Let Me Enjoy My New Life As A Duchess

Let Me Enjoy My New Life As A Duchess
Bab 9 Trauma


__ADS_3

" Sungguh sial sekali. Kenapa harus bertemu wanita itu di sini?"


" Khh.." Zen mengerang kesakitan.


Terasa cengkraman kuat di lengannya. Zen pun menatap ke arah Mayuri. Terlihat raut wajah Mayuri sungguh pucat.


" Mayu.." Kata-kata Zen terhenti.


" Nona Bright? Saya menyapa anda. Kenapa anda tidak menoleh ke sini?" tanya wanita itu.


Merasakan ada hal yang tidak beres, Zen pun memutuskan menyapa wanita tersebut.


" Ah, selamat sore, nona..?" sapa Zen sambil tersenyum kecil.


" Oh? Nyonya. Nyonya Margareth Lewis. Saya istri dari Count Lewis." jawabnya.


" Nyonya Lewis. Perkenalkan, saya Zen Emerald Primos."


" Ah, Duke Primos. Senang bertemu dengan anda. Anda tunangan dari nona Bright,bukan?" tanya Margareth.


Zen mengangguk.


Mendengar Zen dan Margaret berbincang, Mayuri akhirnya menarik nafas panjang. Dan kemudian berjalan mendekati mereka berdua. Tangan Mayuri pun dengan santai melingkar di lengan Zen.


" Selamat sore, nyonya Lewis. Apa kabar?" tanya Mayuri dengan senyuman di wajahnya.


" Oh, saya sangat baik sekali. Selamat atas pertunangan kalian berdua. Sayang sekali saya tidak bisa hadir di acara pertunangan semalam."


" Ah, tidak apa-apa. Ucapan selamat dari nyonya sudah sangat berarti bagi kami berdua." balas Mayuri sambil melirik ke arah Zen sebentar.


Tangan Mayuri masih sedikit bergemetar. Zen menyadari hal itu. Kemudian dia memutuskan untuk mengakhiri obrolan antara Mayuri dan Margareth.


" Maaf,nyonya Lewis. Kami izin pamit. Acara pertunjukan akan segera di mulai. Kami harus segera tiba di tempat duduk kami." sahut Zen.


" Oh, maaf saya telah mencuri waktu kalian. Selamat menikmati acara pertunjukan." balas Margareth sambil tertawa kecil.


" Selamat sore, nyonya Lewis." pamit Mayuri.


Zen dan Mayuri pun pergi menjauh dari Margareth.


...****************...


" Rydan! Kenapa hal begini saja kamu tidak bisa?! Kamu itu pewaris satu-satunya! Mama mohon! Berusahalah kembali. Raih pencapaian tertinggi. Tunjukkan kepada papa bahwa kamu bisa sesuai dengan harapannya!"


Dari bangku penonton lantai dua, terlihat Zen dan Mayuri menikmati pertunjukan yang di bawakan sejumlah pemain di atas pentas. Sesekali mata Zen mencuri pandang ke atah Mayuri.


Mengingat kejadian yang barusan terjadi, Mayuri sungguh terlihat sebagai orang yang berbeda. Kemudian Zen pun dengan perlahan meraih dagu Mayuri dan mengarahkan wajah Mayuri agar menatapnya langsung.


" Apa?" tanya Mayuri.


" Kejadian yang tadi, bisa kamu jelaskan kenapa kamu terlihat ketakutan?"


Mayuri terdiam. Dia merasa ragu apakah hal itu harus di ceritakan kepada Zen. Mayuri terlihat menggigit bibirnya sendiri.


" Hentikan itu. Apakah seberat itukah menceritakan sesuatu kepadaku?" tanya Zen.


Tiba-tiba terdengar tepukan tangan yang sungguh keras dari area bangku penonton di lantai satu. Ternyata adegan pertunjukan ke - 3 sudah berakhir. Dan sekarang akan masuk adegan pertunjukan ke - 4.


Zen masih menatap ke arah Mayuri, berharap mendapatkan jawaban dari mulut mungilnya itu. Sesekali bola mata Mayuri mengarah ke arah lain.


" Tatap dan jawab aku, Mayuri."


" Hrngg.."


Akhirnya Mayuri memutuskan untuk menceritakan kejadian yang menimpanya sewaktu dia masih kecil. Bola mata Zen membesar, dia tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya.


" Maaf, jika cengkraman tanganku terlalu kuat. Apa kamu terluka?" tanya Mayuri.


Zen tersenyum dan kemudiam membelai kepala Mayuri dengan lembut.


" Aku tidak tahu bahwa aku akan setrauma itu ketika bertemu dengam nyonya Lewis. Hahaha.. Sungguh menyedihkan."


PRANGG!!


Terdengar suara pecahan piring dari area panggung. Mayuri tersontak kagete dengar suara pecahan itu. Kemudian wajahnya kembali memucat.


" Rydan! Apa yang telah kamu lakukan?! Dia itu ayahmu sendiri! Kamu sungguh tega membunuh ayahmu?!" teriak pemeran wanita.


Raut wajah Rydan kemudian berubah menjadi menakutkan, sehingga membuat pemeran wanita itu terkejut.


" *Ibu, sudah cukup dengan semua perlakuan yang telah aku terima. Pria itu untuk selamanya tidak akan merasa puas dengan apa yang telah aku capai selama ini. Selalu saja ada hal yang membuatnya untuk menuntut lebih dariku. Aku lelah,bu. Sungguh lelah. Lebih baik dia tidak ada di dunia ini. Maka, kita berdua akan terbebas dari jeratannya!"


" Rydannn*!!"


Kemudian pemeran wanita itu mengeluarkan sebuah belati dan siap untul menikam Rydan. Tetapi Rydan berhasil menghindar darinya dan membuat perlawanan sehingga belati yang seharusnya menancap di jantung Rydan, berakhir dengan menancap di jantung pemeran wanita itu.


" Rydan, kamu.. Sungguh.. Tega.."


Kemudian tirai panggung pun perlahan menutup untuk mengakhiri adegan pertunjukan ke-4.

__ADS_1


" Kenapa dia harus membunuh ibunya sendiri.. Aku sungguh tidak mengerti." sahut Mayuri.


Zen menatap kosong ke arah pangguung dan kemudian mengalihkan pandangan matanya ke arah Mayuri.


" Mungkin dia merasa di khianati oleh ibunya?"


" Bagaimana mungkin! Dari awal ibunya sangat menyanginya. Apa lagi di saat dia terpuruk, ibunya selalu ada di sampingnya, memberinya semangat."


" Bukankah pada akhirnya, ibunya sendiri berencana untuk membunuhnya? Anak yang selama ini dia sayangi, selalu ada di sampingmya, bahkan wanita yang selalu memberinya semangat."


Mayuri terdiam. Dia tidak tau kata-kata apa yang tepat untuk membalas Zen. Kemudian dia menarik nafas panjang.


...****************...


Setelah selesai pertunjukan, Zen pun mengantar Mayuri kembali ke kediaman Bright.


" Tidurlah yang nyenyak." sahut Zen.


Mayuri hanya mengangguk dan kemudian masuk ke dalam rumah. Zen pun kembali menaiki kereta kudanya dan pergi dari kediaman Bright.


Di dalam kereta kudanya, Zen tidak berhenti memikirkan kejadian tadi sore. Pertemuannya dengan Margareth, serta trauma yang di alami oleh Mayuri. Tak lama kemudian, Zen pun tiba di villa Primos.


Zen pun di sambut oleh para pelayannya serta kepala pelayannya, Rico.


" Rico, tolong bantu saya mencari informasi mengenai Margareth Lewis beserta suaminya."


" Lewis? Maksud anda Count Lewis? Seorang pengusaha kosmetik di wilayah barat?" tanya Rico.


" Seorang pengusaha?" tanya Zen kembali.


" Iya. Akhir-akhir kosmetik sedang menjadi trend di antara para gadis bangsawan."


Zen berpikir sejenak.


" Apa lagi yang kamu tau?" tanya Zen lagi.


" Akan saya gali lebih dalam informasi mengenai count Lewis dan istri ya."


Zen pun kembali berjalan menuju kamarnya.


Di sisi lain, Mayuri yang baru saja kembali dari acara pertunjukan terduduk lemas di depan pintu rumah.


" Nona Mayuri!" teriak Emilia begitu melihat Mayuri terduduk lemas.


" An, Emi.. Tolong bantu aku berdiri.."


Emilia pun langsung membantu Mayuri berdiri.


" Ah, tidak. Zen mengantarku pulang. Cuma.." kata-kata Mayuri terputus.


" Cuma?"


Mayuri terdiam.


" Ayo, saya papah anda ke kamar." sambung Emilia.


" Aku bertemu nyonya Lewis.."


Emilia terkejut.


" Ya,Tuhan! Aku dan mulut sialku!" teriak Emilia.


Mayuri menggelengkan kepalanya.


" Bukan salahmu. Cepat atau lambat, aku pasti akan bertemu kembali dengannya. Aku harus bisa mengatasi rasa trauma ini."


" Terus apa yang dia perbuat terhadap nona?"


Mayuri menatap Emilia.


" Tidak ada. Mendengar suaranya saja, aku sudah tidak bisa berkutik. Sungguh menyedihkan!"


" Siapa yang menyedihkan? "


Terdengar suara yang suara yang berat dari arah belakang. Mayuri dan Emilia tersontak kaget dan langsung menoleh kebelakang.


" Papa.."


Leon menatap ke arah Mayuri.


" Ada apa? Apa Zen menyakitimu?" tanya Leon.


" Itu.. Nona bertemu dengan nyonya Lewis.." jawab Emilia.


Tatapan mata Leon seketika terlihat menyeramkan.


" Tidak apa-apa,pa." sahut Mayuri.


" Hm..."

__ADS_1


Kemudian Leon pun membalikkan badannya.


" Istirahatlah." sahut Leon singkat.


...****************...


Malam itu, Mayuri tidak bisa memejamkan matanya. Dan akhirnya dia memutuskan untuk mencari angin dari balkon kamarnya. Sesekali dia menghela nafas panjang.


" Kenapa? Tidak bisa tidur?"


Terdengar suara wanita berasal dari sampingnya. Mayuri pun langsung menoleh ke arah suara itu.


Terlihat sosok wanita tinggi dan langsing, bola matanya yang besar. Rambut panjangnya tergerai indah.


" Siapa?" tanya Mayuri dengan nada datar.


Wanita itu terlihat kesal.


" Ah.. Cancer.."


Cancer berdengus kesal.


" Kukira cuma Leo yang bisa berubah sosok. Apa semua zodiak bisa berubah?" tanya Mayuri.


" Ya.." jawab Cancer singkat.


" Ck! Kenapa jawabanmu singkat gitu sih!" kali ini giliran Mayuri yang berdengus kesal.


" Kyahahaha..! Cancer memang begitu. Sering sekali dia membuat kami berdua kesal!"


Terlihat dua sosok anak kecil kembar identik tertawa lebar.


" Selamat malam! Gemini hadir!" sahut kedua anak itu bersamaan.


" Wah, kalian imut sekali!!"


" Terima kasih,nona!!"


" Terus, kenapa kalian bertiga mendadak muncul di sini?" tanya Mayuri.


" Kedua bocah ini ingin bertemu denganmu.." Jawab Cancer sambil menunjuk Gemini.


" Tetapi tidak di izinkan oleh Leon. Dan akhirnya dia menarikku sebagai penjaganya." sambung Cancer.


" Kenapa?" tanya Mayuri.


" Apanya yang kenapa?" tanya Cancer balik.


" Kenapa Leon tidak mengizinkannya ke sini sendiri?"


Cancer hanya menunjuk ke arah Gemini yang sedang bermain berduaan. Kemudian tiba-tiba saja salah satunya terjatuh dari balkon.


" Ah!!" teriak Mayuri spontan.


" Khyahaha.."


Salah satu Gemini yang terjatuh dari balkon mendadak melayang tinggi. Mayuri terdiam dan kemudian menghela nafas lega.


" Kedua bocah ini merupakan si pembawa masalah. Jika meninggalkan mereka berdua sendirian saja, tidak tau apa yang akan terjadi nantinya." kata Cancer dengan raut wajah yang kesal.


" Benar-benar sial aku harus menjaga kedua bocah ini di hari liburku!" gerutu Cancer.


" Meskipun kamu mengomel panjang lebar, tetapi akhirnya kamu sendiri datang untuk menjaga mereka, bukan? " tanya Mayuri dengan senyuman di wajahnya.


Cancer menatap Mayuri.


" Hmph!" Cancer memalingkan wajahnya.


" Kyahaha..Wajah Cancer memerah!!" teriak Gemini kegirangan.


" Kalian..!!! " Cancer berusaha untuk menahan amarahnya.


" Kaburrr..!!" teriak Gemini.


Tiba-tiba terdengar suara tertawa yang keras.


" HAHAHA!! Sungguh.. Apa yang kalian lakukan disini..?" tanya Mayuri berusaha untuk menahan tawanya.


Cancer dan Gemini saling berpandangan. Dan kemudian tersenyum kecil.


" Tidak apa-apa. Selamat tinggal." sahut Cancer dan kemudian menghilang.


" Bye-bye, nona Mayuri.." sahut Gemini sambil melambaikan tangannya.


Mayuri terdiam. Dan kemudian tersenyum kecil.


" Apa yang sesungguhnya mereka bertiga lakukan sebenarnya di sini." gumam Mayuri.


" Tetapi berkat mereka, aku bisa lebih tenang. Aku harus bisa menghilangkan rasa trauma Mayuri dalam diriku. Jika tidak, aku tidak tahu apa yang akan di lakukan oleh wanita itu selanjutnya."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2