Let Me Enjoy My New Life As A Duchess

Let Me Enjoy My New Life As A Duchess
Bab 14 Margareth Lewis (Part 4)


__ADS_3

Mayuri menghela nafas beberapa kali. Zen yang sedamg berada di depannya pun sudah mulai merasa risih.


" Kenapa? Sudah kelima kalinya kamu menghela nafas." tanya Zen.


" Kamu!"


" Hm?"


" Apakah kamu segitu tidak ada kerjaan sampai harus mengunjungiku di kediaman Bright?" tanya Mayuri.


" Tentu saja banyak! Aku harus mempersiapkan segala sesuatu sebelum aku kembali ke kediaman Primos."


Mayuri terdiam.


" Ah,iya. Seminggu lagi aku akan tinggal di situ." gumam Mayuri.


" Kamu sepertinya tidak senang."


" Kenapa aku harus senang mengetahui aku harus tinggal seatap dengan pria yang baru saja kukenal?"


Zen berpikir sejenak.


" Ah, jadi itu sebabnya kamu bersikap dingin padaku?" tanya Zen.


" Si.. Siapa yang berani.. Hahaha.." balas Mayuri.


Zen masih menatap Mayuri.


" Namamu?" tanya Zen?


" Hah? Mayuri.. Kan?"


Zen mengerutkan keningnya.


" Namamu yang sebenarnya."


Mayuri terdiam. Zen masih menatapnya.


" Untuk saat ini.. Mayuri.." jawab Mayuri sambil tersenyum kecil.


" MAYURII..!" teriak seseorang.


" Ah, Ron! Apakah sudah waktunya berlatih pedang?" tanya Mayuri.


" Selamat siang, Duke Zen." sapa Ron.


" Siang." balas Zen.


" Ayo, Ron." ajak Mayuri.


" Ah, Mayuri. Tujuanku ke sini bukan untuk mengajakmu berlatih pedang. Melainkan untuk mengatakan padamu bahwa untuk beberapa hari ke depan, kita akan berlibur berlatih pedang."


" Hah? Kenapa?" tanya Mayuri.


" Istriku sedang sakit. Jadi aku harus pulang dan menjaganya." jawab Ron.


" Ah.. Baiklah kalau begitu. Aku mendoakan kesembukan istrimu." sahut Mayuri.


Kemudian Ron pun pamit dari hadapan Mayuri dan Zen.


Ketika Ron sudah menghilang dari hadapan mereka, Mayuri kembali merasakan tatapan dari Zen.


" Apa?" tanya Mayuri.


" Jawab pertanyaanku tadi."


" Pertanyaan yang mana?"


" Namamu!" jawab Zen.


" Bukankah sudah kujawab? Untuk saat ini, Mayuri."


" Bukan itu jawaban yang ingin kudengar." sahut Zen dengan nada yang berat.


Mayuri terdiam. Saat ini di otaknya sedang berdiskusi apakah harus memberitahukan namanya atau tidak. Tetapi melihat tatapan mata Zen, dia sepertinya tidak ingin jawaban yang berbelit-belit.


" .. Iana.. " gumam Mayuri.


" Apa?"


" Namaku.. Diana.." sahut Mayuri.


" Hm.. Diana.. Apa yang telah kamu lakukan terhadap Mayuri yang asli?" tanya Zen.

__ADS_1


Mayuri terdiam.


" Aku tidak mengerti dengan pertanyaanmu."


" Ah, biar kuperjelas."


Zen pun bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Mayuri. Kini jarak di antara mereka hanya sekitar 5 cm.


" Dimana kamu menyembunyikan Mayuri yang asli?" tanya Zen.


Mayuri menatap Zen dengan penuh ketakutan. Kemudian dia menghela nafas panjang. Dan menatap balik ke arah Zen.


" Tubuh ini adalah tubuh Mayuri. Yang berbeda hanyalah jiwa yang berada di tubuh ini. Saat ini, aku, Diana yang berada di tubuh ini. Aku tidak tahu ada di mana jiwa Mayuri yang asli pergi! Sampai sekarang aku masih mencari cara agar aku bisa kembali ke tubuh asliku!"


Zen menjauhkan diri dari Mayuri.


" Jika kamu merasa keberatan, kamu boleh membatalkan pertunangan ini. Biarkan aku mencari cara agar bisa membawa jiwa Mayuri kembali. Setelah itu, kamu bisa mengajukan kembali pertunangan dengannya." sambung Mayuri.


Zen tersenyum menyeringai.


" Hmph. Mana mungkin aku membatalkan pertunangan ini. Jangan berharap terlalu tinggi." sahut Zen.


" Gahh!! Bukankah kamu menginginkan Mayuri? Saat ini yang berada di tubuh Mayuri adalah aku! Diana!" teriak Mayuri kesal.


" Adakah aku bilang bahwa aku menginginkan Mayuri?" tanya Zen.


Mayuri terdiam. Dan kemudian dia menatap tajam ke arah Zen.


" Lakukanlah sesukamu! Aku tidak mau tahu lagi!" sahut Mayuri kesal.


Saat ini Mayuri sungguh tidak tahu lagi hal apa yamg harus dia perbuat guna membatalkan pertunangan yang tidak dia inginkan ini.


Sekarang dia hanya ingin menikmati hidup barunya ini dengan tenang sambil mencari cara untuk kembali ke tubuh aslinya. Walaupun dia tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuh aslinya dan ada di mana jiwa Mayuri berada sekarang.


" Jika tidak ada lagi yang ingin kamu tanyakan, silahkan tinggalkan aku sendiri." sambung Mayuri.


Zen terdiam sebentar dan kemudian senyuman terpancar di wajahnya. Melihat senyuman itu, jantung Mayuri kembali berdetak kencang. Tidak ingin Zen mengetahui hal itu, dengan cepat Mayuri berjalan meninggalkan Zen.


Menyadari Mayuri yang hendak kabur meninggalkannya, Zen langsung menarik tangan Mayuri. Akibat tarikan Zen yamg begitu kuat, tubuh Mayuri pun langsung jatuh ke dalam pelukan Zen.


" A.. Apa yang sedang kamu lakukan? Lepaskan aku.."


Mayuri berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Zen.


" Diamlah. Kamu sungguh berisik sekali.." gumam Zen.


Mayuri terdiam. Jantungnya mulai berdegup sangat kencang. Menyadari Mayuri terdiam dan tidak melakukan apapun, Zen pun melanjutkan aksinya untuk mencium Mayuri dengan lebih intim. Jari jempolnya perlahan membuka mulut Mayuri. Dan alhasil lidah kedua insan itu pun saling beradu.


" Ngh.. Ha.."


Mayuri hampir kehabisan nafas atas ciuman panas Zen. Zen akhirnya melepaskan bibirnya dam kemudian menatap ke arah Mayuri.


" Bernafaslah seperti biasa.." bisik Zen lembut.


Wajah Mayuri kembali memerah. Dia pun berusaha untuk mengambil nafas. Mayuri menyentuh kedua bibirnya itu.


" Kenapa kamu menciumku?" tanya Mayuri.


" Karena bibirmu berada di sana." jawab Zen sambil tersenyum kecil.


" Kh..!! Le.. Lepaskan aku..!" sahut Mayuri sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Zen.


" Apa? Kamu masih ingin merasakan ciuman dariku?" tanya Zen.


Mayuri kembali terdiam. Zen tersenyum kecil.


...****************...


Saat ini Leon terkurung di ruang kerjanya. Berbagai kerjaan datang menghampiri Leon saat ini. Sudah beberapa hari dia menunda nunda pekerjaannya. Dan alhasil, kerjaannya menumpuk.


" Duke Leon. Ini kerjaan anda selanjutnya." sahut Sebastian sambil meletakkan setumpuk kertas dokumen di atas meja kerja Leon.


Leon sudah menunjukan raut wajah yang lelah. Sudah tiga hari dia tidak tidur.


" Sebastian. Bisakah aku istirahat sebentar.."


Sebastian adalah kepala pelayan keluarga Bright. Pria berusia 60an tahun itu sudah melayani dua generasi keluarga Bright.


Meskipun Sebastian sudah berumur 60an tahun, dia tidak menunjukan dirinya sebagai kakek-kakek yang tidak bisa apa-apa. Postur badannya yang masih tetap tegap, dan bugar dan wajahnya termasuk 'lumayan' untuk pria seusia dia membuat para pelayan wanita terkagum padanya.


" Tidak bisa, Duke. Tolong untuk segera mengerjakan ini semua." potong Sebastian.


" Urgh.."

__ADS_1


Kemudian mata Leon tidak sengaja menatap ke arah luar jendela. Dan di luar jendela, dia tidak sengaja melihat Mayuri dan Zen sedang berbincang di luar berduaan.


Rasa ingin mengganggu kedua orang itu timbul di hati Leon.


" Se.. Sebas.."


" Tidak, Duke.. Apapun itu , tolong selesaikan pekerjaanmu dulu." potong Sebastian.


Mata Leon kemudian memandang ke arah luar jendela lagi. Kali ini dia melihat Mayuri dan Zen sedamg berciuman. Rasa kesal dan marah langsung muncul di hati Leon.


CRACK!


Pena yang berada di gengaman Leon terbelah dua.


" Hey, Sebastian. Mereka.. Mereka berdua sedang apa menurutmu?"


Sebastian melirik ke arah luar jendela.


" Apa seorang Duke tidak bisa mengetahuinya? Tentu saja sepasang kekasih sedang berciuman." jawab Sebastian.


" Hey, Sebastian. Apa itu sikap seorang pelayan terhadap tuannya?" tanya Leon.


" Tentu saja tidak." jawab Sebastian.


" Terus kenapa sikapmu sungguh tidak sopan?!" teriak Leon.


" Duke Leon!" sahut Sebastian dengan nada yamg agak keras dan tegas.


Leon pun terdiam.


" A.. Apa?" tanyanya gugup.


" Mohon untuk tidak mengalihkan pembicaraan kita dan segera lakukan pekerjaan anda. Masih ada 30 tumpuk dokumen lagi yang harus anda kerjakan." jawab Sebastian tegas.


Mendengar itu, Leon terduduk lemas.


...****************...


" Nona Mayuri, apa yang akan anda lakukan mengenai undangan ulang tahun putri nyonya Lewis?" tanya Emilia.


" Hm.. Aku bertemu dengannya dan putrinya itu tadi siang. Dia mengatakan hal yang menarik." jawab Mayuri.


" Dia mengundang Zen ke pesta ulang tahun putrinya. Dan dia juga bilang untuk membawa undangan sebagai tiket masuk ke pesta." sambung Mayuri.


" Mengundang tuan Zen? Itu sungguh aneh. Seharusnya dia tahu bahwa tuan Zen itu tunangan nona. Dan tidak seharusnya dia mengundamg pria yang sudah bertunangan ke pesta ulang tahun putrinya."


" Oh, ya. Dia juga mengabaikanku ketika dia bertemu denganku dan Zen. Dia hanya menyapa Zen!"


" Sungguh tidak sopan! Dia berani mengabaikan nona yang status sosialnya lebih tinggi darinya? Dia harus di beri hukuman atas sikapnya yang tidak sopan itu!!" sahut Emilia geram.


" Semoga saja besok tidak akan ada hal buruk yang terjadi."


" Dan juga, aku harus bisa mengatasi rasa traumaku ."


" Terus.. Gimana rasanya berciuman dengan tuan Zen?" tanya Emilia sambi tersenyum jahil.


Wajah Mayuri seketika memerah.


" A.. A.. Apa yang kamu tanyakan?!"


" Hahaha..." Emilia tertawa sangat keras.


...****************...


- Kediaman Primos-


" Rico, persiapan untuk besok malam apakah sudah selesai?" tanya Zen.


" Semua sudah di persiapkan." jawab Rico.


" Bagus. " sahut Zen.


" Ngomong-ngomong.. "


Kalimat Rico terjeda.


" Hm? Kenapa?" tanya Zen.


" Apa ada hal yang baik terjadi tadi?" tanya Rico.


" Memangnya kenapa?" tanya Zen balik.


" Wajah anda terlihat sangat senang." jawab Rico sambil tersenyum kecil.

__ADS_1


" Yah.. Begitulah kira-kira.." sahut Zen sambil tersenyum kecil.


...****************...


__ADS_2