Let Me Enjoy My New Life As A Duchess

Let Me Enjoy My New Life As A Duchess
Bab 7 Zen dan Mayuri (Part 1)


__ADS_3

Saat ini Mayuri dan Zen sedang duduk berduaan di taman istana. Keduanya saling membisu.


" Hm.. Apakah kamu keberatan bertunangan denganku?" Zen akhirnya menutuskan untuk membuka suara.


Mayuri terkejut mendengar pertanyaan Zen. Dan akhirnya dia memutuskan untuk berterus terang.


" Jujur saja, sangat keberatan. Aku hanya ingin menikmati hidupku dengan tenang. Tanpa di ganggu oleh siapapun dan apapun." jawab Mayuri dan kemudian menatap Zen dengan serius.


" Tetapi, apakah rumor tentangmu itu benar?" tanya Mayuri.


Zen memiringkan kepalanya. Tampaknya dia tidak mengerti pertanyaan Mayuri.


" Itu loh! Apakah kau tau bahwa kau di juluki oleh orang-orang dengan julukan si maniak perang?"


" HAH? Maniak perang? Aku sungguh tidak tahu." jawab Zen panik, wajahnya memerah.


Mayuri menatap Zen dan kemudian tertawa kecil melihat tingkah Zen yang panik.


" Pfft! Kurasa rumor hanyalah sekedar rumor." sahut Mayuri.


" Jangan kamu bilang, bahwa rumor itu yang membuatmu keberatan untuk bertunangan denganku?" tanya Zen memastikan.


Mayuri menggelengkan kepalanya.


" Tentu tidak. Coba kamu bayangkan saja, aku masih berusia 18 tahun. Masa sudah harus memikirkan pernikahan?!" tanya Mayuri balik.


" Bukankah itu hal yang wajar? Bahkan ada yang baru lahir saja sudah bertunangan. Dan menurutku, kamu sudah melewati usia yang sudah seharusnya menikah." jawab Zen.


" Me.. Melewati?"


" Para gadis muda sudah seharusnya bertunangan pada usia 16 tahun. Aku tidak tahu apa yang membuatmu terlambat." sahut Zen sambil menatap Mayuri serius.


" Tetapi berkat itu, aku bisa bertunangan denganmu saat ini." sambungnya sambil mengelus lembut pipi Mayuri.


DEG!


Jantung Mayuri seketika meloncat cepat.


" A.. A.. Ap.. Apa yang kamu lakukan?!!" teriak Mayuri sambil dengan cepat menjauh dari Zen.


Zen terkekeh kecil.


" Kamu sungguh menggemaskan sekali, Mayuri." sahut Zen sambil tersenyum kecil.


" Su.. Sudah! Saya mau kembali ke dalam!" teriak Mayuri sambil berlari menuju istana.


" Ba.. Ba.. Bagaimana ini?! Jantungku berdegup sangat keras! Aku berharap Zen tidak mendengarnya!"


...****************...


Saat ini Antonius dan Leon saling bertatapan mata.


" Setelah pesta ini, Mayuri sudah harus bersiap-siap untuk pindah ke kediaman Primos." Antonius membuka suara.


" Tidak bisa! Dia itu hanya bertunangan! Bukan menikah!" protes Leon.


Antonius membuka suara.


" Yang benar saja, Leon! Di mana-mana juga, gadis yang sudah bertunangan akan segera pindah ke kediaman pasangannya!"


" Aku tidak bisa merelakan anakku tinggal bersama si maniak perang itu!"


" Leon.." terdengar suara wanita yang rendah tetapi terasa dingin.


Antonius dan Leon segera terdiam. Pelan-pelan menelan ludah.


" Mayuri bukanlah anak kecil lagi. Sudah seharusnya dia bertunangan dan menikah. Mau sampai kapan kamu menjadi daughter complex begini?" sahut Julia.


Leon terdiam. Raut kesedihan terlihat di wajahnya.


" Mayuri anakku satu-satunya. Keluargaku satu-satunya. Wajar saja aku tidak merelakan dia untuk pergi dari hadapanku. Akan kulindungi dia segenap kekuatanku."


" Kamu tahu,kan? Kekuatan Mayuri sebagai summoner itu di incar banyak orang! Hanya Duke Primos yang sanggup untuk melindunginya. Apa kamu memiliki kekuatan sihir yang setara dengan Duke Primos? Kalau punya, aku tidak akan menentangmu lagi!" sahut Julia dengan nada yang sedikit kesal.


Antonius hanya terdiam. Sesekali dia melihat ke arah istrinya dan Leon bergantian.


Leon kemudian menghela nafas.


" Baiklah kalau begitu. Tetapi dengan satu syarat."


Antonius dan Julia saling bertatapan.


" Syarat?" tanya Antonius.

__ADS_1


" Setiap minggu sekali, Mayuri harus kembali ke kediaman Bright. Karena, kediaman Bright masih merupakan rumahnya."


" Semingu sekali ya.. Hmm.." gumam Antonius.


" Sebulan sekali." sahut Julia.


" A..! Seminggu sekali kubilang!"


Julia menghela nafas panjang.


" Kamu sungguh tidak berpikir panjang. Coba di ingat-ingat lagi, ada di mana letak kediaman Primos?" tanya Julia.


" Utara..?" jawab Leon ragu.


" Nah, sekarang di mana letak kediaman Bright?"


Leon terdiam.


" Jarak dari utara dan selatan, mencapai 3 hari jika dengan kereta kuda. Kurasa Mayuri tidak akan sanggup untuk menempuh perjalanan itu setiap minggu."


" Baiklah, kak Julia. Aku menyerah."


Leon menghela nafas panjang.


Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu.


" Papa.. Sudah selesai?" sahut Ernest dari balik pintu.


" Oh, Ernest. Ada apa, sayang?" tanya Julia.


" Kak Mayuri mencari paman Leon." balas Ernest.


" Mencariku?" tanya Leon.


Ernest mengangguk.


" Katanya kalau ketemu paman, 'A.. Ayo pulang!' " sahut Ernest sambil memperagakan gerakan Mayuri.


Leon terlihat binggung. Dan kemudiam bangkit dari tempat duduknya.


" Leon, jangan lupa dengan apa yang kita bahas barusan. Aku berharap kamu dapat menyampaikannya ke Mayuri."


" Ck! Baiklah!" Leon berdecak kesal.


...****************...


" Pria itu sungguh tidak tahu malu!" gumam Mayuri.


" Mayuri?" sahut seseorang dari belakang.


Mayuri tersontak kaget dan langsung menoleh.


" P.. Papa! Bikin kaget saja."


" Ah, maaf. Tetapi kamu lagi lamunin apa? Sampai kaget begitu. Terus, siapa yang tidak tahu mau?"


" Ti.. Tidak ! Bu.. Bukan siapa-siapa!" balas Mayuri panik.


" Mencurigakan.." gumam Leon.


" A.. Ayo kita pulang! Aku akan berpamitan dengan paman dan bibi dulu!" sahut Mayuri.


Kemudian dia pun pergi mencari Antonius dan Julia. Tak lama, dia menemukan Antonius dan Julia sedang di kerumunin oleh beberapa bangsawan.


" Paman, bibi.." sahut Mayuri.


" Ah, Mayuri.. Sini.." sambut Antonius.


Mayuri pun mendekat.


" Perkenalkan, dia Mayuri Camelia Bright, keponakanku." sambung Antonius.


Mayuri pun memberi salam.


" Ah, tunangam dari Duke Zen. Selamat atas pertunangan anda, nona." sahut salah satu bangsawan.


" Terima kasih." balas Mayuri.


" Ada apa kamu mencari kami?" tanya Antonius.


" Aku mau berpamitan pulang."


" Kenapa cepat sekali?" tanya Julia.

__ADS_1


" Iya, bibi. Aku sangat lelah. Ingin cepat beristirahat."


" Istirahatlah sejenak di ruang istirahat kerajaan. Malam masih panjang. Pesta pun belum usai." sahut Julia.


" Ta.. Baiklah kalau begitu." Mayuri menghela nafas.


Julia membelai Mayuri dengan lembut.


" Saya permisi dulu. Silahkan lanjutkan pembicarannya." kata Mayuri sambil menatap ke arah para bangsawan itu.


Kemudian Mayuri pun kembali ke tempat Leon. Sesampainya di sana, Mayuri menangkap sosok Leon tengah berbicara dengan seorang pemuda yang tak lain adalah Zen.


" Hello, duke Zen." sahut Leon.


" Tidak perlu begitu formal, pa." balas Zen.


" Siapa papamu?! Dengar ya, sampai kapan pum saya tidak akan menyetujui pertunanganmu dengan anak saya, Mayuri!"


" Maaf, tetapi acara pertunangan ini telah terjadi. dan sudah di umumkan oleh Raja."


" Kh..!"


" Papa! Zen! Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Mayuri.


" Mayuri, sudah pamitan dengan paman Antonius?" tanya Leon.


Mayuri menggelengkan kepalanya.


" Bibi Julia memintaku untuk beristirahat di ruang istirahat."


" Hah.. Kak Julia.. Apa lagi yang kamu rencanakan?" gumam Leon.


" Senang bertemu denganmu kembali, Mayuri." sahut Zen sambil mencium tangan Mayuri.


" A.. A.. Iya.." balas Mayuri dengan wajah setengah memerah.


PLAK!!


Leon menepis tangan Zen dari Mayuri.


" Jangan menyentuh anak saya!"


Zen terkekeh kecil.


" Pa, aku dan Mayuri sudah bertunangan. Jangan berlebihan seperti itu."


Di mata Mayuri, Leon dan Zen seperti kucing dan tikus.


" Dan jangan memanggil saya papa! Saya bukan papamu!" sahut Leon


" Ayo kita pergi, Mayuri!" sambung Leon.


" Mayuri!" panggil Zen.


Mayuri menoleh.


" Aku akan berada di kerajaan ini sampai bulan depan. Pergunakan waktumu sebaik mungkin." sambung Zen.


Mayuri kebingungkan dengan apa yang barusan di katakan Zen. Sedangkan Leon menatapnya dengan tatapan geram.


...****************...


Leo menemani Mayuri di ruangan istirahat. Masih penasaran dengan apa yang di maksud Zen barusan, Mayuri memutuskan untuk bertanya kepada Leon. Leon merasa enggan untuk memberitahukan putri satu-satunya itu bahwa dia harus pindah ke kediaman Primos bulan depan.


" Pa?" panggil Mayuri.


Leon menghela nafas panjang.


" Papa sungguh tidak bisa berbuat apa-apa tentang hal ini. Antonius bersikeras. Mayuri, dengarkan papa!"


Mayuri kelihatan tegang. Dia pun mengangguk.


" Mulai bulan depan, kamu harus tinggal di kediaman Primos. Setiap bulan sekali, kamu boleh kembali ke sini." sambung Leon.


Bola mata Mayuri membesar. Dia tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.


" Ti.. Tinggal di kediaman Primos kata papa? Kenapa?!" tanya Mayuri.


" Setiap gadis yang sudah bertunangan, maka dia harus pindah ke kediaman tunangannya. Papa sungguh menolak hal ini. Tetapi paman dan bibimu bersikeras bahwa kamu harus pindah."


Mayuri terduduk lemas.


" Ah, kepalaku sungguh tidak dapat mengisi apa-apa lagi. Apa lagi cobaan yamg harus kulalui. Tinggal dengan Zen? Jauh dari rumahku.. Keinginanku untuk kabur dari semua ini sungguh besar.."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2