Little Women

Little Women
Episode 13


__ADS_3

Istana-Istana Impian



Laurie berbaring santai, bergolek ke kiri dan ke kanan dalam hammock"tempat tidur gantung"pada suatu sore yang hangat di bulan September. Pikirannya melayang ke rumah tetangganya dan apa yang sedang mereka lakukan, namun ia terlalu malas un- tuk pergi dan mencari tahu. Suasana hatinya sedang tidak enak. Hari itu berjalan tanpa manfaat dan tidak memuaskan, dan Laurie berandai-andai kalau saja ia bisa mengulanginya dari awal. Cu- aca yang panas membuatnya malas. Ia melalaikan pelajarannya, menguji kesabaran Mr. Brooke hingga ambang batas, membuat ka- keknya kesal dengan bermain piano hampir sepanjang siang, dan membuat para pelayan takut setengah mati dengan mengatakan bahwa salah satu anjingnya terserang rabies. Kemudian, setelah memarahi pengurus kuda karena salah satu kudanya menurutnya kurang terawat, ia melemparkan diri ke hammock, menyumpahi ke- bodohan dunia pada umumnya, sampai kedamaian hari yang indah itu menenangkannya, meskipun sesungguhnya hatinya tetap re- sah. Sambil memandang hijaunya daun-daun pohon horse-chestnut yang rimbun di atasnya, pikirannya melayang-layang bebas. Ia sedang membayangkan dirinya berada di samudera luas dalam se- buah perjalanan mengelilingi dunia ketika suara-suara mengem- balikan dirinya ke dunia nyata. Mengintip dari balik jaring-jaring hammock-nya, ia melihat gadis-gadis March berjalan keluar, seolah- olah hendak melakukan ekspedisi.



"Apa lagi yang akan dilakukan gadis-gadis itu sekarang?" Lau- rie membatin, membuka kedua matanya yang tadinya mengantuk agar bisa melihat lebih jelas, karena dilihatnya ada sesuatu yang tidak biasa dalam penampilan para tetangganya. Masing-masing gadis itu mengenakan topi lebar yang berkibar-kibar, menyandang tas dari kain linen cokelat di satu pundak, dan menenteng tong- kat panjang. Meg membawa bantalan kursi, Jo membawa buku, Beth membawa gayung, dan Amy membawa buku gambar. Semua berjalan tanpa suara melintasi kebun, lalu keluar melalui gerbang hitam kecil, kemudian mulai mendaki bukit yang terletak di antara rumah dan sungai.



"Wah, keren!" kata Laurie kepada dirinya sendiri. "Mereka berpiknik dan tidak mengajakku. Mereka pasti tidak akan meng- gunakan perahu, karena tidak memegang kunci rumah perahu. Mungkin mereka lupa; akan kubawakan kepada mereka dan akan kulihat apa yang sedang terjadi."



Laurie punya setengah lusin topi, cukup lama ia memilih-milih sampai menemukan topi yang dianggapnya tepat. Kemudian ia mencari-cari kunci tumah perahu, yang akhirnya ia temukan di da- lam sakunya. Ketika Laurie melompati pagar dan berlari mengejar mereka, gadis-gadis March sudah tak kelihatan. Laurie mengambil jalan pintas ke arah rumah perahu dan menunggu sampai mere- ka muncul; tetapi, tidak ada yang datang. Ia naik ke bukit untuk mengamati suasana. Sekelompok pohon cemara menutupi seba- gian bukit, dan dari tengah-tengah titik hijau itu terdengar suara yang lebih keras ketimbang desir lembut daun-daun cemara yang bergesekan atau derik malas para jangkrik.



"Pemandangan yang menarik!" kata Laurie dalam hati, ketika ia mengintip dari balik semak, kantuknya lenyap sama sekali dan suasana hatinya membaik.



Memang, pemandangan yang ditemukannya terlihat cantik; ga- dis-gadis March itu duduk bersama-sama di bagian yang teduh, sinar matahari dan bayang-bayang menimpa mereka, angin yang menebarkan keharuman daun cemara memainkan rambut dan me-



niup pipi mereka, dan semua makhluk hutan berkegiatan seperti biasa seolah-olah para gadis itu adalah sahabat lama mereka, bukan makhluk asing. Meg duduk di bantalan kursinya, menjahit dengan sikap anggun, tangannya yang putih bergerak lembut. Tampak sesegar dan semanis bunga mawar dengan gaun merah mudanya, ia duduk di tengah-tengah kehijauan itu. Beth sedang memilah biji-biji cemara yang terhampar tebal di bawah pohon di dekatnya, dan membuat benda-benda indah dari biji-biji itu. Amy membuat sketsa sekelompok tanaman pakis, sementara Jo merajut sembari membaca keras-keras. Sambil mengamati mereka, pelan-pelan wa- jah Laurie berubah menjadi suram. Ia merasa harus pergi karena ia tidak diundang. Akan tetapi, ia ingin bertahan karena rumahnya terasa amat sepi, dan kelompok yang tenang di keteduhan pohon- pohon cemara itu justru mengusik jiwanya yang selalu resah. Ia berdiri begitu diam, sampai-sampai seekor tupai yang sedang sibuk memanen dan berlari menyusuri sebatang pohon di dekatnya, tiba- tiba melihatnya dan terkejut mundur, lantas mencicit dan meng- omel begitu keras hingga membuat Beth menengok. Beth melihat wajah muram Laurie di balik dahan-dahan pohon birch, lalu meng- undangnya bergabung dengan senyum ramah.



"Bolehkah aku bergabung? Ataukah aku hanya akan meng- ganggu?" tanya Laurie, perlahan-lahan mendekat.Meg mengangkat kedua alisnya, tetapi Jo melotot ke arahnya dengan ekspresi tegas, lalu segera menyahut, "Tentu saja boleh. Kami seharusnya mengajakmu juga, tetapi kami pikir kau tidak akan tertarik dengan acara khusus para gadis seperti ini."



"Aku selalu suka dengan acara kalian; tapi jika Meg tidak menginginkan kehadiranku, aku akan pergi."



"Aku sih tidak keberatan, asal kau melakukan sesuatu; aturan- nya adalah kau tidak boleh sekadar melamun di sini," jawab Meg, sungguh-sungguh, tetapi ramah.



"Akan kupatuhi; akan kulakukan apa pun jika kau mengizin- kan aku tinggal sebentar di sini, karena saat ini rumahku terasa sama membosankannya dengan Gurun Sahara. Aku bisa menjahit, membaca, mengumpulkan biji cemara, menggambar, atau mung- kin melakukan semuanya sekaligus? Tidak masalah; aku siap," dan Laurie pun duduk dengan ekspresi pasrah yang menyenang- kan untuk dilihat.



"Selesaikan cerita ini sementara aku meneruskan rajutanku," kata Jo, menyerahkan bukunya kepada Laurie.



"Ya, Bu," Laurie menjawab lirih, lalu ia memulai, mencoba sebisa mungkin membuktikan rasa terima kasihnya karena telah diperbolehkan bergabung dengan "Perkumpulan Lebah Sibuk".



Cerita yang dibacanya tidak panjang, dan, setelah usai, ia me- minta izin untuk mengajukan pertanyaan sebagai hadiah dari si- kap baiknya.



"Kumohon, Bu, beritahukanlah kepadaku apakah institusi yang sangat instruktif dan menawan ini merupakan perkumpulan baru?"



"Siapa yang bersedia menjelaskan kepadanya?" tanya Meg ke- pada adik-adiknya.



"Ia akan tertawa," Amy memperingatkan.



"Siapa peduli?" sahut Jo.



"Kurasa, ia akan menyukainya," Beth menambahkan.



"Tentu saja aku akan menyukainya! Aku berjanji tidak akan tertawa. Katakanlah, Jo, dan jangan takut."



"Mana mungkin aku takut kepadamu?! Yah, seperti kau tahu, kami memainkan "Perjalanan Pengembara" dan kami menjalan- kannya dengan sungguh-sungguh sepanjang musim dingin dan musim panas."



"Ya, aku tahu," kata Laurie, mengangguk dengan sikap bijak-



sana.



"Siapa yang memberitahumu?" selidik Jo.



"Para roh."



"Bukan; akulah yang memberitahu dia. Aku ingin menghibur- nya pada suatu malam saat kalian semua sedang pergi, dan ia se- dang ingin dihibur. Ia memang menyukainya, jadi jangan mengo- mel, Jo," kata Beth takut-takut.



"Kau memang tidak bisa menyimpan rahasia. Ya, sudahlah; jadi aku tidak perlu repot-repot sekarang."



"Teruskanlah, kumohon," pinta Laurie, saat Jo kembali sibuk dengan pekerjaannya dan tampak sedikit kesal.



"Oh, Beth belum menceritakan tentang rencana baru kami? Hmm, kami mencoba untuk tidak menyia-nyiakan masa liburan ini. Masing-masing dari kami memilih tugas tertentu dan menger- jakannya kapan pun kami mau. Masa berlibur hampir usai, periode itu sudah selesai, dan kami sangat senang kami tidak mengang- gur."



"Ya, tentu saja," kata Laurie sambil menyesali hari-hari yang dilaluinya dengan bermalas-malasan.



"Ibu senang jika kami berada di luar rumah sesering mungkin, jadi kami membawa pekerjaan kami ke sini, dan menjalani saat- saat tenang di sini. Untuk menghidupkan suasana, kami memba- wa barang-barang kami dengan tas seperti ini, mengenakan topi bergaya kuno, menggunakan tongkat untuk mendaki bukit, dan berpura-pura menjadi pengembara, seperti yang biasa kami laku- kan bertahun-tahun yang lalu. Kami menjuluki bukit ini "Gunung Aspirasi", karena kami dapat melihat jauh dari sini, dan meman- dang tempat yang kami harap dapat kami tinggali suatu saat nan- ti."

__ADS_1



Jo menunjuk, dan Laurie duduk tegak untuk mengamati arah yang ditunjukkan. Melalui celah di hutan sana, ia bisa melihat su- ngai lebar dengan airnya yang biru"padang luas di seberangnya "dan pandangannya tak terhalang sampai ke pinggir kota, sampai ke lembah-lembah hijau nan jauh membentang hingga menyentuh kaki langit. Matahari musim gugur menggantung rendah di langit yang gemilang berkilau-kilauan. Mega-mega ungu keemasan ber- tengger di puncak-puncak bukit yang tampak menjulang menyen- tuh cahaya-cahaya itu dan di ketinggian berubah menjadi putih keperakan, bersinar bagaikan menara Kota Langit yang terbuka.



"Betapa indahnya!" kata Laurie pelan. Ia memang sangat peka dan dapat dengan cepat melihat serta merasakan keindahan luar biasa yang terhampar di hadapannya.



"Memang sering kali begitu; dan kami senang mengamati pe- mandangan ini, karena kelihatannya tidak pernah sama, namun senantiasa luar biasa," jawab Amy, berharap ia mampu melukis pemandangan tersebut.



"Jo suka bicara tentang pedesaan yang ingin kami tinggali ke- lak pada suatu waktu; yang ia maksudkan adalah suasana pedesaan sungguhan, dengan babi dan ayam-ayam, dan gulungan-gulungan besar jerami kering. Pastilah menyenangkan, tetapi aku berharap tempat yang cantik di atas sana juga nyata, dan kita bisa sampai ke sana," renung Beth.



"Ada tempat yang bahkan lebih cantik dari itu semua, dan kita semua akan tiba di sana, pada waktunya, jika kita cukup baik untuk itu," Meg berkata dengan suaranya yang manis.



"Rasanya begitu lama untuk dinanti, dan begitu sulit untuk dilakukan; aku ingin terbang sesegera mungkin, seperti burung- burung walet, dan hinggap di atas gerbang megah itu."



"Kau pasti akan sampai, Beth, cepat ataupun lambat. Jangan khawatir," kata Jo. "Akulah yang harus berjuang dan bekerja ke- ras, mendaki dan menunggu, dan mungkin tidak akan pernah bisa memasukinya."



"Ada aku yang akan menemanimu, kalau itu bisa membuatmu merasa lebih baik. Aku pasti akan banyak bepergian sebelum bisa tiba di hadapan Kota Langit. Apabila aku tiba terlambat, kau akan mengucapkan hal baik untukku, kan, Beth?"



Ada sesuatu pada wajah Laurie yang membuat teman kecilnya gelisah; namun Beth menjawab dengan ceria, matanya menatap awan-awan yang berarak, "Siapa pun yang ingin pergi ke sana, dan sungguh-sungguh mencoba sepanjang hidup mereka, kurasa mere- ka pasti akan berhasil masuk; menurutku, pintu itu tidak memiliki kunci, ataupun penjaga. Aku selalu membayangkannya sebagai- mana disajikan dalam gambar-gambar, dengan sosok-sosok bersi- nar menjulurkan tangan-tangan mereka untuk menyambut umat Kristiani malang yang datang dari arah sungai."



"Tidakkah akan menyenangkan jika semua istana yang kita khayalkan bisa menjadi nyata, dan kita bisa hidup di dalamnya?" kata Jo, setelah mereka semua terdiam beberapa saat.



"Aku membayangkan begitu banyak, rasanya akan sulit me- milih yang mana yang ingin kumasuki," ujar Laurie, berbaring di tanah, melemparkan buah-buah cemara ke arah tupai yang tadi membuatnya ketahuan.



"Kau harus memilih satu yang paling kau suka. Apakah itu?" tanya Meg.



"Kalau kuberitahukan, akankah kau mengatakan apa yang pa- ling kau suka?"



"Ya, jika yang lain juga menceritakan pilihan mereka."



"Setuju. Ayo, Laurie!"



"Setelah melihat dunia sebanyak yang kuinginkan, aku ingin menetap di Jerman, dan memiliki sebanyak mungkin musik untuk kupilih. Aku akan menjadi musikus terkemuka, dan semua orang akan berkumpul untuk mendengarkan aku; aku tidak harus memi- kirkan uang ataupun perusahaan, selain cukup menikmati diriku sendiri dan hidup dengan cara yang kusuka. Itulah impian pilihan- ku. Bagaimana denganmu, Meg?"




"Bagaimana dengan tuan rumah untuk istanamu itu?" tanya Laurie, dengan cerdik.



"Aku sudah mengatakan "orang-orang yang menyenangkan, ya kan," dengan hati-hati Meg mengikat tali sepatunya sambil berbi- cara, agar tidak ada yang melihat rona di wajahnya.



"Mengapa kau tidak berkata kau ingin memiliki suami yang tampan, bijaksana, dan beberapa anak-anak yang manis seperti malaikat? Kau tahu istanamu tidak akan sempurna tanpa mere- ka," sergah Jo, yang belum pernah memiliki khayalan-khayalan romantis, kecuali dari apa yang ia baca di buku-buku, dan ia justru meremehkan pikiran semacam itu.



"Pastilah istanamu akan penuh dengan kuda, tempat tinta, dan buku-buku cerita," sergah Meg.



"Tentu saja! Aku akan memiliki sebuah istal penuh dengan kuda-kuda Arab, ruangan-ruangan berisi buku-buku, dan aku akan mencelupkan penaku ke dalam tempat tinta ajaib, agar karya-kar- yaku sama terkenalnya dengan musik Laurie. Aku ingin mela- kukan sesuatu yang mengesankan sebelum aku tinggal di dalam istana itu"sesuatu yang hebat, atau luar biasa"yang tidak akan dilupakan orang setelah aku mati. Aku tidak tahu apa, tetapi aku pasti akan menanti kesempatan untuk itu, dan telah berniat untuk membuat kalian semua terperangah suatu hari nanti. Mungkin, aku akan menulis buku, menjadi kaya dan terkenal; hal itu akan cocok untukku, jadi itulah mimpiku yang paling kusuka."



"Mimpiku adalah tinggal di rumah, aman bersama Ibu dan Ayah, dan membantu merawat keluarga," kata Beth, sederhana.



"Apakah kau tidak menginginkan hal lain?" tanya Laurie.



"Sejak aku memiliki piano kecilku, aku merasa cukup puas. Aku hanya berharap kita semua berada dalam keadaan sehat, dan terus bersama-sama. Itu saja impianku."



"Aku punya banyak khayalan; yang paling kusukai adalah menjadi pelukis, pergi ke Roma, dan menghasilkan lukisan-lukis- an indah, kemudian menjadi pelukis terbaik di dunia," dan itulah keinginan rendah hati dari Amy.



"Kita ini orang-orang penuh ambisi, ya? Semuanya, kecuali Beth, ingin menjadi kaya dan terkenal, dan menjadi yang terbaik dalam segala hal. Aku jadi ingin tahu, apakah ada di antara kita yang harapannya kelak terkabul," Laurie berkomentar sambil me- ngunyah rumput bagaikan sapi yang penuh perenungan.



"Aku punya kunci menuju istana impianku; tetapi apakah aku akan mengunci pintunya atau tidak, aku masih belum tahu," Jo menambahkan dengan nada misterius.



"Aku punya kunci untuk istanaku, tetapi aku tidak diizinkan mencobanya. Peduli amat dengan kuliah!" gumam Laurie sembari menghela napas dengan gusar.



"Ini kunciku!" Amy menggoyang-goyangkan pensilnya.



"Aku tidak punya kunci apa pun," kata Meg, muram.



"Tentu saja kau punya," Laurie menyambar seketika.

__ADS_1



"Di mana?"



"Di wajahmu."



"Konyol. Wajah ini tidak ada gunanya."



"Tunggu saja dan lihatlah betapa wajah itu akan membawa se- suatu yang berharga bagimu," tambah Laurie, sambil tertawa me- mikirkan rahasia kecil yang, ia yakin, ia ketahui.



Wajah Meg merona dari balik daun-daun cemara, tetapi ia ti- dak bertanya apa-apa lagi, dan memilih menatap ke seberang su- ngai dengan ekspresi penuh penantian, seperti yang ditampilkan Mr. Brooke pada hari ketika ia menyampaikan cerita tentang sang kesatria.



"Jika kita masih hidup sepuluh tahun dari sekarang, marilah bertemu, dan melihat seberapa banyak keinginan-keinginan kita yang telah terkabul, atau seberapa dekat kita dengan harapan- harapan itu, dibandingkan hari ini," kata Jo, yang tidak pernah kehabisan rencana.



"Wah! Aku pasti sudah tua sekali waktu itu"dua puluh tujuh tahun!" seru Meg, yang pada saat itu pun sudah merasa dewasa, karena telah mencapai usia tujuh belas tahun.



"Kita berdua akan berusia dua puluh enam, Teddy; Beth dua puluh empat, dan Amy dua puluh dua; wah, sungguh kelompok yang antik!" ucap Jo.



"Kuharap pada saat itu aku sudah melakukan sesuatu yang membanggakan. Tapi aku sangat, sangat malas, aku khawatir, ja- ngan-jangan aku akan terus menunda-nunda, Jo."



"Ibuku berkata, kau hanya perlu motivasi; dan begitu kau men- dapatkannya, ia yakin kau akan bekerja dengan amat baik."



"Begitukah? Demi Jupiter, akan kulakukan, kalau saja aku mendapat kesempatan itu!" seru Laurie, tiba-tiba duduk dengan penuh semangat. "Aku pasti akan merasa senang kalau bisa mem- buat Kakek bangga. Selama ini aku telah berusaha sangat keras; itu sungguh sulit bagiku dan hasilnya tidak seberapa. Ia ingin agar aku menjadi pedagang di India, seperti dirinya, dan aku merasa lebih baik aku mati ditembak. Aku benci teh, sutra, rempah-rem- pah, dan macam-macam barang sampah di dalam kapal-kapalnya, dan saat aku menjadi pemilik kapal-kapal itu, aku tidak akan pe- duli walaupun semua kapal itu dengan cepat tenggelam di lautan. Berkuliah seharusnya sudah cukup untuk menyenangkannya; em- pat tahun harusnya memadai baginya untuk melepaskan aku dari bisnisnya, tetapi tekadnya sungguh bulat. Aku harus melakukan apa yang dulu ia lakukan, kecuali aku memberontak dan memilih menyenang-nyenangkan diriku, sebagaimana yang dulu dilakukan ayahku. Kalau saja ada anggota keluarga lain yang dapat mene- mani pria tua itu, besok pagi aku pasti langsung pergi."



Laurie berbicara dengan bersemangat, dan tampaknya siap me- wujudkan ancamannya dengan sedikit saja dorongan. Ia tumbuh dewasa dengan cepat dan, meskipun berwatak santai, ia tidak suka dipaksa-paksa. Seperti anak muda pada umumnya, jiwanya gelisah ingin mencoba mengarungi dunia seorang diri.



"Kusarankan kau berlayar dengan salah satu kapalmu tanpa pernah pulang sampai kau puas mencoba jalan hidupmu," kata Jo, yang imajinasinya terpicu oleh kata-kata berani Laurie, dan ter- bangkitkan simpatinya oleh apa yang disebutnya "Ketertindasan Teddy."



"Jangan begitu, Jo, kau tidak boleh berbicara begitu, dan Laurie tidak boleh menuruti nasihatmu yang buruk. Kau harus tetap me- lakukan apa yang diinginkan kakekmu, anakku," kata Meg dengan nada suaranya yang paling keibuan. "Berusahalah sebaik mungkin dalam kuliahmu, dan saat ia melihat bahwa kau sungguh-sungguh berusaha menyenangkannya, aku yakin ia tidak akan bersikap terlalu keras, atau tidak adil terhadapmu. Seperti katamu sendiri, tidak ada orang lain yang akan tinggal bersamanya dan mencin- tainya, dan kau tidak akan memaafkan dirimu sendiri jika pergi tanpa restunya. Jangan marah, atau mengeluh. Teruslah kerjakan tugasmu, dan kau akan mendapatkan hadiahmu, sebaik yang dida- patkan Mr. Brooke, yaitu rasa hormat dan kasih sayang."



"Apa yang kau tahu tentang Mr. Brooke?" Laurie bertanya, bersyukur atas nasihat yang baik itu, tetapi keberatan dengan gaya Meg yang menggurui, dan merasa lega dapat mengalihkan pembi- caraan dari dirinya sendiri, setelah tadi mengoceh panjang tidak seperti biasa.



"Hanya dari apa yang diceritakan kakekmu kepada Ibu; bahwa ia merawat baik-baik ibunya sampai sang ibu tutup usia, dan me- nolak berangkat ke luar negeri sebagai tutor untuk seseorang yang baik hati karena ia tidak mau meninggalkan ibunya; dan bahwa ia kini membiayai hidup wanita tua yang dulu merawat ibunya. Ia tidak pernah menceritakan hal ini kepada siapa pun, tetapi tetap bermurah hati, bersabar, dan bersikap sebaik yang ia mampu."



"Ya, begitulah dia, guruku tersayang!" kata Laurie sungguh- sungguh, saat Meg berhenti bercerita, wajahnya merona dan tampak tulus. "Khas Kakek, mencari tahu segala sesuatu tentang dia, tanpa memberitahu yang bersangkutan, lalu menceritakan semua kebaikannya kepada siapa pun, agar orang-orang menyukainya. Brooke tidak pernah mengerti mengapa ibumu begitu baik ke- padanya, memintanya datang ke rumah kalian bersamaku, dan memperlakukannya dengan caranya yang ramah dan menyenang- kan. Menurut Brooke, ibu kalian sungguh sempurna, dan ia akan membicarakannya selama berhari-hari, juga membicarakan kalian semua, dengan sangat ekspresif. Kalau harapanku terkabul, kalian akan melihat apa yang akan kulakukan untuk Brooke."



"Kau bisa mulai sekarang juga, yaitu dengan tidak menyusah- kannya," ujar Meg tajam.



"Bagaimana kau tahu aku menyusahkannya, Nona?"



"Aku mengetahuinya dari wajahnya saat ia berjalan pulang. Jika kau bersikap baik, ia tampak puas, dan berjalan dengan lincah; jika kau mengganggunya, ia tampak muram, dan berjalan gontai, seolah-olah ia ingin kembali ke rumahmu dan memperbaiki peker- jaannya."



"Wah, aku suka itu! Jadi kau mencatat sikap baikku dan si- kap burukku dari ekspresi wajah Brooke, ya! Aku suka melihatnya membungkuk dan tersenyum saat ia melewati jendelamu, tetapi aku tidak tahu kalian saling bertukar surat."



"Kami tidak bertukar surat; jangan marah dan, oh, jangan ce- ritakan apa pun kepadanya! Aku hanya ingin menunjukkan bah- wa aku peduli tentang kemajuanmu, dan semua yang diucapkan di sini adalah rahasia, tahu," seru Meg, tiba-tiba merasa khawatir akan apa yang dapat terjadi nanti, akibat kata-katanya yang terlalu lepas.



"Aku bukan pengadu," balas Laurie, dengan sikap "terhormat dan bermartabat", sebagaimana julukan Jo untuk sikap tertentu yang sesekali diperlihatkan Laurie. "Hanya saja, kalau Brooke adalah patokanmu, maka aku harus berhati-hati dan selalu menunjuk- kan cuaca hati yang baik agar dapat ia laporkan baik-baik."



"Kumohon jangan tersinggung; aku tidak bermaksud berkhot- bah atau menguliahimu, ataupun bersikap konyol; aku hanya ber- pikir Jo mendorongmu ke arah perasaan yang, pada suatu saat ke- lak, akan kausesali. Kau begitu baik kepada kami, bagaikan seorang saudara, dan karenanya kami mengutarakan pikiran kami apa ada- nya; maafkan aku, aku bermaksud baik!" dan Meg pun menyodor- kan tangannya dengan sikap penuh kasih sayang, sekaligus kikuk.



Malu karena kemarahannya yang timbul sesaat, Laurie me- remas tangan mungil itu, dan berkata jujur, "Akulah yang harus dimaafkan; aku sedang kesal, dan sepanjang hari ini hatiku terasa galau. Aku ingin kalian memberitahukan semua kesalahanku, dan bersikap layaknya saudara-saudara perempuan; jadi jangan khawa- tir apabila aku kadang kala tampak gusar; aku tetap merasa berte- rima kasih."



Bertekad membuktikan bahwa ia tidak tersinggung, Laurie menampilkan sikap sebaik mungkin. Ia menggulung benang ka- tun untuk Meg, membacakan puisi untuk Jo, merontokkan buah- buah cemara untuk Beth, dan membantu Amy menggambar pakis "pendek kata, ia membuktikan dirinya pantas menjadi anggota "Perkumpulan Lebah Sibuk". Di tengah-tengah perbincangan seru tentang kebiasaan kura-kura (dan salah satu kura-kura ini berjalan dari arah sungai), suara bel yang dibunyikan Hannah dari keja- uhan memberitahukan bahwa pelayan itu telah menyingkirkan teh dan kue-kue, dan mereka hanya akan mendapat jatah makan malam.



"Bolehkah aku datang lagi?" Laurie bertanya.



"Ya, jika kau bersikap baik, menekuni buku-bukumu, sebagai- mana diperintahkan kepada murid-murid di sekolah," kata Meg sambil tersenyum.



"Akan kucoba."



"Kalau begitu, kau boleh datang, dan akan kuajari kau mera- jut seperti yang dilakukan orang Skotlandia; kebutuhan akan kaus kaki sedang meningkat," Jo menambahkan, sambil melambaikan rajutannya, yang tampak bagaikan kain wol biru lebar, saat mereka berpisah di dekat pintu pagar.



Senja itu, Beth bermain piano untuk Mr. Laurence di bawah sinar matahari yang akan tenggelam. Laurie berdiri di dalam ba- yang-bayang tirai, mendengarkan David kecil, yang musik seder- hananya selalu mampu menenangkan jiwanya yang gelisah. Ia mengamati kakeknya yang duduk santai; kepalanya yang telah beruban disangga satu tangan, memikirkan kenangan-kenangan indah akan seorang anak yang telah meninggal dan dulu amat di- cintainya. Teringat akan pembicaraan pada siang hari itu, Laurie berkata kepada dirinya sendiri, dengan niat agar pengorbanannya terasa ringan dan menyenangkan, "Akan kulepaskan impianku, dan aku akan tinggal bersama pria tua ini selama ia masih membu- tuhkan aku, karena hanya akulah satu-satunya miliknya."


__ADS_1



__ADS_2