
Setelah selesai mengobrol dengan ketua desa, Yuma pun kembali ke kamar dengan wajah yang letih.
" Hm? Kenapa kau masih di sini? Mana nona Bright?" tanya Yuma pada Zen yang terduduk santai dengan segelas wine di tangannya.
" Tidur. Terima kasih atas kerja kerasmu menangani penduduk desa di luar." sahut Zen sambil tersenyum kecil.
Yuma berdengus kesal. Kemudian dia pun meraih gelas kosong yang ada di atas meja lalu d tuangkannya wine. Zen dan Yuma pun bersulang.
" Sewaktu melawan bicorn, kenapa kau tidak memakai sihirmu?" tanya Yuma.
Zen menatap Yuma sejenak.
" Heh! Apa kau tidak berpikir apa yang akan terjadi pada desa Floran jika aku memakai kekuatan sihirku?" tanya Zen.
Yuma terdiam.
" AHH! Hal itu sungguh tidak terpikirkan olehku! Kau sungguh jenius!" sahut Yuma.
" Jenius kepalamu!"
" Tetapi, tidak kusangka bahwa nona Bright bisa menggunakan sihir."
" Heh! Tidak hanya sihir. Dia juga ahli dalam berpedang." sahut Zen.
Yuma terlihat terkejut.
" Serius? Berpedang? Jarang sekali aku bertemu dengan seorang nona muda yang ahli berpedang. Seharusnya nona muda seperti dia itu tertarik dengan baju, perhiasan dan acara minum teh, bukan?" tanya Yuma.
Zen tersenyum.
" Dia itu.. Wanita yang spesial." balas Zen sambil menatap ke arah gelas winenya.
" Spesial katamu?" tanya Yuma.
" Hmm.."
Yuma pun terdiam dan kemudian meneguk wine yang masih terisi penuh di gelas yang sedang di pegangnya.
" Jadi, apa kau nanti akan ikut kami pulang ke kediaman Primos?" tanya Zen.
" Yah.. Mungkin.." jawab Yuma.
...****************...
" Diana!"
" Diana"
" Ngh.. Siapa.. Siapa yang memanggilku?"
" Diana.. Maafkan aku.. Maaf telah membuatmu di posisi ini. Maaf.. Maafkan aku.."
" Siapa? Kamu siapa? Kenapa kamu bisa tahu namaku?"
" ... "
" Kenapa kamu diam saja? Siapa kamu?"
" Waktuku tidak banyak, Diana. Aku berharap bisa berbincang lebih lama denganmu. Tolong jaga papa dan hiduplah dengan bahagia."
" Papa? Siapa maksudmu?"
" ... "
" Jangan-jangan kamu.. Mayuri?! Kamu Mayuri, kan?! Apa yang terjadi?! Kamu ada dimana?! Tolong jelaskan padaku bagaimana aku bisa berada di dalam tubuhmu? "
" Maaf. Aku tidak bisa memberitahumu. Pergunakanlah hidupmu yang kedua ini dengan sebaik mungkin. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Hiduplah dengan bahagia, Diana.. Selamat tinggal.."
" Tunggu dulu, Mayuri! Jangan pergi! Masih ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu!!"
" Ngh.. Ma.. Yuri.."
Perlahan Mayuri membuka matanya. Dia merasakan tangan seseorang tengah menghapus air matanya.
" Mimpi buruk?" gumam Zen.
Perlahan Mayuri bangun dari tempat tidurnya. Kemudian dia menggosok ringan matanya dan mengangguk pelan.
" Apa yang kamu mimpikan?" tanya Zen.
Mayuri menatap ke arah Zen.
" Mayuri."
__ADS_1
Zen terdiam.
" Aku memimpikan Mayuri." sahut Mayuri.
Mayuri masih menatap ke arah Zen. Dia menunggu reaksi Zen. Tetapi Zen tidak bereaksi apa-apa.
" Kenapa kamu tidak bertanya apa-apa?" tanya Mayuri.
" Kenapa? Karena memang tidak ada yang harus di tanyakan." jawab Zen.
Mayuri terdiam. Melihat Mayuri terdiam, Zen pun membelai lembut kepala Mayuri.
" Ngh.. Apa?" tanya Mayuri.
" Tidak apa-apa. Kembalilah tidur. Besok kita akan melanjutkan perjalanan kembali ke kediaman Primos pagi-pagi." gumam Zen.
" Mmm.. "
Mayuri pun kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan terlelap. Sesekali dia bergumam.
" Mayuri.."
...****************...
" Tuan Leon, ada surat dari Duke Zen." sahut Sebastian.
" Hm? Dari pria yang tidak tahu malu itu?" tanya Leon sambil menerima surat yang di serahkan oleh Sebastian.
Dengan perlahan dia membuka surat tersebut.
" Monster menyerang desa Floran. Sebastian, siapkan keperluannya dan segera berangkat ke desa Floran. Jangan lupa bawa juga siapkan healer."
" Baik." jawab Sebastian.
" Monster menyerang desa Floran? Hal itu sungguh tidak mungkin. Desa itu telah di lindungi.. " gumam Leon.
" Apakah ada seseorang yang sengaja menghancurkan perisai yang melindungi desa?" tanya Sebastian.
Leon terdiam.
" Kamu pergilah untuk mengecek perisai itu." perintah Leon.
" Baik."
Sebastian pun keluar dari ruangan.
...****************...
" Gemini, terima kasih atas bantuan kalian semalam." sahut Mayuri.
" Nona Mayuri! Nona Mayuri! Itu adalah kewajiban kami membantumu! Kami senang bisa membantumu! Jangan merasa sungkan!" sahut Gemini.
" Kekuatan kalian sungguh hebat!"
" Tetapi kekuatan kami masih lemah. Bahkan menahan monster itu saja tidak bisa bertahan lama." sahut Gemini pelan.
" Kenapa berkata begitu, Gemini?" tanya Mayuri.
" Karena!! Andai saja kekuatan kami lebih hebat, pasti nona Mayuri tidak akan terluka dan tidak akan kesusahan melawan monster itu!!"
Mendengar jawaban Gemini, Mayuri pun mengelus kepala mereka dengan lembut.
" Dengar, Gemini. Kekuatan kalian itu sudah hebat. Sudah bisa membantuku melawan bicorn. Sekali lagi, terima kasih, Gemini." kata Mayuri sambil tersenyum lembut.
" Baiklah kalau begitu! Kami akan berlatih lagi dengan keras! Kami akan menjadi sehebat Leo!" sahut Gemini.
Mayuri tertawa kecil. Kemudian Gemini pun menghilang dari hadapan Mayuri.
" Hmph.. Bocah-bocah itu.." sahut seseorang dari arah belakang.
Mayuri menoleh.
" Leo!"
" Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa!"
" Heh! Sedikit-sedikit aku sudah mulai bisa melindungi diriku sendiri dan aku sudah mulai paham cara menggunakan kekuatan kalian." sahut Mayuri.
" Baguslah kalau begitu." kata Leo dan kemudian menghilang.
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu.
" YA!" teriak Mayuri.
__ADS_1
" Tidak perlu berteriak sekeras itu." sahut Zen dari arah balik pintu.
Mayuri tersenyum.
" Apa kamu sudah siap?" tanya Zen.
Mayuri mengangguk.
" Bagus. Ayo kita berangkat sekarang."
Mayuri pun mengikuti Zen keluar dari kamar. Tetapi tiba-tiba Zen berhenti.
" Kenapa?" tanya Mayuri.
Kemudian Zen pun dengan lembut mencium pipi Mayuri.
" A.. Apa yang kamu lakukan?!" tanya Mayuri.
" Ciuman selamat pagi." sahut Zen sambil tersenyum menyeringai.
Pipi Mayuri merona.
" Menyebalkan.." gumam Mayuri.
" Hm? Apa?" tanya Zen.
" Ti.. Tidak apa-apa!" jawab Mayuri dengan nada kesal.
...****************...
Di luar penginapan, terlihat Yuma sedang berbicara dengan para prajurit. Sesekali terdengan suara tawa yang keras. Sedangan Emilia menyusun barang-barang ke atas kereta kuda.
" Marques Xavierius! Bisakah anda menolong saya untuk menyusun barang-barang ini ke atas kereta kuda? Saya melihat anda mempunyai banyak waktu senggang untuk bercanda ria dengan para prajurit." sahut Emilia kesal.
" Oops.. Maafkan saya,nona. Prajurit, tolong bantu nona ini untuk menyusun barang-barangnya ke atas kereta kuda!" sahut Yuma.
Kemudian para prajurit itu pun bergegas melaksanakan perintah Yuma. Tak lama kemudian kepala desa Floran datang menghampiri mereka.
" Ah, Marques Yuma. Saya melihat anda sedang bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan anda." sahut kepala desa.
" Pak kepala desa. Iya. Terima kasih atas pelayanan anda dan penduduk desa semalam kami semua bisa tidur dengan nyaman."
" Ah.. Itu sudah sewajarnya. Kalian telah membantu desa ini melawan monster-monster itu. Jika kalian tidak ada di sini, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada desa ini." sahut kepala desa.
" Yuma!" teriak Zen.
Yuma dan kepala desa pun menatap ke arah Zen dan Mayuri.
" Pak kepala desa, perkenalkan mereka, Duke Primos dan nona Bright." sahut Yuma.
" Nona Bright. Sudah lama kita tidak berjumpa." sahut kepala desa.
Mayuri kebinggungan. Ini adalah pertama kalinya dia menginjak kakinya di desa Floran.
" Eh.. Ah.. Iya.." sahut Mayuri pelan.
" Oh.. Maafkan saya. Sepertinya anda tidak mengingat pria tua ini." sahut kepala desa.
" Ma.. Maafkan saya.." gumam Mayuri pelan.
" Anda masih kecil pada saat itu. Wajar saja anda tidak mengingat saya." kata kepala desa sambil tersenyum kecil dan kemudian dia pun menatap Zen.
" Nona Mayuri, selamat atas pertunangan anda." sambung kepala desa.
" Te.. Terima kasih.."
" Duke Primos, tolong jaga nona kami dengan baik." sahut kepala desa.
" Tenang saja, pak kepala desa. Saya akan menjaganya dengan baik." balas Zen sambil tersenyum kecil.
" Dan juga, terima kasih atas bantuan kalian berdua."
" Ah, tidak usah berterima kasih kepada kami. Hal itu sudah sewajarnya." sahut Mayuri.
" Nona Mayuri!! Semua sudah siapp!!" teriak Emilia.
" Sepertinya persiapan kalian sudah selesai." sahut kepala desa.
Mayuri mengangguk.
" Baiklah, pak kepala desa. Kami semua pamit dulu." sahut Yuma.
Zen pun kemudian menuntun Mayuri ke kereta kuda mereka. Mayuri pun melambai ringan ke arah kepala desa sambil tersenyum kecil.
__ADS_1
Tak lama kemudian kereta kuda mereka pun jalan dan keluar dari desa Floran.
...****************...