Let Me Enjoy My New Life As A Duchess

Let Me Enjoy My New Life As A Duchess
Bab 6 Masa Lalu Mayuri dan Zen


__ADS_3

Setelah berdansa beberapa lagu, akhirnya Zen dan Mayuri mengakhiri dansanya. Terlihat beberapa tamu datang menghampiri mereka berdua.


" Selamat malam, duke. Selamat malam, nona Mayuri. Selamat atas pertunangan anda hari ini." sapa salah satu tamu.


Zen tersenyum kecil sambil menatap ke arah Mayuri.


" Terima kasih, atas ucapannya." balas Zen.


Tak lama terdengar teriakan.


" Komandan! Komandan!"


Zen pun otomatis mencari-cari asal suara tersebut.


" Komandan, selamat atas pertunangan anda!"


" Illya! Kita sedang tidak bertugas. Jangan memanggilku begitu." balas Zen.


Illya Victor, merupakan salah satu anggota pasukan Zen.


" Ah, maaf." sahutnya sambil menatap ke arah Mayuri.


" Nona Mayuri, selamat atas pertunangan anda dengan duke Zen." sambungnya.


" Terima kasih.. Ah.." balas Mayuri.


" Illya Victor. Salah satu anggota pasukanku." kata Zen.


" Ah, tuan Illya." sahut Mayuri sambil tersenyum kecil.


" Tidak perlu memanggilku begitu formal,nona. Illya saja sudah cukup."


Mayuri menggangguk. Kemudian Zen dan Illya pun melanjutkan pembicaraan mereka. Mayuri merasa pembicaraan Zen dan Illya bukanlah merupakan topik yang menarik, Mayuri pun izin untuk mencari udara segar di taman.


...****************...


" Hah.." Mayuri menarik nafas panjang.


" Kenapa?" tanya seseorang.


Mayuri mencari asal suara itu.


" Leo!" sahut Mayuri.


Leo tersenyum lebar.


" Yo!" katanya.


" Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Mayuri.


" Mencari udara segar, sama sepertimu."


Kemudian Leo pun berubah menjadi sosok pria dewasa dengan rambut kuning keemasan. Dan lalu dia pun duduk di samping Mayuri sambil tersenyum lebar. Mayuri menatap Leo.


" Kenapa? Anda terpesona dengan ketampanan saya?" tanya Leo


Mayuri berdengus kesal. Agak lama Mayuri dan Leo saling berdiaman.


" Hey, Leon." panggil Mayuri.


Leo menoleh.


" Apa?"


Mayuri terlihat enggan untuk membuka suara.


" K.. Ka.. Huff.." Mayuri menarik nafas panjang.


" Kamu bagaimana bisa tau kalau aku bukan.. M.. Mayuri yang asli?" tanya Mayuri.


Leo terlihat binggung.


" Waktu itu.. Kamu menyebut nama Diana Veronica. Itu.. Nama asliku.. Sebelum menjadi Mayuri."


" Ah.. Itu di karenakan saya bisa melihat jiwa seseorang. Yang saya lihat saat ini, adalah jiwa Diana Veronica." jawab Leo.


" Ka.. Kalau begitu, ada di mana jiwa Mayuri yang sebenarnya?! Apakah aku ini sebenarnya sudah meninggal apa masih hidup?"


Leo berpikir sejenak.


" Maaf. Soal itu, saya sendiri tidak tahu." jawab Leo dengan raut wajah yang serius.


Sekali lagi, Mayuri menarik nafas panjang. Kemudian menatap jauh ke langit.


" Aku.. Tidak tau apa yang akan terjadi padaku jika suatu saat jiwa Mayuri yang sebenarnya kembali.." gumam Mayuri kecil, badannya terlihat bergemetar.


Leo menatap serius ke arah Mayuri.


" Yang saya tau, jiwa Mayuri sudah tidak ada lagi di dunia ini." kata Leo.


Mayuri terkejut mendengar perkataan Leo.


" Sudah.. Tidak ada lagi? Mak.. Maksudmu?" tanya Mayuri.


Leo hanya terdiam.


" Saya sudah berbicara terlalu banyak."


Kemudian Leo pun menghilang. Mayuri yang di tinggal sendirian, menatap jauh kembali ke arah langit. Tanpa di sadarinya, air matanya pun menetes.


" Hah.. Gimana ini. Harapanku untuk kembali ke tubuhku sendiri, telang hilang. Jiwa Mayuri telah menghilang? Mayuri, kemana jiwamu menghilang? Apakah kamu tidak merindukan ayahmu? Hah.."


" Nona Bright?" panggil seseorang.


Mayuri langsung menoleh ke asal suara.


" Duke Zen.." gumamnya.


Zen yang melihat Mayuri menangis, langsung panik.


" Eh? Anda kenapa?" tanya Zen.


Mayuri yang menyadari dirinya tengah menangis itu langsung menyeka air matanya dengan cepat.


" Hm? Tidak! Tidak apa-apa!" jawab Mayuri dengan cepat.


Kemudian Zen pun memutuskan untuk duduk di sebelah Mayuri.


" Mungkin anda tidak mengingatnya. Tetapi 12 tahun yang lalu, kita pernah bertemu di sini." kata Zen sambil tersenyum kecil ke arah Mayuri.


Mayuri menatap Zen dengan tatapan tidak percaya.


" Situasinya hampir seperti ini. Hanya saja pada saat itu, saya yang tengah bersembunyi dan menangis sendiri."

__ADS_1


Zen menatap Mayuri.


" Lalu, ada seorang gadis kecil yang menemukanku dan berkata ' Hey! Kamu sedang apa menangis sendiri di sini? Apa ada yang menjahatimu?' " sambung Zen.


Mayuri masih menatap Zen tidak percaya.


" Ahem.. Maaf, tapi saya tidak mengingat kejadian tersebut." sahut Mayuri sambil berdehem kecil.


Zen tertawa kecil.


" Hahaha, iya. Saya sudah menduganya."


" Hm.. Bisakah kita tidak berbicara secara formal satu sama lain?" tanya Mayuri.


" Tentu saja! Kita sudah bertunangan. Tidak seharusnya kita berbicara secara formal."


" Te.. Terima kasih." sahut Mayuri gugup.


...****************...


Di saat yang bersamaan, Leon dan Antonius sedang serius untuk membahas sesuatu. Raut wajah Leon sungguh terlihat sangat kesal.


" Sampai kapan pun, aku tidak akan menyetujui pertunangan ini! Asal usul pria itu tidak jelas!" sahut Leon.


Antonius menatapnya datar. Dan kemudian berdengus.


" Hmph! Apanya yang tidak jelas. Fridzen Emerald Primos, seorang pria berusia 23 tahun. Seorang Duke yang berkuasa di utara. Ayahnya merupakan seorang raja di kerajaan tetanga. Anak pertama dari 3 bersaudara. Dia merupakan anak tengah. Kakak laki-lakinya merupakan calon raja selanjutnya. Sedangkan adik perempuannya telah menikah."


Antonius kembali menatap Leon.


" Lagi pula, dia dan Mayuri sudah pernah bertemu 12 tahun yang lalu." sambung Antonius.


" Apa? 12 tahun yang lalu?" tanya Leon.


" Hmm." Antonius mengangguk.


Leon terlihat berpikir sejenak.


" Bukankah 12 tahun yang lalu itu acara perjamuan untuk merayakan kesepakatan berdamai dengan kerajaan tetangga?" tanya Leon.


Tiba-tiba raut wajah Leon agak berbeda dari biasanya.


" Tunggu dulu! Bukannya waktu itu, ada monster sihir yang tiba-tiba menembus perisai kerajaan dan.." Perkataan Leon terhenti.


" Benar. Pada saat itu, Mayuri dan seorang anak laki-laki tengah berada di depan monster sihir itu. Dan mereka berdua hampir celaka. Anak laki-laki itu adalah Zen."


Leon terduduk lemas.


" Leon, apakah kamu tau bahwan Mayuri memiliki kekuatan sebagai seorang summoner?" sambung Antonius.


Leon mengangguk.


" Iya. Dia mewarisi kekuatan Maria."


" Yang pada saat itu membunuh monster sihir saat itu sebenarnya adalah Mayuri."


...****************...


- 12 tahun yang lalu -


" Hic.. Hic.. !"


Terdengar suara isak tangis anak kecil.


Saat ini dia sedang berada di depan seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu terlihat sedang menangis.


" A.. Aku di marahi ayah!"


Mayuri mengernyitkan keningnya.


" Terus? Kamu memutuskan untuk menangis sendirian di sini? Kamu itu anak laki-laki! Jangan terlalu cengeng! Sini kubantu seka air matamu!" celoteh Mayuri kesal.


Kemudian dia pun mengeluarkan sapu tangam dari tas kecil yang di pegangnya. Dan lalu menyeka air mata anak laki-laki tersebut.


" Sudah! Jangan menangis lagi! Nanti jadi tidak ada yang mau menikah denganmu!" sambung Mayuri.


" Menikah? Kita masih kecil! Kenapa membicarakan pernikahan? Lagian, wanita itu sangat menyeramkan! Lihat saja ibuku. Tiap hari hanya tau menggomel dan marah-marah saja! Ayah sampai tidak bisa berkata apa-apa terhadap ibu."


Mayuri terkekeh kecil.


" Siapa ayahmu?" tanya Mayuri.


" Hennrich Emerald Primos!" jawab anak laki-laki itu dengan riang.


" Hennrich? Bukankah dia itu seorang raja?"


Anak laki-laki itu mengangguk.


" Aku, Fridzen Emerald Primos. Pangeran kedua dari Kerajaan Primos! Panggil saja aku Zen!"


Mayuri terdiam


" Ah! Maaf saya bersikap tidak sopan! Perkenalkan, saya Mayuri Camelia Bright. " sahut Mayuri gugup.


" A.. Kamu tidak perlu bersikap formal itu. Aku sungguh tidak nyaman jika harus bersikap formal terus menerus. Hal itu yang menyebabkan aku di marahi ayah barusan." kata Zen sambil tersenyum kecil.


Kemudian mereka berdua pun memutuskan untuk mengobrol sebentar. Walaupun baru mengenal satu sama lain, mereka terlihat sangat dekat layaknya anak-anak yang sudah kenal lama.


BAAAMM!!


Tak lama, terdengar suara ledakan tepat di depan mereka berdua. Mayuri maupun Zen, keduanya sama-sama terkejut mendengar suara ledakan itu.


Zen yang penakut, Mayuri yang terlihat tegar berusaha untuk melindungi Zen.


Terlihat sebuah sosok bayangan besar dari arah gempulan asap ledakan yang berusaha mendekati mereka.


" SIAPA DI SITU?! TUNJUKAN DIRIMU!" Teriak Mayuri.


" Ma.. Mayuri.. Ayo kita kabur saja!" gumam Zen.


Mayuri masih berusaha untuk melindungi Zen. Matanya menatap tajam ke arah bayangan itu. Sosok itu semakin mendekat ke arah mereka.


" Oho! Dua anak manusia. Akan terasa lezat." sahut bayangan itu.


Zen dan Mayuri pun terkejut mendengar sahutan itu. Kini sosok bayangan besar itu telah terlihat jelas. Seekor monster sihir yang besar dengan wajah yang mengerikan. Gigi-giginya terlihat tajam saat dia tersenyum menyeringai.


Keringat dingin Mayuri pun terlihat bercucuran. Sedangan Zen hampir tidak bisa bersuara.


" Hai, anak manusia! Apakah kalian bersedia untuk menjadi santapan malamku?" tanya monster sihir itu.


" Monster sihir!" gumam Mayuri.


" Oh? Jarang sekali ada anak manusia yang masih berdiri tegap menatap sosokku! Siapa namamu? aku mungkin saja akan terus mengingatmu, makanan penutupku! Ahahahaha!"

__ADS_1


" Jika kamu tidak ada urusan di sini, silahkan pergi! Jangan sampai aku membasmimu!" sahut Mayuri.


" Membasmiku? Memangnya kau sanggup?"


" Sanggup atau pun tidak, jika masih belum mencobanya, kita tidak akan tahu!"


" Kenapa pasukan kerajaan tidak ada yang datang menghampiri?!"


Sekujur tubuh Mayuri terlihat bersinar.


" Ma.. Mayuri..." gumam Zen.


" Zen, bersembunyilah." sahut Mayuri sambil menatap lembut ke arah Zen.


" Aries!" teriak Mayuri.


" Siap, nona!"


" Oh? Seorang summoner. Yang Mulia akan sangat senang jika mendengar hal ini." gumam monster sihir itu.


" Yang Mulia?" tanya Mayuri.


" Apa kau tidak tau bahwa kami monster sihir juga memiliki seorang raja yang berkuasa? Jika aku membawamu kepadanya, aku pasti akan mendapatkan gelar tertinggi di kerajaan. Hahahaha." sahut monster sihir itu dengan girang.


" Kamu sudah gila! Sebelum kamu berhasil membawaku, kamu akan kuhancurkan terlebih dahulu!"


Mayuri menatap ke arah Aries.


" Aries, mohon bantuannya."


" No.. Nona, apa anda yakin? Tubuh anda masih belum bisa mengeluarkan sihir tingkat tinggi." tanya Aries.


Mayuri hanya tersenyum kecil.


" Flame Explosion!!" teriak Mayuri.


DHUARRR!!


Akibat suara dentuman keras itu, membuat seluruh kerajaan terguncang keras.


" Nona Mayuri!" teriak Aries.


" Mayuri!" teriak Zen.


Mayuri terlihat sangat pucat. Kakinya lemas dan hampir terjatuh. Tetapi berhasil di tahan oleh Zen.


" Ba.. Bagaimana dengan monster sihirnya?!" tanya Mayuri.


Zen pun melihat ke arah di mana monster sihir itu berdiri sebelumnya.


" Hey, gadis kecil. Apa segini saja kekuatanmu?" tanya monster sihir itu dari balik asap ledakan.


Zen dan Mayuri pun terkejut mendengar suara itu.


" Kau..!"


Mayuri mencoba untuk berdiri. Tetapi kakinya sudah tidak ada kekuatan untuk menopang badannya. Zen pun mengendong Mayuri dan membawanya menjauh dari hadapan monster sihir.


" Z.. Zen?! Apa yang kamu lakukan?!"


" Sekarang giliran aku yang melindungimu." sahut Zen sambil membelai lembut kepala Mayuri.


Pandangan mata Zen pun kemudian tertuju ke arah Aries.


" Aries. Kamu bisa berubah menjadi pedang bukan?" tanya Zen.


Aries mengangguk. Kemudian dia pun berubah menjadi pedang.


ZINGG!


Zen pun mengayunkan Aries beberapa kali. Terlihat aura muncul dari tubuh Zen. Mata Zen terlihat kosong. Kemudian Zen mendadak menghilang dari hadapan monster sihir itu.


" A..! Apa?! Kemana dia menghilang?!"


Monster sihir itu terlihat panik. Berulang kali dia memutar balikan badannya untuk mencari Zen.


ZAPPP!


Tanpa di sadari, kepala dari monster sihir itu terpisah dari badannya.


" A.. Apa yang terjadi? Badanku, kenapa bisa ada di situ?" gumam monster sihir itu.


Terlihat Zen sedang berdiri tepat di depan kepala monster sihir itu. Tatapan matanya dingin. Kemudian sebelah kakinya menginjak keras di atas kepala monster sihir itu.


" GAHHHH!!" Rintih monster itu.


Zen tersenyum menyeringai.


" Selamat tinggal. Flame Burst.." gumam Zen.


Seketika kepala dan badan dari monster itu terbakar oleh api yang besar. Setelah memastikan bahwan monster itu telah terbakar sepenuhnya, Zen kembali ke tempat Mayuri yang masih terduduk lemas.


" Hah.. Zen.." gumam Mayuri lemas.


" Semua sudah selesai. Tidurlah." gumam Zen pelan.


Mayuri mengangguk dan perlahan memejamkan matanya. setelah memastikan Mayuri sudah tertidur, Zen pum segera menatap ke arah Aries dan meletakan jari telunjuknya ke bibirnya, mengisyaratkan untuk diam.


" Hal ini, cukup kita berdua saja yang tahu. Jika Mayuri ada bertanya apa-apa, bilang saja tidak tau. Monster sihir itu, Mayurilah yang mengalahkannya. Faham?" tanya Zen kepada Aries.


Aries merasa gugup, dia pun menganggukan kepalanya dan kemudian menghilang. Tak lama kemudian, pasukan kerajan menghampiri mereka berdua.


" Pangeran Fridzen! Apakah anda baik-baik saja?!" tanya salah satu prajurit.


" A.. Aku baik- baik saja.. Tetapi Mayuri.. Mayuri.. Hic.." Zen mulai meneteskan air matanya.


" MAYURI! MAYURI!" teriak seseorang.


Pria paruh baya itu datang menghampiri mereka.


" Mayuri!" sahutnya kemudian menatap Zen.


" Ma.. Maaf.. Karena melindungiku, Mayuri jadi begini.. Maaf.. Hic.."


Pria itu terdiam, dan kemudian mengendong Mayuri. Sebelum menjauh dari tempat itu, pria itu melihat sekeliling mereka. Terlihat jasad monster sihir yang telah terbakar.


" Jangan menangis. Ini semua bukan salahmu. Ayo kita kembali ke istana."


Zen mengangguk. Senyuman semeringai terlihat di wajahnya.


" Tidak akan ada yang bisa merebut apa yang akan menjadi milikku." gumam Zen pelan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2