Let Me Enjoy My New Life As A Duchess

Let Me Enjoy My New Life As A Duchess
Bab 15 Margareth Lewis ( Part 5)


__ADS_3

TOK!


TOK!


TOK!


" Mayuri, ini papa."


" Papa? Masuklah."


Leon pun masuk ke dalam kamar Mayuri. Mayuri terlihat sedang bersiap-siap untuk menghadiri pesta ulang tahun Sarah Lewis, putri dari Margareth Lewis.


" Kamu terlihat sangat cantik dan menawan, sayang." sahut Leon.


" Terima kasih, pa."


Leon menatap ke arah Mayuri.


" Apa kamu harus tetap menghadiri pesta ulang tahun putri Margareth?" tanya Leon.


" Hm? Meski pun dia tidak mengirimkan kartu undangan, aku tetap harus pergi untuk menemani Zen." jawab Mayuri.


" Apa? Menemani Zen? Apakah Margareth juga mengirimkan undangan kepada Zen?" tanya Leon.


Mayuri mengangguk.


" Sepertinya begitu."


" Apa lagi yang dia rencanakan sekarang.." gumam Leon.


" Pa?"


" Ah, tidak apa-apa. Berhati-hatilah."


Mayuri menatap ke arah Leon dengan penuh tanda tanya.


" Baiklah, aku akan kembali melanjutkan pekerjaanku. Kalau kutunda lebih lama lagi, Sebastian pasti akan marah besar." sambung Leon.


" Semangat, papa." sahut Mayuri.


Leon tersenyum dan kemudian meninggalkan kamar Mayuri. Tak lama kemudian, sebuah kereta kuda tiba. Zen terlihat keluar dari kereta kuda tersebut.


" Tuan Zen telah tiba, nona Mayuri." sahut Emilia.


" Ah.. Iya.." gumam Mayuri.


" Kenapa nona tidak semangat begitu?" tanya Emilia.


Mayuri terdiam.


" Apakah nona masih memikirkan ciuman hot dari tuan Zen?" tanya Emilia.


" S.. Siapa yang..!! Sudahlah.. Percuma aku menjelaskan hal yang sama terus." jawab Mayuri kesal.


" Baiklah kalau begitu. Nona sudah siap berangkat. Jangan lupa membawa kartu undangannya." sahut Emilia.


Mayuri pun segera keluar dari kamar untuk menemui Zen. Tetapi siapa sangka, Zen sudah menunggunya di depan kamar.


" Kamu terlihat sangat cantik sekali malam ini." sahut Zen.


Mayuri berdengus kesal.


" Jadi dari kemarin, aku tidak cantik gitu?" tanya Mayuri.


Zen terkejut mendengar pertanyaan Mayuri. Kemudian dia tersenyum kecil.


" Mau kemarin, hari ini, mau pun besok, kamu tetap terlihat sangat cantik di mataku." sahut Zen sambil mencium punggung tangam Mayuri.


Mayuri merasa merinding di sekujur tubuhnya.


" Be..berhentilah berkata hal yang menjijikan seperti itu!" sahut Mayuri.


Zen pun tersenyum.


" Mari kita berangkat." sahut Zen.


Mayuri mengangguk dan kemudian dia melingkarkan tangannya di lengan Zen.


...****************...


Begitu banyak kereta kuda yang keluar masuk di kediaman Lewis dari berbagai kalangan bangsawan. Salah satunya adalah kereta kuda milik keluarga Primos.


Kereta kuda milik keluarga Primos berhenti tepat di pintu masuk kediaman keluarga Lewis. Zen terlihat menuruni kereta kudanya, dan kemudian dia membantu Mayuri untuk turun.


Begitu banyak pasang mata yang melihat kejadian itu. Zen dam Mayuri terlihat sangat serasi di mata para bangsawan itu.


" Silahkan perlihatkan kartu undangnya." sahut penerima tamu di depan pintu masuk kediaman Lewis.

__ADS_1


" Ini." sahut Zen sambil mengeluarkan kartu undangannya.


" Tolong perlihatkan kartu undangannya,nona."


Zen dan Mayuri saling bertatapan.


" Bukankah kartu undangan sudah saya berikan?" tanya Zen dengan raut wajah yang kesal.


" Maaf, tetapi satu kartu undangan, berlaku hanya untuk satu orang."


" Peraturan apa itu?"


" Sudahlah. Aku membawa kartu undanganku sendiri." sahut Mayuri.


Zen menatap ke arah penerima tamu itu dengan tajam.


" Jangan menatap orang dengan tatapan membunuh seperti itu. Dia hanya menjalankan perintah dari atasannya. Lagipula, aku membawa kartu undanganku sendiri. Jadi tidak ada masalah." sahut Mayuri.


" Sungguh keterlaluan." gumam Zen.


" Baiklah, nona Mayuri Camelia Bright dan Duke Fridzen Emerald Primos, selamat datang." sahut penerima tamu itu.


Ketika kaki mereka menginjak ruangan pesta, seluruh pasang mata yang berada di ruangan menatap kagum ke arah mereka.


Margareth yang menyadari bahwa Zen telah datang, dengan riang berjalan ke arah Zen. Tetapi langkahnya terhenti begiru melihat Mayuri berdiri di samping Zen sambil tersenyum kecil.


" Ck! Bagaimana bisa anak itu masuk ke sini?! Seharusnya dia tidak mempunya kartu undangan!" gumam Margareth kesal.


Kemudian Margareth pun memutuskan untuk tetap menyambut Zen dan Mayuri.


" Selamat malam, Mayuri dan Duke Zen. Selamat datang di pesta ulang tahun putriku, Sarah." sambut Margareth.


" Hmph.. Sekarang dia sudah berani memanggil namaku secara tidak sopan!"


Mayuri menatapnya dengan tatapan kesal. Zen menyadari bahwa Mayuri merasa tidak nyaman dengan kehadian Margareth, dia pun melingkarkan tangannya di pinggul Mayuri.


" Akh.. Apa yang sedang kamu lakukan?" bisik Mayuri.


" Tenanglah. Aku akan menjagamu." balas Zen.


" Me.. Menjagaku dari apa?" tanya Mayuri.


Zen hanya tersenyum tanpa mengatakan apa-apa. Margareth yang melihat kedekatan Zen dan Mayuri, terlihat sangat kesal.


" Kalian terlihat sangat serasi sekali." sahut Margareth dengan senyuman palsu di wajahnya.


" Me.. Mencintai? Obrolan konyol macam apa itu?!"


Baik Margareth maupun Zen, sama-sama tersenyum. Tetapi di mata mereka tidak menunjukan perasaan yang senang. Mayuri menatap Zen dengan perasaan tidak enak.


" Baiklah, mari kita segera memulai acara ulang tahunnya." sahut Margareth semangat.


Sesuai dengan instruksi Margareth, acara ulang tahun Sarah Lewis. Selama acara berlangsung, Margareth berusaha untuk mendekatkan Sarah dengan Zen. Para tamu undangan pun merasa ada yang tidak beres dengan tingkah laku Margareth.


Mayuri pun sudah mulai menujukan wajah kesalnya. Zen merasakan hal itu, tetapi dia lebih memilih untuk diam dan tetap memperhatkan Mayuri secara diam-diam.


Merasa sudah merasa tidak tahan dengan suasana di ruang pesta, Mayuri pun berjalan ke arah balkon untuk mencari udara segar. Beberapa kali dia menghela nafas.


" Selamat malam, nona Bright."


Mayuri pun segera menoleh ke arah suara yang barusan menyapanya.


" Ah.. Selamat malam, nona Lewis." balas Mayuri.


Sarah tersenyum kecil.


" Selamat ulang tahun. Sungguh pesta yang meriah." sambung Mayuri.


" Terima kasih, nona."


Mayuri menatap ke arah Sarah. Dia merasakan bahwa Sarah ingin mengatakan sesuatu padanya.


" Ya?" sahut Mayuri.


" Eh? Ah.."


" Kamu sepertinya ingin mengatakan sesuatu padaku."


Sarah merasa ragu apakah dia harus mengatakan apa yang sedang di pikirkannya. Dan akhirnya dia memutuskan untuk mengatakannya.


" Berhati-hatilah dengan Margareth."


Mayuri terdiam. Dia berusaha mencerna apa yang barusan di katakan oleh Sarah.


" Ha? Apa.. Maksudmu?" tanya Mayuri.


" Kubilang berhati-hatilah dengan Margareth. Dia mempunyai ide yang buruk untuk mencelakaimu!" sahut Sarah.

__ADS_1


Kemudin Sarah pamit dan kembali ke dalam ruangan pesta meninggalkan Mayuri yang kebinggungan.


" Apa maksud dari perkataannya itu.." gumam Mayuri.


" Sepertinya dia berniat untuk memperingatkanmu agar berhati-hati dengan Margareth." sahut seseorang.


" Leo..?"


" Hiya! Apa kabarmu?" tanya Leo basa basi.


" Hm.. Bagaimana denganmu sendiri?" tanya Mayuri.


" Hey, aku yang bertanya duluan." sahut Leo sambil mengernyitkan keningnya.


Mayuri tertawa kecil.


" Aku baik-baik saja. Perlahan lahan aku sudah bisa mengatasi rasa trauma yang ada di tubuh gadis ini." balas Mayuri.


Leo terdiam. Mayuri pun kemudian menatapnya kembali.


" Terus, jawaban atas pertanyaanku tadi?" tanya Mayuri.


" Hm.. Kurang begitu baik." jawabnya dengan tersenyum kecil.


" Apa? Apa yang terjadi?" tanya Mayuri penasaran.


" Aku mendengar bahwa kamu membuat perjanjian dengan Sagitarius?" tanya Leo balik.


Mayuri mengangguk.


" Walaupun dia pada awalnya menolak membuat perjanjian denganku, dan aku pun menyetujuinya. Dia tiba-tiba saja marah padaku dan memaksaku untuk membuat perjanjian dengannya. Sungguh zodiac yang aneh. " jawab Mayuri kesal.


Leo terdiam sebentar dan kemudian tertawa.


" Hahaha.. Jadi begitu ceritanya? Aku mulai paham kenapa dia mengamuk di dunia peri.." sahut Leo.


" Me.. Memangnya apa yang dia perbuat?"


" Yah.. Anggap saja seperti anak kecil yang sedang trantrum." jawab Leo.


Mayuri terdiam.


" Oke.. Mari kita balik ke topik tentang Margareth Lewis."


Leo menatap Mayuri dengan serius.


" Aku merasakan ada sesuatu yang buruk mengenainya. Kurasa ada baiknya kamu berhati-hati ketika berada di dekatnya." sahut Leo.


" Apa yang kamu bicarakan? Aku sungguh-sungguh tidak mengerti."


Leo menatap ke arah Mayuri. Dia merasa enggan untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya. Tetapi akhirnya dia memutuskan untuk menjelaskan hal itu demi keselamatan Mayuri.


" Dia mempunya kekuatan sihir yang tidak seharusnya di miliki oleh seorang manusia biasa. Kekuatan sihir yang sangat jahat." sahut Leo.


Jantung Mayuri kembali berdegup kencang.


" Aku menduga, bahwa Margareth telah membuat suatu perjanjian dengan makhluk sihir." sambung Leo.


" Kamu jangan berbicara sembarangan. Aku tau kalau Margareth membenciku. Tetapi kalau sampai membuat perjanjian dengan makhluk sihir itu agak.." sahut Mayuri ragu.


" Tidak, aku yakin dia membuat perjanjian dengan makhluk sihir. Biasanya manusia yang telah membuat perjanjian itu, akan ada segel yang terukir di badan mereka." sahut Leo.


" Segel?" tanya Mayuri.


Leo mengangguk.


" Segel sihir. Sebagai tanda bahwa dia sudah membuat perjanjian dengan makhluk sihir. Manusia akan menyerahkan jiwanya kepada makhluk sihir sebagai pertukaran agar dia bisa menggunakan kekuatan mereka."


Mayuri merasa menggigil kedinginan mendengar penjelasan Leo.


" Se.. Seharusnya Margareth tidak akan berbuat seperti itu.." sahut Mayuri.


" Apakah kamu benar-benar yakin dia tidak akan berani berbuat sejauh itu?" tanya Leo memastikan.


Mayuri terdiam. Sekarang dia mulai tidak merasa yakin dengan pemikirannya.


" Untuk sementara aku akan menjadi manusia dan menjagamu." sahut Leo.


" Ha? Men.. Menjagaku? Aku bisa menjaga diri sendiri. Aku telah berlatih pedang."


Leo menghela nafas.


" Dengar, Mayuri. Yang kita hadapi sekarang adalah makhluk sihir! Dia tidak bisa di kalahkan hanya dengan pedang saja!"


Leo sekarang terlihat sangat kesal. Dan akhirnya Mayuri memilih untuk diam daripada berdebat lebih jauh.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2