Let Me Enjoy My New Life As A Duchess

Let Me Enjoy My New Life As A Duchess
Bab 20 Menuju kediaman Primos ( Part 1 )


__ADS_3

Beberapa kereta kuda sudah berjejer di depan pintu utama kediaman Bright. Para pembantu sedang menyibukan diri menyusun barang-barang Mayuri ke atas kereta kuda.


" Pastikan tidak ada lagi barang yang ketinggalan ya.." sahut Emilia.


" Jaga dirimu baik-baik, ya!" kata Leon.


Mayuri mengangguk. Matanya mulai berkaca-kaca.


" Aku akan lebih sering pulang ke sini. Papa tenang saja!" balas Mayuri.


Leon tersenyum kecil. Kemudian dia mengarahkan pandangan matanya ke arah Zen.


" Kamu! Jaga Mayuri baik-baik! Jangan sampai dia terluka sehelai rambut pun! Sahut Leon.


" Papa tenang saja! Aku akan menjaga Mayuri dengan baik. Bahkan seekor semut pun tidak akan bisa melukainya." balas Zen.


" Apa yang sedang kamu katakan? Siapa yang berani melukaiku?" tanya Mayuri.


Leon dan Zen pun menatap ke arah Mayuri dengan pandangan tidak percaya dengan apa yang barusan di tanyakan oleh Mayuri. Padahal beberapa minggu yang lalu dia hampir saja kehilangan nyawanya.


" Lagian, kenapa kamu memanggil papa dengan sebutan papa? Sejak kapan dia menjadi papamu?" tanya Mayuri.


" Tentu saja aku harus memanggilnya papa. Kan kita sudah bertunangan dan akan segera menikah." balas Zen.


" Me.. Menikah.. Katamu.." gumam Mayuri pelan.


" Baiklah, sudah waktunya kita berangkat." sahut Zen.


" Mayuri, ingat kata papa semalam, ya!" sahut Leon.


" Iya." balas Mayuri.


Mayuri kemudian berjalan ke arah kereta kudanya. Zen sudah menunggu di depan kereta kuda yang akan mereka berdua tempati. Mayuri berhenti tepat di depan Zen.


" Sebaiknya aku duduk bersama Emilia." sahut Mayuri sambil berjalan menuju kereta kuda yang akan di tempati oleh Emilia.


" Eh?! Nona Mayuri! Anda tidak boleh.."


" Emilia, tidak apa." sahut Zen.


Zen pun kemudian mengikuti Mayuri menuju kereta kuda yang akan di tempati oleh Emilia. Sedangkan Emilia sendiri menggelengkan kepalanya melihat kedua orang itu.


" Ke.. Kenapa kamu mengikutiku?" tanya Mayuri.


" Kenapa? Aku harus berada di sisimu setiap saat untuk melindungimu." jawab Zen.


Mayuri mengerutkan keningnya.


" Nona Mayuri, sebaiknya anda kembali ke kereta kuda anda." sahut Emilia.


" Ngh.. Baiklah. Tetapi dengan satu syarat."


" Apa itu?" tanya Zen.


" Emilia naik bersamaku." jawab Mayuri.


Emilia menghela nafas.


" Baiklah! Baiklah!" sahut Emilia.


Mayuri pun akhirnya naik ke atas kereta kudanya di susul oleh Zen. Dan kemudian pintu kereta kuda pun di tutup. Emilia melambai dari luar kereta.


" Saya akan naik di kereta kuda yang di belakang. Jangan khawatir, nona!" sahut Emilia.


" Tu..!"


Mayuri berusaha untuk membuka pintu kereta kudanya. Akan tetapi itu tidak berhasil. Kereta kudanya pun sudah mulai bergerak. Zen hanya tersenyum kecil melihat tingkah Mayuri.


" Kenapa kamu tersenyum?" tanya Mayuri kesal.


" Oh? Tidak ada apa-apa. Hanya ingin tersenyum saja." sahut Zen.


" Dengar, ya! Jangan mendekat 1 cm pun!" sahut Mayuri.


" Sesuai permintaanmu, nona Bright." jawab Zen.


...****************...


GRATAK!


GRATAK!

__ADS_1


GRATAK!


" Hm.. Kita akan segera memasukki desa Floran." sahut Zen.


" Desa Floran? Apa kita akan bermalam di sini?" tanya Mayuri.


Zen menatap ke arah Mayuri.


" Tidak. Kita hanya akan beristirahat di sini sebentar saja. Dan kemudian akan melanjutkan perjalanan kembali sebelum sore hari." jawab Zen.


Kemudian Mayuri tidak berkata apa-apa lagi.


" Kenapa? Apa kamu ingin bermalam di sini bersamaku?" tanya Zen sambil tersenyum menyeringai.


" Hih! Jangan berpikir yang aneh-aneh! Siapa juga yang ingin bermalam bersamamu di tempat yang asing?!" jawab Mayuri kesal.


Zen pun terkekeh kecil.


" A.. Apa yang sedang kamu tertawakan?" tanya Mayuri.


" Jika aku menjawab, reaksimu pasti akan seperti itu lagi.." jawab Zen.


Karena kesal, Mayuri pun terdiam.


" Wah.. Dia kesal.." gumam Zen.


Tak lama kemudian, terdengar pintu kereta kuda di ketuk.


" Tuan Duke. Kita sudah sampai di desa Floran."


" Baiklah." jawab Zen.


" Desa Floran berada di wilayah kekuasaan Bright bukan?" tanya Mayuri.


" Iya. Memangnya kenapa?" tanya Zen sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Mayuri turun dari kereta kudanya.


" Mm.. Tidak. Aku hanya merasa tidak pernah kemari." jawab Mayuri.


Zen terlihat berpikir sebentar.


" Apakah kamu ingin bermalam di sini?" tanya Zen.


" Hah? Buat apa? Kita akan terlambat untuk sampai ke kediaman Primos nantinya. Tidak usah!" balas Mayuri.


Mayuri agak ragu.


" Hng.. Tidak! Kita akan tetap melanjutkan perjalanan ke kediaman Primos. Aku tidak mau kita ketinggalan jadwal." jawab Mayuri.


Zen pun memanggil salah satu bawahannya.


" Sampaikan ke yang lain, kita akan bermalam di sini." sahut Zen.


" Baik!" jawab prajuritnya.


" Tu..! Apa yang kamu lakukan? Aku bilang aku tidak mau bermalam di sini!" sahut Mayuri.


Zen tersenyum. Dia pun mendekatkan wajahnya ke arah Mayuri.


" Tapi akan sayang sekali jika kamu tidak menikmati apa yang ada di desa Floran ini. Aku jamin, kamu tidak akan menyesal." sahut Zen.


Mayuri menghela nafas dan kemudian menyetujui untuk bermalam di desa Floran.


...****************...


-Kediaman Bright-


TOK!


TOK!


TOK!


" Masuklah." sahut Leon.


Seorang prajurit masuk dan langsung memberi hormat.


" Lapor, tuan! Seluruh kota sudah kami cari. Dan tidak ada tanda-tanda keberadaan Nyonya Margareth dan Nona Sarah!" sahut prajurit itu.


Leon menghela nafas.


" Apa kalian juga sudah mencari ke terowongan pembuangan? Ataupun di mana saja?" tanya Leon.

__ADS_1


" Sudah, tuan!"


" Baiklah. Kembalilah mencari sekali lagi. Saya tidak mau kedepannya mereka berdua mengusik Mayuri kembali." perintah Leon.


Prajurit memberi hormat dan kemudian langsung keluar dari ruang kerja Leon.


" Maria.. Lindungilah Mayuri dimana pun dia berada.." gumam Leon.


...****************...


" Kenapa aku merasa dejavu .." gumam Mayuri.


" Hm? Kenapa?" tanya Zen.


" Semua hidangan yang ada di atas meja ini.. Apa kamu yakin bisa menghabiskan ini semua?" tanya Mayuri.


" Tentu saja tidak." jawab Zen dengan cepat.


Mayuri menunjukkan wajah yang sangat kesal.


" Terus? Kenapa kamu memesan makanan sebanyak ini? Aku bahkan tidak bisa menghabiskan makanan yang ada di atas piringku ini!" sahut Mayuri.


" Tenang saja! Jika tidak habis, maka bisa kita berikan ke prajurit yang sedang berjaga di luar."


Mayuri pun segera bangkit dari tempat duduknya dan dia pun mengambil beberapa hidangan yamg ada di atas meja.


" Mau kamu bawa ke mana hidangan itu?" tanya Zen.


Mayuri menatap Zen.


" Akan kuberikan ke prajurit-prajurit yang ada di luar. Bantu aku membawa hidangan yang lainnya! Tanganku hanya ada dua." jawab Mayuri.


" Tidak mau." sahut Zen.


" A.. Apa yang kamu.. Aku meminta bantuanmu untuk membawa hidangan yang tidak akan bisa kita berdua habiskan! Ini semuanya kan salahmu memesan berlebihan!" sahut Mayuri kesal.


Zen menatap Mayuri. Dia terlihat berpikir.


" Apa yang sedang kamu pikirkan lagi? Aku tidak mau hidangan ini terbuang sia-sia." sahut Mayuri.


Zen pun mengarahkan jari telunjuknya ke arah bibirnya.


" Apa?" tanya Mayuri.


" Kamu meminta bantuanku untuk membawa hidangan itu,kan? Kalau begitu, aku meminta bayarannya." sahut Zen.


" Ba.. Bayaran apa?"


" Cium aku. Tepat di sini. Di bibirku." sahut Zen sambil tersenyum menyeringai.


" Ci.. Cium?! Apa kamu sudah gila?! Sampai kapan pun aku tidak mau menciummu!" teriak Mayuri kesal.


Wajah Mayuri terlihat memerah. Dan Zen pun hanya duduk tenang sambil menatap ke arah Mayuri.


" Ce.. Cepat bantu aku membawa hidangan itu!!"


Zen masih terduduk diam. Dia hanya menatap lurus ke arah Mayuri.


" Bu.. Buruan bantu aku!!" teriak Mayuri kesal.


" Aku hanya meminta bayaran yang kecil. Apakah begitu saja susah kudapatkan?" tanya Zen.


" Kh.. Apakah kamu tahu bahwa kamu itu sungguh pria yang tidak tahu malu?" tanya Mayuri.


Zen tersenyum dan kemudian perlahan dia menutup matanya. Mayuri pun perlahan berjalan ke arah Zen dengan raut wajah yang kesal. Tak lama, bibir Mayuri mengecup ringan bibir Zen.


" Sudah kubayarkan! Sekarang bantu aku membawa hidangan itu!" sahut Mayuri.


Zen perlahan membuka matanya dan meraih hidangan yang sedang di pegang oleh Mayuri.


" Ap.. Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Mayuri penasaran.


Zen hanya menatap Mayuri dan kemudian menarik Mayuri untuk duduk di pangkuannya. Perlahan tangan Zen menyentuh lembut wajah Mayuri.


" Ngh.. Apa yang.."


Belum selesai Mayuri menyelesaikan pertanyaan, bibir Zen sudah menyentuh bibir Mayuri dengan lembut. Tak lama, Mayuri membalas ciuman Zen.


" Bayaran sudah kuterima.." gumam Zen tepat di telinga Mayuri.


Wajah Mayuri kembali memerah.

__ADS_1


" Lagi-lagi aku terperangkap permainannya.."


...****************...


__ADS_2