
"Waduh! Apa yang akan kamu lakukan, Jo?" tanya Meg di suatu sore bersalju begitu melihat Jo muncul dari gudang dengan sepatu karet, ransel tua, dan topi anehnya.
Jo melempar sapu pengeruk salju dari satu tangan ke tangan lainnya. "Aku mau berlahraga dan cari gara-gara," jawab Jo jail sambil melesat ke luar pagar.
Meg hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu kembali ke dalam rumah untuk meneruskan tugasnya.
Jo mulai mengeruk salju di halaman rumahnya. Ketika sampai di pagar pembatas, Jo berhenti dan menatap bangunan megah tetangganya yang terlihat sepi. Seolah-olah, tidak ada kehidupan dari sana. Aku ingin sekali bertemu dengan Lawrence/Ryan. Kasian ... anak kurang gaul itu pasti ingin bersenang-senang dan bermain dengan yang lain. Tapi, kakeknya yang galak terus menerus mengurungnya, kata Jo dalam hati dengan perasaan iba. Tiba-tiba, Jo melihat Ryan di balik jendela lantai dua. Jo langsung membuat bola salju dan melemparkannya ke jendela itu. Pletak! Untung, kacanya tidak pecah.
Sosok di balik jendela itu terlihat kaget. Dia mengelus dadanya seolah sedang terkena serangan jantung.
"Hai, hai! Selamat sore, Pemuda Malang yang kesepian! Apa kabarmu? Kamu sakit, ya?!" teriak Jo.
Ryan membuka jendela dan berteriak serak seperti gagak, tapi matanya berbinar senang, "Baik! Tapi, aku kena flu berat dan harus mengurung diri selama seminggu."
"Kasihan! Tidak adakah seseorang yang bisa menemanimu?" Ujar Jo iba.
Ryan menjawab sembari bersin, "paling kakek dan guruku. Tapi, kadang-kadang mereka membosankan."
__ADS_1
"Tidak adakah seorang gadis manis yang bisa membacakan buku dan menghiburmu?" Jo mulai mencai perhatian.
"Aku belum begitu kenal dengan orang-orang di lingkungan ini," jawab Ryan datar.
"Kamu, kan, kenal kami!" Kata Jo mulai nakal, lalu tertawa.
"Apa kamu mau berkunjung ke rumah ku?" Ryan bertanya. "Aku bukan gadis manis, lho! Tapi, tawaran mu boleh juga. Tunggu sebentar, aku harus minta izin kepada mamaku dulu."
Bel tamu keluarga Lawrence berbunyi keras dan sebuah suara tefas menanyakan tuan Ryan. Si pelayan yang membukakan pintu, tampak terkejut dan bertanya-tanya dalam hati, seorang gadis muda ingin bertemu tuan Ryan? Jarang-jarang!
"Baik, persilahkan dia masuk. Itu Nona Jo," kata Ryan ketika si pelayan memberitahunya.
Mata Ryan berbinar-binar.
"Wow! Kamarmu besar dan indah sekali! Koleksi bukumu juga banyak! Aku bacakan satu, ya?" Kata Jo terkagum-kagum.
"Terima kasih! Tapi, aku sudah membaca semuanya. Lagi pula, aku lebih suka mengobrol denganmu," jawab Ryan.
__ADS_1
Jo terlihat kebingungan, "Wah, kacau. Kata beth, kalau sudah ngomong, aku susah berhenti,"
"Apakah Beth itu pipinya merah jamu dan kalau keluar sering membawa keranjang bunga?" Tanya Ryan penuh minat.
"Yap! Dia pendiam, tapi sangat baik," jawab Jo.
"Aku yakin, yang paling cantik itu namanya Meg dan Amy yang rambutnya ikal," tebak Ryan.
"Lho, kok, tahu?" Jo terpanah.
Wajah Ryan tiba-tiba memerah. "Hm... soalnya, aku sering mendengar kalian saling memanggil. Kalian selalu tampak ceria, maafkan aku kalau kamu menganggap ini tidak sopan. Tapi...kadang-kadang kalian lupa menutup gorden jendela yang ada di atas bunga-bunga itu. Jadi, ketika lampu-lampu dirumah mu menyala, aku dapat melihat perapian dengan jelas dan bagaimana kalian duduk mengelilingi meja makan. Wajah Mamamu persis menghadap ku, aku tidak tahan untuk terus memandanginya. Kamu tahu, aku sudah tidak punya Mama lagi," kata Ryan dengan nada sedih. Matanya yang tampak sepi langsung menusuk jantung Jo yang hangat.
Jo melanjutkan pembicaraan, "kalau begitu, kami tidak akan membuka gorden itu lagi. Jadi, kamu bisa memandanf pertemuan kami dengan sepuas hati. Tapi, dari pada mencuri lihat seperti itu, sebaiknya kamu datang saja kerumah kami. Semua pasti senang. Hanya, apakah kakekmu akan mengizinkan?"
"Kakekku baik kok," kata Ryan sambil menunjuk lukisan di dinding perpustakaan. "Eh, mata kakekmu terlihat ramah ya?" Pasti orang nya ramah sekali. Aku jadi tidak merasa takut lagi kepadanya. Aku bahkan mulai menyukainya!"
"Terima kasih, Nona kecil. Aku jauh lebih baik dari yang kamu kira," kata sebuah suara yang tiba-tiba dari belakang, itu adalah suara kakek Jhoon.
__ADS_1
"Kalau begitu, ayo, kita minum teh bersama sambil ngobrol-ngobrol di ruang tamu," kata kakek Jhoon. Ketika tiba di ruang tamu, mata Jo langsung tertuju pada sebuah piano besar yang mengkilap indah. "Andai saja Beth datang kesini, dan diperbolehkan memainkan piano ini."
Mereka pun mulai berbincang-bincang dan semakin akrab. Seketika, "Hai... Ryan? Bisakah kau memainkan piano ini?!" "Yaa!" Ryan terkejut. "Cobalah bermain untuk ku! Aku ingin mendengarnya," Jo merajuk. "Kakek tidak suka jika aku bermain ini" bisisk Ryan sambil menatap ke arah kakek yang sedang menyeruput teh.