Let Me Enjoy My New Life As A Duchess

Let Me Enjoy My New Life As A Duchess
Bab 16 Margareth Lewis ( Part 6)


__ADS_3

" Anda bisa beristirahat di ruangan ini, tuan." sahut salah satu pelayan keluarga Lewis.


" Terima Kasih." balas Zen.


Saat ini Zen meminta izin untuk beristirahat sebentar. Dan dia pun di tuntun oleh salah satu pelayan keluarga Lewis menuju ruang istirahat.


Begitu masuk di ruang istirahat, Zen langsung duduk di sofa yang ada di ruangam sambil melonggarkan dasi yang di kenakannya. Sesekali dia menghela nafas panjang.


" Aiden." panggilnya.


" Ya, tuan." sahut Aiden yang muncul dari bayangan.


" Apakah ada pergerakan dari Margareth Lewis?" tanya Zen.


" Saat ini tidak ada. Tetapi.." Aiden terdiam.


" Tetapi apa?" tanya Zen dengan nada yang rendah.


" Sarah Lewis mendekati nona Mayuri."


" Sarah?" Zen terlihat memikirkan sesuatu.


" Mereka terlihat membicarakan sesuatu." sahut Aiden.


" Hm.. Awasi Mayuri dan Sarah. Dan jangan lupa, tetap usahakan keselamatan Mayuri terlebih dahulu." perintah Zen.


" Baik!" kemudian Aiden pun menghilang.


" Margareth Lewis, apa yang sedang kau rencanakan kali ini?" gumam Zen.


TOK!


TOK!


TOK!


Zen menatap ke arah pintu.


" Masuklah." sahutnya.


" Permisi, Duke."


Sarah terlihat dari balik pintu.


" Nona Lewis. Ada apa?" tanya Zen sopan.


Sarah terdiam di dekat pintu. Zen menatap Sarah.


" Katakan apa maumu." sahut Zen dengan nada yang ketus.


Mendengar nada ketus Zen, Sarah tersontak kaget.


" M.. Maafkan, saya.." sahut Sarah.


Kemudian Sarah pun berlari ke arah Zen dan langsung memeluknya dengan erat.


" Apa yang kau lakukan? Lepaskan.. Ini adalah tindakan penghinaan." sahut Zen ketus.


" Maaf, tolong mengertilah. Ini semua bukan kehendak saya!" sahut Sarah.


" Hmph.. Apakah ini semua permainan dari Margareth Lewis?" tanya Zen.


Sarah terdiam. Kemudian dia berusaha untuk mencium Zen. Tetapi Zen langsung mendorongnya dengan keras.


" Dengar, saya sudah mempunyai tunangan. Saya tidak akan dengan begitu mudahnya tertipu dengan sandiwaramu yang tidak bermutu itu." sahut Zen di sertai dengan tatapan membunuh.


Senyuman picik kemudian terlihat jelas di wajah Sarah.


" Hmphh.. Apakah anda yakin bahwa anda akan baik-baik saja dengan saya berdua di ruangan seperti ini?" tanya Sarah.


Zen kemudian tersenyum menyeringai.


" Coba saja. Aku pastikan kau tidak akan menghirup udara segar besok pagi." sahut Zen.


Sarah tersontak kaget. Tetapi dia berusaha untuk menjaga emosinya. Detik berikutnya dia berusaha untuk merobek gaunnya.


" TOLONGG! TOLONG!! DUKE ZEN! MOHON HENTIKAN!" teriak Sarah sambil tersenyum.


Zen hanya menatapnya. Kemudian para pelayan datang dan masuk ke ruangan istirahat. Melihat gaun yang di kenakan Sarah sudah tersobek. Dan Zen hanya terduduk di sofa sambil tersenyum kecil.


" Du.. Duke Zen.. Apa yang telah anda lakukan.." gumam Margareth.


" Apa? Saya hanya beristirahat di sini. Dan nona Lewis masuk dan langsung memeluk saya. Tentu saja saya menolak." jawab Zen tenang.


Para bangsawan yang telah berkumpul kemudian berbisik-bisik. Melihat para bangsawan telah ramai berkumpul, Sarah pun kemudian mulai berteriak.


" Bohong! Itu semua bohong! Duke Zen memanggil saya ke sini. Tetapi begitu saya masuk, dia langsung memeluk saya dan hendak membuka pakaian saya!" teriak Sarah sambil menangis kuat.

__ADS_1


" Aiden, apakah kau melihat sandiwara yang di tunjukkan oleh nona ini?" tanya Zen sambil menyeringai.


" Saya melihatnya dari awal, tuan." sahut Aiden yang tiba-tiba muncul dari bayangan.


Seluruh bangsawan beserta Margareth dan juga Sarah terkejut dengan kehadiran Aiden.


" Perkenalan. Dia Aiden. Komandan pasukan rahasia keluarga Primos, Black Bull." sahut Zen.


" Black Bull?" bisik salah seorang bangsawan.


" Gawat. Jika Black Bull ada di sini, maka akan ada kejadian besar yang terjadi."


" Se.. Sebaiknya kita pergi dari sini sebelum kita terjebak lebih jauh."


" ADA APA RIBUT-RIBUT DI SINI?!" teriak seseorang.


" S.. Sayang!! Anak kita di lecehkan!" sahut Margareth di sertai dengan wajah paniknya.


Count Lewis muncul dari kerumunan para bangsawan. Senyuman kecil terlihat di wajah Margareth dan Sarah. Count Lewis menatap Margareth dan Sarah bergantian.


" Duke Zen. Bisakah anda menjelaskan apa yang sedang terjadi di sini?" tanya Count Lewis dengan sopan.


Zen kemudian tersenyum kecil.


" Anda bisa melihatnya sendiri. Saya di sudutkan dan di tuduh telah melecehkan nona Lewis di sini. Saya pria yang tulus dan setia terhadap pasangan saya, mana mungkin saya berani menyentuh gadis lain." sahut Zen.


Count Lewis pun menatap Sarah dengan tatapan tajam. Sarah tersontak kaget. Mukanya kembali pucat.


" Pa.. Papa.. Tolong aku, pa.." rintih Sarah.


Tetapi Count Lewis hanya menatapnya dengan tatapan kosong.


" Maafkan istri dan anak saya, Duke Zen." sahut Count Lewis.


Mendengar permintaan maaf dari suaminya itu, Margareth histeris kembali.


" Sayang! Kenapa kamu minta maaf terhadap laki-laki ini?! Dia telah melecehkan anak kita!" teriak Margareth.


" Sebelum kamu menuduh Duke Zen melecehkan Sarah, sebaiknya kamu berkaca dulu!" sahut Count Lewis dengan nada yang berat.


" A.. Apa maksud dari perkataanmu itu?!" tanya Margareth.


Para bangsawan yang masih berada di sekitar saling berbisik.


Kemudian Count Lewis menyerahkan secarik kertas kepada Margareth. Margareth pun menatap ke arah suaminya.


Margareth pun kemudian membaca isi dari kertas itu. Alangkah terkejutnya dia setelah selesai membaca isi dari kertas itu.


" Sa.. Sayang.. Apa yang di tulis di kertas ini sungguh tidak benar.." gumam Margareth.


Count Lewis terdiam. Sarah yang merasa ada yang aneh dengan isi kertas itu kemudian diam-diam membacanya.


" Ma.. Mama.. Apa yang di tulis di sini.. Apakah itu benar?" tanya Sarah.


Margareth terkejut. Dia tidak menyangka bahwa Sarah akan membaca isi dari kertas yang masih di pegang oleh Margareth.


" Apa benar kalau aku bukan anak dari papa?!" teriak Sarah.


Para bangsawan kembali berbisik. Dan Zen hanya terduduk diam sambil menikmati drama dari keluarga Lewis.


" Kamu! Apa ini semua dari rencanamu untuk menghancurkan keluarga saya?!" teriak Margareth sambil menunjuk ke arah Zen.


" Bukankah anda sendiri yang memulai untuk menghancurkan hubungan saya dengan tunangan saya? Saya hanya mengikuti permainan anda." sahut Zen sambil menatap ke arah Margareth dan Sarah bergantian.


Margareth terduduk lemas di lantai. Sedangkan Count Lewis hanya bisa menatap ke arah Margareth dan lalu keluar dari ruangan.


" Besok saya akan mengurus perceraian dengan anda. Kembalilah kepada pria itu. Dia sudah lama menunggu kepulanganmu bersama anak gadisnya." sahut Count Lewis sebelum menghilang dari hadapan orang-orang.


Margareth mengejarnya dan kemudian berteriak.


" TUNGGU! SUAMIKU! AKU TIDAK INGIN KEMBALI KE PETANI YANG TIDAK MEMPUNYAI APA-APA ITU! AKU HANYA MENCINTAIMU SEORANG! SARAH ADALAH DARAH DAGINGMU SENDIRI!!"


Suara Margareth perlahan lahan menghilang. Sedangkan Sarah masih berdiri mematung di situ. Zen hanya menatapnya dengan tatapan kosong.


" Besok, kamu akan menerima panggilan dari kerajaan atas penghinaan yang telah kamu lakukan hari ini." sahut Zen dan kemudian keluar dari ruangan.


Sarah terduduk lemas di lantai. Wajahnya sungguh pucat. Kemudian satu persatu bangsawan pergi dari area itu meninggalkan Sarah seorang diri. Tak lama kemudian, terdengar jeritan yang keras.


...****************...


Di saat yang bersamaan, Mayuri keluar dari ruangan pesta untuk mencari seseorang yang telah meninggalkan pesan padanya untuk bertemu di area taman. Leo yang telah berubah menjadi sosok manusia itu pun menemaninya.


" Huff.. Di mana orang yang mengirim pesan anonim ini.. Sungguh tidak tau tata krama! Mengajak seorang gadis bertemu di area taman!" dumel Mayuri.


Leo hanya memantau seisi taman, tetapi tidak menemukan seorang manusia pun di taman.


" Mayuri, sebaiknya kita pergi dari sini. Aku merasakan ada yang tidak beres di sini." sahut Leo.

__ADS_1


Melihat raut wajah Leo yang tidak biasa, Mayuri pun menjadi waspada.


TAP


TAP


TAP


Suara langkah kaki terdengar sangat jelas.


" Nona Mayuri Camelia Bright." sahutnya.


" SIAPA DI SITU?!" teriak Mayuri panik.


Leo berusaha untuk melindungi Mayuri dari serangan tiba-tiba.


" Hawa ini, bukan hawa manusia. Berhati-hatilah, Mayuri." bisik Leon.


Mayuri mengangguk.


" Anjing penjagamu itu sungguh sangat menganggu. Bisakah kau mengusirnya, nona Bright?"


" Hmph.. Maaf saja. Akan tetapi saya tidak menerima permintaan dari orang asing!" balas Mayuri ketus.


" Oho? Tapi ini bukanlah permintaan. Melainkan perintah. Khekhekeh.."


Mayuri terdiam. Sedangkan Leo masih berusaha mencari asal suara itu. Tiba-tiba saja sebuah serangan bayangan melesat cepat ke arah Mayuri dari belakang.


" Mayuri!!" teriak Leo sambil menarik tubuh Mayuri dari serangan itu.


" Di mana kamu?! Jangan seperti pengecut! Perlihatkan dirimu!" teriak Mayuri geram.


Tiba-tiba saja muncul seseorang di hadapan mereka. Seseorang, dengan mata berwarna merah dan rambut berwarna hitam pekat, terlihat tersenyum menyeringai.


" Siapa kamu? Dan apa maumu?" tanya Mayuri.


" Perkenalkan, Namaku Succubus. Makhluk sihir tingkat menengah." sahutnya sambil setengah membungkuk.


" Succubus.." gumam Mayuri.


" Manusia yang bernama.. Ehmm.. Mar.. Marga.. Ah.. Margareth telah membuat perjanjian denganku. Jika aku bisa melenyapkan kamu dari muka bumi ini, maka jiwanya akan menjadi milikku.." sahut Succubus sambil tersenyum riang.


" Kh.. Seburuk-buruknya nyona Margareth, dia tidak akan mungkin membuat perjanjian denganmu!" sahut Mayuri.


" Oh? Aku tidak akan percaya diri sepertimu mengenai wanita tua itu." balas Succubus.


" Berhentilah basa-basi!" sahut Leo kesal.


Succubus menatap Leo dengan tatapan dingin. Kemudian dia berbalik menatap Mayuri.


" Hey, nona. Anjingmu ini sungguh galak. Aku sampai ketakutan." sahut Succubus sambil tersenyum menyeringai.


" DIAMLAH!" teriak Leo sambil mengarahkan senjata tombak yang di pegangnya ke arah Succubus.


Dengan gesit, Succubus menghindari tiap serangan Leo. Tetapi Leo tidak menyerah sampai di situ saja. Beberapa kali Leo mengeluarkan serangan sihirnya ke arah Succubus.


" KHYAHAHA.. MUNGKIN KAU PERLU BERLATIH LAGI!!" teriak Succubus kegirangan.


Leo terlihat semakin kesal.


" Leo.." gumam Mayuri.


" Seandainya aku mempunyai pedang.. "


Tanpa Mayuri sadari, seseorang berjalan mendekatinya dengan sebilah pisau di tangannya.


" Semua ini terjadi gara-garamu.." sahutnya.


Dengar hal itu, Mayuri pun membalikkan badannya.


" N.. Nona Lewis.. Apa yang.."


" Seandainya kau tidak terlahir di dunia ini, maka hidup kami akan lebih baik.." sambung Sarah.


Tatapan Sarah terlihat sangat kosong.


" Tu.. Tunggu dulu.. Letakkan dulu pisaunya. Saya mohon.."


" SEANDAINYA KAU TIDAK ADA DI DUNIA INI..!!" teriak Sarah sambil bersiap untuk menusuk Mayuri.


Leo yang terlambat menyadari bahwa Mayuri sedang dalam bahaya, dengan cepat berlari menuju ke arah Mayuri. Tetapi dia di hadang oleh serangan Succubus.


" Maaf, tetapi aku tidak bisa membiarkan kamu menyelamatkan majikanmu itu." sahut Succubus.


Leo berdecak kesal.


" Bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan.."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2