Let Me Enjoy My New Life As A Duchess

Let Me Enjoy My New Life As A Duchess
Bab 21 Menuju kediaman Primos ( part 3 )


__ADS_3

Desa Floran sedang berada dalam bahaya. Sekumpulan monster sedang mengacak-ngacak desa. Para penduduk sibuk mencari tempat berlindung.


Emilia beserta prajurit Primos lainnya berusaha membantu untuk mengevakuasi para penduduk dari serangan monster-monster itu.


" Breath of Ice! " teriak Mayuri.


Monster yang terkena serangan sihir Mayuri pun membeku dan kemudian d hancurkan oleh Zen dengan pedangnya.


" Monster-monster ini tidak ada habisnya!" sahut Mayuri.


" Kamu tidak apa-apa?" tanya Zen.


" Tenang saja! Aku baik-baik saja!" sahut Mayuri.


Mayuri pun melihat sekeliling desa. Desa Floran yang tadinya aman, para penduduk berpesta ria di alun-alun, kini menghilang akibat serangan monster.


" Padahal penduduk desa barusan menari dan tersenyum lebar.. Sekarang, mereka bersembunyi karena ketakutan." gumam Mayuri.


GRRRR..


Suara yang terdengar keras semakin mendekat. Para monster-monster kecil yang berada di dekat pun langsung gemetaran.


" Apa.. Kenapa.." gumam Mayuri.


" Mayuri! Bersiaplah. Sepertinya pemimpin kumpulan monster ini memutuskan untuk menyapa kita." sahut Zen.


GRAAAAAAHHH!!!


Kali ini suara pemimpin monster itu bergema dengan kuat sehingga Mayuri dan Zen merintih kesakitan.


" Hanya dengan auman itu, kita sudah tidak berdaya.. Sekuat apa pemimpin itu.." sahut Mayuri.


Secercah cahaya mendadak muncul dari atas mereka.


" MAYURI!!" teriak Zen.


Zen melompat ke arah Mayuri untuk menjauhkannya dari sasaran cahaya itu.


BLAAARRR!!


" A.. Apa itu?!" sahut Mayuri.


" Sihir lightning ! Monster ini bisa menggunakan sihir. Berhati-hatilah!" balas Zen.


Wajah Zen terlihat sangat serius. Sesekali Mayuri menatap ke arah Zen.


CLOP!


CLOP!


CLOP!


Kini monster itu berdiri tepat di depan mereka. Monster yang mirip dengan seekor kuda, hanya saja memiliki badan yang besar, dan bertanduk dua. Di sekeliling monster itu di selimuti oleh energi yang terlihat berbahaya. Monster itu menatap ke arah Mayuri dan Zen.


" U.. Unicorn ?" tanya Mayuri.


" Mirip. Tetapi bukan unicorn. Itu adalah bicorn." jawab Zen.


" Bi.. Bicorn ?"


" Ya.. Ini akan sangat berbahaya. Bicorn termasuk makhluk sihir tingkat B."


Mayuri terdiam. Kini dia merasakan ketegangan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


" Bersiaplah, Mayuri! Dia akan menyerang!" sahut Zen.


Bicorn itu pun berlari kencang ke arah Mayuri dan Zen. Dengan cepat Mayuri dan Zen menghindari serangan bicorn itu. Menyadari bahwa Mayuri dan Zen berhasil menghindari serangam fisiknya, bicorn itu pun kemudian mengeluarkan sihir lightningnya.


" AAHH..!!" teriak Mayuri.


" MAYURI!!"


" Ti.. Tidak apa-apa. Aku hanya terkejut."


" Ini akah terlihat sangat berbahaya." sahut Zen.


" Jangan menyerah, Zen! Kita pasti bisa mengalahkannya." balas Mayuri.

__ADS_1


Mayuri pun bersiap untuk mengeluarkan sihirnya.


" Breath of ice !!" teriak Mayuri.


Kaki bicorn itu seketika membeku. Monster itu meronta, berusaha untuk menghancurkan bongkahan es yang membuat kakinya membeku.


" Zen! Sekarang!!" teriak Mayuri.


Zen pun langsung berlari ke arah bicorn itu dan bersiap untuk mengayunkan pedangnya ke arah monster itu.


" HIYAAAA!!!"


CLANG!!


Bicorn itu menggunakan tanduknya untuk menahan serangan Zen. Pedang Zen pun terpendal jauh. Dan kemudian bicorn itu berhasil menghancurkan bongkahan es yang membekukan kakinya.


" ZEN!!" teriak Mayuri.


" Ck! Akan susah melawannya berdua.." gumam Zen.


" Zen.. Monster itu mulai bersiap untuk serangan berikutnya.." sahut Mayuri.


" Kh.."


Zen berusaha berpikir mencari jalan keluar. Bicron pun sudah siap untuk menyerang untuk kedua kalinya.


" Ice wall !!" teriak Mayuri.


Mayuri membuat sebuah dinding yang terbuat dari es di antara mereka dan bicorn. Tetapi dinding tersebut tidaklah kuat untuk menahan serangan fisik dari bicorn.


" Guardian shield!!"


Sebuah cahaya berwarna kuning keemasan menyelimuti Mayuri dan Zen. Bicorn berusaha untuk menyerang, tetapi serangannya itu tidak bisa menembus pertahanan guardian shield.


Zen yang mengenali sihir itu langsung mencari keberadaan pemilik sihir tersebut.


" Hei! Kenapa wajahmu begitu, Zen?" tanya seseorang.


" Yuma!" sahut Zen.


Yuma tersenyum. Dan kemudian dia melompati puing-puing bangunan menuju ke arah Zen. Setelah bertukar salam sapa, Yuma menatap ke arah Mayuri.


" Xaverius? Ah, Marquis Xaverius. Salam kenal. Mayuri Camelia Bright."


" Salam sapanya nanti saja. Kita harus mengurus apa yang ada di depan kita." sahut Zen.


Yuma pun bersiap untuk mengeluarkan jurus sihirnya. Sedangkan Zen bersiap untuk menyerang memakai pedangnya. Mayuri berusaha untuk memberi sihir pendukung untuk Zen.


Zen dan bicorn saling mendekat dan kemudian Yuma pun mengeluarkan sihirnya. Alhasil, bicorn tersebut terpental dan Zen pun langsung menyerang tanduk bicron. Pemimpin monster itu mengerang kesakitan.


Tanpa membuang waktu lebih banyak, Zen pun memenggal kepala bicron itu. Darah monster itu pun langsung menyembur keluar dan membasahi tubuh Zen.


" Hiiiyy..!!" Mayuri merasa geli melihat darah monster itu membasahi tubuh Zen.


Zen yang menyadari bahwa reaksi Mayuri yang tidak biasa, berjalan dengan pelan mendekati gadis itu.


" Ja.. Jangan mendekatttt..!!" teriak Mayuri.


" Loh? Memangnya kenapa?" tanya Zen sambil tersenyum menyeringai.


" Aku merasa mual melihat darah bicron itu berada di seluruh tubuhmu." sahut Mayuri.


" Ini adalah bukti pengorbananku dalam melindungimu dalam bahaya.." balas Zen sambil tertawa kecil.


" Pengorbanan matamu!" sahut Yuma.


" Ah, Yuma. Aku lupa bahwa kau masih berada di sini." kata Zen datar.


" Kau.. Sekali saja izinkan aku untuk memukulmu.." sahut Yuma kesal.


Zen tertawa lebar. Mayuri pun menatap kedua pria itu dengan heran.


" Ah, maaf. Izinkan saya memperkenalkan diri saya sekali lagi. Saya Yuma Alexander Xaverius."


" Ah, iya. Saya Mayuri Camelia Bright. Senang bertemu dengan anda, Marquis Xaverius."


" Cukup memanggil saya dengan Yuma saja. Saya teman sekaligus tangan kanan Zen."

__ADS_1


" Terus? Apa yang membuatmu datang ke desa Floran ini?" tanya Zen kesal.


Yuma menatap Zen sejenak.


" Oh! Aku lupa.." sahut Yuma.


" Ooi!! Kau seharusnya sedang berada di wilayah Primos saat ini? Kenapa kau berada di sini?" tanya Zen.


" Ah.. MAAFKAN AKU!!" teriak Yuma.


" HAH?!"


" Sebenarnya aku tidak kembali ke wilayah Primos. Tetapi menikmati hari santaiku sampai kau kembali ke kediaman Primos bersama nona Bright. Tetapi hal seperti ini malah terjadi." sambung Yuma.


Zen tampak terlihat kesal.


" Jadi?" tanya Zen.


" Apanya yang jadi?" tanya Yuma balik.


" JADI APA YANG KAU LAKUKAN DI SAAT KAMI BERDUA SEDANG MATI-MATIAN MELAWAN BICORN, HAH?!" teriak Zen.


" Urgh.. Bersembunyi sambil menunggu waktu yang tepat. Itu kan hal yang selalu di lakukan pahlawan dalam cerita dogeng ya, kan?!" jawab Yuma.


" Arhhh!! Lama-lama bisa gila aku bicara denganmu!" sahut Zen kesal.


" NONA MAYURI!! NONA MAYURII!! ANDA ADA DI MANA?!" teriak Emilia dari kejauhan.


" Temuilah Emilia. Dia pasti sangat khawatir denganmu." sahut Zen.


Mayuri menggangguk dan kemudian berlari ke arah Emilia.


...****************...


" Hiihh.. Pelan-pelan!" sahut Mayuri.


" Ini sudah pelan, nona! Tahanlah sedikit." balas Emilia.


Akibat serangan monster yang menyerbu desa Floran, kini sekujur tubuh Mayuri di penuhi oleh luka. Melihat tubuh nonanya itu penuh dengan luka, Emilia langsung panik dan segera mengeluarkan peralatan medis.


" Benar kata Emilia. Tahanlag sedikit. Kamu itu sudah besar. Masa segitu saja tidak bisa tahan." ledek Zen.


Mayuri tampak kesal. Dia pun langsung mengambil kapas yang sudah di basahi oleh alkohol dan mengoleskannya ke luka Zen.


" Aduduh!! Sakit! Apa yang kamu lakukan,sih?!" teriak Zen.


" Hmph! Kamu itu sudah besar! Baru di oles sebentar saja sudah merintih kesakitan!" sahut Mayuri kesal.


" Kamu..!! Itu namanya bukan mengoleskan!"


" AAAHH! AHHH! Kalian ini.. Badan penuh luka seperti itu masih saja bisa berantem!" sahut Yuma.


Mayuri dan Zen pun terdiam. Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu. Yuma pun membuka pintu kamar dan terlihat seorang prajurit sedang berdiri di luar.


" Ada apa?" tanya Yuma.


" Ah, prajurit memberi hormat!" sahut prajurit itu.


Yuma mengangguk.


" Itu.. Para penduduk desa berkumpul di depan penginapan." sahut prajurit.


" Ha? Buat apa mereka berkumpul?" tanya Zen dari dalam.


" Kata kepala desa, mereka ini berterima kasih kepada orang yang telah membasmi monster yang telah menghancurkan desa ini."


" Hrnngghh.. Yuma, kau uruslah itu." sahut Zen.


" HAH?! OI! Kenapa kau malah menyuruhku?!" teriak Yuma.


" Waktu liburanmu telah habis." sahut Zen.


Yuma terlihat kesal. Tetapi dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dengan perasaan yang kesal, dia pun pergi menemui penduduk desa.


" Kenapa tidak kamu temui saja para penduduk desa?" tanya Mayuri


" Hm? Malas untuk urusan yang seperti itu. Bukankah hal seperti ini cocok di kerjakan oleh tangan kananku?" jawab Zen sambil tersenyum menyeringai.

__ADS_1


" Hahh.. Dasar pria!" gerutu Mayuri.


...****************...


__ADS_2