
Josephine atau Jo adalah gadis pertama yang bangun di pagi natal. Kaus kaki yang biasa tergantung tidak ada satu pun yang ada di depan perapian. Ia merasa kecewa karena itu berarti tidak ada hadiah di hari natal. Tidak lama ia kecewa Jo kembali kedalam kamar nya untuk tidur kembali sambil menyelip kan tangan nya di bawah bantal "Wah, apa ini?!" Pekik Jo heran. Dia menarik suatu kotak dari bawah bantal nya: Sebuah buku bersampul merah tua. Dia sangat hafal isi buku tersebut ceritanya sangat menarik dan klasik.
Ternyata, ketiga saudarinya juga mendapatkan buku yang sama namun berbeda warna.
Di lembaran pertama terdapat tulisan Mama yang membuat buku itu sangat berharga dan istimewa.
"Adik-adikku" kata Meg sambil menatap ke tiga saudari nya yang masih terkantuk-kantuk. "Mama selalu menginginkan kita agar merawat dan membaca buku ini, oleh karena itu mulai sekarang kita harus menyayangi buku ini dan merawat nya dengan baik." "Baik Meg kami akan menjaga buku ini dengan baik" (Jo,Beth,Amy) Serempak. Kemudian Meg membuka buku baru nya dan mulai membaca. Jo melingkarkan lengan nya ke lengan Meg. Mereka duduk bersisihan dan membaca bersama sama. "Eh, Mama mana?" Tanya Meg.
__ADS_1
"Oh, Mama kalian sepertinya sedang keluar sebentar tadi, ada orang yang sedang membutuh kan pertolongan nya. Aku belum pernah bertemu dengan orang yang begitu baik seperti Mama kalian," kata Hannah. Pembantu yang sudah di anggap keluarga.
Mereka pun segera mempersiap kan hadiah yang yang sudah di rencanakan untuk Mama. Ketika Mama masuk kedalam ruangan, keempat gadis itu langsung bersorak, "Selamat Natal, Mama! Terimakasih hadiah buku nya! Dan ini untuk Mama!"
"Oh, terima kasih, Gadis-Gadis kecilku! Tapi sebelum sarapan, Mama ingin menyampai kan sesuatu.... Tidak jauh dari rumah kita, ada seorang ibu beserta enam anak nya yang masih kecil-kecil. Mereka sangat kelaparan dan kedinginan karena sangat miskin dan tidak punya perapian. "Gadis-Gadis ku, mau kah kau memberikan sarapan beserta beberapa selimut sebagai hadiah Natal?"
"Oh aku akan ikut memberikan kan beberapa barang-barang ku untuk mereka," kata Beth antusias. "Dan aku akan memberikan kue-kue kesukaan ku untuk mereka," tambah Amy.
__ADS_1
"Ya, Tuhan! Malaikat-malaikat telah datang kepada kita!" Kata ibu itu sambil menangis.
Seketika itu mata-mata sayu langsung terlihat senang dan bibir yang terlihat pucat langsung tersenyum kepada empat malaikat cantik tersebut. Keempat gadis itu tampak senang karna mereka belum pernah di panggil malaikat. Tapi, yang lebih menyenangkan adalah bisa membuat orang lain bahagia.
Malam nya, keempat gadis itu terkejut ketika melihat hidangan mewah di atas meja makan. "Ah, ini pasti kiriman dari Bibi Santi!" Kata Jo. "Salah!" Kata Mama, "hidangan ini dari Pak Jhoon tetangga kita!"
"Jhoon Boy adalah seorang kakek! Ide apa yang ada di pikiran nya? Kita tidak mengenalnya!" Seru Meg. "Hannah bilang kepada salah seorang pembantu Pak Jhoon tentang rencana pesta makan pagi ini. Beliau memang seorang yang kuno, tapi ramah. Bertaun-taun yang lalu, beliau mengenal ayah. Dan sore ini, dia mengirimkan sebuah chatatan yang santun. Dia mengatakan bahwa dia sangat berharap dapat mengungkapkan persahabatan nya kepada anak-anak ku dengan mengirimkan beberapa barang sederhana untuk menghormati hari Natal. Aku tentu tak dapat menolak kebaikan nya," kata Mama. "Aku sering melihat laki-laki itu. Aku rasa, dia baik hati! Dia orang asli daerah ini dan aku berharap dapat lebih kenal dekat dengan nya. Kelihatan nya juga dia ingin berkenalan dengan kita. Tapi, sepertinya dia segan karena sika Meg yang sangat resmi dan tak mengizinkan ku berbicara degannya ketika dia melintas," kata Jo. "Maksud Mama, orang yang tinggal di rumah besar sebelah itu, kan?" Tanya Jo. "Pak Jhoon tua itu terlalu bangga Kepada dirinya dan enggan berbaur dengan para tetangga. Dia selalu meminta cucunya untuk giat belajar," Meg menimpali. "Tapi sebenarnya, Pak Jhoon itu baik meskipun tidak pernah berbicara dengan kita," ujar Mama.
__ADS_1
"Oh, ya, kucing kita pernah kabur dan Pak Jhoon menyuruh cucunya untuk mengantarkan nya kembali ke rumah kita. Aku dan cucu nya berbincang sebentar di depan pagar. Tapi, ketika melihat Meg datang, dia langsung pergi. Aku ingin mengenal nya lebih jauh lagi. Kelihatan nya, dia butuh sekali teman bermain," kata Jo. "Mama suka dengan sopan santunnya. Dia anak laki-laki yang baik," tambah Mama sambil mencium karangan bunga. "Bunga ini cantik cantik, ya? Tapi menurut Mama, mawar mawar peliharaan Beth jauh lebih Cantik."
Beth hanya berbisik lembut, "Andai aku bisa mengirimkan seikat bunga untuk Papa."