Let Me Enjoy My New Life As A Duchess

Let Me Enjoy My New Life As A Duchess
Bab 26 Dua Bersaudara ( Part 1)


__ADS_3

" PENCURIII!!!" teriak seorang pria bertubuh besar dan kekar.


Seorang anak laki-laki dengan nafas tersengal-sengal berlari dengan sekuat tenaga untuk menghindar dari kejaran pria bertubuh besar dan kekal itu. Sambil memeluk beberapa buah roti, sesekali dia menoleh ke arah belakangnya.


Sesekali anak itu menoleh ke belakang untuk memastikan apakah dia masih di kejar atau tidak. Di perempatan jalan, dia pun berlari ke arah kiri dan kemudian mencari celah untuk bersembunyi dari pria itu.


" Kemana anak sialan itu bersembunyi?! Berani-beraninya dia mencuri di tokoku! Jika ketemu nanti, akan kuhajar dia sampai babak belur!" sahut pria itu dengan kesal.


Anak laki-laki yang bersembunyi di dekat pria itu mengeluarkan keringat dingin. Sesekali dia menelan ludah dengan pelan. Setelah memastikan pria itu telah menjauh dari tempat persembunyiannya, dia pun keluar dari tempat itu.


" Kuharap pria tua itu sudah menyerah." gumam anak laki-laki itu.


Kemudian dia pun segera berlari menuju tujuannya. Tak lama, dia pun tiba di sebuah gubuk kecil. Kondisi gubuk itu sungguh memprihatinkan.


" Ben! Bennette!" teriak anak laki-laki itu.


Kemudian, seorang gadis kecil tampak keluar dari gubuk tersebut.


" Rico! Dari mana saja kamu?!" teriak gadis itu.


" Ah, maaf. Aku keluar mencari makan malam untuk kita berdua." sahut anak laki-laki yang bernama Rico itu.


Gadis yang bernama Bennette itu pun menatap ke arah roti yang sedang di pegang oleh Rico. Dia pun kemudian mengalihkan pandangan matanya ke arah Rico.


" Kamu.. Mencuri lagi?" tanya Bennette.


Rico terdiam.


" Maafkan aku." gumam Rico.


Bennette masih terlihat kesal.


" Ada apa ribut-ribut? Bennette? Rico?" sahut seorang wanita.


Seorang wanita lesu terlihat keluar dari gubuk. Wanita itu adalah ibu dari Bennette dan Rico.


" Ibu!" sahut Rico.


" Ibu! Lihat! Rico mencuri roti lagi!" lapor Bennette.


Wanita itu pun melihat ke arah Rico dan kemudian tersenyum dan kemudian mengeluarkan beberapa coin dari sakunya.


" Rico. Mencuri itu hal yang tidak baik. Ambil uang ini dan pergilah untuk membayar roti yang kamu curi itu." sahutnya.


" Ibu! Uang itu kan uang yang akan dipakai untuk membeli obatmu!" sahut Bennette.


" Tidak apa-apa. Ibu akan bekerja lebih keras lagi untuk mendapatkan uang yang lebih untuk kalian."


" Tidak! Aku tidak mau mengambil uang ibu!" teriak Rico.


" Rico.."


...****************...


Di sebuah sekolah sihir milik kerajaan, terlihat seorang anak laki-laki keturunan bangsawan sedang kebinggungan dalam menyelesaikan suatu pertanyaan matematika.


" Hm.." gumamnya.


" Hey, Zen! Kau sedang apa?" tanya anak laki-laki lainnya.


Anak yang di panggil Zen itu pun kemudian menoleh ke arah temannya.


" Ah, Yuma."


" Apa? Apa?" tanya Yuma.


" Bisakah kau menyelesaikan pertanyaan ini?" tanya Zen.


Yuma pun menatap ke arah pertanyaan yang di tunjuk oleh Zen dan mulai untuk menuliskan rumus-rumus.


Hanya dalam beberapa menit saja, Yuma berhasil memecahkan pertanyaan itu.

__ADS_1


" Uaaa.. Kau sungguh jenius!" sahut Zen.


" Aku tidak tahu bahwa pujian itu tulus atau tidak kau ucapkan padaku." balas Yuma.


Zen pun tertawa kecil.


" Apa kau akan ke pusat kota lagi?" tanya Yuma.


" Hm.. Ada buku yang ingin kucari. Apa kau akan menemaniku?" tanya Zen.


Yuma terlihat berpikir.


" Baiklah kalau begitu!"


...****************...


" Terima Kasih telah berbelanja di sini, tuan."


Setelah membayar atas buku yang telah dia beli, Zen pun keluar dari toko buku itu.


" Tidak kusangka bahwa toko buku bisa seramai itu. Aku sampai kesusahan bernafas di dalam." gerutu Yuma.


" Apa selama ini kau berpikir bahwa toko buku itu selalu sepi?" tanya Zen.


" Bukankah biasanya begitu?" tanya Yuma balik.


" Mungkin sudah saatnya kau mengubah pola pikirmu bahwa toko buku selalu sepi." balas Zen.


" BOCAH SIALAN! BERANI SEKALI KAU KEMBALI MENCURI DI TOKOKU!"


Mendengar suara teriakan itu, Yuma dan Zen bergegas ke arah asal teriakan. Dari asal teriakan itu, orang-orang sudah ramai berkumpul. Seorang anak laki-laki yang tak lain adalah Rico, dan seorang penjual terlihat berseteru.


PLAAK!


" Kh... Pak gendut. Berani sekali kau menamparku!" teriak Rico.


" Hmph! Tamparan itu masih belum apa-apa di bandingkan sama kelakuanmu yang mencuri roti di tokoku tiap hari!"


Pria itu menatap ke arah Yuma dan berdengus kesal.


" Jangan ikut campur urusanku bocah!"


" Bo.. Bocah katamu?" tanya Yuma.


Tiba-tiba Zen menyodorkan sekeping koin emas.


" Sekeping koin emas ini, apakah bisa membayar semua roti yang telah dia ambil?" tanya Zen tanpa basa basi lagi.


Pria itu pun terdiam di ikuti oleh Yuma dan Rico.


" O.. Oi, Zen! Apa yang..!!"


Wajah penjual roti itu terlihat berseri melihat sekeping koin emas yamg di tawarkan oleh Zen.


" Ohohho.. Tentu saja! Tentu saja!" sahut pria itu dengan wajah yang berseri.


Ketika pria itu hendak menggambil kepingan emas itu, Zen pun menarik koin emas itu dan menatap ke arah pria itu.


" Minta maaf." sahut Zen.


" Hah? Apa?" tanya Pria itu.


" Apakah kamu tuli? Kubilang minta maaflah pada anak itu dan juga temanku." balaa Zen.


" Hmph! Kenapa aku harus minta maaf?" tanya pria itu.


" Kamu telah menampar anak itu dan juga menyebut pewaris Xaverius itu seorang bocah." sahut Zen.


" Pe.. Pewaris Xaverius katamu? Bocah ini? Tidak mungkin!"


" Oi, Zen! " teriak Yuma.

__ADS_1


Zen pun menatap ke arah Yuma dan kemudian berbalik menatap ke arah pria itu.


" Apakah sesulit itu untuk meminta maaf atas perlakuanmu yang buruk?" tanya Zen.


Pria itu tidak dapat berkata apa-apa lagi. Dia pun kemudian menunduk dan meminta maaf kepada Yuma dan juga Rico. Setelah pria itu meminta maaf, Zen pun menyerahkan sekeping koin emas itu pada pria itu.


" Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Zen pada Rico.


Rico pun menggangguk.


" Tidak.." jawab Rico.


" Oi, Zen! Kenapa kau menyebut-nyebut nama Xaverius di sini?! Kita sudah sepakat bahwa nama itu tidak akan di bawa-bawa!" sahut Yuma.


Zen menatap ke arah Yuma.


" Jika tidak menyebutkan nama itu, masalah tidak akan selesai." jawab Zen.


" Lagian kau itu juga seorang anak ra.. Anak bangsawan!!"


Zen pun kembali menatap ke arah Yuma.


" Jangan lupa, aku hanyalah seorang anak yang lahir dari perut seorang wanita rakyat biasa. Aku tidak berarti apa-apa di mata kedua orang itu. Lagian, yang akan mewariskan nama keluarga adalah kakakku." sahut Zen.


Yuma pun terdiam.


" Te.. Terima kasih atas bantuannya. Tetapi hal itu sungguh tidak perlu!" sahut Rico.


" Tidak perlu? Kau itu sudah di tampar oleh pria itu! Apanya yang tidak perlu?!" tanya Yuma.


Rico terdiam.


" Pulanglah. Jangan mencuri lagi. Hari ini kamu bisa terbebas dari masalah. Tetapi tidak akan ada lain kali." sahut Zen.


" Hmph! Aku tidak membutuhkan bantuanmu!" sahut Rico dan langsung berlari menjauh dari Yuma dan Zen.


" Apaan sih! Sungguh tidak tahu berterima kasih!" gerutu Yuma.


...****************...


" Rico! Ada apa dengan wajahmu?!" teriak Bennette histeris.


Rico memalingkan wajahnya.


" Lihat aku!" sahut Bennette kesal.


Rico pun menatap ke arah Bennette.


" Kamu mencuri lagi?" tanya Bennette.


Rico tidak membalas apapun. Dia hanya terdiam.


" Rico..!"


" Hentikan ceramahmu! Aku sedang tidak ingin mendengarnya! Setidaknya aku masih bisa membawakan kalian makan malam!" sahut Rico kesal.


Dia pun menyodorkan roti yang di pegangnya ke Bennette dan kemudian pergi meninggalkan Bennette.


" Apa sih!?"


Tak lama, terdengar suara batuk dari arah gubuk.


" Ibu! Apa ibu tidak apa-apa bangun dari tempat tidur?" tanya Bennette khawatir.


" Ibu tidak apa-apa. Apakah tadi itu Rico?"


Bennette mengangguk. Wanita itu kemudian menatap ke arah roti yang sedang di pegang oleh Bennette.


" Apakah Rico mencuri lagi?"


Bennette terdiam. Wajah sedih tampak terlihat di wajah wanita itu dan Bennette.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2