Let Me Enjoy My New Life As A Duchess

Let Me Enjoy My New Life As A Duchess
Bab 18 Semua telah berakhir?


__ADS_3

-Ruang persidangan kerajaan-


" Saya tidak akan membela istri saya atas perlakuan yang telah dia lakukan terhadap nona Bright. Saya akan segera mengajukan perceraian dengannya. Jadi, apapun yang akan Yang Mulia lakukan nantinya, saya tidak merasa keberatan sama sekali." sahut Count Lewis di depan raja Antonius dan juga Leon.


Raja Antonius pun termangu-mangu mendengar jawaban dari Count Lewis atas hukuman yang di berikan terhadap istrinya, Margareth Lewis.


" Terus, mengenai hukuman nona Sarah Lewis, apakah kamu keberatan, Count Lewis?" tanya raja Antonius.


Count Lewis menggelengkan kepalanya.


" Tidak, Yang Mulia." sahut Count Lewis.


" Suamiku! Tolong aku dan Sarah! Jangan biarkan kami mati!" pinta Margareth.


Count Lewis hanya terdiam. Sedangkan Sarah hanya bisa menatap ke arah Count Lewis berharap dia bisa berubah pikiran.


" Dasar wanita busuk! Kau pantas mendapatkan hukuman mati! " Leon menggeram.


Margareth menatap Leon. Dia tampak sangat berbeda dari biasanya. Keadaannya sungguh menyedihkan. Sarah hanya bisa terdiam.


" Ehem.. Tenanglah, Duke Bright." sahut Antonius.


Leon masih menatap ke arah Margareth dengan geram. Tetapi dia berusaha untuk mengontrol emosinya.


Raja Antonius kemudian menatap ke arah Margareth dan Sarah secara bergantian.


" Baiklah kalau begitu. Saya memutuskan bahwa Margareth dan Sarah Lewis akan di jatuhi hukuman mati." sahut Raja Antonius yang membuat seluruh ruangan sidang menjadi gempar.


" TIDAK! TIDAK! SAYA TIDAK INGIN MATI! MOHON AMPUNI SAYA!" teriak Margareth dengan histeris.


Leon menatapnya dengan pandangan menjijikan. Menyadari bahwa Leon sedang menatapnya, Margareth mencoba untuk mendekati Leon. Tetapi dia di tahan oleh prajurit yang sedang mengawalnya.


" DUKE LEON! DUKE LEON! KUMOHON SETIDAKNYA AMPUNI SARAH! DIA TIDAK MELAKUKAN KESALAHAN APA-APA!" teriak Margareth.


Mendengar itu, kesabaran Leon sudah mencapat batasnya dan dia mulai kembali menatap Margareth dengan geram.


" Tidak melakukan kesalahan apa-apa, katamu?" tanya Leon sambil berdengus kesal.


" Coba kau tanyakan kembali kepada anakmu itu. Kesalahan apa yang telah dia perbuat sehingga di jatuhi hukuman mati oleh Raja!" teriak Leon.


Margareth terdiam. Dia merasakan ketakutan yang mendalam. Dia kemudian menatap ke arah Sarah. Sarah terlihat santai mendengar hukuman yang di jatuhkan kepadanya.


" Hm? Kenapa mama menatapku begitu?" tanya Sarah.


" Kamu! Apa yang telah kamu lakukan?" tanya Margareth balik.


" Apa? Tidak ada. Aku hanya melakukan hal yang paling ingin mama lakukan." jawab Sarah.


Margareth terdiam.


" Apa? Hal apa yang ingin aku lakukan?"


" Melenyapkan nona Bright, bukan?"


Margareth terduduk lemas mendengar jawaban Sarah. Tak lama kemudian, para prajurit memasuki ruangan dan menuntun Margareth beserta Sarah kembali ke penjara bawah tanah


...****************...


" Ngh.."


Perlahan Mayuri membuka matanya. Dia mencoba untuk melirik ke semua arah ruang kamarnya. Kemudian dia mencoba untuk bangkit dari tempat tidurnya.


" Hm? Bahuku terasa ringan."


Merasa bahwa luka di bahunya sudah tidak terasa sakit, dia pun mencoba untuk mengerakkan bahunya itu. Dia pun lalu menghela nafas. Kemudian dia merasakan kehadiran seseorang di dekatnya.


Terlihat Zen sedang tertidur pulas. Perlahan Mayuri mendekati Zen.


" Manusia ini. Wajahnya seperti malaikat kalau sedang tertidur. Tapi kenapa kalau sudah membuka mulutnya itu.. Hm?"


" Kenapa menatapku terus? Terpesona dengan wajahku? Aku tahu kalau aku ganteng. Semua wanita terpesona dengam wajahku." sahut Zen.

__ADS_1


Mayuri mengernyitkan keningnya.


" Hih! Kamu terlalu percaya diri. Kamu itu tidak ada gantengnya sama sekali.


Zen tersenyum kecil. Kemudian dia berjalan mendekati Mayuri dan menyentuh pipinya dengan lembut.


" Apa bahumu sudah tidak apa-apa?" tanya Zen.


Mayuri kemudian mengayun-ayunkan bahunya.


" Sudah tidak sakit." balas Mayuri sambil tersenyum lebar.


" Oh, iya.. Bagaimana dengan Margareth dan Sarah?" tanya Mayuri.


" Mereka akan di eksekusi mati dua hari lagi." jawab Zen.


Mayuri agak terkejut mendengar bahwa Margareth dan Sarah akan di eksekusi mati.


" Apa.. Tidak ada pilihan lain selain di eksekusi mati?" tanya Mayuri.


Zen mengangkat bahunya. Dia ragu bahwa akan ada pilihan yang lain, yang cocok atas tindakan Margareth terhadap tunangannya itu. Bahkan menurut Zen, hukuman eksekusi ini merupakan hukuman yang ringan untuk mereka berdua.


Mayuri terlihat berpikir. Dia sebenarnya tidak ingin Margareth mau pun Sarah di hukum mati.


" Hey, dengarkan aku, Mayuri. Kamu tidak perlu memikirkan mereka kembali. Jalani saja kehidupanmu dengan tenang, tanpa ada yang mencelakaimu lagi." sahut Zen.


" Mencelakaiku? Memangnya siapa?" tanya Mayuri polos.


Zen terlihat mengernyitkan keningnya. Kemudian Zen pun mencubit kedua pipi Mayuri.


" Dengar ya, Mayuri Camelia Bright! Kamu itu hampir kehilangan nyawamu beberapa hari yang lalu!"


" Mahaf.." sahut Mayuri.


Zen pun melepaskan cubitannya itu dan kemudian menghela nafas.


" Tiga hari lagi kita akan kembali ke kediaman Primos. Apakah kamu sudah menyusun barang yang akan di bawa?" tanya Zen.


Mayuri mengernyitkan keningnya.


Seketika Zen merasa kesal. Kemudian dia menyentil kening Mayuri.


" Aw.. A.. Apa yang kamu lakukan?" tanya Mayuri sambil memegang keningnya.


" Sekali lagi, dengar ya, nona Mayuri Camelia Bright! Anda itu sudah tertidur selama hampir seminggu penuh! Hari ini sudah merupakan hari ke tujuh!" sahut Zen.


" A.. APAAA?!"


Zen menghela nafas panjang.


" Jadi?" tanya Zen.


" Apanya yang jadi?" tanya Mayuri balik.


Sekali lagi, Zen menunjukan raut wajah yang kesal.


" Hih.. Maaf! Maaf! Aku cuma bercanda."


Zen terdiam. Dia hanya menatap Mayuri.


" Te.. Tentu saja belum!" sahut Mayuri dengan bangga.


" Kamu sungguh ingin memancing kesabaranku sampai habis ya, nona Mayuri?" tanya Zen.


" Yah, mau bagaimana lagi? Aku berencana membuatmu membatalkan pertunangan ini.."


" Apa maksudmu? Kamu tidak ingin hidup denganku?" tanya Zen heran.


" Bu.. Bukan begitu maksudku.. Eh.. Itu.."


Zen masih menatap tajam ke arah Mayuri.

__ADS_1


" Saya akan segera menyusun barang yang akan saya bawa ke kediaman Primos!" sahut Mayuri.


...****************...


- Penjara bawah tanah Kerajaan-


Crk..


Crk..


Crk..


" Mama, hentikan menggaruk dinding!" sahut Sarah.


" Aku tidak mau mati.. Aku tidak mau mati..." gumam Margareth.


" Mama! Berhentilah menggaruk-garuk dinding! Itu sangat mengganggu!" sahut Sarah kesal.


Margareth menatap kesal ke arah Sarah.


" Kamu! Seandainya kamu berhasil menggoda Zen! Maka semua ini tidak akan terjadi!" balas Margareth.


Sarah berdengus kesal.


" Hmph! Makhluk suruhan mama itu pun sungguh tidak berguna!"


" Siapa maksudmu? Succubus?"


" Iya! Dia! Siapa lagi?! Bisa-bisanya kabur..!"


" Oho.. Kau tidak dapat menyalahkanku begitu saja, hei wanita!" sahut seseorang dengan nada yang berat.


Margareth dan Sarah langsung mencari asal suara itu.


" Succubus..!" gumam Sarah.


" Succubus! Dari mana saja kamu! Kenapa kamu tidak menolong kami di saat kami membutubkanmu?!" sahut Margareth kesal.


Succubus tersenyum licik.


" Inilah alasanku berada di sini saat ini." sahut Succubus.


" Apa maksudmu?" tanya Margareth.


" Aku akan mengeluarkan kalian dari sini. Tetapi dengan satu syarat." sahut Succubus.


" A.. Apa itu?" tanya Sarah ragu.


" Kalian berdua, jadilah budakku!" sahut Succubus dengan riang.


" A.. Apa? Apa kamu sudah tidak waras?!" teriak Sarah.


Succubus menatap ke arah Sarah.


" Ini adalah pilihanmu,nona. Mati dengan cara di eksekusi, atau menjadi budakku selama hidupmu. Ah, tentu saja jika kau sudah mati, jiwamu otomatis akan menjadi milikku!" sahut Succubus.


Sarah masih menatap ke arah Succubus. Sedangkan Margareth sudah mempunyai pilihannya sendiri. Dia ingin hidup, dan itu berarti, dia akan menjadi budak Succubus.


Lagian tidak ada bedanya mau dia mati atau pun hidup. Jiwanya sudah berada di tangan Succubus dari awal dia membuat perjanjian dengan makhluk sihir itu.


" Bagaimana? Ini bukanlah pilihan yang sulit.." sahut Succubus.


" Ngh.. Ba.. Baiklah. Aku terima tawaranmu itu. Bawa aku pergi dari sini.." gumam Sarah pelan.


" Apa? Apa yang barusan kau katakan?" tanya Succubus.


" Kubilang, aku terima tawaranmu! Aku akan menjadi budakmu! Segera bawa aku pergi dari sini!!" teriak Sarah.


Succubus tersenyum lebar.


" Baiklah. Permintaan di kabulkan." sahut Succubus dan kemudian dia menjentikkan jarinya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2