Margareth terdiam.
" Pa.. Papa.. Acara ulang tahun ini sangat penting bagiku,pa! Siapa tahu selesai acara ini, aku bisa mendapatkan permintaan untuk menikah!" sahut Sarah.
Count Lewis menghela nafas dan kemudian pergi menjauh dari istri dan anaknya tanpa berkata apa-apa lagi.
...****************...
SRAKK!!
Dengan semangat Emilia membuka tirai jendela kamar Mayuri.
" Selamat pagi,nona Mayuri!! Pagi ini sungguh pagi yamg cerahh!!" sahut Emilia.
" Ngh.. Selamat pagi, Emi.." gumam Mayuri.
" Ayo, nona. Segera bersiap-siap. Sarapan sudah di siapkan. Tuan Leon telah menunggu anda untuk sarapan bersama." sahut Emilia.
" Eh? Papa? Tumben? Apa dia tidak sibuk hari ini?"
" Hm. Sepertinya tidak."
Mayuri pun segera bersiap untuk sarapan bersama ayahnya. Setelah selesai bersiap, Mayuri pun langsung menuju ke ruang makan.
Di sana terlihat Leon sudah duduk di depan meja makan sambil membaca koran. Wajahnya terlihat sangat serius. Mayuri mengintip sebentar dan kemudian mengetuk pintu ruang makan.
" Pagi ,pa." sahut Mayuri.
" Pagi." balas Leon.
" Ada berita apa? Papa kelihatannya serius sekali." tanya Mayuri.
Leon menatap Mayuri sebentar.
" Hm. Tidak ada apa-apa." jawabnya kemudian kembali membaca koran yang ada di tangannya.
Mayuri menatap Leon dengan tatapan penuh mencurigakan. Kemudian dia pun memulai untuk memyantap sarapannya.
" Makan,pa! Jangan hanya tau membaca koran saja!" sahut Mayuri.
Leon mengernyitkan keningnya dan kemudian melipat korannya.
" Anak gadisku sungguh banyak maunya,ya!" sahut Leon sambil menghela nafas.
__ADS_1
" Terus, kira-kira apa yang akan papa lakukan hari ini?" tanya Mayuri.
" Hm?" Leon menatap Mayuri.
" Pagi ini papa sedang sarapan denganku, yang artinya papa hari ini tidak sibuk bukan?" sambung Mayuri.
Leon berpikir sejenak.
" Ah, sepertinya papa akan ke barak prajurit." jawab Leon.
" Eh? Tumben?" tanya Mayuri.
" Kenapa?" tanya Leon balik.
Mayuri terlihat berpikir sejenak.
" Aku ikut!" jawabnya.
Leon terkejut. Dia tidak menyangka bahwa putrinya itu akan membuat permintaan untuk ikut ke markas prajurit yang di mana tempat tersebut di penuhi oleh pria-pria berotot serta berbau keringat dan besi.
" Kenapa kamu tiba-tiba mau ke barak prajurit? Di situ bau keringat,loh. Kamu mungkin tidak akan tahan dengan baunya."
Mayuri tersenyum lebar. Leon merasakan sesuatu yang tidak bagus dari arah putrinya itu.
" Tidak apa! Aku hanya ingin berlatih pedang!" jawab Mayuri riang.
Sekali lagi, Leon menghela nafas panjang. Putrinya sudah memutuskan untuk berlatih pedang, Leon tahu apa pun yang akan dia katakan selanjutnya tidak akan bisa mengubah keputusan Mayuri. Leon menatap ke arah Mayuri.
" Untuk apa kamu berlatih pedang?" tanya Leon.
" Hm.. Untuk berjaga-jaga saja!" jawab Mayuri.
Entah sudah berapa kali Leon menghela nafas di pagi itu.
" Jadi?" tanya Mayuri.
" Kalau pun papa melarangmu, kamu tetap tidak akan mendengarkan apa yang papa katakan nanti. Jadi, lakukanlah sesukamu. Tetapi ingat, jangan sampai dirimu terluka." jawab Leon.
Mayuri kemudian memperlihatkan wajah senangnnya. Dengan cepat dia menyantap sarapannya dan kemudian segera berganti pakaian yang cocok untuk di pakai ke barak prajurit.
...****************...
" SELAMAT DATANG NONA MAYURI!!" teriak para prajurit semangat.
Mendengar teriakan yang keras, Mayuri tersontak kaget.
" A..h.. Se.. Selamat siang!" balas Mayuri.
" Hari ini Mayuri akan ikut kalian berlatih. Ron!" sahut Leon.
" Ya." balas Ron.
" Kuserahkan Mayuri padamu. Tolong ajari dia."
" Tentu saja!"
Ron menatap ke arah Mayuri.
" Dia Ron Falena. Komandan pasukan serta sahabat papa. Dia bisa di andalkan." sahut Leon.
" Selamat siang." sapa Mayuri sambil tersenyum kecil.
" Saya akan mengajari anda segala sesuatu tentang pedang." sahut Ron.
" Paman sahabat papa bukan? Jangan bersikap terlalu formal padaku." sahut Mayuri sambil tersenyum kecil.
Ron berpikir sejenak dan kemudian tersenyum kecil.
" Baiklah kalau itu maumu. Aku tidak akan segan-segan lagi." sahutnya.
" Ah, kemungkinan besar aku telah mengambil keputusan yang salah."
" Ini! Pedang kayu untuk latihan. Mari segera kita mulai." sahut Ron sambil melemparkan sebuah pedang kayu ke arah Mayuri.
Dengan gampangnya Mayuri menangkap pedang kayu yang di lemparkan Ron. Dan kemudian mengambil ancang-ancang untuk bersiap menyerang Ron menggunakan pedang kayu itu.
Di kehidupan sebelumnya, Mayuri pernah belajar seni bela diri modern dari Jepang, yakni Kendo. Dia pun pernah menjadi juara tingkat nasional.
Melihat ancang-ancang Mayuri yang tidak pernah di lihatnya, Ron menjadi sedikit waspada.
" Caramu memegang pedamg kayu itu sungguh menarik. Tetapi, apakah kamu bisa mendapatkan satu ayunan dariku?" tanya Ron.
Mayuri tersenyum kecil.
" Tentu saja,paman! Karena aku tidak pernah kalah dari siapapun! Bersiaplah!!" sahut Mayuri dan langsung berlari menuju arah Ron untuk memberinya satu pukulan.
Ron segera mundur satu langkah demi menghindari serangan Mayuri. Tetapi serangan Mayuri tidak sampai di situ saja. Melihat Ron yang berhasil menghindar dari serangannya, Mayuri langsung melancarkan serangan berikutnya.
TAK!
TAK!
TAK!
__ADS_1
Pertarungan yamg sengit pun terjadi di antara Ron dan Mayuri. Berkali-kali Ron mengambil sikap pertahanan untuk melindungi dirinya dari serangan Mayuri. Sedangkan Mayuri aktif terus menerus menyerang Ron.
Hampir 15 menit telah berlau, keduanya masih bertahan dalam posisi menyerang dan bertahan. Stamina Mayuri hampir habis. Ron tersenyum kecil.
" Hah.. Hah.. Hah.. Pa.. Paman, kamu boleh juga!" sahut Mayuri yang masih berusaha untuk mengatur pernafasannya.
" Hmph.. Hal ini, jika aku tidak bisa menyaingimu, maka aku tidak pantas di sebut sebagai komandan pasukan!" balas Ron.
" Dan lagi, kamu sepertinya tidak merasa lelah. bahkan keringat saja tidak ada!" sahut Mayuri.
" Aku sudah berlatih pedang selama puluhan tahun. Sampai sekarang pun aku masih berlatih."
Mayuri masih berusaha mengatur pernafasannya. Staminanya sudah hampir habis. Jika membuat kesalahan yang kecil saja, Ron sudah bisa mengalahkannya dengan mudah.
" Nah, mari kita akhiri pertarungan ini, Mayuri." sahut Ron dan kemudian melancarkan serangam terakhirnya.
TAK!
Pedang kayu Mayuri terlampar jauh dari tangannya. Melihat pedang kayunya terlempar jauh, Mayuri pun terduduk lemas.
" Hah.. Aku sudah tidak kuat,paman!" sahut Mayuri.
Ron pun kemudian membantu Mayuri untuk berdiri.
" Staminamu sungguh kurang. Kamu harus sering-sering melatih staminamu."
Ron terlihat berpikir sejenak.
" Apa sebelumnya kamu pernah berlatih pedang?" tanya Ron.
Mayuri terdiam. Keringat dingin mulai bercucuran. Tidak tahu jawaban apa yang harus dia berikan kepada Ron.
" H.. Hanya membaca dari buku.. " jawab Mayuri.
Rom terlihat sangat tidak percaya dengan jawaban Mayuri. Kemudian dia tersenyum kecil.
" Baiklah kalau begitu. Latihan hari ini sampai di sini. Kembalilah besok jika kamu masih ingin berlatih lagi." sahut Ron.
Mayuri kemudian mengangguk. Dan dia pun kembali ke sisi ayahnya yang sedang duduk di samping lapangan latihan. Ron pun terlihat mengawasi prajurit lainnya berlatih.
" Ron sangat menarik!" sahut Mayuri.
Leon mengernyitkan keningnya.
" Meski pun papa menentang pertunanganmu dengan Duke Zen, bukan berati papa menyetujui kamu menyukai Ron. Dia itu sudah beristri dan mempunyai 4 orang anak!" sahut Leon.
Mayuri terdiam sejenak.
" Kh..! Bu.. Bukan itu maksudku..!!!" teriak Mayuri.
Leon memasang wajah ketidakpercayaan terhadap putrinya itu. Mayuri berusaha untuk menjelaskan bahwa ayahnya telah salah paham dengannya.
...****************...
TOK!
TOK!
TOK!
" Masuklah."
" Kau memanggilku,Leon?" tanya Ron.
" Ah,Ron! Duduklah." sahut Leon.
Leon pun menyerahkan segelas wine kepada Ron.
" Bagaimana pendapatmu tentang putriku,Mayuri?" tanya Leon.
Ron terlihat berpikir sebentar.
" Dia gadis yang jenius. Keahlian pedangnya sungguh di luar dugaan. Apa kau pernah melatihnya berpedang?" tanya Ron.
Leon menggelengkan kepalanya.
" Tidak pernah sama sekali." jawab Leon.
" Gaya berpedangnya sungguh tidak biasa. Tetapi dia merasa menyatu dengan gaya berpedangnya itu." sahut Ron.
" Akhir-akhir ini dia terasa bukan seperti Mayuri yang kukenal."
" Apa maksudmu?" tanya Ron.
" Dia terlihat riang, terkadang bisa terlihat kesal. Apa lagi kemampuan yang di perlihatkannya hari ini. Sungguh tidak biasa. Padahal sebelumnya dia menatapku dengan tatapan kosong. Raut wajahnya sekarang terlihat lebih hidup." jawab Leon.
Ron menghela nafas.
" Biar bagaimana pun, Mayuri tetaplah Mayuri,bukan?" sahut Ron.
Leon tersenyum kecil.
" Heh.. Kau benar. Bagaimana pun itu, Mayuri tetaplah anak gadisku dan Maria."
__ADS_1
...****************...