Let Me Enjoy My New Life As A Duchess

Let Me Enjoy My New Life As A Duchess
Bab 25 Menuju kediaman Primos ( Last Part )


__ADS_3

" Bagaimana? Apakah sudah di selidiki, Sebastian?" tanya Leon.


Sebastian mengangguk.


" Perisai yang ada di desa Floran, telah di rusak oleh seseorang." balas Sebastian.


" Itu sungguh mustahil. Perisai itu hanya bisa di rusak dari dalam desa.."


Kata-kata Leon terhenti.


" Mungkin di rusak oleh salah satu penduduk desa." sambung Sebastian.


Leon pun langsung menatap ke arah Sebastian.


" Itu hal yang mustahil. Mana ada orang yang mau menghancurkan desanya sendiri?!" sahut Leon.


Sebastian terdiam.


" Ataukah ada penyusup di desa itu?" tanya Sebastian.


" Penyusup?"


" Seperti.. Tahanan yang kabur itu?"


Mata Leon langsung membesar.


" Margareth?! Tetapi itu sungguh tidak mungkin..!"


" Tuan, apakah anda bisa menjelaskan bagaimana nyonya Margareth dan nona Sarah bisa kabur dari penjara bawah tanah?" tanya Sebastian.


Leon kembali terdiam.


" Jika mereka bisa kabur dari penjara bawah tanah tanpa menyentuh jeruji besi itu, maka mereka berdua pun bisa menghancurkan perisai yang ada di desa Floran."


" Segera arahkan prajurit untuk memeriksa desa Floran apakah ada tanda-tanda bahwa Margareth dan Sarah bersembunyi di situ." perintah Leon.


" Baik!" sahut Sebastian.


...****************...


" Mayuri.. Mayuri.. Bangun.. Kita sudah mau sampai." sahut Zen dengan lembut.


" Ngh.. 5 menit lagi.." gumam Zen.


" Bangun atau aku cium?" tanya Zen.


Mayuri langsung membuka matanya lebar-lebar.


" Aku bangun! Aku bangun!" teriak Mayuri.


Zen terkekeh kecil.


" Kamu.. Mengerjaiku,ya?" tanya Mayuri.


" Hm? Tentu saja tidak. Aku serius akan menciummu jika kamu tidak bangun juga." jawab Zen.


Mayuri berdengus kesal. Dan kemudian melihat ke arah keluar jendela kereta kudanya. Sebuah kota yang berjarak hanya beberapa kilometer telah terlihat.


" Apakah itu kota Paltina?" tanya Mayuri.


" Iya.. Itu Paltina. Kediaman Primos terletak di bagian utara kota. " jawab Zen.


Mayuri tampak terpukau melihat kota Paltina. Meski pun kota itu masih dalam jarak beberapa kilometer, dia mengamati kota itu berbagai sisi.


Tak lama kemudian, mereka telah tiba tepat di depan gerbang masuk kota Platina. Penjaga gerbang pun menghentikan kereta kuda dan meminta surat keterangan.


TOK!


TOK!


TOK!


" Permisi, duke. Penjaga meminta anda untuk keluar dari kereta kuda." sahut prajurit.


Zen menghela nafas panjang.


" Pakailah mantelmu. Di luar akan terasa sangat dingin." sahut Zen.

__ADS_1


Mayuri mengangguk dan segera memakai mantelnya. Kemudian Zen pun dengan pelan membuka pintu kereta kuda. Angin dingin mulai berhembus membelai pipi Mayuri.


" Hiii..!"


Setelah membantu Mayuri untuk turun dari kereta kuda, Zen pun menatap ke arah penjaga gerbang.


" Dingin.."


Sesekali Mayuri menghangatkan tangannya dengan nafasnya. Tetapi hal itu tidak berhasil. Nafasnya mulai mengeluarkan embun dingin.


" Sebaiknya aku mencari sarung tanganku.." gumam Mayuri pelan dan kemudian berjalan menuju ke arah Emilia, tetapi langkahnya terhenti.


" Mayuri, sini.." panggil Zen.


Mayuri mengerutkan keningnya dan berbalik menuju ke arah Zen.


" Kenapa?" tanyanya.


Zen tidak mengeluarkan kata-kata apapun, dia hanya mengenggam tangan Mayuri dan memasukkannya ke dalam saku mantelnya.


" A.. Apa yang sedang kamu lakukan?" bisik Mayuri.


Zen hanya tersenyum kecil. Tangan Mayuri yang tadinya terasa dingin, kini terasa hangat.


" Kenapa tangannya hangat sekali? Ah.. Dia menggunakan sihir.."


" Baiklah. Surat-surat semua lengkap. Maaf telah mengganggu perjalanan anda, Duke." sahut penjaga.


" Aahh.. Bahkan di kota yang kupimpin sendiri pun, aku harus menjalani pemeriksaan yang seperti ini." sahut Zen kesal.


" Bukankah kau sendiri yang membuat peraturan ini?" tanya Yuma.


" Apakah kau mempunyai bukti bahwa aku yang membuat peraturan ini?" tanya Zen dengan wajah yang kesal.


Mendengar pertanyaan Zen itu, Yuma pun langsung menunjuk ke arah Rico.


" Dia buktinya." jawab Yuma singkat.


Zen pun langsung menatap ke arah Rico.


" Eh?! Ah?! S.. Saya tidak tahu apa-apa!! Yuma! Apa yang kau katakan?!" sahut Rico panik.


" Te.. Tentu saja tidak, tuan!"


" Sudahlah, mari lanjutkan perjalanan! Aku dan Mayuri sudah lelah dan ingin cepat-cepat beristirahat." sahut Zen sambil membantu Mayuri menaiki kereta kuda.


" Bennette pasti akan senang melihat kau.." sahut Yuma.


Mayuri dan Zen pun menatap ke arah Yuma.


" Hmph. Aku hanya berharap anak itu tidak membuat kekacauan selama aku tidak berada di rumah." sahut Zen dan kemudian menutup pintu kereta kuda.


" Hm? Bennette? Siapa?"


Mayuri pun mendadak merasakan sesuatu dalam hatinya. Dan kemudian dia menatap ke arah Zen. Menyadari bahwa Mayuri sedang menatapnya, Zen pun mulai tersenyum kecil.


" Apa kamu penasaran siapa Bennette?" tanya Zen.


" Ti.. Tidak! Siapa yang penasaran?!"


" Apakah kamu yakin?" tanya Zen.


" Ya.. Aku sangat yakin.. Ahahaha.." jawab Mayuri.


Zen masih menatap ke arah Mayuri.


" Su.. Sudah kubilang, aku sama sekali tidak penasaran!" sahut Mayuri.


" Bennette itu, adik Rico. Apakah kamu tahu bahwa Rico, Yuma dan Bennette, mereka sudah berteman dari kecil?" tanya Zen.


" Eh? Benarkah?" tanya Mayuri.


Zen mengangguk.


" Dan apakah kamu tahu bahwa Yuma menyukai Bennette sudah dari mereka kecil?" tanya Zen lagi.


" Ehh?!"

__ADS_1


...****************...


- Kediaman Primos-


" Apa?! Zen sudah kembali?!" teriak seorang gadis berambut panjang kecoklatan.


Gadis tersebut bernama Bennette. Berbeda dengan Yuma yang merupakan seorang Marques, Bennette terlahir di keluarga biasa yang tidak memiliki status sosial. Oleh karena itu, dia tidak memiliki nama tengah dan belakang.


Sedari kecil, Rico dan Bennette telah hidup berdua di jalanan tanpa bimbingan orang tua. Demi hidup, mereka berdua rela untuk mencuri. Sampai suatu hari, mereka bertemu dengan Yuma yang kemudian merubah total kehidupan mereka.


" Iya! Saya melihat kereta kudanya sedang berjalan ke sini." sahut seorang prajurit.


Mendengar hal itu, mata Bennette terlihat bersinar.


" Zen sudah kembali!! Aku harus menyambutnya!" teriak Bennette kegirangan.


Bennette pun segera berlari menuju pintu masuk untuk menyambut kepulangan Zen.


" Zen! Zen! Aku kangen!" gumam Bennette.


" Bennette! Hati-hati! Jangan berlari terlalu cepat!" sahut salah satu pelayan yang lewat.


" Daniella! Zen sudah pulang!" teriak Bennette sambil tersenyum lebar.


" Duh! Anak itu kalau sudah menyangkut tuan Zen, selalu kelihatan senang sekali." sahut Daniella yang merupakan salah satu pelayan di kediaman Primos dan juga merupakan sahabat Bennette.


" Tetapi apakah anak itu tahu bahwa tuan Zen kembali bersama dengan tunangannya?" tanya pelayan yang lain.


Daniella terkejut. Dia langsung menatap ke arah pelayan itu dan kemudian menatap ke arah Bennette berlari.


" Celaka!" gumam Daniella.


Sat ini Bennette telah berdiri di depan pintu masuk . Dia pun segera merapikan rambutnya dan memeriksa apakah bajunya sudah rapi atau belum. Tak lama kemudian, kereta kuda milik Zen telah memasukki gerbang kediaman Primos.


Wajah Bennette pun memancarkan aura kebahagiaan yang luar biasa. Dia pun segera berlari ke arah kereta kuda yang berhenti.


" ZENN!!"


Langkah Bennette kemudian terhenti melihat Zen turun dari kereta kudanya dan menuntun seorang wanita keluar dari kereta kuda yang sama dengan miliknya. Zen menyadari kehadiran Bennette dan tersenyum kepadanya.


" Bennette." panggil Zen.


" Eh.. Ah.. Lama tidak berjumpa.." sahut Bennette gugup.


" Apakah tidak ada masalah selama saya tidak berada di sini?" tanya Zen.


" Ti.. Tidak ada masalah!" jawab Bennette.


Mata Bennette pun langsung tertuju pada wanita yang berada di samping Zen.


" Wanita ini siapa?" tanya Bennette.


Zen pun segera menatap ke arah Mayuri.


" Ah, perkenalkan. Dia tunanganku. Mayuri Camelia Bright. Saya harap kamu dapat membantunya untuk menyesuaikan diri di sini. Mayuri datang dari Selatan." jawab Zen sambil tersenyum lembut ke arah Mayuri.


" Hello. Mohon bantuannya, ya. Saya Mayuri Camelia Bright." sahut Mayuri.


" Mayuri, dia ini Bennette. Orang yang barusan aku ceritakan." sahut Zen.


Mayuri pun langsung menatap ke arah Bennette. Matanya terlihat berseri.


" Ahh.. Salam kenal. Bennette. Saya harap kita bisa berteman!"


" A.. Ah.. Iya.. Salam kenal, nona Mayuri.." sahut Bennette.


Yuma yang melihat kejadian itu pun, menghela nafas panjang.


" Kuharap dengan begini, Bennette dapat menyerah soal tuan Zen. Dia dan tuan Zen tidak akan pernah bisa bersanding sejajar." gumam Rico.


" Hmm.. Ya. Dengan begini, peluangku untuk mendapatkan Bennette lebih besar.." sahut Yuma.


Rico pun menatap tajam ke arah Yuma.


" Jangan kau sesekali menyentuh Bennette!" sahut Rico geram.


Yuma hanya terkekeh kecil.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2