Let Me Enjoy My New Life As A Duchess

Let Me Enjoy My New Life As A Duchess
Bab 21 Menuju Kediaman Primos ( Part 2 )


__ADS_3

Saat ini Mayuri sedang berada dalam pelukan Zen. Jantungnya berdetak sangat kencang. Dia berharap bahwa Zen tidak mendengar suara detakan jantungnya itu.


" Pembayaran sudah saya terima, nona Mayuri. Saya akan membantu anda membawa hidangan ini ke prajurit kita." sahut Zen.


" Uh.. Kenapa kamu suka sekali menciumku?" tanya Mayuri di sertai dengan wajah merahnya.


Zen menatapnya.


" Akan terasa aneh jika aku mencium wanita yang bukan tunanganku." jawab Zen.


" Jadi, kalau tunanganku bukan aku? Apakah kamu akan tetap menciumku?" tanya Mayuri.


" Hm? Hal itu sungguh mustahil."


" Mustahil untuk menciumku yang bukan tunanganmu?"


" Mustahil jika ada wanita lain selain kamu yang menjadi tunanganku." jawab Zen di sertai dengan senyuman khasnya.


" Hmph.. Apakah kamu lupa jika aku ini Diana? Apa yang barusan kamu katakan padaku semua, itu hanyalah omongan belaka." sahut Mayuri.


" Hm? Terus?"


Zen mulai menunjukkan wajah yamg kesal. Mayuri sedikit terkejut melihat perubahan wajah Zen.


" A.. Apakah kamu lupa bahwa yang secara resmi menjadi tunanganmu itu adalah Mayuri, bukan Di.. Diana.." jawab Mayuri sambil perlahan menjauhi Zen.


Zen pun mulai bangkit dari tempat duduknya dan perlahan berjalan mendekati Mayuri. Mayuri pun perlahan berjalan mundur menjauhi Zen. Sampai akhirnya badan Mayuri menempel ke dinding.


BAMM!!


Zen menghantam tembok yang berada di belakang Mayuri hingga retak.


" Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak peduli dengan Mayuri mau pun Diana. Yang sekarang berada di hadapanku itu KAMU! Kamu yang menjadi tunanganku! Jadi jangan sekali-kali kamu menyebut dirimu bukan Mayuri atau kamu Diana. Itu hanyalah sebuah nama." sahut Zen tegas.


Dengan tangannya yang sedikit bergemetar, Mayuri perlahan menyentuh tangan Zen yang terluka akibat menghantam tembok.


" Tetapi.. Mau bagaimana pun, jika jiwa Mayuri kembali, maka jiwa Diana akan menghilang. Aku sendiri pun sudah tidak tahu lagi siapa diriku. Apakah aku Mayuri? Apakah Aku Diana? Asalkan kamu tahu, perlahan-lahan aku melihat serpihan-serpihan ingatan Mayuri. Dan juga perlahan-lahan aku melupakan segala sesuatu tentang Diana! Aku takut, Zen! Aku takut!" sahut Mayuri.


Air mata Mayuri pun perlahan membasahi pipinya.


" Bagaimana jika suatu saat aku menghilang? Bagaimana jika suatu saat yang berada di hadapanmu ini bukan aku?" sambung Mayuri.


Zen yang melihat Mayuri menangis, langsung memeluknya dengan erat.


" Maaf! Maafkan aku! Aku tidak bermaksud untuk membuatmu menangis!" sahut Zen.


Mayuri pun menangis dengan kuat. Zen langsung membuat ruangan itu kedap suara dengam sibor agar Mayuri bisa menangis dengan puas.


...****************...


Di luar penginapan para prajurit sedang bercanda ria.


" Duke Zen dan nona Bright. Selamat malam." sahut salah satu prajurit.


" Hello. Selamat Malam." balas Mayuri.


" Hm? Nona? Kenapa mata nona kelihatan bengkak?" tanya prajurit.


" E.. Eh.. Tidak kenapa-napa." jawab Mayuri.


" Sudah! Jangan bertanya lagi. Mayuri membawakan kalian hidangan buat makan malam." sahut Zen.


Mendengar itu, semua prajurit menunjukan wajah yang bahagia.

__ADS_1


" Terima kasih, nona Bright!" sahut para prajurit.


" I..Iya.. Sama-sama. Selamat menikmati makan malam kalian." balas Mayuri.


" Nona Mayuri!!" teriak seseorang.


Mayuri mencari asal suara itu.


" Emi! Kemana saja kamu dari tadi?" tanya Mayuri.


" Ah, maaf. Desa Floran adalah desa kelahiranku. Jadi aku mengunjungi makam orang tuaku sebentar." jawab Emilia.


" Eh? Kalau begitu aku juga akan mengunjungi makam orang tua Emi." sahut Mayuri.


" Tu.. Tunggu dulu.. Daripada mengunjungi makam, bagaimana kalau nona dan tuan Zen pergi ke festival?" tanya Emilia.


" Festival?" tanya Zen balik.


" Saat ini adalah saat di mana bunga Shade of Moon sedang mekar. Jadi para penduduk sedang merayakannya di alun-alun. Akan ada banyak makanan dan juga permainan di situ." balas Emilia.


" Kelihatannya menarik. Ayo kita pergi, Mayuri." sahut Zen.


" Eh? Apa? Aku.."


Belum selesai Mayuri menyelesaikan kalimatnya, Zen sudah menarik tangannya dan menuju alun-alun kota.


" SELAMAT BERSENANG-SENANG!!" teriak Emilia.


...****************...


Berbagai macam warna lampu menghias di setiap sudut alun-alun desa. Para penduduk terlihat bahagia. Sebagian menari-nari mengikuti alunan musik, dan ada juga yang sibuk menyantap hidangan khas desa Floran.


Wajah Mayuri kelihatan berseri. Matanya melihat kesetiap sudut alun-alun. Zen yang melihat Mayuri kembali ceria, akhirnya tersenyum kecil.


Zen tersenyum kecil melihat tingkah laku Mayuri.


" Ah, tuan. Mari belilah manisan ini untuk nona cantik ini." sahut penjual itu.


" Zen! Zen! Bentuknya lucu sekali! Lihat ini!" sahut Mayuri.


" Berikan aku setoples manisan itu, pak." sahut Zen.


" Baiklah." balas penjual itu.


" Se.. Setoples? Apa kamu yakin,Zen?" tanya Mayuri.


" Setoples masih belum bisa di bandingkan dengan senyumanmu barusan." jawab Zen.


Seketika wajah Mayuri memerah.


" Ini, nona. Setoples manisan." sahut penjual itu.


" Ah, terima kasih." balas Mayuri.


" Ayo, kita ke stand yang lainnya." sahut Zen.


Mayuri mengangguk. Zen pun kemudian menggandeng tangan Mayuri dan menuntunnya menuju stand yang lain.


Kaki Mayuri pun berhenti di stand accesories. Matanya mulai melirik ke arah accesories yang tertata rapi di depan stand.


" Apa kamu menginginkannya?" tanya Zen.


" Eh? Ah! Tidak! Tidak sama sekali. A..hahaha.." sahut Mayuri.

__ADS_1


Sebenarnya dia sangat tertarik dengan yang namanya accesories semasa di masih menjadi Diana. Berbagai macam gelang, cincin, anting, mau pun kalung menjadi koleksinya.


" A.. Ayo kita ke stand yang lain!" sahut Mayuri.


" Tunggu sebentar." sahut Zen sambil menahan Mayuri.


" Ih, Zen! Sudah cukup kamu membelikan aku setoples manisan ini!" sahut Mayuri sambil menarik Zen.


Zen pun menarik Mayuri dan melingkarkan tangannya ke pinggang Mayuri. Kemudian dia pun melanjutkan melihat accesories. Sebuah cincin dengan permata berwarna kuning menjadi pilihan Zen.


Di ambilnya cincin itu dan di pakaikannya di jari Mayuri.


" Hm.. Pak, saya beli cincin ini ya!" sahut Zen.


" Terima Kasih, tuan." sahut penjual itu.


Mayuri pun menatap ke arah jarinya itu. Warna batu permata itu sama dengan warna mata Zen.


" Warna batu permata ini sama dengan warna matamu." sahut Mayuri.


" Apakah kamu tahu bahwa jika seorang lelaki memberikan permata yang berwarna sama dengan matanya ke seorang wanita, itu artinya dia sangat mencintai wanita tersebut dan menginginkan wanita itu terus mengingatnya." sahut Zen.


" Nngh.. Sebelumnya kamu juga pernah mengirimkanku sebuah kalung liontin dengan batu topaz. Apakah itu artinya kamu.. Eh.." kata-kata Mayuri terhenti.


" Apa? Lanjutkan kata-katamu."


" Ti.. Tidak apa-apa."


Tiba-tiba terdengar suara lonceng petanda bahaya berbunyi dengan keras.


CLANG!


CLANG!


CLANG!


" MONSTER! MONSTER!" teriak salah satu penduduk yang berlari dari arah gerbang depan desa.


" LARI! MONSTER DATANG MENYERBU!"


Mayuri pun terlihat panik dan melihat ke arah Zen. Api mulai berkobar dari arah gerbang depan desa. Suara-suara monster itu mulai terdengar jelas. Para penduduk lari menjauh.


" Zen!" sahut Mayuri.


Wajah Zen terlihat sangat serius.


" Mayuri, kembalilah ke penginapan. Aku akan membantu penduduk desa mengusir monster." sahut Zen.


" Apa? Tidak mungkin kamu bisa mengalahkan semua monster itu sendirian!"


" Kalay begitu, aku akan membantumu!" sahut Mayuri.


" Ap..!!"


Belum selesai Zen menyelesaikan kalimatnya, seekor monster sudah berada di depan mereka dan bersiap untuk menerkam kedua manusia yang berada tepat di depan matanya. Zen dengan cepat mengeluarkan sihirnya dan membelah monster itu menjadi dua bagian.


" Mayuri! Ini bukan saatnya kita berdebat! Kembalilah ke penginapan sekarang juga!" teriak Zen.


" Tak perlu berteriak kepadaku! Aku bisa melindungi diriku sendiri! Aku bisa sihir dan juga pedang!" sahut Mayuri.


Zen terlihat kesal. Tetapi dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2