Let Me Enjoy My New Life As A Duchess

Let Me Enjoy My New Life As A Duchess
Bab 22 Menuju Kediaman Primos ( Part 4 )


__ADS_3

Setelah selesai mengobrol dengan ketua desa, Yuma pun kembali ke kamar dengan wajah yang letih.


" Hm? Kenapa kau masih di sini? Mana nona Bright?" tanya Yuma pada Zen yang terduduk santai dengan segelas wine di tangannya.


" Tidur. Terima kasih atas kerja kerasmu menangani penduduk desa di luar." sahut Zen sambil tersenyum kecil.


Yuma berdengus kesal. Kemudian dia pun meraih gelas kosong yang ada di atas meja lalu d tuangkannya wine. Zen dan Yuma pun bersulang.


" Sewaktu melawan bicorn, kenapa kau tidak memakai sihirmu?" tanya Yuma.


Zen menatap Yuma sejenak.


" Heh! Apa kau tidak berpikir apa yang akan terjadi pada desa Floran jika aku memakai kekuatan sihirku?" tanya Zen.


Yuma terdiam.


" AHH! Hal itu sungguh tidak terpikirkan olehku! Kau sungguh jenius!" sahut Yuma.


" Jenius kepalamu!"


" Tetapi, tidak kusangka bahwa nona Bright bisa menggunakan sihir."


" Heh! Tidak hanya sihir. Dia juga ahli dalam berpedang." sahut Zen.


Yuma terlihat terkejut.


" Serius? Berpedang? Jarang sekali aku bertemu dengan seorang nona muda yang ahli berpedang. Seharusnya nona muda seperti dia itu tertarik dengan baju, perhiasan dan acara minum teh, bukan?" tanya Yuma.


Zen tersenyum.


" Dia itu.. Wanita yang spesial." balas Zen sambil menatap ke arah gelas winenya.


" Spesial katamu?" tanya Yuma.


" Hmm.."


Yuma pun terdiam dan kemudian meneguk wine yang masih terisi penuh di gelas yang sedang di pegangnya.


" Jadi, apa kau nanti akan ikut kami pulang ke kediaman Primos?" tanya Zen.


" Yah.. Mungkin.." jawab Yuma.


...****************...


" Diana!"


" Diana"


" Ngh.. Siapa.. Siapa yang memanggilku?"


" Diana.. Maafkan aku.. Maaf telah membuatmu di posisi ini. Maaf.. Maafkan aku.."


" Siapa? Kamu siapa? Kenapa kamu bisa tahu namaku?"


" ... "


" Kenapa kamu diam saja? Siapa kamu?"


" Waktuku tidak banyak, Diana. Aku berharap bisa berbincang lebih lama denganmu. Tolong jaga papa dan hiduplah dengan bahagia."


" Papa? Siapa maksudmu?"


" ... "


" Jangan-jangan kamu.. Mayuri?! Kamu Mayuri, kan?! Apa yang terjadi?! Kamu ada dimana?! Tolong jelaskan padaku bagaimana aku bisa berada di dalam tubuhmu? "


" Maaf. Aku tidak bisa memberitahumu. Pergunakanlah hidupmu yang kedua ini dengan sebaik mungkin. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Hiduplah dengan bahagia, Diana.. Selamat tinggal.."


" Tunggu dulu, Mayuri! Jangan pergi! Masih ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu!!"


" Ngh.. Ma.. Yuri.."


Perlahan Mayuri membuka matanya. Dia merasakan tangan seseorang tengah menghapus air matanya.


" Mimpi buruk?" gumam Zen.


Perlahan Mayuri bangun dari tempat tidurnya. Kemudian dia menggosok ringan matanya dan mengangguk pelan.


" Apa yang kamu mimpikan?" tanya Zen.


Mayuri menatap ke arah Zen.


" Mayuri."

__ADS_1


Zen terdiam.


" Aku memimpikan Mayuri." sahut Mayuri.


Mayuri masih menatap ke arah Zen. Dia menunggu reaksi Zen. Tetapi Zen tidak bereaksi apa-apa.


" Kenapa kamu tidak bertanya apa-apa?" tanya Mayuri.


" Kenapa? Karena memang tidak ada yang harus di tanyakan." jawab Zen.


Mayuri terdiam. Melihat Mayuri terdiam, Zen pun membelai lembut kepala Mayuri.


" Ngh.. Apa?" tanya Mayuri.


" Tidak apa-apa. Kembalilah tidur. Besok kita akan melanjutkan perjalanan kembali ke kediaman Primos pagi-pagi." gumam Zen.


" Mmm.. "


Mayuri pun kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan terlelap. Sesekali dia bergumam.


" Mayuri.."


...****************...


" Tuan Leon, ada surat dari Duke Zen." sahut Sebastian.


" Hm? Dari pria yang tidak tahu malu itu?" tanya Leon sambil menerima surat yang di serahkan oleh Sebastian.


Dengan perlahan dia membuka surat tersebut.


" Monster menyerang desa Floran. Sebastian, siapkan keperluannya dan segera berangkat ke desa Floran. Jangan lupa bawa juga siapkan healer."


" Baik." jawab Sebastian.


" Monster menyerang desa Floran? Hal itu sungguh tidak mungkin. Desa itu telah di lindungi.. " gumam Leon.


" Apakah ada seseorang yang sengaja menghancurkan perisai yang melindungi desa?" tanya Sebastian.


Leon terdiam.


" Kamu pergilah untuk mengecek perisai itu." perintah Leon.


" Baik."


Sebastian pun keluar dari ruangan.


...****************...


" Gemini, terima kasih atas bantuan kalian semalam." sahut Mayuri.


" Nona Mayuri! Nona Mayuri! Itu adalah kewajiban kami membantumu! Kami senang bisa membantumu! Jangan merasa sungkan!" sahut Gemini.


" Kekuatan kalian sungguh hebat!"


" Tetapi kekuatan kami masih lemah. Bahkan menahan monster itu saja tidak bisa bertahan lama." sahut Gemini pelan.


" Kenapa berkata begitu, Gemini?" tanya Mayuri.


" Karena!! Andai saja kekuatan kami lebih hebat, pasti nona Mayuri tidak akan terluka dan tidak akan kesusahan melawan monster itu!!"


Mendengar jawaban Gemini, Mayuri pun mengelus kepala mereka dengan lembut.


" Dengar, Gemini. Kekuatan kalian itu sudah hebat. Sudah bisa membantuku melawan bicorn. Sekali lagi, terima kasih, Gemini." kata Mayuri sambil tersenyum lembut.


" Baiklah kalau begitu! Kami akan berlatih lagi dengan keras! Kami akan menjadi sehebat Leo!" sahut Gemini.


Mayuri tertawa kecil. Kemudian Gemini pun menghilang dari hadapan Mayuri.


" Hmph.. Bocah-bocah itu.." sahut seseorang dari arah belakang.


Mayuri menoleh.


" Leo!"


" Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa!"


" Heh! Sedikit-sedikit aku sudah mulai bisa melindungi diriku sendiri dan aku sudah mulai paham cara menggunakan kekuatan kalian." sahut Mayuri.


" Baguslah kalau begitu." kata Leo dan kemudian menghilang.


Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu.


" YA!" teriak Mayuri.

__ADS_1


" Tidak perlu berteriak sekeras itu." sahut Zen dari arah balik pintu.


Mayuri tersenyum.


" Apa kamu sudah siap?" tanya Zen.


Mayuri mengangguk.


" Bagus. Ayo kita berangkat sekarang."


Mayuri pun mengikuti Zen keluar dari kamar. Tetapi tiba-tiba Zen berhenti.


" Kenapa?" tanya Mayuri.


Kemudian Zen pun dengan lembut mencium pipi Mayuri.


" A.. Apa yang kamu lakukan?!" tanya Mayuri.


" Ciuman selamat pagi." sahut Zen sambil tersenyum menyeringai.


Pipi Mayuri merona.


" Menyebalkan.." gumam Mayuri.


" Hm? Apa?" tanya Zen.


" Ti.. Tidak apa-apa!" jawab Mayuri dengan nada kesal.


...****************...


Di luar penginapan, terlihat Yuma sedang berbicara dengan para prajurit. Sesekali terdengan suara tawa yang keras. Sedangan Emilia menyusun barang-barang ke atas kereta kuda.


" Marques Xavierius! Bisakah anda menolong saya untuk menyusun barang-barang ini ke atas kereta kuda? Saya melihat anda mempunyai banyak waktu senggang untuk bercanda ria dengan para prajurit." sahut Emilia kesal.


" Oops.. Maafkan saya,nona. Prajurit, tolong bantu nona ini untuk menyusun barang-barangnya ke atas kereta kuda!" sahut Yuma.


Kemudian para prajurit itu pun bergegas melaksanakan perintah Yuma. Tak lama kemudian kepala desa Floran datang menghampiri mereka.


" Ah, Marques Yuma. Saya melihat anda sedang bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan anda." sahut kepala desa.


" Pak kepala desa. Iya. Terima kasih atas pelayanan anda dan penduduk desa semalam kami semua bisa tidur dengan nyaman."


" Ah.. Itu sudah sewajarnya. Kalian telah membantu desa ini melawan monster-monster itu. Jika kalian tidak ada di sini, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada desa ini." sahut kepala desa.


" Yuma!" teriak Zen.


Yuma dan kepala desa pun menatap ke arah Zen dan Mayuri.


" Pak kepala desa, perkenalkan mereka, Duke Primos dan nona Bright." sahut Yuma.


" Nona Bright. Sudah lama kita tidak berjumpa." sahut kepala desa.


Mayuri kebinggungan. Ini adalah pertama kalinya dia menginjak kakinya di desa Floran.


" Eh.. Ah.. Iya.." sahut Mayuri pelan.


" Oh.. Maafkan saya. Sepertinya anda tidak mengingat pria tua ini." sahut kepala desa.


" Ma.. Maafkan saya.." gumam Mayuri pelan.


" Anda masih kecil pada saat itu. Wajar saja anda tidak mengingat saya." kata kepala desa sambil tersenyum kecil dan kemudian dia pun menatap Zen.


" Nona Mayuri, selamat atas pertunangan anda." sambung kepala desa.


" Te.. Terima kasih.."


" Duke Primos, tolong jaga nona kami dengan baik." sahut kepala desa.


" Tenang saja, pak kepala desa. Saya akan menjaganya dengan baik." balas Zen sambil tersenyum kecil.


" Dan juga, terima kasih atas bantuan kalian berdua."


" Ah, tidak usah berterima kasih kepada kami. Hal itu sudah sewajarnya." sahut Mayuri.


" Nona Mayuri!! Semua sudah siapp!!" teriak Emilia.


" Sepertinya persiapan kalian sudah selesai." sahut kepala desa.


Mayuri mengangguk.


" Baiklah, pak kepala desa. Kami semua pamit dulu." sahut Yuma.


Zen pun kemudian menuntun Mayuri ke kereta kuda mereka. Mayuri pun melambai ringan ke arah kepala desa sambil tersenyum kecil.

__ADS_1


Tak lama kemudian kereta kuda mereka pun jalan dan keluar dari desa Floran.


...****************...


__ADS_2