Little Women

Little Women
*Little Women Part8* (JO VS AMY)


__ADS_3

(JO VS AMY)


"Kakak-kakak, kalian mau kemana?" Tanya Amy ketika melihat Meg dan Jo sedang bersiap-siap pergi dengan geladat penuh rahasia pada suatu malam minggu. Tentu saja, ini membuat Amy penasaran.


"Bukan urusanmu,anak kecil!" Kata Jo tajam.


Amy merasa panas dengan kata-kata Jo yang menonjok perasaanya ini. Kemudian, dia berpaling kepada Meg dan berkata dengan penuh harap, "Oh, Meg, bolehkah aku pergi bersama kalian? Beth terlalu asik dengan pianonya dan aku bingung apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar kesepian. Aku tau kalian akan pergi dengan Ryan. Tadi malam, kalian berbisik-bisik dan tertawa-tawa di sofa, tapi tiba-tiba berhenti ketika aku masum."


"Memang! Sekarang diam lah, Cerewet! Jangan ganggu kami lagi!" Kata Jo kasar sebelum Meg sempat berkata-kata. "Aku tahu! Kalian akan ke teater dan menonton tujuh kastil, kan?" Kata Amy dengan penuh kemenangan, lalu mulai merengek lagi. "Oh, Meg, izinkan aku ikut. Aku butuh hiburan. Tolonglah, Meg! Aku akan menjadi anak manis."


Sebelum Meg sempat membuka mulutnya, Jo sudah angkat bicara, "Kalau Amy ikut, lebih baik aku tinggal dirumah saja! Aku tidak suka pergi dengan anak kecil cerewet dan usil yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Lagi pula, Ryan tidak mengundang Amy. Jadi, akan sanfat tidak sopan jika kita membawanya."


Nada bicara dan gerak-gerik Jo membuat Amy geram, Amy pun mulai mengentak-entakan kakinya sambil menjerit, "Aku ikut dan aku akan membayar sendiri tiket teaternya dengan uang jajanku!"


"Licik! Kami sudah memesan tempat duduk untuk bertiga. Kalau ikut, kamu harus duduk sendiri. Tapi kamu tahu, Ryan anak yang sopan. Jadi, dia akan memberikan tempat duduknya sehingga kamu akan duduk dengan kami dan Ryan duduk sendiri!" Hardik Jo, lebih kasar dari biasanya sambil *******-***** jarinya dengan tergesa-gesa.


Mendengar perkataan Jo, Amy mulai menangis di lantai. Meg sedang berusaha membujuknya ketika Ryan memanggil dari bawah. Lalu, Meg dan Jo bergegas turun, melupakan Amy yang masih meraung-raung,  meninggalkan adiknya menunggu. Ketika sadar tangisan tidak berguna, Amy teriak dari tangga dengan nada mengancam, "Awas, Jo March! Kamu akan sangat menyesali perbuatan mu! Lihat saja nanti!"


"Dasar culas!" Balas Jo sambil membanting pintu.


Kisah tujuh kastil memangnya bagus dan indah. Tapi di selah-selah cerita, Jo merenung dan memikirkan ancaman Amy ketika dirumah.


Sudah beberapa kali Jo bertengkar hebat dengan Amy. Keduanya memang sama-sama ceoat marah dan cenderung kasar setiap kali merasa tersinggung. Amy senang menjaili Jo begitupun sebaliknya. Jo gemar sekali mengganggu Amy. Kadang-kadang, meledakan pertengkaran diantara keduanya. Meskipun Jo adalah anak tertua nomor dua, tapi kadar pebgendalian dirinya memang paling payah. Kemarahannya memang tidak pernah lama dan dia selalu mengakui kesalahannya dengan tulus, lalu berusaha berbuat lebih baik. Tapi, amarahnya selalu siap membakar dan mengalahkan segalanya. Perlu upaya keras selama bertaun-taun untuk menaklukan rasa itu secara tuntas. Sungguh Jo yang malang!

__ADS_1


Ketika Meg dan Jo pulang, Amy sedang membaca diruang tengah sambil mempertontonkan raut wajah yang terluka. Dia sama sekali tidak mengangkat matanya dari buku atau menyapa mereka.


Saat pergu ke kamar untuk mengganti pakaian. Tatapan Jo langsung diarahkan pada lemari kesayangannya. Dalam pertengkaran terakhirnya pada Amy bulan lalu, Amy meredakan masalahnya dengan menumpahkan isi lemari Jo di lantai. Tetapi kali ini, semua tetap terlihat rapih.


Setelah dengan cepat memeriksa isi lemari, tas dan kotak kayunya,  Jo memutuskan bahwa Amy telah memaaf kan dan melupakan  kesalahan-kesalahannya. Tapi, Jo keliru besar!


Esok harinya, Meg, Beth dan Amy sedang duduk diruang tengah ketika Jo masuk denhan tergesa-gesa. Raut wajahnya tampak khawatir dan curiga, "Siapa yang mengambil naskahku?"


Meg dan Beth terkejut, lalu menjawab serempak "Bukan aku!" Hanya Amy yang tidak berkata apapun, Jo menatap wajah Amy yang tiba-tiba berubah warna. "Kamu, ya, Amy?"


"Bukan  aku, tuh," jawab Amy sekenanya.


"Kalau begitu, kamu tahu dimana naskah itu? Tanya Jo kembali "Tidak tahu!" Amy menjawabnya dengan ketus.


"Setan kecil!" Teriak Jo sambil merenggut bahu Amy.


"Tidak! Aku tidak tahu dimana naskah itu dan aku tidak peduli!" Amy berontak.


"Oh, ya? Kamu pasti tahu dan sebaiknya cepat katakan, atau aku ....," Jo mulai mengguncang-guncangkan tubuh Amy.


"Silahkan puaskan kemarahan mu! Aku tidak akan pernah menemukan naskah jelek itu lagi!" Teriak Amy.


"Mengapa tidak?" Jo penasaran.

__ADS_1


"Karena sudah aku bakar! Hahaha ...!" Kata Amy sambil tertawa penuh kemenangan.


"Apa?! Naskah yang begitu aku sayangi ... hasil jerih payahku ... dan harus selesai sebelum Papa pulang .... apa kamu benar-benar membakarnya?" Kata Jo terbata-bata. Wajahnya menjadi sangat pucat. Matanya menyala-nyala dan tangan nya mengguncang-guncang Amy dengan gugup.


"Ya, memang! Kemarin, kan, aku sudah bilang kalu aku akan membalas kekasaranmu kepadaku. Jadi ...," kata Amy tanpa penyesalan.


Seketika Amy tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena perangai Jo yang beranggasan mulai berkuasa. Jo mengguncang-guncangkan Amy sampai gigi Amy terdengar geretuk.


"Anak Jahat! Anak Jahat! Aku tidak akan bisa menuliskannya lagi dan aku tidak akan pernah memaafkan mu seumur hidupku!" Jo berkata seperti hewab buas.


Meg dan Beth pun langsung melesat untuk melerai mereka berdua.


Setelah Nyonya March pulang dan mengetahui apa yang terjadi dari Meg dan Beth, dia segera mengatakan betapa keliru kelakuan Amy terhadap kakaknya.


Jo sangat bangga terhadap naskahnya. Dia menganggapnya sebagai karya sastra yang sangat menjanjikan. Memang, isinya hanya kisah tentang enam peri, tapi Jo telah mengerjakannya dengan tekun. Dia berharap naskahnya cukup bagus untuk dicetak dan diterbitkan.


Aksi pembakaran yang dilakukan Amy telah menghancurkan karya Jo selama bertahun-tahun. Bagi orang lain, mungkin ini hanya sebagai kehilangan kecil. Tapi bagi Jo, ini merupakan bencana yang sangat besar dan menyedihkan.


Nyonya March, Meg, dan Beth tampak muram dan bersedih hati. Sementara, Amy merasa tidak seorangpun yang akan menyayanginya lagi sampai dia berani meninta maaf karena tindakan yang kini begitu disesalinya.


Ketika makan malam tiba, Jo muncul dengan wajahyang begitu muram. Dia sangat sulit didekati sehingga diperlukan keberanian Amy untuk berkata dengan memelas, " Maafkan aku, Jo. Aku benar-benar menyesal." "Aku tidak akan pernah memaafkan mu" jawab Jo ketus.


Tidak ada seorangpun yang berani membahas jawaban ketus Jo, tidak juga nyonya March. Semuanya tahu persis, "Aku tidak akan pernah memaafkan mu!" Jawab Jo setiap kali Jo berada dalam suasana hati yang buruk, maka kata-kata akan menjadi sia-sia. Cara yang paling bijaksana adalah menunggu adanya suatu mukjizat yang akan menurunkan amarah dan mengobati luka-lukanya.

__ADS_1


Saat Jo menerima kecupan selamat malam dari Mamanyan, Nyonya March berbisik lembut, "Sayangku, jangan biarkan matahari meredup karena amarahmu. Saling memaafkan dan saling tolong lah. Cobalah!"


Jo ingin membaringkan kepalanya di pangkuan Mamanya, lalu menangis sepuas-puasnya untuk menghabiskan amarahnya. Tapi, Jo telah begitu terluka sehingga benar-benar tidak siap untuk memaafkan. Jadi, dengan susah payah dia menggelengkan kepalanya dengan berkata, "Kelakuan Amy benar-benar keterlaluan! Dia tidak berhak dimaafkan."


__ADS_2