Little Women

Little Women
Episode 11


__ADS_3

Eksperimen



"Hari pertama di bulan Juni. Besok, keluarga King berangkat ke pantai, dan aku akan bebas! Tiga bulan libur! Ya, ampun, senang sekali!" seru Meg ketika ia pulang pada suatu hari yang hangat, dan mendapati Jo sedang berbaring di sofa, tampak kelelahan lebih dari biasanya. Beth melepas sepatu bot Jo yang ber- debu, sementara Amy membuatkan minuman lemon segar untuk mereka semua.



"Bibi March mulai berlibur hari ini. Oh, aku sungguh baha- gia!" Jo bercerita. "Aku takut setengah mati ia akan memintaku ikut. Jika ia meminta, tentu aku akan merasa harus menurutinya. Tapi, kalian tahu, Plumfield sama meriahnya dengan halaman ge- reja, dan aku pilih ditinggal saja. Kami menyiapkan kepergiannya dengan kalang kabut. Aku begitu tidak sabar ingin segera menye- lesaikan tugasku, sampai-sampai aku bersikap terlalu manis dan dengan senang hati membantu-bantu, dan karenanya merasa kecut setiap kali ia berbicara kepadaku; aku sangat khawatir ia justru tidak ingin berpisah dariku. Aku terus-menerus cemas dan gemeta- ran sampai ia akhirnya duduk di dalam keretanya. Teror terakhir terjadi ketika"tepat waktu keretanya mulai berjalan"ia menju- lurkan kepalanya keluar dan berkata, "Josy-phine, maukah kau...?" Aku tidak mendengar apa-apa lagi, karena langsung berbalik dan kabur; aku benar-benar lari, kemudian berbelok cepat dan menghi- lang di sudut jalan; di sana barulah aku merasa aman."



"Jo yang malang! Ia tiba di rumah seperti sedang dikejar be- ruang," ujar Beth sembari mengusap-usap kaki kakaknya dengan sikap keibuan.



"Bibi March benar-benar seperti samphire, ya?" sela Amy sam- bil mencicipi minuman buatannya dengan lagak serius.



"Yang Amy maksud pasti vampir, bukan sejenis rumput laut; tapi itu tidak penting. Cuaca ini hangat dan menyenangkan; tak ada gunanya memusingkan pilihan kata seseorang," gumam Jo.



"Apa yang akan kaulakukan selama liburan?" tanya Amy, de- ngan tangkas mengubah topik pembicaraan.



"Aku akan bersantai di tempat tidur, tidak melakukan apa pun," jawab Meg yang duduk nyaman di kursi goyang. "Aku harus bangun pagi-pagi dan bekerja keras sepanjang musim dingin, aku harus menghabiskan hari-hariku bekerja untuk orang lain; jadi, sekarang, aku akan beristirahat dan memanjakan diri sepuasnya."



"Hem!" kata Jo. "Bermalas-malasan seperti itu tidak cocok un- tukku. Aku telah memilih banyak buku, dan akan kumanfaatkan waktuku yang berharga dengan membaca, sambil duduk di dahan favoritku di pohon apel tua itu, saat aku sedang tidak ng...."



"Jangan bilang "tidak ngawur"!" tukas Amy, mencoba memba- las kritik tajam Jo tentang samphire .



"Baiklah, kalau begitu "tidak ngoceh", bersama Laurie. Kupikir istilah itu cocok dan layak, karena ia suka mengoceh."



"Tolong jangan paksa kami mempelajari apa pun untuk semen- tara waktu, Beth, mari bermain-main dan beristirahat, seperti Meg dan Jo," usul Amy.



"Yah, aku mau saja, asalkan Ibu tidak keberatan. Aku ingin mempelajari beberapa lagu baru, dan boneka-bonekaku perlu disi- apkan untuk menyambut musim panas. Penampilan mereka sung- guh memprihatinkan, dan mereka amat membutuhkan pakaian baru."



"Bolehkah begitu, Ibu?" tanya Meg, sambil berpaling ke arah Mrs. March yang duduk sambil menjahit di tempat yang mereka namai "sudut Marmee".



"Boleh saja kalian bereksperimen selama satu minggu, dan nan- ti kalian lihat sendiri apakah kalian menyukainya. Kurasa, pada Sabtu malam, kalian akan merasa bahwa hanya bermain tanpa be- kerja, sama tidak enaknya dengan melulu bekerja tanpa bermain."



"Oh, kurasa tidak begitu! Aku yakin pasti akan mengasyik- kan," ujar Meg dengan nada puas.



"Mari kita bersulang, seperti yang dikatakan "teman dan rekan- ku, Sairy Gamp." Selamanya bersenang-senang, tak kenal susah hati," seru Jo, berdiri dengan gelas di tangan, sementara minuman lemon diedarkan.



Mereka semua minum dengan gembira dan memulai masa eksperimen dengan bersantai sepanjang sisa hari itu. Keesokan paginya, Meg baru muncul pada pukul sepuluh. Sarapan yang disantapnya sendirian tidak terasa nikmat, ruangan terasa sunyi dan tampak berantakan karena Jo tidak mengisi vas-vas bunga, Beth tidak membersihkan debu, dan buku-buku Amy berserakan di mana-mana. Semuanya benar-benar berantakan dan tidak me- nyenangkan, kecuali "sudut Marmee" yang tampak seperti biasa. Di sanalah Meg duduk untuk "beristirahat dan membaca", yang berarti banyak menguap dan mengkhayalkan baju-baju musim panas yang cantik, yang ingin dibelinya dengan upahnya sepan- jang musim dingin lalu. Jo menghabiskan pagi itu di sungai ber- sama Laurie. Pada sore hari, ia membaca The Wide, Wide World, dan menangis terharu, sembari duduk di dahan pohon apel. Beth mengawali harinya dengan membongkar isi lemari besar, tempat boneka-bonekanya disimpan. Akan tetapi, belum sampai separuh- nya selesai, ia merasa bosan, dan meninggalkan tempat itu dalam keadaan tidak keruan. Beth lantas memilih bermain musik, me- nikmati dirinya yang tidak harus mencuci piring. Amy menata pergolanya, mengenakan baju putihnya yang terbaik, merapikan rambut ikalnya, kemudian duduk menggambar di bawah bunga- bunga honeysuckle. Ia berharap seseorang akan memperhatikannya dan bertanya mengenai dirinya, sang artis muda. Akan tetapi, ti- dak seorang pun muncul, hanya ada seekor laba-laba berkaki pan- jang yang mengamati gambarnya lekat-lekat. Amy pun pergi ber- jalan-jalan, terjebak dalam guyuran hujan dan tiba di rumah dalam keadaan basah kuyup.



Pada waktu minum teh sore, mereka membandingkan penga- laman masing-masing, dan semua sependapat hari itu menyenang- kan, walaupun terasa lebih panjang dari biasanya. Sore hari itu, Meg pergi berbelanja dan membeli "kain muslin biru yang cantik". Di rumah, setelah memotong pinggirannya, Meg baru mengeta- hui bahwa warna kain itu terlalu mencolok, dan hal itu membu- atnya kesal. Sementara itu, kulit hidung Jo gosong akibat berpe- rahu sampai siang, dan kepalanya sakit luar biasa karena terlalu lama membaca. Beth cemas karena isi lemarinya berantakan dan ia tidak berhasil mempelajari tiga-empat lagu sekaligus. Amy amat menyesali bajunya yang rusak; pesta Katy Brown akan diadakan besok, padahal sekarang"seperti Flora McFlimsy"ia "tidak pu- nya pakaian untuk dikenakan." Namun, hal-hal itu mereka ang- gap bukan masalah besar, dan mereka semua meyakinkan Marmee bahwa eksperimen hari itu berlangsung lancar. Mrs. March terse- nyum, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kemudian, diban- tu Hannah, ia mengerjakan tugas-tugas yang ditinggalkan anak- anaknya, menjaga rumah agar tetap rapi, dan memastikan kegiatan di rumah terus berjalan. Sunggguh luar biasa betapa "beristirahat dan memanjakan diri" mampu menghasilkan situasi yang tidak wajar dan tidak nyaman. Hari-hari terasa kian panjang dan lama; cuaca berganti-ganti di luar kebiasaan, begitu pula dengan suasana hati keempat gadis itu. Perasaan gelisah bersemayam di dalam hati mereka, karena tangan-tangan yang tidak punya kesibukan adalah sasaran empuk sang iblis. Di tengah kemewahan karena tersedia- nya waktu luang, Meg mengeluarkan beberapa jahitannya. Merasa waktu berjalan begitu lamban, ia malah sibuk membongkar dan mengubah pakaian-pakaiannya, berusaha membentuk baju-baju- nya menyerupai gaya keluarga Moffat. Jo membaca sampai kedua matanya menyerah dan ia merasa muak terhadap buku-buku. Ke- gelisahannya memuncak, sampai Laurie pun, yang berwatak peri- ang, bertengkar dengannya. Semangat Jo memudar begitu rupa. Di tengah keputusasaannya ia bahkan merasa menyesal karena tidak ikut pergi bersama Bibi March. Beth bertahan cukup baik, karena ia terus-menerus lupa bahwa peraturannya adalah hanya bermain, tanpa bekerja sehingga, sesekali, ia kembali melakukan pekerjaan yang biasa ia lakukan. Tetapi, suasana di rumah memengaruhinya. Lebih dari satu kali, ketenangannya terusik. Begitu terganggunya Beth sampai-sampai, pada suatu ketika, ia mengguncang-guncang Joanna yang malang, dan mengatakan bahwa boneka itu "menye- balkan". Kondisi Amy adalah yang terburuk, karena ia tidak punya banyak hal untuk menyibukkan diri. Saat semua saudaranya pergi dan ia harus mengurus serta menghibur dirinya sendiri, Amy se- gera merasa terbebani oleh citra dirinya sebagai anak yang sukses dan penting. Amy tidak suka boneka; dongeng dianggapnya kekanak-kanakan, dan menggambar sepanjang hari tidaklah mung- kin. Pesta-pesta minum teh tidak terlalu menghibur, begitu juga acara piknik, kecuali jika semuanya dipersiapkan dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. "Kalau saja aku tinggal di rumah yang indah, bersama gadis-gadis baik, atau bisa bepergian, musim panas pastilah menyenangkan; namun, tinggal di rumah bersama tiga ka- kak yang egois, dan teman lelaki yang telah dewasa, adalah cobaan yang cukup berat bagi kesabaran seorang Boaz sekalipun," keluh Miss Malaprop1 setelah melalui beberapa hari yang dihabiskan de- ngan bersenang-senang, mengomel dan mengeluh, dan perasaan yang benar-benar muak karena amat sangat bosan.



Tidak ada yang mau mengakui bahwa mereka bosan dengan eksperimen mereka sendiri. Tetapi, begitu Jumat malam tiba, ma- sing-masing mengatakan kepada diri sendiri betapa lega mereka karena pekan itu akan segera berakhir. Berharap bisa membuat pelajaran itu membekas lebih dalam, Mrs. March, dengan sele- ra humornya yang besar, bertekad mengakhiri masa eksperimen itu dengan cara yang tepat. Hari itu, ia memberikan libur kepada Hannah, dan membiarkan anak-anaknya menikmati semua akibat dari eksperimen mereka.



Saat anak-anak bangun pada hari Sabtu pagi, tidak ada api me- nyala di dapur, tidak ada sarapan di ruang makan, dan ibu mereka tidak terlihat di mana pun.



"Ya, ampun! Apa yang terjadi?" jerit Jo, menatap ke sekeliling dengan panik.



Meg berlari ke atas, lalu segera kembali ke bawah, tampak lega, namun juga bingung, dan sedikit malu.



1Miss Malaprop: seorang tokoh novel fiktif yang digambarkan sering salah kata, seperti Amy dalam kisah ini.



"Ibu tidak sakit, hanya amat letih. Katanya ia akan beristirahat di kamarnya sepanjang hari ini, serta membiarkan kita melaku- kan apa saja sebisa kita. Agak aneh melihat Ibu yang tidak seperti biasanya; tetapi, katanya, pekan ini sangat berat baginya, jadi kita tidak boleh bersungut-sungut, dan harus mengurus diri sendiri."



"Itu takkan sulit, dan aku suka gagasan itu; aku sudah tak sabar ingin melakukan sesuatu"maksudku, sesuatu yang menghibur," tambah Jo cepat-cepat.



Sebenarnya, memang sangat melegakan bagi mereka bahwa akhirnya ada sesuatu yang bisa dikerjakan. Mereka menyambut tugas itu dengan penuh tekad, walaupun tidak lama kemudian membuktikan sendiri kebenaran kata-kata Hannah, "Mengurus rumah bukan pekerjaan remeh." Ada banyak bahan makanan di lemari dapur. Sementara Amy dan Beth menata meja, Meg dan Jo menyiapkan sarapan sembari bertanya-tanya, mengapa para pelayan tidak pernah bercerita mengenai betapa berat pekerjaan mereka.



"Akan kubawakan sedikit teh untuk Ibu, meskipun katanya kita tidak perlu memusingkan Ibu, karena ia bisa mengurus diri- nya sendiri," kata Meg, mengambil alih kendali, dan merasa bagai- kan seorang ibu sejati ketika menyiapkan teh.



Sebelum adik-adiknya sempat turun tangan, Meg telah menyi- apkan sebuah nampan. Jo mengantarkannya ke atas. Di nampan itu tertata sajian sang koki: secangkir teh yang terlalu pahit, te- lur dadar hangus, dan biskuit-biskuit yang memperlihatkan bin- tik-bintik tepung soda. Meski begitu, Mrs. March menerimanya dengan ucapan terima kasih, lalu tertawa lepas setelah Jo keluar.



"Anak-anak malang, mereka pasti merasa kesulitan. Tapi, me- reka tidak akan menderita, dan hal ini justru bermanfaat," kata- nya, kemudian mengeluarkan simpanan makanannya sendiri yang lebih menarik selera. Ia lalu menyembunyikan sarapan yang tidak enak itu, agar perasaan anak-anaknya tidak terluka"kebohongan kecil seorang ibu, yang kelak akan disyukuri anak-anaknya.

__ADS_1



Di bawah, banyak protes terlontar, sementara sang koki merasa kesal karena malu akan kegagalannya.



"Tidak masalah, akan kuurus makan siang dan aku akan men- jadi pelayan; silakan kau menjadi nyonya rumah, jaga agar tangan- mu tetap bersih, awasi yang lain, dan berikan perintah," ujar Jo, yang pengetahuannya soal masak-memasak sesungguhnya lebih sedikit daripada Meg.



Tawaran yang menyerupai perintah itu diterima dengan se- nang hati. Margaret pergi ke ruang duduk, kemudian dengan ce- katan merapikannya. Ia menyapu debu dari bawah sofa lalu menu- tup tirai untuk menghindari kerepotan membersihkan debu yang masuk lewat jendela. Jo, berbekal keyakinan sempurna akan ke- mampuannya, dan keinginan untuk berbaikan setelah bertengkar, segera menaruh pesan singkat di kantor pos untuk mengundang Laurie makan siang.



"Seharusnya kaulihat dulu makanan apa yang bisa kausajikan sebelum mengundang tamu," komentar Meg ketika diberitahu tentang tindakan Jo yang murah hati namun ceroboh.



"Oh, ada daging kornet, dan banyak kentang. Aku akan mem- beli asparagus dan seekor lobster, "untuk santapan utama," begitu istilah Hannah. Kita juga akan menyediakan selada untuk mem- buat salad; aku tidak tahu caranya, tetapi, kan, di buku masak ada resepnya. Akan kusiapkan juga puding blanc-mange dan stroberi untuk hidangan pencuci mulut; juga kopi, jika kau mau sedikit bergaya."



"Jangan coba-coba terlalu banyak, Jo. Selain roti jahe dan gu- lali, tidak ada masakanmu yang layak untuk dimakan. Aku lepas tangan dari acara makan siang ini; dan karena kau telah mengundang Laurie atas inisiatifmu sendiri, maka sekalian saja kauurus dia juga."



"Kau tidak perlu melakukan apa pun selain bersikap cerdas di hadapannya, juga membantuku membuat puding. Kalau aku me- nemui kesulitan, kau mau, kan, memberiku nasihat?" tanya Jo, se- dikit tersinggung.



"Ya, tapi aku juga tidak tahu banyak, kecuali soal roti, dan se- dikit hidangan penutup. Seharusnya, kau minta izin Marmee sebe- lum memesan apa pun," jawab Meg dengan sikap bijak.



"Tentu saja itu akan kulakukan, aku tidak bodoh," dan Jo pun pergi ke atas dengan hati dongkol karena kemampuannya diragu- kan.



"Belilah apa yang kauperlukan, dan jangan ganggu aku; aku akan pergi makan siang, jadi tidak bisa memikirkan keadaan di rumah," kata Mrs. March, ketika Jo berbicara dengannya. "Aku tidak pernah suka mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan aku memutuskan untuk berlibur hari ini. Aku akan membaca, menulis, berkunjung ke rumah teman, dan bersenang-senang."



Melihat ibunya duduk nyaman di kursi goyang dan memba- ca di pagi hari membuat Jo merasa seakan-akan sebuah fenomena alam sedang berlangsung, karena gerhana, gempa bumi, atau le- tusan gunung berapi pun tidak mungkin tampak lebih aneh diban- dingkan apa yang dilihatnya saat itu.



"Semua aneh hari ini, tidak seperti biasa," kata Jo dalam hati sambil berjalan menuruni tangga. "Beth menangis; tanda yang je- las bahwa ada yang salah di keluarga ini. Jika Amy mengganggu- nya, akan kudamprat anak itu."



Kemudian, Jo, yang juga merasa tidak seperti biasanya, berge- gas masuk ke ruang duduk. Ia melihat Beth sedang terisak-isak menangisi Pip, si burung kenari, yang terbaring mati di sangkar- nya. Cakar-cakar kecilnya terjulur memelas, seolah-olah sedang memohon diberi makan, dan memang karena itulah burung itu mati.



"Ini salahku"aku melupakannya"tidak ada satu biji pun atau setetes air pun"oh, Pip! Oh, Pip! Bagaimana mungkin aku begitu kejam terhadapmu?" isak Beth, menaruh makhluk malang itu di tangannya, dan mencoba membangunkannya.



Jo memeriksa satu mata Pip yang setengah terbuka, meraba de- tak jantungnya. Burung itu kaku dan terasa dingin. Jo menggeleng, lalu memberikan kotak domino miliknya untuk digunakan sebagai peti mati.




"Ia kelaparan, ia tidak boleh dipanggang, ia sudah mati. Akan kubuatkan kain pembungkus, dan akan kubuatkan makam untuk- nya. Aku tidak akan memiliki burung lagi, tidak akan, Pip! Aku pemilik hewan yang buruk," gumam Beth, duduk di lantai dengan hewan peliharaannya terlipat di tangan.



"Pemakaman akan berlangsung sore ini, dan kita semua akan hadir. Nah, jangan menangis lagi, Bethy; memang menyedihkan, tetapi semua benar-benar kacau, tidak ada yang berjalan benar pe- kan ini, dan Pip mengalami akibat terburuk dari eksperimen kita. Buatlah kain pembungkus itu, lalu letakkan Pip di dalam kotakku. Setelah makan siang, kita akan mengadakan pemakaman yang la- yak," ujar Jo. Ia mulai merasa kewalahan.



Membiarkan Meg dan Amy menghibur Beth, Jo pergi ke da- pur yang berada dalam kondisi kacau-balau. Mengenakan celemek besar, Jo segera mulai bekerja. Ia sedang menumpuk piring-piring yang harus dicuci ketika melihat api di tungku telah mati.



"Hmm... bagus, bagus!" dengus Jo. Ia membuka pintu tungku, lalu menusuk-nusuk tumpukan kayu bakar dengan bersemangat.



Setelah api menyala kembali, Jo berpikir sebaiknya ia pergi ke pasar sementara menunggu air mendidih. Berjalan kaki ke pasar membangkitkan semangatnya. Kemudian, sambil memuji dirinya karena telah berhasil menawar dengan baik, Jo pulang membawa lobster yang masih amat muda, beberapa asparagus tua, dan dua paket stroberi asam. Saat semua bahannya siap, tamu-tamu ber- datangan. Tungku telah panas membara. Hannah meninggalkan seloyang adonan roti untuk dibiarkan mengembang. Pagi tadi Meg menguleni adonan itu lalu meletakkannya di dekat tungku agar semakin mengembang, tapi ia sama sekali lupa mengeceknya. Meg sedang mengobrol dengan Sallie Gardiner di ruang duduk ketika pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka dengan keras, dan sesosok ma- nusia berlapis tepung, kotor, kesal, dan berantakan muncul... ber- tanya dengan nada menuntut dan suara masam,



"Hai! Apakah roti sudah cukup mengembang jika adonannya luber keluar loyang?"



Sallie tertawa, namun Meg mengangguk dan mengangkat alis- nya setinggi mungkin, membuat sosok itu berbalik, menghilang dengan cepat, kemudian meletakkan adonan roti itu ke dalam oven tanpa menunggu-nunggu lagi. Lalu, tiba waktunya Mrs. March pergi. Sebelumnya, ia mengintip dulu ke sana kemari untuk me- meriksa situasi. Ia juga menghibur Beth, yang sedang duduk mem- buat kain pembungkus, sementara makhluk yang telah menemui ajalnya itu terbaring di dalam kotak domino. Saat sosok bertopi abu-abu itu menghilang di sudut jalan, perasaan tidak berdaya yang aneh menjalari hati para gadis, dan keputusasaan menyergap mereka ketika, beberapa menit kemudian, Miss Crocker tiba, dan berkata ia ingin menghadiri acara santap siang. Miss Crocker ada- lah seorang perawan tua bertubuh kurus, berhidung lancip, dengan sepasang mata yang penuh rasa ingin tahu dan mampu melihat apa saja. Ia suka sekali bergosip tentang apa pun yang ia lihat. Keempat gadis itu tidak menyukainya, namun mereka telah diajarkan untuk bersikap baik kepadanya, hanya karena ia tua, miskin, dan hanya memiliki sedikit teman. Jadi, Meg mempersilakannya du- duk di kursi empuk, dan mencoba menemaninya, sementara Miss Crocker bertanya ini-itu, mengkritik banyak hal, dan bercerita me- ngenai orang-orang yang dikenalnya.



Tidak ada kata yang bisa menggambarkan kerisauan, penga- laman, dan kelelahan yang dilalui Jo pagi itu; dan masakan yang dihidangkannya benar-benar menjadi lelucon. Enggan meminta nasihat lebih banyak, Jo melakukan semuanya semampunya sen- diri, dan ia menyimpulkan bahwa diperlukan lebih dari tenaga dan niat baik untuk memasak bagi seisi rumah. Ia merebus asparagus sampai keras selama satu jam, dan terperangah saat melihat pu- cuk asparagus hancur, sementara batangnya bertambah keras. Roti dipanggang hingga gosong; saus salad membuat Jo gusar, dan ia mengacuhkan masakan yang lain, sampai ia yakin ia tidak akan mampu membuat saus itu layak untuk dimakan. Lobster merupa- kan misteri besar bagi Jo. Ia memukul-mukulkan lobster itu dan menusuk-nusuknya sampai cangkangnya terlepas, dan dagingnya yang tidak seberapa disembunyikannya di balik daun-daun sela- da. Kentang-kentang dimasak terburu-buru, agar asparagus tidak terlalu lama menunggu, dan pada akhirnya dihidangkan sebelum matang. Puding blanc-mange menggumpal, sementara buah-buah stroberi yang sebenarnya belum matang tidak tampak lebih memi- kat walaupun telah melalui "penataan" yang ahli.



"Yah, mereka bisa makan daging kornet, roti, dan mentega, jika lapar; tapi, sungguh mengerikan menghabiskan sepanjang pagi dengan sia-sia seperti ini," pikir Jo, sembari membunyikan bel se- tengah jam lebih lambat dari biasa. Ia berdiri kepanasan, letih, dan loyo setelah sepagian sibuk di dapur. Ia mengamati santapan yang tersedia untuk Laurie, yang terbiasa dengan segala bentuk keanggunan, dan Miss Crocker, dengan kedua matanya yang dengan ce- pat menangkap kegagalan, serta lidah cerewetnya yang akan me- ngabarkan kejadian hari ini ke segala penjuru.



Jo yang malang. Andaikan bisa, dengan senang hati ia akan ber- sembunyi di bawah meja, ketika satu demi satu makanannya dici- cipi. Amy terkikik, Meg tampak tertekan, Miss Crocker mengeru- cutkan bibirnya, sementara Laurie mengoceh dan tertawa seriang mungkin. Ia berusaha keras agar suasana makan siang yang gagal itu menjadi sedikit ceria. Keunggulan Jo adalah buah-buahnya, ka- rena ia telah membubuhkan gula banyak-banyak, dan menambah- kan seteko krim kental sebagai sausnya. Pipinya yang panas men- dingin sedikit, dan ia menarik napas panjang saat piring-piring kecil cantik diedarkan, sementara semua orang menatap penuh syukur ke arah hidangan yang menyerupai pulau berwarna me- rah, mengambang di atas lautan krim. Miss Crocker adalah yang pertama mencicipinya. Wajahnya mengernyit, dan ia buru-buru meminum air putih. Jo lantas melirik ke arah Laurie. Kawannya itu sedang mengunyah dengan sikap tegar, meskipun sudut-sudut mulutnya mengerut, dan ia mempertahankan pandangannya ke arah piringnya. Jo sendiri menolak untuk mencicipi karena kha- watir hidangan itu tidak akan cukup untuk para tamu. Ia melihat hidangan itu menyusut cepat setelah semua mengambil bagian- nya. Amy, yang senang dengan hidangan berpenampilan indah, mengisi sendoknya penuh-penuh, menyembunyikan wajahnya ke balik serbet, lantas cepat-cepat meninggalkan meja makan.



"Oh, ada apa?" seru Jo, gemetar.



"Garam, bukan gula, dan krimnya asam," kata Meg dengan gaya dramatis.



Jo mengerang, lalu melempar dirinya ke kursi; ia teringat bah- wa tadi ia memberikan siraman bubuk terakhir ke atas stroberi dari salah satu wadah bubuk yang ada di meja dapur tanpa memperhatikan isinya, dan tadi ia lupa menyimpan susu cair di lemari pendingin. Rona merah tua menjalari wajahnya, Jo hampir mena- ngis, tapi pandangannya bersitatap dengan mata Laurie, yang tetap tampak ceria walaupun telah berusaha keras memakan stroberi itu. Sisi konyol situasi tersebut tiba-tiba membuat Jo merasa geli, dan ia pun tertawa sampai air matanya keluar. Akhirnya semua ikut tertawa, termasuk "Miss Croaker", begitu gadis-gadis itu menju- luki si perawan tua. Acara santap siang itu berakhir menyenang- kan, dengan roti dan mentega, buah zaitun, dan hal-hal seru.



"Rasanya aku tidak kuat kalau harus membereskan meja seka- rang juga, jadi mari kita luruskan pikiran dengan sebuah pema- kaman," kata Jo, saat mereka semua bangkit, dan Miss Crocker bersiap pulang dengan penuh semangat, tak sabar ingin segera menceritakan pengalamannya hari itu di ruang makan temannya yang lain.

__ADS_1



Demi Beth, mereka semua bersikap serius. Laurie menggali lubang di bawah tumbuhan pakis di semak-semak. Diiringi butir- butir air mata, pemiliknya yang berhati lembut membaringkan Pip kecil di dalam lubang itu, lalu menutupi gundukan tanah itu dengan lumut, sementara sekumpulan bunga violet dan chickweed digantungkan di atas batu nisan yang ditulisi kata-kata kenangan yang tadi dikarang Jo, sembari ia berjuang menyiapkan hidangan santap siang,



"Di sini berbaring Pip March,



Wafat pada tanggal 7 Juni,



Dicintai dan diratapi dengan sungguh-sungguh,



Dan akan selamanya berada di hati."



Setelah upacara selesai, Beth pergi ke kamarnya, kewalahan oleh emosinya yang campur aduk dan hidangan lobster tadi. Namun, tidak ada tempat baginya untuk menyepi dan beristirahat, karena tempat tidur belum dibereskan. Maka Beth pun melampi- askan rasa dukanya dengan memukuli bantal-bantal dan menata kamarnya. Meg membantu Jo membersihkan sisa-sisa acara san- tap siang. Kegiatan itu menghabiskan separuh sore mereka dan membuat keduanya begitu lelah hingga mereka sepakat untuk me- nikmati teh dan roti bakar sebagai hidangan makan malam. Lau- rie mengajak Amy berkeliling naik kereta, suatu tindakan yang tepat, karena krim asam tadi sepertinya memberi efek buruk pada perangai Amy. Mrs. March pulang, menemukan ketiga putrinya yang tertua bekerja keras di sore hari. Sedikit lirikan ke arah le- mari memberinya gambaran akan keberhasilan satu bagian dalam eksperimen mereka.



Sebelum para ibu rumah tangga itu bisa beristirahat, bebera- pa orang datang bertamu, lantas timbul kehebohan untuk bersiap sebelum menemui mereka; lalu, teh harus disiapkan, beberapa hi- dangan harus dibeli; sejumlah jahitan harus diselesaikan, walau- pun yang terakhir ini bisa ditunda hingga saat-saat terakhir. Senja datang, membawa embun dan ketenangan. Satu demi satu, para gadis March berkumpul di beranda, tempat kuntum-kuntum ma- war bulan Juni mekar dengan cantiknya. Masing-masing menge- rang dan mengembuskan napas ketika duduk, seakan-akan mereka dilanda keletihan ataupun kekhawatiran.



"Betapa kacaunya hari ini!" Jo membuka percakapan, seperti biasa.



"Rasanya tidak sepanjang biasanya, tetapi sangat tidak nya- man," sahut Meg.



"Tidak terasa seperti di rumah kita," tambah Amy.



"Tidak mungkin terasa seperti rumah kita tanpa Marmee dan Pip," keluh Beth, melirik, dengan mata berkaca-kaca, ke arah sang- kar kosong di atas kepalanya.



"Ibu sudah datang, Sayang, dan kau boleh memiliki seekor bu- rung lagi besok, kalau kau menginginkannya."



Sambil berkata demikian, Mrs. March mendekat lalu duduk di antara mereka, tampak seperti telah mengalami hari yang berjalan tidak lebih menyenangkan ketimbang hari anak-anaknya.



"Nah, Anak-Anak, apakah kalian puas dengan eksperimen ka- lian, ataukah kalian ingin menambah satu pekan lagi?" tanyanya, sementara Beth bersandar kepadanya, dan ketiga wajah lain ber- paling ke arahnya dengan ekspresi cerah, layaknya bunga-bunga yang mengarahkan kelopaknya ke matahari.



"Aku tidak mau!" kata Jo tegas.



"Aku juga tidak," kata yang lain.



"Jadi, menurut kalian, lebih baik memiliki sedikit tugas, dan hidup berbagi dengan orang lain, begitu?"



"Bermalas-malasan dan hanya berbuat iseng sungguh tidak enak," kata Jo sambil menggeleng-geleng. "Aku bosan begitu, dan ingin segera melakukan sesuatu."



"Mungkin kau telah belajar mengolah masakan sederhana; itu adalah pelajaran penting yang harus menjadi bekal setiap perem- puan," sahut Mrs. March, lalu tertawa keras membayangkan pesta makan siang Jo; ia telah bertemu dengan Miss Crocker, dan men- dengar darinya tentang apa yang terjadi.



"Ibu! Apakah kau sengaja pergi meninggalkan kami, hanya un- tuk melihat bagaimana jadinya kami?" seru Meg, yang sejak pagi telah curiga.



"Ya. Aku ingin kalian menyadari bahwa kenyamanan kita bergantung pada apakah setiap orang melakukan bagian tugasnya dengan sungguh-sungguh. Sementara Hannah dan aku menger- jakan semua tugas kalian, hari-hari kalian tetap berjalan lancar, walaupun kupikir kadang-kadang kalian tidak terlalu gembira atau tidak bersikap baik. Jadi, kupikir, sebagai sedikit pelajaran,



aku ingin menunjukkan apa yang terjadi jika semua orang hanya memikirkan dirinya sendiri. Kuharap sekarang kalian tahu bahwa lebih menyenangkan untuk saling menolong, untuk mengerjakan tugas-tugas harian yang akan membuat acara bersantai terasa ma- nis saat waktunya tiba, untuk membantu ataupun menahan diri, agar rumah terasa nyaman dan menyenangkan bagi kita semua?"



"Ya, Ibu, ya!" seru anak-anak itu.



"Sebab itu, kusarankan kalian mengerjakan lagi tugas-tugas kecil kalian; memang ada kalanya itu terasa berat, namun tugas- tugas itu membawa manfaat, dan akan terasa ringan setelah kita mengetahui cara memikulnya. Bekerja adalah sesuatu yang sehat, dan ada banyak pekerjaan untuk semuanya; bekerja mencegah ke- bosanan dan kenakalan; baik untuk tubuh dan jiwa, serta memberi kita kekuatan dan kemandirian yang lebih baik ketimbang uang atau pakaian."



"Kami akan bekerja serajin lebah, dan menyukainya; lihat saja nanti!" kata Jo. "Sebagai tugas liburan, aku akan mempelajari ma- sakan-masakan sederhana; acara makan-makan berikutnya pasti sukses."



"Aku akan membuatkan setelan kemeja untuk Ayah, Marmee tidak perlu melakukannya. Aku bisa, dan aku akan melakukannya, meskipun menjahit bukan kegiatan kesukaanku; tapi, tentu lebih baik begitu ketimbang mengurusi barang-barangku sendiri, yang kelihatannya sudah cukup baik," ujar Meg.



"Aku akan belajar setiap hari, dan tidak menghabiskan terlalu banyak waktu untuk bermain musik dan boneka-boneka. Aku ini bodoh, sehingga harus belajar, bukan bermain," demikian tekad Beth; sementara, Amy mengikuti contohnya dan mengumumkan dengan penuh gaya, "Aku akan belajar membuat lubang kancing dan memperbaiki pilihan kataku."



"Bagus sekali! Dengan begitu, aku pun puas dengan eksperimen ini, dan aku yakin kita tidak perlu mengulanginya; hanya saja, ka- lian tidak perlu bekerja habis-habisan seperti budak. Seimbangkan saja waktu bekerja dan bermain; jadikan setiap hari berguna seka- ligus menyenangkan, dan buktikan bahwa kalian memahami nilai waktu dengan memanfaatkannya sebaik mungkin. Maka, masa muda akan berlalu penuh kesan, masa tua tidak diwarnai penyesal- an, dan hidup akan membawa keberhasilan yang indah, meskipun di tengah kekurangan."



"Akan kami ingat, Ibu!" dan itulah yang mereka lakukan.


__ADS_1



__ADS_2