
Amy benar benar merasa tersinggung karena tawaran perdamaiannya di tolak mentah-mentah. Baginya, Jo masih tampak ibarat awan hitam yang mengandung petir. Sepanjang hari itu, tidak ada satu pun rencananya yang berjalan mulus.
Sementara itu, Jo masih tampak sedihh dan uring-uringan. "Setiap orang begitu memuakkan! Hanya Ryan yang selalu baik padaku. Dia orang yang ramah, ceria dan menyenangkan. Ah, kalau begitu, aku akan meminta Ryan untuk bermain skating bersamaku," kata Jo kepada dirinya sendiri.
Ketika mendengar kata skating, Amy yang kebetulan ada disitu langsung menegakkan kepalanya, lalu berbisik kepada Meg, "Ini dia! Sebenarnya, aku ingin sekali bermain skating bersama mereka. Tapi, tidak ada gunanya memohon kepada si berandal itu untuk membawaku serta."
"Hush! Jangan berkata seperti itu. Gara-gara kamu juga, sih. Jo sulit sekali melupakan naskahnya yang sangat berharga. Tapi kukira, mungkin dia akan memaafkanmu kalau kamu membujuknya pada saat yang tepat," kata Meg mencoba menghibur Amy. "Ayo, ikuti saja dia! Nah, kalau Jo sudah terlihat gembira, katakan apa pun hingga Jo benar-benaf bersikap baik kepadamu. Ciumlah pipinya tiba-tiba atau lakukanlah sesuatu yang manis. Aku yakin, dia mau berdamai lagi denganmu."
"Akan kucoba," kata Amy.
Dengan tergesa-gesa, dia mempersiapkan diri, lalu mengejar Jo dan Ryan yang baru saja lenyap dibalik perbukitan.
-
Tempat bermain skating tidak begitu jauh dari sungai. Jo melihat Amy mengikutinya, tapi dia berpura-pura tidak tahu. Sementara, Ryan sama sekali tidak menyadari kehadiran Amy karena sibuk berkonsentrasi dengan skating-nya disepanjang tepian kolam es.
"Aku akan meluncur duluan untuk memeriksa lapisan es!" Kata Ryan sambil mulai memicu sepatu skating-nya dengan gaya seperti seorang Rusia muda dengan jaket ketat dan topinya.
Jo mendengar suara ranting-ranting pohon terinjak. Ketika berbalik, dia melihat Amy mengenakan skating-nya dengan susah payah sambil sesekali menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya karena kedinginan. Tapi, Jo tidak peduli karena masih menyimpan dendam. Lalu, perhalan-lahan Jo mulai meliuk-liuk menuruni sungai, menikmati kepuasan karena adiknya mengalami kesulitan.
Pada saat Ryan berbelok, dia berteriak kebelakang, "Jo,tetaplah di tepi kolam! Di tengah tidak aman!"
Saat itu, Jo melihat Amy sedang berjuang mengendalikan kakinya yang meluncur tidak karuan. Tapi, iblis kecil dalam hati kecil Jo berbisik jahat, jangan pedulikan, apakah Amy mendengar peringatan Ryan atau tidak. Biarkan dia mengurus dirinya sendiri!
Jo baru saja akan berbalik ketika Amy meluncur kencang tak terkendali ketengah kolam. Sejenak, Jo mematung dengan perasaan aneh dihatinya. Ketika dia memutuskan untuk meneruskan meluncur ketepi kolam, suara yang menyayat hati membuatnya berhenti.
__ADS_1
Persis pada saat Jo berbalik lagi, dia melihat Amy terjatuh di atas lapisan es yang mulai retak. Beberapa detik kemudian, lapisan es itu hancur. Kretek ... Amy pun tenggelam ke dalam air yang dingin menusuk. Dengan putus asa, Amy menggapai-gapaikan tangannya ke udara sambil berteriak minta tolong.
Jantung Jo seolah berhenti berdetak. Dia berusaha manggil Ryan, tapi suaranya lenyap entah kemana. Dia berusaha menggerakkan kakinya ke arah Amy, tapi kakinya seperti tidak memiliki kekuatan lagi untuk bergerak. Selama beberapa saat, dia hanya berdiri mematung, memandang ke arah wajah yang begitu ketakutan. Namun, sesuatu dengan cepat menyentaknya.
"Cari batang pohon! Cepat!" Teriak Ryan nyaring.
Beberapa menit betikutnya. Jo pontang-panting ke sana-kemari dengan panik nya. Sementara itu, Ryan segera menelengkup di pinggir retakan es dan menarik tangan Amy dengan satu tangannya sampai Jo datang membawa batang kayu. Lalu, mereka berdua menarik Amy keluar.
"Kita harus membawanya pulang secepat mungkin!" Teriak Ryan sambil memakai jaketnya ketubuh Amy. Debgan gemetaran, Jo dan Ryan pun memapah Amy pulang.
Setelah mengalami ketegangan ini, Amy meringkuk di dalam selimut tebal dekat perapian. Jo memandanginya dengan wajah cemas.
- Sesudah kejadian itu, Amy tertidur pulas dikamarnya.
Nyonya March yang baru mengetahui kejadian itu, memanggil Jo dan mulai membalut tangan Jo yang terluka karena terkena pecahan es.
"Dia baik-baik saja, Sayang. Dia tidak terluka dan bahkan tidak terserang flu. Mama pikir, kamu begitu cekatan menolongnya," jawab Nyonya March ceria.
"Ryanlah yang melakukan semuanya ... Ma, seandainya Amy meninggal, akulah yang paling bersalah." Lalu, Jo menghempaskan tubuhnya ke sisi Mama karena tidak tahan menahan air mata. Setelah menceritakan semuanya yang telah terjadi, dengan pahit Jo mengutuk kekerasan hatinya. Sambil terisak-isak, dia mengatakan bersedia menerima hukuman seberat apapun akibat kesalahannya itu. "Perangaiku memang mengerikan! Aku telah berusaha memperbaikinya. Aku pikir, aku telah berhasil. Tapi ternyata, malah lebih buruk. Oh, Mama, apa yang harus aku lakukan?" Ucap Jo sambil menangis.
"Berdoalah, sayangku. Jangan putus asa dan jangan pernah menganggap kamu tidak mungkin mampu menaklukan kekeliruanmu!" Kata Nyonya March sambil mencium pipi Jo.
"Mama tidak tahu! Tampaknya, aku bisa melakukan apa pun ketika amarah menguasaiku! Aku bisa menyakiti seseorang dan menikmatinya. Aku khawatir, aku akan melakukan sesuatu yang mengerikan suatu saat nanti dan menghancurkan hidupku. Aku takut semua orang akan membenciku!" Jo meraung makin kencang.
Mama membujuk Jo agar tak bersedih, "Jangan menangis begitu. Ingatlah terus hari ini dab bertekadlah tidak akan mengulanginya lagi. Jo Sayang, kita semua pernah melakukan kesalahan yang lebih gawat lagi. Kamu kira temperamenmulah yang paling biruk di dunia. Tapi, temperamen Mama juga sama."
__ADS_1
"Mama? Mengapa? Mama, kan, tidak pernah marah?"
Untuk sejenak, Jo lupa dengan kesedihannya.
"Mama telah mencona memperbaiki temperamen Mama selama empat puluh tahun. Tapi, Mama hanya berhasil mengendalikannya. Hampir setiap hari, Mama marah. Tapi, Mama belajar untuk tidak menunjukkannya dan masih belajat untuk tidak meradakannya," jelas Mama.
Mengetahui mamanya memiliki kelemahan sebagaimana dirinya sendiri dan selalu mencoba memperbaikinya, membuat Jo lebih mudah menanggung dan memperkuat tekadnya untuk memperbaiki sifatnya.
"Ma, apakah mama pernah mengigit bibir dan ke luar ruangan ketika marah?" Tanya Jo kini merasa lebih dekat dan lebih sayang kepada mamanya.
"Ya, mama sedang belajar mengendalikan kata-kata. Mama hanya ke luar selama beberapa saat, lalu memberi jeweran kecil kepada diri sendiri," jawab Nyonya March sambil mengelus-elus dan mengeratkan ikatan rambut Jo.
"Ini masalahnya! Kata-kata tajam selalu meluncur sebelum aku sadar apa yang sedamg aku katakan sampai aku merasa sangat senang bisa menyakiti perasaan orang dengan kata-kata yang mengerikan. Katakan, bagaimana mama bisa mengendalikannya?" Pinta Jo.
"Mamaku, nenekmu, selalu membantuku ...." Mama menjawab agak datar.
"Tapi, Mama kehilangan beliau ketika usia Mama masih sangat muda," ucap mama sedih.
Jo terperangah, "Lalu, siapa yang kemudian membantu Mama?"
"Papamu, Jo. Dia tidak pernah kehilangan kesabaran dan tidam pernah ragu ataupun mengeluh," ujar Mama bangga.
"Ahh, andai saja aku bisa mencapai setengah dari kebaikan Mama ...," bisik Jo yang begitu tersentuh.
"Mama malah berharap, kamu akan lebih baik lagi, Sayang," harap Mama.
__ADS_1
Satu-satunya jawaban Jo hanya memeluk mamanya erat-erat. Lalu, dia menatap Amh yang tiba-tiba bergerak dan menarik napas panjang dalam tidurnya. "Amy , maaafkan aku ...: ucap Jo sungguh-sungguh.
Seolah-olah mendengar, Amy membuka matanya dan memegang tangan Jo. Keduanya tidak mengucapkan sepatah kata pun, tapi mereka saling berpelukan dengan erat.