
Jo dan Laurie Menyimpan Rahasia
Akhir-akhir ini Jo amat sibuk di loteng. Udara di hari-hari bu- lan Oktober mulai dingin, dan sore hari menjadi lebih sing- kat. Selama dua atau tiga jam, cahaya matahari menghangatkan jendela tinggi, menerangi Jo yang duduk di sofa tua, sibuk me- nulis, kertas-kertas berserakan di atas koper di hadapannya. Se- mentara itu, Scrabble, si tikus peliharaan, singgah bersama anak sulungnya, berkeliaran di tiang-tiang di atas Jo. Ia adalah tikus muda yang tampan, yang jelas-jelas amat bangga akan kumisnya. Tenggelam dalam pekerjaannya, Jo terus menulis hingga halaman terakhir penuh. Ia lalu menandatangani karyanya dengan berse- mangat, kemudian melempar penanya sambil berseru,"
"Sudah, aku sudah melakukan yang terbaik! Kalau karya ini masih belum layak, aku harus menunggu sampai merasa mampu menghasilkan yang lebih baik."
Berbaring di sofa, dengan hati-hati Jo membaca ulang naskah- nya, membuat coretan di sana-sini, dan menaruh tanda seru yang tampak bagaikan balon di berbagai tempat. Kemudian ia menggu- lung kertas-kertasnya dan mengikatnya dengan pita merah, sete- lah itu ia duduk selama semenit, sekadar mengamati hasil kerjanya dengan ekspresi serius dan penuh harap, yang jelas-jelas menun- jukkan betapa sungguh-sungguh kerjanya selama itu. Meja yang digunakan Jo di loteng adalah bekas lemari dapur yang terbuat dari alumunium, yang dipakukan ke dinding. Di dalamnya, ia me- nyimpan kertas-kertas serta beberapa buku, aman dari jangkauan Scrabble yang, sebagai sesama pencinta sastra, gemar berkeliling perpustakaan yang berupa buku-buku yang tertinggal di sana-sini. Dengan senang hati ia menikmati karya sastra dengan mengerikiti halaman-halaman buku-buku itu. Dari laci lemari dapur itulah Jo mengeluarkan naskah lain. Kemudian, setelah memasukkan kedu- anya di dalam sakunya, ia menuruni tangga perlahan-lahan, me- ninggalkan kedua temannya di atas untuk mengerati penanya dan mencicipi tintanya.
Sepelan mungkin, tanpa menimbulkan suara, ia mengenakan topi dan jaketnya lalu, setelah berjalan menuju jendela di belakang, keluar dan hinggap di atap beranda yang rendah, melompat turun ke rerumputan, kemudian mengambil rute memutar ke jalan raya. Setibanya di sana, ia mengatur sikapnya, menghentikan bus yang lewat, dan pergi menuju kota, tampak begitu ceria sekaligus mis- terius.
Jika ada yang mengamatinya, orang itu pasti menganggap ge- rak-gerik Jo tidak wajar. Setelah turun dari bus, Jo berjalan dengan kecepatan tinggi sampai ia tiba di sebuah rumah dengan nomor tertentu, di suatu jalan yang sibuk. Dengan sedikit kesulitan, Jo menemukan alamat yang dicarinya, lalu ia berdiri diam selama beberapa saat. Tiba-tiba Jo berlari lagi ke arah jalan, dan bergerak menjauh secepat ia datang. Manuver ini diulanginya beberapa kali, di bawah pengamatan penuh rasa tertarik seorang pria muda bermata hitam, dari balik jendela gedung seberang. Setelah kemba- li untuk yang ketiga kalinya, Jo memantapkan diri, menarik topi menutupi matanya, dan berjalan menaiki tangga, tampak seolah ia akan kehilangan semua giginya pada saat itu juga.
Memang ada plakat tanda tempat praktik dokter gigi, di antara plakat-plakat yang lain, yang menempel di pintu masuk. Setelah beberapa saat mengamati sebuah rahang buatan yang membuka dan menutup serta menampakkan sederetan gigi indah, pria muda itu mengenakan mantelnya, mengambil topinya, lalu turun ke ba- wah dan menempatkan diri di depan pintu masuk gedung di se- berang jalan. Ia berkata kepada dirinya sendiri, sambil tersenyum sementara tubuhnya agak menggigil kedinginan,"
"Khas dia, datang sendirian. Tapi, jika hasilnya buruk, ia akan perlu seseorang untuk membantunya pulang."
Kira-kira sepuluh menit kemudian, Jo berlari menuruni tangga. Wajahnya amat merah, dan secara umum ia memang tampak se- perti seseorang yang baru saja melalui suatu kesulitan. Ketika me- lihat si pria muda, ia tampak kesal, dan hanya melewatinya sambil menganggukkan kepala. Namun, pria muda itu mengikutinya, ke- mudian bertanya dengan nada penuh simpati,"
"Apakah tadi berlangsung buruk?"
"Tidak juga."
"Cepat juga kau selesai."
"Memang, syukurlah!"
"Mengapa kau pergi sendirian?"
"Aku tidak ingin diketahui siapa pun."
"Kau ini benar-benar aneh. Berapa gigimu yang dicabut?"
Jo menatap temannya, seakan-akan ia tidak dapat memahami pertanyaan itu; lalu, ia mulai tertawa, seolah mendadak terhibur oleh sesuatu.
"Ada dua yang ingin kukeluarkan, tetapi aku harus menunggu seminggu."
"Mengapa kau tertawa? Kau pasti hendak melakukan kejahil- an, Jo," kata Laurie, tampak heran.
"Kau juga. Sedang apa kau, Tuan, berada di bar dan tempat biliar itu?"
"Maaf, Nona, itu bukan bar dan tempat biliar, melainkan gim- nasium, dan aku mengambil pelajaran anggar."
"Senang aku mendengarnya!"
"Kenapa?"
"Karena kau akan bisa mengajarkannya kepadaku; lalu, jika kita memainkan Hamlet, kau bisa berperan sebagai Laerters, dan kita akan bisa menampilkan adegan pertarungan anggar yang seru."
Laurie meledak tertawa, memperdengarkan tawa lepas khas anak lelaki, dan membuat beberapa pejalan kaki tersenyum tanpa sadar.
"Akan kuajari kau, dengan atau tanpa Hamlet. Memang me- nyenangkan. Olahraga mengajarkan disiplin tanpa basa-basi. Tapi aku tidak percaya cuma itu alasanmu berkata, "senang aku," dengan cara yang begitu puas; bukankah begitu?"
"Oh, tidak begitu; aku senang kau tidak berada di sebuah bar, karena aku berharap kau tidak akan pernah mengenal tempat se- perti itu. Apakah kau pernah berkunjung ke bar?"
"Tidak sering."
"Ah, aku malah berharap tidak pernah."
"Tidak berbahaya, Jo, aku punya meja biliar di rumah, tetapi tentu saja tidak mengasyikkan kalau tidak ada lawan-lawan yang bagus. Jadi, karena aku menyukai olahraga itu, sesekali aku pergi dan bermain bersama Ned Moffat, atau beberapa pemuda lain."
"Ya ampun. Menyesal aku mendengarnya. Karena kau hanya akan semakin menyukainya, kemudian menghamburkan uang dan waktu, lalu tumbuh seperti anak-anak menyebalkan itu. Aku sungguh berharap kau tetap menjadi pemuda yang terhormat dan menyenangkan di mata teman-temanmu," Jo berkomentar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak bolehkah seseorang sekadar bersenang-senang sesekali, tanpa kehilangan martabatnya?" Laurie berujar, tampak tersing-
gung.
"Tergantung bagaimana dan ke mana ia pergi. Aku tidak suka Ned dan teman-temannya, dan aku berharap kau menjauh dari mereka. Ibu tidak pernah mengizinkannya masuk ke rumah kami, walaupun ia ingin bertamu, dan kalau kau menjadi seperti dia, Ibu pun tidak akan membiarkanmu berkumpul bersama kami seperti sekarang."
"Benarkah?" tanya Laurie, cemas.
"Betul. Ia tidak tahan melihat pemuda-pemuda yang hanya suka bergaya. Bagi Ibu, lebih baik ia mengurung kami di dalam peti daripada membiarkan kami berkawan dengan mereka."
"Hmm, ibumu tidak perlu mengeluarkan petinya; aku bukan bagian dari kelompok suka bergaya itu, dan aku tidak ingin begi- tu. Tetapi, aku memang suka bergaul sesekali, sekadar bersenang- senang. Tidakkah kau meyukainya?"
"Ya, tidak ada yang berkeberatan, jadi silakan saja, tetapi ja- ngan menjadi liar, ya? Atau persahabatan kita bisa-bisa berakhir."
"Kalau begitu aku akan menjadi orang suci, dan menjalani dua kali penahbisan."
"Aku tidak tahan dengan orang suci; cukuplah kau menjadi te- man yang apa adanya, jujur, dan terhormat, dan kami tidak akan meninggalkanmu. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan jika kau mulai bertingkah seperti anak lelaki Mr. King; ia punya ba- nyak uang, tetapi tidak tahu cara menghabiskannya, lalu memilih bermabuk-mabukan, berjudi, lantas melarikan diri, dan kalau tidak salah memalsukan nama ayahnya"pendek kata, mengerikan."
"Apakah menurutmu aku bisa melakukan hal seperti itu? Ah, aku memang pantas kaunasihati."
"Tidak begitu"oh, sungguh, tidak!"tetapi, aku mendengar orang-orang berbicara bahwa uang bisa menjadi godaan besar, dan adakalanya aku berharap kau orang miskin, agar aku tidak usah mencemaskanmu."
"Apakah kau mencemaskanku, Jo?"
__ADS_1
"Sedikit, terutama jika sesekali kau tampak gusar atau gelisah. Kemauanmu keras. Jika sekali saja kau mendapat awal yang buruk, aku takut kau akan sulit dihentikan."
Laurie berjalan dalam diam selama beberapa menit. Jo mem- perhatikannya, menyesal tidak bisa menahan lidahnya, karena di- lihatnya kedua mata Laurie memancarkan sinar marah, meskipun bibirnya masih tersenyum, seolah masih mendengarkan nasihat-
nya.
"Apakah kau akan menguliahiku sepanjang jalan pulang?" ta- nya Laurie setelah itu.
"Tentu saja tidak. Kenapa?"
"Karena, jika ya, aku akan naik bus. Tapi, jika tidak, aku akan berjalan bersamamu, dan menceritakan sesuatu yang amat mena- rik."
"Aku tidak akan berkhotbah, dan aku sangat ingin mendengar ceritamu."
"Baik; marilah. Ini rahasia, dan jika kuceritakan rahasia ini ke- padamu, kau pun harus menceritakan rahasiamu."
"Aku tidak punya rahasia," Jo membuka mulut, tetapi tiba-tiba menahan lidahnya, karena teringat bahwa ia memang menyimpan
sesuatu.
"Tentu saja kau punya; kau tidak bisa menutupi apa pun, jadi akui saja dan berceritalah, atau aku tidak akan mengatakan apa- apa," ujar Laurie.
"Apakah rahasiamu mengasyikkan?"
"Oh, sudah pasti! Rahasia ini tentang seseorang yang kaukenal, dan sungguh seru! Kau harus mendengarnya, dan aku sudah geli- sah ingin menceritakan ini sejak lama. Ayolah! Kau duluan."
"Kau tidak akan menyampaikannya kepada siapa pun di ru- mah, kan?"
"Tidak akan."
"Dan kau tidak akan menggodaku saat kita hanya berdua?" "Aku tidak pernah menggodamu."
"Selalu; kau ini tidak pernah tidak mendapatkan apa yang kau mau dari orang-orang. Aku tidak tahu bagaimana kau melakukan- nya, tetapi kau sangat berbakat membujuk orang."
"Terima kasih; sekarang, ceritakan!"
"Yah, aku tadi menyerahkan dua cerita kepada petugas surat kabar, dan ia akan memberikan jawabannya pekan depan," bisik Jo di telinga pendengarnya.
"Hore untuk Miss March, penulis Amerika terkenal!" seru Laurie, melempar topinya lalu menangkapnya lagi, di bawah ta- tapan dua ekor bebek, empat ekor kucing, lima ekor ayam, dan se- tengah lusin bocah-bocah Irlandia. Jo dan Laurie telah keluar dari daerah kota sekarang.
"Hus! Kurasa, kisah-kisah itu tidak akan menjadi apa-apa; teta- pi aku tidak bisa tenang kalau belum mencoba, dan aku tidak me- ngatakan apa-apa soal ini, karena aku tidak ingin orang lain merasa kecewa."
"Tidak akan gagal! Jo, karya-karyamu bagaikan Shakespeare dibandingkan sampah yang setiap hari muncul di surat kabar. Ti- dakkah akan menyenangkan melihat tulisanmu dicetak; dan tidak bolehkah kami merasa bangga terhadap sang penulis?"
Sepasang mata Jo berkilau. Perasaan dipercaya selalu meng- gembirakan, dan pujian seorang teman terasa lebih manis ketim- bang selusin pujian di surat kabar.
"Aku akan mendapat kesulitan karena menceritakan hal ini; tapi aku tidak pernah berjanji untuk merahasiakannya, jadi akan kusampaikan juga, karena pikiranku tidak pernah tenang kalau be- lum menceritakan kabar apa pun yang kupunya. Aku tahu di mana pasangan sarung tangan Meg."
"Hanya itu?" kata Jo, tampak kecewa, sementara Laurie meng- angguk dan mengedip, dengan wajah menampilkan ekspresi jahil sekaligus misterius.
"Untuk saat ini, rahasia itu saja sudah cukup, dan kau akan setuju setelah kuberitahukan di mana sarung tangan itu berada."
"Katakanlah."
Laurie menunduk dan membisikkan tiga kata di telinga Jo, yang dengan seketika menyebabkan perubahan drastis. Jo berdi- ri dan menatap Laurie selama semenit, tampak terkejut sekaligus kesal, lantas meneruskan berjalan sambil bertanya tajam, "Bagai- mana kau tahu?"
"Aku melihatnya."
"Di mana?"
"Saku."
"Selama ini?"
"Ya; bukankah itu romantis?"
"Tidak; itu mengerikan."
"Kau tidak suka?"
"Tentu saja tidak; konyol sekali, dan tidak seharusnya diperbo- lehkan. Yang benar saja! Apa yang akan dikatakan Meg?"
"Ingat, kau tidak boleh mengatakan hal ini kepada siapa pun." "Aku tidak berjanji apa-apa."
"Kukira kau sudah paham, dan aku memercayaimu."
"Yah, aku tidak mengatakan apa-apa untuk saat ini. Tapi aku tidak suka mendengarnya. Aku jadi menyesal kau telah menceri- takannya kepadaku."
"Kukira, kau akan senang."
"Senang karena seseorang hendak mengambil Meg dari kami? Tidak, terima kasih."
"Kau pasti tidak akan merasa begitu saat kelak seseorang da- tang dan mengambilmu."
"Huh, coba saja, aku ingin tahu," sahut Jo, keras kepala.
__ADS_1
"Aku juga!" dan Laurie pun tertawa membayangkannya.
"Sepertinya aku tidak boleh menyimpan rahasia; kepalaku ra- sanya kacau sejak kau menceritakan hal tadi," kata Jo, sama sekali tidak berterima kasih.
"Ayo, kita berlomba menuruni bukit ini, nanti kau akan baik- baik saja," usul Laurie.
Tidak ada orang lain selain mereka; jalanan yang mulus terben- tang menggoda di hadapan Jo dan, tidak tahan melihatnya, Jo ber- lari kencang"topi dan hiasan rambutnya segera melayang-layang di belakangnya, juga jepit-jepit rambutnya. Laurie lebih dulu sam- pai di tujuan, dan ia merasa cukup puas dengan keberhasilan usul- nya; Atlanta-nya datang dengan rambut beterbangan, mata me- nyala-nyala, pipi merona merah, dan tidak ada lagi tanda-tanda kekesalan di wajahnya.
"Ah, kalau saja aku seekor kuda; aku bisa berlari bermil-mil ja- uhnya dalam udara segar ini, tanpa kehilangan napas. Seru sekali; tetapi berlari tadi membuatku berantakan. Sana, ambilkan barang- barangku dan bersikaplah seperti malaikat," kata Jo, terduduk di bawah pohon maple, daun-daunnya yang berwarna merah menu- tupi tepian sungai.
Dengan santai, Laurie pergi mengambil barang-barang Jo yang terjatuh. Jo merapikan kepang rambutnya, berharap tidak ada yang akan melihatnya sampai penampilannya sudah kembali pan- tas. Namun, ternyata, ada seseorang yang melintas, dan siapa lagi orang itu kalau bukan Meg, tampak sangat feminin mengenakan baju rapi karena ia baru pulang dari bertamu.
"Sedang apa kau di sini?" tanyanya kepada adiknya yang tam- pak berantakan, memperlihatkan ekspresi terkejut yang terlatih dengan baik.
"Memunguti daun," jawab Jo pelan sambil mengambil segeng- gam daun merah yang baru saja ia singkirkan.
"Dan jepit rambut," tambah Laurie, melemparkan kira-kira setengah lusin jepit rambut ke pangkuan Jo. "Jepit-jepit rambut tumbuh di jalan ini, Meg, begitu pula sisir dan topi jerami berwar- na cokelat."
"Jo, kau habis berlari?! Bagaimana bisa? Kapan kau akan me- ninggalkan tingkah lakumu yang liar?" Meg melontarkan kritik- nya sambil membetulkan ujung lengan bajunya dan merapikan rambutnya, yang tadi sempat dipermainkan angin.
"Tidak akan, sampai tubuhku kaku dan tua, dan aku harus menggunakan tongkat untuk berjalan. Jangan paksa aku untuk menjadi dewasa sebelum waktunya, Meg; sudah cukup sulit ba- giku harus melihatmu berubah dengan tiba-tiba. Biarkanlah aku menjadi gadis kecil selama yang aku bisa."
Sambil berbicara, Jo, menunduk ke arah dedaunan di genggam- annya, untuk menyembunyikan getaran bibirnya; akhir-akhir ini, ia memang merasakan Meg telah berubah terlalu cepat menjadi seorang wanita dewasa, dan rahasia Laurie membuatnya ketakutan akan dekatnya perpisahan yang sudah pasti akan datang pada sua- tu waktu. Melihat kegelisahan pada wajah Jo, Laurie mengalihkan perhatian Meg dengan bertanya, "Hendak ke manakah engkau, tampak begitu rapi begini?"
"Aku dari rumah keluarga Gardiner. Sallie selalu menceritakan segalanya tentang pernikahan Belle Moffat. Katanya, acara terse- but berlangsung luar biasa, dan mereka pergi menghabiskan mu- sim dingin di Paris. Bayangkan... betapa indahnya!"
"Apakah kau merasa iri kepadanya, Meg?" tanya Laurie.
"Harus kuakui, iya."
"Senang mendengarnya!" gumam Jo, mengikatkan topinya de- ngan sekali sentakan.
"Kenapa?" tanya Meg, tampak terkejut.
"Karena, jika kau begitu peduli terhadap kekayaan, maka kau tidak akan pernah pergi untuk menikah dengan seorang pria mis- kin," sahut Jo, sambil mengerutkan dahi ke arah Laurie, yang tan- pa suara berusaha memperingatkan Jo untuk berhati-hati dengan kata-katanya.
"Aku tidak akan pernah "pergi untuk menikah dengan seseo- rang"," sahut Meg, lalu melanjutkan berjalan dengan kepala tegak, sementara Jo dan Laurie mengikutinya sambil tertawa, saling berbisik, melompati batu-batu, dan "bertingkah laku kekanakan," seperti yang dikatakan Meg kepada dirinya sendiri, meskipun ia mungkin akan tergoda untuk bergabung dengan keduanya kalau saja ia tidak sedang mengenakan gaunnya yang terbaik.
Selama satu atau dua minggu kemudian, Jo berlaku sangat aneh sehingga membuat saudara-saudaranya kebingungan. Setiap kali tukang pos membunyikan bel, ia akan tergesa-gesa membukakan pintu; ia bersikap kasar kepada Mr. Brooke kapan pun mereka bertemu; ia sering duduk menatap Meg dengan ekspresi pilu, ke- mudian sesekali mendatanginya untuk berjabat tangan dan menci- um pipinya dengan cara yang amat mengherankan. Jo dan Laurie juga kerap bertukar kode, dan berbicara tentang "Melepas Elang- Elang", sampai gadis-gadis lain yakin keduanya telah kehilangan kewarasan. Pada suatu Sabtu, Jo keluar rumah melalui jendela. Meg, yang sedang duduk menjahit di depan jendela, melihat sendi- ri pemandangan Laurie mengejar-ngejar Jo berkeliling kebun, dan akhirnya menangkapnya di bawah pergola Amy. Meg tidak bisa melihat apa yang berlangsung di sana, tetapi ia dapat mendengar gelak tawa, diikuti gumaman suara-suara, dan bunyi surat kabar dibuka-tutup.
"Apa yang bisa kita lakukan terhadap anak itu? Ia tidak akan pernah berlaku selayaknya seorang gadis muda," Meg mengeluh sembari menonton kedua anak yang berlari-larian itu dengan eks- presi tidak setuju.
"Aku malah berharap ia tetap begitu; Jo sangat lucu, manis, dan apa adanya," kata Beth, yang tidak pernah mengungkapkan pera- saan bahwa ia sedikit terluka melihat Jo memiliki rahasia dengan orang lain selain dirinya.
"Memang berat melihatnya, tetapi kita tidak akan pernah bisa membuatnya comme la fo," tambah Amy, yang sedang menata gaya rambut baru untuk dirinya sendiri. Rambut ikalnya diikat dengan gaya yang amat menawan"dua hal yang disukai Amy, sehingga membuatnya merasa lebih elegan dan dewasa.
Beberapa menit kemudian, Jo masuk, membaringkan dirinya di sofa, dan melanjutkan membaca.
"Ada yang menarik?" Meg bertanya dengan nada merendah- kan.
"Tidak ada, hanya ada sebuah cerita; kurasa tidak begitu seru," kata Jo, dengan hati-hati menyembunyikan nama surat kabar itu.
"Bagaimana kalau kau membacakannya keras-keras? Kami akan terhibur, dan kau akan terhindar dari berbuat kenakalan," ujar Amy dengan nada bicara paling dewasa yang bisa dihasilkan-
nya.
"Apa judulnya?" kata Beth, bertanya-tanya mengapa Jo me- nyembunyikan wajahnya di balik lembaran tersebut.
"Para Pelukis yang Bersaing."
"Kedengarannya bagus; bacalah," pinta Meg.
Setelah berdeham keras dan menarik napas panjang, Jo mulai membaca dengan amat cepat. Gadis-gadis March yang lain men- dengarkan dengan sepenuh hati, karena kisah yang dibacakan sa- ngatlah romantis, dan sedikit sedih, karena sebagian besar tokoh cerita mati di akhir kisah.
"Aku suka bagian tentang lukisan yang indah," Amy berko- mentar dengan nada senang, saat Jo berhenti membaca.
"Aku lebih suka bagian percintaan. Viola dan Angelo adalah dua nama favorit kita; tidakkah itu aneh?" kata Meg, sambil meng- usap matanya, karena "bagian percintaan" disampaikan secara tra- gis dalam kisah tadi.
"Siapa yang menulisnya?" tanya Beth, yang sempat melihat ekspresi wajah Jo.
Sang pembaca tiba-tiba duduk, melemparkan surat kabar terse- but. Wajahnya merona. Kemudian, dengan gaya lucu bercampur serius serta senang, ia menjawab dengan suara lantang, "Saudara- mu ini!"
"Kau?!" seru Meg, menjatuhkan pekerjaannya.
"Bagus sekali," kata Amy menanggapi.
"Sudah kuduga! Sudah kuduga! Oh, Jo, kakakku, aku sangat bangga!" dan Beth pun berlari untuk memeluk kakaknya, meraya- kan keberhasilan gemilang itu.
Dan betapa mereka semua sangat gembira. Meg menolak per- caya sampai ia melihat sendiri nama "Miss Josephine March", ter- tera di halaman surat kabar itu. Amy mengeluarkan puja-puji ten- tang bagian-bagian artistik dalam kisah tersebut, dan memberikan usulan untuk sebuah kisah lanjutan, yang sayangnya tidak bisa dilakukan karena tokoh-tokoh utamanya telah mati. Beth begitu bahagia, ia melompat-lompat dan bernyanyi riang. Hannah datang dan berseru, "Ramai sekali, belum pernah begini!" dan sangat ter- kesima oleh "kerja Jo". Mrs. March sendiri amatlah bangga saat ia mendengar kabar itu. Jo tertawa, air mata mengalir di pipinya, dan berkata ia bisa berubah menjadi seekor merak seketika itu juga, dan berpuas diri untuk selamanya. Jo juga berujar betapa "Elang yang Lepas" mungkin sedang mengepakkan sayapnya penuh ke- menangan di atas atap rumah keluarga March, saat surat kabar itu berkeliling dari satu tangan ke tangan yang lain.
"Ceritakanlah." "Kapan terbitnya?" "Berapa bayaran yang kaudapat?" "Apa yang akan dikatakan Ayah?" "Laurie pasti ter- tawa," seru semua orang serempak, sementara mereka berdiri me- ngelilingi Jo. Orang-orang sederhana yang penyayang itu memang selalu menjadikan keberhasilan sekecil apa pun sebagai perayaan meriah.
"Berhentilah mengoceh, kalian semua, dan akan kuceritakan segalanya," kata Jo, sambil bertanya-tanya apakah Miss Burney akan merasa lebih gembira lagi dengan tulisan Jo yang berjudul Evelina ketimbang Para Pelukis yang Bersaing. Setelah menyampai- kan kisahnya, Jo menambahkan,""Dan ketika aku datang untuk meminta jawaban, orang di sana berkata ia menyukai kedua cerita- ku, tetapi mereka tidak dapat membayar penulis pemula. Mereka hanya akan menerbitkannya di surat kabar, dan menyebarluaskan namaku. Katanya, ini latihan yang bagus; dan, seiring dengan bertambahnya pengalaman, siapa pun akan mau membayar. Jadi, aku lantas menyerahkan dua ceritaku, dan hari ini aku mendapat kiriman surat kabar. Laurie melihatku memegangnya, kemudian memaksa ikut melihat, jadi aku mengizinkannya. Menurutnya, ceritaku bagus, dan aku harus menulis lebih banyak. Ia akan beru- saha agar karyaku berikutnya mendapat bayaran dan oh"aku be- gitu bahagia, karena kelak aku akan dapat menopang hidupku, juga membantu saudara-saudaraku."
Napas Jo habis sampai di situ; dan, mendekatkan surat kabar itu ke kepalanya, ia membasahi halamannya dengan beberapa tetes air mata spontan. Kemandirian, dan pujian dari orang-orang yang ia cintai, adalah harapan terbesar di dalam hati Jo, dan hari ini tera- sa bagaikan langkah pertama menuju akhir yang bahagia.
__ADS_1