
" HIYAAA!!"
CLANG!
CLANG!
CLANG!
" Perhatikan sisi kananmu, Mayuri!" sahut Ron.
" Hmph!"
Mayuri terus menerus menyerang Ron yang berada di depannya. Sedangkan Ron sendiri berusaha bertahan menangkis semua serangan dari Mayuri.
" Ayolah, Ron! Biarkan aku menang sekali dalam melawanmu!" sahut Mayuri.
" Oho.. Tentuk saja aku menolak! Berusahalah sendiri untuk mendapatkan satu point dariku!" balas Ron.
Mayuri berdengus kesal. Ini adalah serangan terakhir, dan Mayuri berusaha untuk mengenai Ron di serangan terakhir ini.
CLANG!
Ron memukul pedang Mayuri hingga terlepas dai gengamannya. alhasil, pedang itu pun terlempar jauh dari Mayuri. Dengan nafas yang cepat, Mayuri melihat ke arah pedangnya itu. Dan kemudian tersenyum.
" Aku kalah..." sahutnya.
" Kerja yang bagus, Mayuri. Dari hari ke hari, kamu semakin hebat dalam menguasai teknik berpedang yang kuajarkan. Sekarang hanya tinggal melatih staminamu saja." sahut Ron.
Mayuri terduduk lemas. Masih berusaha untuk mengatur nafasnya.
CLAP!
CLAP!
CLAP!
" Sungguh pertarungan yang menegangkan!" sahut seseorang.
Mayuri dan Ron pun langsung melihat ke arah suara itu.
" Zen.." gumam Mayuri.
" Hello, kesayanganku!" sahut Zen.
" Selamat siang, Duke Zen." sapa Ron.
" Ah, iya. Selamat siang." balas Zen.
" Mau apa ke sini?" tanya Mayuri.
" Tentu saja untuk melepas kangen.." jawab Zen sambil tersenyum kecil.
" Jangan mengatakan hal yang memalukan di sini! Nanti Ron akan.."
Mayuri mencari-cari keberadaan Ron. Tetapi Ron sudah tidak terlihat di mana-mana.
" Sepertinya komandan Ron sudah pergi. Mungkin dia ingin kita melepas kangen." sahut Zen.
Mayuri menunjukan raut wajah yang kesal.
" Jujur saja. Kamu mau apa ke sini?" tanya Mayuri.
" Ayo kita keluar makan siang!"
" Hah?"
...****************...
" Silahkan di nikmati hidangannya, tuan dan nona."
Seorang pelayan meletakkan beberapa hidangan di atas meja. Mayuri menatap semua hidangan itu dengan terkejut.
" Zen.. Apa kamu bisa menghabisan semua hidangan di atas meja ini?" tanya Mayuri.
" Apa? Tentu saja tidak bisa. Hidangan ini semuanya kupesan khusus untukmu." sahut Zen dengan senyuman di wajah ya.
Mayuri menatap Zen dengan kesal. Kemudian dia pun mulai memotong hidangan daging yang ada di atas piring itu menjadi bagian kecil-kecil lalu menyantapnya.
" Hm? Enak.." gumam Mayuri.
Sebuah senyuman kecil tampak di wajah Mayuri. Zen pun tersenyum kecil.
" Apakah kamu menyukai hidangannya?" tanya Zen.
__ADS_1
Mayuri berhenti menyantap hidangan itu. Kemudian dia menyadari bahwa Zen daritadi masih belum menyentuh hidangannya.
" Kenapa kamu tidak makan?" tanya Mayuri.
" Hey, aku bertanya duluan. Jawab dulu pertanyaanku." sahut Zen.
Mayuri pun meletakan kembali garpu dan pisaunya dan lalu menatap Zen dengan wajah sedikit memerah.
" E.. Enak! A.. Aku menyukainya." jawab Mayuri.
" Syukurlah kalau begitu." jawab Zen.
" P.. Pertanyaanku.." gumam Mayuri.
" Hm?"
" Sekarang jawab pertanyaanku! Kenapa kamu belum menyentuh hidanganmu daritadi?" tanya Mayuri.
" Ah.."
Zen terdiam sesaat.
" Makanlah sedikit walaupun tidak lapar. Hargai mereka yang telah memasak untukmu." sahut Mayuri sambil menyantap kembali hidangannya.
Mendengar perkataan Mayuri barusan, senyuman kembali terlihat di wajah Zen. Perlahan, dia pun mengambil garpu dan pisau, dan memotong daging itu kemudian menyantapnya pelan.
" Enak,bukan?" tanya Mayuri sambil senyum menyeringai.
Kemudian mereka berdua pun melanjutkan menyantap hidangannya. Tanpa di sadari, mereka telah selesai menyantap hidangan yang ada di atas piring mereka.
" Hah.. Aku sudah tidak sanggup lagi menyantap hidangan yang lain." sahut Mayuri.
" Sayang sekali. Masih ada dessert yang belum keluar." balas Zen.
" Sepertinya kamu sengaja ya? Kurasa kamu bahkan tahu kalau aku menyukai dessert, bukan? Dan kamu sengaja memesan banyak hidangan utama sehingga aku tidak akan sanggup untuk menyantap dessert!"
" Oh? Kamu menyukai dessert?" tanya Zen.
" Tentu saja! Aku menyukai tart strawberry, egg pie.." kata-kata Mayuri terhenti.
" Kenapa? Kenapa berhenti?" tanya Zen.
Wajah Mayuri terlihat pucat.
" Ah.. Aku ingat sekarang.. Mayuri alergi dengan telur. Tetapi kamu mengatakan bahwa kamu menyukai egg pie?" tanya Zen.
" Siapa kamu sebenarnya?" tanya Zen dengan suara yang rendah seakan-akan hendak membunuhnya jika dia berkata tidak jujur.
Wajah Mayuri terlihat serius. Pikirannya sedang kacau saat ini.
" Ah, Duke Zen! Selamat siang! Kebetulan sekali kita bertemu di sini!" sahut seorang wanita yang tidam lain adalah Margareth Lewis. Di sampingnya berdiri Sarah Lewis.
Margareth melirik sebentar ke arah Mayuri dan kemudian menatap ke arah Zen sambil tersenyum.
" Selamat siang, nyonya Lewis." sapa Zen.
" Saya melihat anda sedang menikmati makan siang anda. Saya dan putri saya baru saja tiba. perkenalkan, Sarah Lewis. Putri saya satu-satunya. Sangat cantik dan menawan,bukan?" celoteh Margareth tiada henti.
Sarah pun memperkenalkan diri di hadapan Zen dan Mayuri.
" Nenek lampir itu sengaja tidak menyapaku! Lihat saja akan kubalas nanti!"
Mayuri merasa kesal dengan tingkah laku Margareth. Kemudian dia menatap gadis yang berdiri di sampingnya, Sarah. Sarah menyadari bahwa Mayuri sedang mengamati dirinya pun, tersenyum kecil ke arah Mayuri.
" Saya harap anda akan datang ke pesta ulang tahun anak saya." sahut Margareth yang seketika membuyarkan lamunan Mayuri.
" Tentu saja, nyonya Lewis. Saya dan Mayuri pasti akan hadir." sahut Zen.
Margareth berdecak kesal dan kemudian tersenyum ke arah Zen.
" Oh, iya. Jangan lupa untuk membawa kartu undangannya, ya. Kartu undangan itu merupakan tiket masuk ke pesta." sahut Margareth sambil tersenyum sinis ke arah Mayuri.
" Baiklah." balas Zen.
Margareth pun pergi dari hadapan Mayuri dan Zen. Mayuri sempat merasakan tatapan tajam dari Margareth. Tetapi dia mengabaikannya seperti tidak terjadi apa-apa.
" Ihhh.. Rasanya ingin kucabik-cabik wajahnya itu! Dasar nenek lampir!!!"
Raut wajah kesal sangat terlihat di wajah Mayuri.
" Pelayan!" panggil Zen.
Panggilan yang keras itu seketika membuyarkan lamunan Mayuri. Dan dia pun menyadari bahwa Zen kembali menatapnya.
__ADS_1
" Ada yang bisa saya bantu, tuan?" tanya pelayan yang datang menghampiri mereka berdua.
" Tolong keluarkan dessertnya ya. Tart strawberry dan egg pie." balas Zen.
" Baik, tuan."
Kemudian pelayan itu pun pergi meninggalan mereka berdua. Mayuri masih berusaha untuk tenang.
" Jadi? Bisa ceritakan siapa dirimu, dan kenapa kamu menyamar menjadi Mayuri?" tanya Zen.
Mayuri berusaha untuk menelan ludahnya.
" Apa.. Apa yang kamu bicarakan? Aku Mayuri. Mayuri Camelia Bright!" sahutnya.
" Jadi kamu masih mau bersikeras untuk menyatakan dirimu itu Mayuri?" tanya Zen lagi.
" Ini semua, adalah kenyataan. Tidak ada yang kututupi!" balas Mayuri.
Zen menghela nafas panjang. Mayuri terkejut. Tak lama kemudian, pelayan datang dengan membawa pesanan Zen, tart strawberry dan egg pie.
" Makanlah. Siapa tau dessert ini akam menjadi dessert terakhirmu." sahut Zen.
Wajah Mayuri terlihat sangat pucat.
" Um.. Itu.." gumam Mayuri.
" Hm?"
" Un.. Untuk sementara, aku tidak bisa menceritakannya! Tapi percayalah! Aku tidak ada niat jahat untuk menipumu!" sahut Mayuri dengan raut wajah yang serius.
Untuk beberapa saat Zen menatap serius ke arah Mayuri dan kemudian tertawa lepas. Melihat wajah Zen yang sedang tertawa itu, jantung Mayuri berdegup kencang.
" A.. Apa yang sedang kamu tertawakan?!"
" Wajahmu itu terlihat sangat serius sekali." sahut Zen.
" Ha.. Habisnya tadi wajahmu.."
" Wajahku kenapa?" tanya Zen.
" Seperti mau membunuhku.." gumam Mayuri pelan.
" Hm?"
" Ti.. Tidak apa-apa!" sahut Mayuri sambil menyantap dessert kesukaannya itu.
...****************...
Saat ini Mayuri di landa kebingungan. Dia menggulung tubuhnya dengan selimut. Emilia yang saat itu masuk dengan membawa secangkir teh hangat untuk Mayuri pun terheran.
" Arghh!! Kenapa sampai sekarang aku masih membayangkan wajahnya yang sedang tertawa itu!!"
" Nona? Apa yang sedang anda lakukan? Menggulung tubuh anda dengan selimut. Anda benar-benar mirip dengan seekor ulat sekarang." sahut Emilia.
Dengan cepat emilia mengeluarkan Mayuri dari gulungan selimut itu.
" E.. Emi.. Apa yang kamu lakukan?" tanya Mayuri.
" Hm? Apa yang terjadi dengan wajah nona?" tanya Emilia.
" Apa? Aku tidak merasakan apa-apa." balas Mayuri.
Emilia pun menuntun Mayuri ke arah meja riasnya.
" Lihat saja sendiri wajah nona di cermin." sahut Emilia.
Dari cermin terlihat jelas wajah Mayuri yang merah merona.
" A.. A.. Apa yang terjadi dengan wajahku?!"
Emilia menatap Mayuri dengan penuh curiga.
" Apa yang terjadi di antara anda dengan tuan Zen? Gerak gerik anda sungguh mencurigakan sejak anda pulang."
Mayuri terdiam. Dan kemudian ingatannya tentang wajah Zen yang tertawa lepas itu muncul kembali.
" Arghh!! Emi!! Padahal aku sudah melupakannya! Kenapa kamu harus membuatku mengingatkannya kembaliiiii..!! Arghh!!" teriak Mayuri.
" E.. Eh? Apa? Apa yang terjadi tadi siang?!" tanya Emilia penasaran.
" Sampai kapanpun, aku tidak akan menceritakannya padamu!"
Mayuri pun kemudian menggulung kembali tubuhnya dengam selimut.
__ADS_1
" Eh!? Ah, nona! Jangan menggulung tubuh anda dengan selimut! Anda sekarang benar-benar mirip dengan seekor ulat!!" teriak Emilia.
...****************...