
" Nona Mayuri! Nona Mayuri! Bangunlah! Sudah pagi!" sahut Emilia sambil membuka tirai jendela di kamar Mayuri.
" Ngh.. Lima menit lagi, Emi.."
" Bangunlah! Duke Zen sedang menunggu anda di ruang tamu."
" APA?!" teriak Mayuri langsung bangkit dari tidurnya.
Emilia tersenyum kecil.
" Selamat pagi, nona." sahut Emilia.
" Ah, ya.. Pagi.." balas Mayuri lemas dan kemudian tertidur lagi.
" Ah! Nona Mayuri! Jangan tidur lagi! Kasihan Duke Zen menunggu anda!!" teriak Emilia berusaha untuk membangunkan tuannya itu.
" Ah, malas.. Aku juga tidak menyuruhnya untuk ke sini." jawab Mayuri.
" Saat ini Duke Zen sedang di temani oleh tuan Leon!"
" APA?!"
Mayuri segera bangkit dari tempat tidurnya dan langsung bersiap-siap untuk menemui Zen.
" Emi, apa reaksi papa mendengar Zen datang?" tanya Mayuri.
Emilia agak enggan untuk menjawab pertanyaan tuannya itu.
" Hm.. Tuan sepertinya bersiap untuk memangsanya hidup-hidup."
" Ah, begitu ya.. " gumam Mayuri pelan.
Tak lama kemudian, Mayuri telah siap berdandan.
" Emi, ayo kita segera menemui mereka sebelum terjadi pertumpahan darah! " sahut Mayuri.
Emilia menggangguk. Dan apa yang di katakan Mayuri barusan memang benar. Di ruang tamu terlihat Zen dan Leon sedang melempar tatapan.
" Dengar, ya! Sampai kapan pun saya tidak akan.."
" Iya, saya tau, pa. Sampai kapan pun papa tidak akan menyetujui pertunangan saya dengan Mayuri. " potong Zen.
" Kh! Saya bukan papamu! " geram Leon.
Zen terlihat tersenyum menyeringai.
" Tapi, pa. Pertunangan ini telah di setujui oleh raja Antonius. Papa tidak dapat membatalkan pertunangan ini. " sambung Zen.
Leon terlihat sangat kesal. Mayuri memutuskan untuk masuk ke ruangan untuk menghalau terjadinya pertumpahan darah di antara kedua pria itu.
" Selamat pagi, pa. " sahut Mayuri sambil tersenyum kecil ke arah Leon.
" Hm.. Selamat pagi. " balas Leon.
Kemudian pandangan matanya tertuju ke arah Zen.
" Selamat pagi, Zen. Ada apa kamu pagi-pagi ke sini? "
" Tentu saja untuk bertemu dengan tunangan kesayanganku. "
Seketika wajah Mayuri merah.
" Oh.. Waw.. Duke Zen sungguh sangat berani merayu nona Mayuri di depan duke Leon. " batin Emilia sambil menatap ke arah Leon dan Zen bergantian.
" A.. Apa yang kamu katakan pagi-pagi begini?! " sahut Mayuri gugup.
Kemudian Leon memeluk Mayuri dari belakang dengan erat.
" Pa.. Papa? "
" D.. Dengar ya! Mayuri putriku satu-satunya! Aku tidak akan menyerahkannya pada pria mana pun! Akan kulindungi dia sepenuh hatiku! " teriak Leon.
Zen tersenyum lembut sejenak.
" Pa.. Papa tenang saja ya. Saya akan melindungi Mayuri di dalam keadaan apapun. Saya akan me jaga dia tetap aman. Siapa pun yang berani mengusik Mayuri, akan saya beri ganjarannya. " sahut Zen sambil mencium punggung tangan Mayuri.
Leon terdiam sejenak. Kemudian melepaskan pelukannya dari Mayuri, menatap ke arah Zen sebentar dan lalu keluar dari ruangan tanpa berkata apa-apa.
__ADS_1
Mayuri kemudian menginstruksikan Emilia untuk mengikuti Leon. Setelah Emilia keluar dari ruangan, Mayuri kemudian mengalihkan pandangan matanya ke arah Zen.
...****************...
" Jadi? Untuk apa kamu pagi-pagi ke sini? Apa tujuanmu? " tanya Mayuri dengan serius.
" Seperti yang tadi kukatakan di depan papa. Untuk bertemu dengan tunangan kesayanganku. " jawab Zen.
Mayuri terduduk diam dan kemudian memejamkan matanya sebentar. Zen terlihat kebinggungan. Tak lama kemudian, Mayuri pun membuka matanya dengan pelan.
" Dengar, kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Jadi, yang barusan kamu katakan itu hanyalah omong kosong belaka."
Zen terlihat terkejut mendengar perkataan Mayuri. Dan kemudian tersenyum menyeringai.
" Sungguh, aku hanya ingin bertemu dengan tunanganku saja. Tidak lebih. "
Mayuri berdengus kesal.
" Terserahlah.. Aku sungguh tidak mengerti apa maumu. Pertunangan ini, aku sangat yakin bahwa kamulah yang merencanakannya. " sahut Mayuri.
" Oh? Beritahu aku alasanmu kenapa kamu berkata demikian. " balas Zen.
" Apakah harus ada alasan? Ini hanyalah firasatku saja. "
Zen terlihat berpikir sejenak.
" Hanya.. Cinta pada pandangan pertama. " jawab Zen.
Mayuri terdiam.
" Kamu sungguh menggelikan!"
Zen terkekeh kecil. Kemudian dia membelai lembut rambut Mayuri dan menciumnya.
" Aku mempunyai permintaan kecil." sahut Zen sambil tersenyum kecil.
" A.. Apa?!" tanya Mayuri panik sambil menyingkirkan tangan Zen dari rambutnya.
Wajahnya terlihat memerah.
" Temani aku menonton sebuah pertunjukan malam ini."
" Di gedung pertunjukan Meredian." Jawab Zen.
" Baiklah. Sampai berjumpa di sana."
" Sampai berjumpa? Itu salah. Aku akan menjemputmu jam 5 sore nanti."
" Hah? Jemput? Tidak usah. Aku bisa pergi sendiri." balas Mayuri.
Zen menatap ke arah Mayuri dengan serius. Kemudian Zen berjalan mendekati Mayuri. Kedua tangannya membawa wajah Mayuri dekat ke wajahnya.
Kini wajah Mayuri dan Zen hanya berjarak 5 cm saja. Tubuh Mayuri langsung terdiam. Tidak bergerak sama sekali. Bola matanya membesar dan menatap langsung ke arah mata Zen. Agak lama keduanya saling menatap satu sama lain.
" Aku itu tunanganmu. Tidak mungkin kubiarkan kamu datang sendiri ke gedung pertunjukan Meredian."
Mayuri masih terdiam.
" Jika kamu sudah mengerti, jadilah anak yang baik dan tunggulah aku datang menjemputmu nanti sore." sambung Zen.
Dengan cepat Mayuri menganggukan kepalanya. Kemudian Zen pun tersenyum kecil.
" Pintar." kata Zen dan lalu mencium kening Mayuri.
" A.. A.. A.. Apa yang kamu lakukan barusan?!" teriak Mayuri histeris.
" Apa? Tentu saja menunjukan rasa sayangku padamu." balas Zen.
" Ugh! Kamu sungguh menjijikan! Jika sudah tidak ada urusan lagi, silahkan pulang."
Melihat wajah Mayuri yang memerah, Zen pun kembali tersenyum untuk kesekian kalinya. Dan kemudian di ciumnya punggung tangan Mayuri dan berpamitan pulang.
" Sampai berjumpa, Mayuri." katanya dan kemudian berjalan keluar dari ruangan.
" Khh.. Apa-apaan sih itu orang. Sungguh tidak tahu malu. Menjijikan!!"
Mata Mayuri kemudian menoleh ke arah jendela. Dari Jendela, terlihat Zen sedang berjalan ke arah kereta kudanya.
__ADS_1
Tinggal satu langkah lagi Zen akan menaiki kereta kuda ya, tetapi terhenti. Kemudian dia pun menoleh ke arah jendela ruangan tamu dan menangkap sosok Mayuri sedang menatapnya. Dia pun tersenyum kecil.
Mayuri yang menyadari bahwa Zen tersenyum dengannya langsung tersipu malu dan kemudian berjalan dengan cepat keluar dari ruangan.
" EMI! EMI!" teriak Mayuri.
Mayuri berusaha mencari Emilia untuk membantunya mempersiapkan diri. Tak lama kemudian, Emilia muncul di hadapannya.
" Ada apa,nona?" tanyanya.
" Nanti sore aku ada janji dengan Zen. Tolong bantu aku mempersiapkan diri,ya."
" Waw.. Anda akan kencan dengan duke Zen nanti sore? Tentu saja saya akan mendandani nona dengan sebaik mungkin!" sahut Emilia kegirangan.
Mayuri mengernyitkan keningnya.
" Bukan kencan. Hanya menonton sebuah pertunjukan saja." jawab Mayuri.
" Duh, nona! Itu sama saja namanya dengan berkencan.!"
" Hah?"
" Ah, sudahlah. Lupakan saja,nona. Saya berjanji akan membantu anda sebaik mungkin. Biar Duke Zen semakin tergila-gila dengan anda."
" Bukan dia yang tergila-gila denganku. Aku yang akan menjadi gila gara-gara ulahnya yang menjijikan."
...****************...
Tepat pukul 5 sore, Zen datang menjemput Mayuri di kediaman Bright. Melihat Mayuri yang baru muncul menuruni anak tangga satu per satu, Zen terdiam. Dia tidak bisa berkata apa-apa.
" A.. Apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Mayuri gugup.
" Ehem.. Kamu sungguh cantik sekali. Aku sampai tidak bisa mengedipkan mataku."
" Hentikan itu! Aku merinding mendengar rayuanmu!" sahut Mayuri yang sedang memasang wajah yang terlihat kesal.
Zen terkekeh. Kemudian dia menjulurkan tangannya. Mayuri pun meraih tangan Zen. Keduanya kemudian berjalan mendekati kereta kuda milik keluarga Primos.
Dengan hati-hati Mayuri menaiki kereta kuda tersebut, dan di susul oleh Zen. Tak lama, kereta kuda pun melaju menuju gedung pertunjukan Meredian.
Selama perjalanan ke gedung pertunjukan, keduanya tidak saling berbicara. Mata Mayuri menatap terus ke arah luar jendela kereta, sedangkan Zen hanya terus menatap ke arah Mayuri. Mayuri yang merasa dirinya di tatap terus oleh Zen akhirnya menarik nafas panjang.
" Pertunjukan kali ini.. Apa temanya?" tanya Mayuri yang akhirnya memecahkan kebisuan diantara keduanya.
" Penghianatan." jawab Zen singkat.
" Penghianatan? Kenapa kamu menonton pertunjukan seperti ini?" tanya Mayuri.
" Pertunjukan kai ini menceritakan kisah seorang anak laki-laki bangsawan yang di kelilingi oleh sekelompok orang dewasa. Yang di mana orang dewasa tersebut menuntutnya untuk menjadi pria yang terbaik di dalam segala hal."
Zen berhenti sejenak, dan kemudian mengamati Mayuri yang terlihat serius mendengar penjelasa nya.
" Akan tetapi, anak laki-laki tersebut tidak bisa meraih apa yang di harapan para orang dewasa. Sehingga dia memutuskan untuk mengunci hati dan perasaannya sedalam mungkin." Zen terhenti lagi.
" Humm.. Lanjutannya?" tanya Mayuri penasaran.
" Akan tidak seru jika aku membocorkan ceritanya di sini. Kamu harus menontonnya sampai selesai." jawab Zen sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, kereta kuda telah berhenti tepat di depan gedung pertunjukan Meredian. Zen pun turun duluan, dan membantu Mayuri turun darj kereta kuda.
Suasana di sekitar gedung pertunjukan sangat ramai. Kereta kuda para bangsawan satu per satu berhenti di depan gedung pertunjukan. Mayuri terdiam sejenak untuk mengamati suasana gedung. Zen pun meraih tangan Mayuri dan lalu mengaitkan tangan Mayuri di lengannya.
" Ayo kita masuk." kata Zen.
Mayuri pun mengangguk. Dan keduanya berjalan menaiki tangga yang berada di pintu masuk gedung pertunjukan. Tak lama kemudiam, terdengar suara wanita memanggil Mayuri.
" Nona Bright?"
Mendengar suara tersebut, sekujur tubuh Mayuri tegang. Keringat dingin pun mulai bercucuran.
" Sebuah kebetulan kita bertemu di sini. Ah, saya melihat anda sedang berkencan dengan tunangan anda.."
" Mayuri?" panggil Zen.
" A.. H.. Ti.. Tidak apa-apa." gumam Mayuri.
" Si.. Sial.. Kenapa wanita itu ada di sini?! Sekujur tubuh Mayuri tidak dapat bergerak sama sekali."
__ADS_1
...****************...