Little Women

Little Women
Episode 23


__ADS_3

Pertolongan Tak Sengaja dari Bibi March



Esok harinya, Mr. March tidak pernah lepas dari istri dan anak-anaknya, yang mengikutinya bagaikan kumpulan lebah dan ratu mereka. Mereka mengabaikan semuanya untuk melihat, menunggui, dan mendengarkan cerita si pasien baru, yang seper- tinya sudah kewalahan menerima begitu banyak perhatian dan kebaikan. Saat Mr. March duduk di kursi besar, di samping sofa tempat Beth berbaring, dengan tiga anak yang lain di dekatnya, serta Hannah berulang kali muncul untuk, "menjenguk Tuan Be- sar," rasanya tidak ada lagi yang diperlukan untuk melengkapi ke- bahagiaan mereka. Namun, pada kenyataannya, ada sesuatu yang masih dinantikan, dan orang-orang yang lebih tua bisa merasakan hal ini, meskipun tidak ada yang membicarakannya secara terbu- ka. Mr. dan Mrs. March kerap saling bertatapan dengan ekspresi gelisah, sembari pandangan mereka mengikuti Meg. Jo berkali-kali kehilangan kesabaran, dan pernah sekali tepergok sedang meng- goyangkan tinjunya ke arah payung Mr. Brooke, yang tertinggal di lorong. Pikiran Meg terus melayang-layang, sikapnya menjadi malu-malu serta pendiam, dan ia sering terkejut ketika bel ber- bunyi, atau merona apabila nama John terlontar. Menurut Amy, "Semua orang seolah menunggu terjadinya sesuatu dan tidak bisa tenang. Aneh, padahal Ayah sudah aman di rumah," dan Beth de- ngan polos bertanya-tanya mengapa tetangga mereka tidak mam- pir sesering biasanya.



Sore itu, Laurie melewati rumah keluarga March. Melihat Meg sedang berada di dekat jendela, ia seakan-akan mendadak dikuasai perasaan melodramatis. Laurie jatuh berlutut pada satu kaki di sal- ju, memukuli dadanya, menjambak-jambak rambutnya, dan mera- patkan kedua tangannya tanda memohon, seolah meminta sesuatu yang konyol. Ketika Meg menyuruhnya mengendalikan diri dan pergi, ia berpura-pura mengeluarkan saputangan, lantas berjalan terhuyung-huyung ke sudut jalan, seakan-akan sedang mengalami keputusasaan.



"Apa, ya, maksud si bodoh itu?" tanya Meg, tertawa, berusaha tampak tidak acuh.



"Tentu saja ia memperlihatkan bagaimana John-mu akan ber- sikap nanti. Mengharukan, ya?" sahut Jo ketus.



"Jangan katakan John-ku, tidak pantas, dan juga tidak benar," namun suara Meg terasa berlama-lama saat mengucapkan kedua kata itu, seolah ia senang mendengarnya. "Tolong, jangan ganggu aku, Jo; sudah kukatakan aku tidak begitu peduli terhadapnya, dan tidak ada yang perlu dikatakan, kecuali tetap bersikap ramah, dan bergaul seperti biasa."



"Tidak bisa begitu, karena sesuatu telah terlontar. Kenakalan Laurie telah merusakmu. Aku melihatnya, juga Marmee. Kau tidak kelihatan seperti dirimu yang dulu, dan malah terasa begitu jauh dariku. Aku tidak bermaksud mengganggumu, dan akan mengha- dapi semua ini dengan jantan. Namun, aku memang berharap situ- asi ini cepat selesai. Aku tidak suka menunggu; jika kau memang ingin melakukannya, cepatlah, dan selesaikan saja," sergah Jo.



"Aku tidak bisa berkata atau berbuat apa pun sampai ia sendiri yang angkat bicara. Dan ia tidak akan melakukannya, karena Ayah telah berkata aku masih terlalu muda," jelas Meg sambil terus be- kerja dengan senyum kecil misterius tersungging di bibirnya. Se- nyum itu mengisyaratkan bahwa ia tidak sepenuhnya setuju de- ngan pendapat ayahnya.



"Jika ia mengutarakan isi hatinya, kau pasti tidak akan tahu harus berkata apa, selain menangis atau membiarkan wajahmu merona, atau membiarkannya mendapatkan apa yang ia inginkan. Kau tidak akan memberikan jawaban "tidak" yang tegas dan jelas."



"Aku tidak sebegitu konyol dan lemah seperti perkiraanmu. Aku tahu persis apa yang harus kukatakan, karena aku telah me- rencanakannya, agar aku tidak terkejut nanti. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya ingin bersiap-siap."



Jo tidak bisa menahan dirinya tersenyum melihat tingkah pen- ting, yang tanpa sadar ditampilkan oleh Meg. Sikap Meg itu tam- pak sama menariknya dengan warna-warni rona wajahnya.



"Apakah kau keberatan untuk menceritakan apa yang ingin kaukatakan itu?" tanya Jo, kini dengan sikap lebih menghormati kakaknya.



"Sama sekali tidak; kau sudah enam belas tahun, sudah cukup dewasa untuk menjadi tempatku bercerita. Lagi pula, pengalam- anku mungkin akan berguna untukmu kelak, apabila kau nanti menghadapi urusan semacam ini."



"Aku tidak punya niat untuk itu; sudah cukup menyenangkan menonton orang lain saling merayu, tetapi rasanya konyol sekalimembayangkan diriku melakukan hal yang sama," sergah Jo, tam- pak cemas akan gagasan tersebut.



"Kurasa tidak, kalau kau menemukan seseorang yang benar- benar kausukai, dan orang itu juga menyukaimu," Meg berkata se- olah kepada dirinya sendiri, kemudian melempar pandang ke arah tepi jalan. Di sana, ia sering melihat pasangan pria dan wanita ber- jalan bersama-sama, menikmati petang di musim panas.



"Eh, bukankah kau mau menceritakan kalimat yang sudah kau- rancang untuk orang itu," kata Jo, dengan kasar memotong imaji- nasi kakaknya.



"Oh, aku akan sekadar berkata dengan tenang dan lugas, "Teri- ma kasih, Mr. Brooke, Anda sangat baik, tetapi saya setuju dengan Ayah, bahwa saya masih terlalu muda untuk mengikatkan diri dalam bentuk apa pun saat ini; dan saya mohon, jangan katakan apa-apa lagi, tetapi izinkanlah kita tetap berteman seperti biasa.""



"Hum! Memang kalimat itu cukup tegas dan jelas. Aku tidak percaya kau akan mengatakannya, dan aku tahu ia pasti tidak akan puas jika kau berhasil mengucapkannya. Apabila ia lantas bereaksi seperti pria-pria lain yang ditolak, seperti digambarkan di buku- buku, kau pasti menyerah, karena tidak ingin menyakiti perasa- annya."



"Tidak akan! Akan kukatakan aku telah membuat keputusan, dan aku akan keluar dari ruangan itu dengan kepala tegak."



Meg berdiri sembari berbicara, dan ia baru saja hendak mem- perlihatkan caranya akan keluar dengan kepala tegak, ketika sebu- ah langkah terdengar di lorong. Meg terbang kembali ke tempat duduknya, dan mulai menjahit seolah-olah hidupnya bergantung pada selesai atau tidaknya keliman itu. Jo tercekik menahan tawa melihat perubahan mendadak tersebut dan, setelah mendengar se- seorang mengetuk pintu dengan sopan, membuka pintu tersebut dengan wajah ketus. Ia sama sekali tidak terlihat ramah.



"Selamat sore, aku datang mengambil payungku"tepatnya, aku ingin melihat keadaan ayahmu hari ini," ujar Mr. Brooke, ke- lihatan mulai bingung saat matanya berpindah-pindah antara dua wajah yang menampilkan ekspresi sangat berbeda.



"Payungmu baik-baik saja, Ayah ada di rak, akan kuambilkan dia, dan akan kukatakan kepadanya bahwa kau ada di sini." Se- telah berbicara dengan mencampuradukkan antara payung dan ayahnya, Jo menyelinap keluar dari ruangan itu untuk memberi Meg kesempatan mempraktikkan dialognya, dan memancarkan harga dirinya. Namun, begitu Jo menghilang, Meg malah berjalan ke arah pintu sambil menggumam,"



"Ibu pasti ingin bertemu denganmu, silakan duduk, akan ku- panggilkan beliau."



"Jangan pergi; apakah kau takut kepadaku, Margaret?" Mr. Brooke tampak begitu terluka, sehingga Meg berpikir ia pasti te- lah melakukan sesuatu yang amat tidak sopan. Wajahnya merona sepenuhnya, sampai ke ikal-ikal kecil di dahinya, karena pria itu tidak pernah memanggilnya Margaret sebelumnya. Meg terkejut saat mendengar betapa wajar panggilan itu terdengar, dan manis, saat Mr. Brooke mengucapkannya. Karena ingin tampak ramah dan santai, Meg lantas mengulurkan tangan yang mengisyaratkan bahwa ia memercayai pria itu, dan berkata dengan nada penuh te- rima kasih,"



"Bagaimana mungkin aku takut kepadamu, padahal kau telah begitu baik kepada Ayah? Aku hanya berharap aku bisa berterima kasih kepadamu untuk itu."



"Bolehkah aku memberitahumu caranya?" tanya Mr. Brooke sambil menggenggam tangan mungil Meg dengan mantap, dengan kedua tangannya yang besar. Ia menatap Meg. Tatapan penuh cin- ta terpancar dari mata cokelatnya, sehingga hati Meg mulai bergetar, dan merasa ingin melarikan diri, tetapi juga ingin mendengar- kannya.



"Oh, tidak perlu, kumohon, jangan"ah, sebaiknya tidak usah," ujar Meg, mencoba menarik kembali tangannya. Walaupun sebe- lumnya menyangkal, Meg kini tampak ketakutan.



"Aku tidak akan menyusahkanmu, aku hanya ingin tahu apa- kah ada perasaan untukku di hatimu, Meg, meskipun sedikit. Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Sayang," tambah Mr. Brooke de- ngan lembut.



Inilah saatnya untuk menyampaikan pidatonya dengan tenang dan pantas. Tapi, Meg tidak pernah melakukannya. Ia lupa setiap kata yang sudah ia hafalkan. Meg hanya menundukkan kepala, ke- mudian menjawab, "Entahlah," begitu pelan, sampai John harus menunduk untuk mendengar balasan yang tanpa makna itu.



Sepertinya, Mr. Brooke merasa reaksi tersebut sepadan dengan usahanya, karena ia tersenyum kepada dirinya sendiri, seakan puas, meremas tangan Meg dengan perasaan senang, dan berkata dengan nada paling memikat, "Maukah kau mencoba dan mencari tahu? Aku sangat ingin mengetahuinya. Tidak mungkin aku terus berusaha memenangkan hati seseorang, jika aku tidak tahu hadiah apa yang menantiku kelak."



"Aku terlalu muda," balas Meg lemah, bertanya-tanya dalam hati mengapa ia begitu gemetar, sekaligus menyukai hal ini.



"Aku akan menunggu; sementara itu, kau bisa belajar untuk menyukaiku. Apakah pelajaran tersebut akan terlalu sulit bagi- mu?"



"Tidak, jika aku memang memilihnya, tapi..."



"Maka tentukan pilihanmu, Meg. Aku senang mengajar, dan hal ini jauh lebih mudah ketimbang bahasa Jerman," sergah John, meraih tangan Meg yang satu, sehingga Meg tidak dapat lagi menyembunyikan wajahnya, saat John membungkuk untuk mena-



tapnya.

__ADS_1



Nada suaranya memohon, tetapi sopan. Namun, saat Meg mencuri pandang malu-malu ke arahnya, ia melihat bahwa tatap- an John mengandung keceriaan selain kelembutan, dan bahwa pria itu sedang memperlihatkan senyum puas, khas seseorang yang tidak lagi ragu akan keberhasilannya. Hal ini mengganggu Meg; pelajaran-pelajaran konyol Annie Moffat tentang rayuan tiba-tiba terlintas di benak Meg. Kekuatan cinta, yang berada di hati setiap perempuan muda terbaik, mendadak bangkit dan menguasainya. Meg merasa bersemangat, sekaligus ganjil. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, ia mengikuti dorongan untuk berubah, menarik kedua tangannya, dan berkata gusar, "Aku tidak memilih; kumo- hon pergilah, dan biarkan aku!"



Mr. Brooke yang malang tampak seolah-olah kastil indah di dalam bayangannya runtuh bergemuruh. Ia belum pernah melihat Meg dalam suasana hati seperti ini sebelumnya, dan ia merasa bi-



ngung.



"Apakah kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu?" tanyanya, gelisah, mengikuti Meg yang berjalan menjauh.



"Ya; aku tidak ingin memikirkan hal-hal seperti ini. Ayah ber- kata belum waktunya; terlalu cepat, dan aku memang tidak ingin."



"Dapatkah aku berharap kau akan mengubah pendapatmu ke- lak? Aku akan menunggu dan tidak mengatakan apa pun sampai kau benar-benar siap. Jangan permainkan aku, Meg, aku tidak per- nah punya pendapat seperti itu tentang dirimu."



"Tidak perlu berpendapat apa pun tentang aku. Aku lebih suka jika kau tidak melakukannya," kata Meg, merasakan kepuasan ja- hil saat ia menguji kesabaran sang kekasih, sekaligus kadar keku- asaannya sendiri.



Mr. Brooke tampak murung dan pucat, dan justru tampak le- bih menyerupai tokoh-tokoh pahlawan yang dikagumi Meg. Akan tetapi, ia tidak memukul dahinya, atau berjalan hilir-mudik di ru- angan seperti digambarkan dalam cerita-cerita. Mr. Brooke hanya berdiri memandang Meg dengan sungguh-sungguh, begitu lembut, hingga Meg merasakan hatinya meleleh meski berlawanan dengan niatnya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi berikutnya, kalau saja Bibi March tidak datang tepat pada menit yang menentukan tersebut.



Perempuan tua itu tidak bisa melawan keinginan untuk men- jenguk kemenakannya. Ia berpapasan dengan Laurie ketika ia se- dang berjalan-jalan menghirup udara segar, dan mendengar kabar bahwa Mr. March sudah pulang, Bibi March segera pergi mene- muinya. Keluarga March sedang sibuk di bagian belakang rumah, sehingga ia memilih masuk diam-diam, berniat mengejutkan me- reka. Alih-alih, ia malah membuat Meg dan Mr. Brooke terkejut setengah mati, sampai Meg tampak seolah ia sedang melihat han- tu, dan Mr. Brooke mendadak menghilang ke ruang belajar.



"Wah, wah! Ada apa ini?" seru perempuan tua itu, sambil me- ngetuk-ngetukkan tongkatnya dan melirik berpindah-pindah dari wajah pucat seorang pria muda, ke wajah Meg yang begitu meme- rah.



"Ini teman Ayah. Aku sangat terkejut melihat Bibi!" Meg ter- gagap, merasa ia sudah pasti akan terpaksa mendengarkan cera- mah bibinya sekarang.



"Jelas sekali," komentar Bibi March, lantas mengambil tempat duduk. "Tapi, apa yang telah dikatakan teman Ayah, yang mem- buatmu seperti bunga peoni? Ada yang tidak beres di sini, dan aku harus tahu yang sebenarnya!" tongkat Bibi March kembali dike- tuk-ketukkan.



"Kami sekadar mengobrol. Mr. Brooke datang untuk mengam- bil payungnya," Meg menjelaskan, berharap-harap cemas bahwa Mr. Brooke dan payungnya telah dengan aman meninggalkan ru- mah itu.



"Brooke? Tutor si bocah? Ah! Aku paham sekarang. Aku tahu segalanya. Jo tanpa sengaja menaruh pesan yang salah di dalam salah satu surat ayahmu, dan aku memaksanya menceritakannya kepadaku. Kau belum menerimanya, kan?" seru Bibi March, tam- pak tersinggung.



"Aduh! Nanti ia dengar! Haruskah kupanggilkan Ibu?" kata Meg, tampak sangat kalut.



"Tidak perlu. Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu, dan aku harus membebaskan pikiranku saat ini juga. Katakanlah"apa- kah kau berniat menikahi si Rook miskin itu? Kalau ya, tidak se- peser pun dari uangku yang akan kuberikan kepadamu. Ingat itu, dan jadilah gadis yang berpikiran sehat," kata Bibi March, tegas.



Nah, Bibi March memiliki bakat sempurna untuk membang- kitkan semangat perlawanan di dalam diri orang yang paling lem- but sekalipun, dan ia senang melakukannya. Pribadi-pribadi yang terbaik tetap memiliki bibit pemberontakan di dalam diri mere- ka, terutama saat berusia muda dan sedang jatuh cinta. Jika Bibi March memohon agar Meg menerima John Brooke, mungkin Meg akan segera mengatakan bahwa ia bahkan tidak berminat untuk mempertimbangkannya. Akan tetapi, Meg ia perintahkan untuk tidak menaruh hati pada pria itu, sehingga ia segera memutuskan untuk melakukan yang sebaliknya. Dorongan sekaligus pemberon- takan membuat keputusan itu keluar dengan mudah dan, karena emosinya telah dibangkitkan sebelumnya, Meg pun melawan ke- rabatnya yang sudah tua itu dengan semangat cukup tinggi.



"Aku akan menikah dengan siapa pun yang kumau, Bibi March. Kau bisa mewariskan uang itu kepada siapa pun yang kau suka," balasnya sambil menganggukkan kepala dengan sikap yang menyatakan kebulatan tekadnya.




"Tidak mungkin lebih buruk ketimbang yang harus dihadapi orang lain di dalam rumah-rumah besar," sahut Meg.



Bibi March mengenakan kacamatanya dan menatap Meg baik- baik, karena ia tidak begitu mengenalinya dalam suasana hati ini. Meg pun hampir tidak mengenali dirinya; ia merasa begitu berani serta mandiri, bahagia karena telah membela John, dan menggu- nakan haknya untuk mencintai pria itu, jika ia memang mengi- nginkannya. Bibi March segera menyadari kekeliruannya. Setelah diam sebentar, ia memutuskan untuk memulai lagi dan berkata, seringan mungkin, "Nah, Meg, sayangku, pikirkanlah lagi, dan turuti nasihatku. Aku bermaksud baik, dan tidak ingin kau meru- sak sisa hidupmu dengan membuat kesalahan pada awalnya. Kau harus menikah dengan pasangan yang baik, kemudian membantu keluargamu; adalah tugasmu untuk menemukan pasangan yang kaya. Hal ini harus ditegaskan kepadamu."



"Ayah dan Ibu tidak berpendapat begitu. Mereka menyenangi John, walau ia memang miskin."



"Pandangan ayah dan ibumu tentang dunia ini tidak lebih baik dari dua orang bayi."



"Aku bersyukur untuk itu," seru Meg, keras kepala.



Bibi March tidak mengacuhkannya, dan terus saja berceramah. "Si Rook ini miskin, dan tidak punya saudara yang berharta, ya?"



"Tidak; tetapi ia punya banyak sahabat yang berhati baik."



"Kau tidak bisa hidup mengandalkan sahabat; coba saja, dan kau akan lihat betapa dinginnya mereka kelak. Ia tidak punya usa- ha apa pun, kan?"



"Belum; Mr. Laurence akan menolongnya."



"Tidak akan bertahan lama. James Laurence adalah pria tua yang nyentrik, tidak bisa diandalkan. Jadi, kau berniat menikahi seorang pria tanpa uang, jabatan, ataupun usaha, dan kau akan bekerja lebih keras ketimbang sekarang, padahal kau bisa hidup nyaman setiap hari, dan berada di tempat yang lebih baik, kalau saja mau mendengarkan nasihatku. Kukira kau lebih cerdas dari ini, Meg."



"Aku tidak mungkin mendapatkan yang lebih baik, kalaupun aku menunggu selama separuh hidupku! John adalah pria yang baik dan bijaksana; ia punya segudang bakat; ia mau bekerja ke- ras, dan yakin akan maju. Ia juga amat bersemangat dan seorang pemberani. Semua orang menyukai dan menghormatinya, dan aku bangga bahwa ia menyukaiku, walaupun aku begitu miskin, muda, dan konyol," sembur Meg, tampak semakin cantik saat sedang ber- api-api.



"Ia tahu kau punya kerabat yang kaya; kuduga, itulah rahasia di balik cintanya."



"Bibi March, mengapa kau tega mengatakan hal seperti itu? John tidak mampu berlaku licik seperti itu, dan aku tidak akan mendengarkanmu lebih lama lagi apabila kau berbicara seperti ini," seru Meg, kesal, lupa akan segalanya, kecuali ketidakadilan di dalam kecurigaan si wanita tua. "John-ku tidak akan menikah demi uang, begitu pula aku. Kami bersedia bekerja, dan kami ingin menunggu. Aku tidak takut menjadi miskin, karena sejauh ini aku toh bahagia. Dan aku tahu aku akan bersamanya, karena ia men- cintaiku, dan aku..."



Meg berhenti karena tiba-tiba ia teringat bahwa ia belum mem- buat keputusan; bahwa ia telah menyuruh "John-nya" untuk pergi, dan bahwa pria itu mungkin mendengar kata-katanya yang tidak konsisten ini.



Bibi March sangat marah, karena di dalam hatinya ia telah berniat menjodohkan cucu-kemenakannya yang cantik itu dengan seorang pria yang pantas untuknya. Selain itu, ada sesuatu di balik wajah muda yang bahagia tersebut, yang membuat perempuan tua kesepian itu merasa sedih sekaligus bertambah keras kepala.



"Baiklah; aku angkat tangan dari urusan ini! Kau anak kepala batu, dan kau akan kehilangan lebih besar ketimbang yang kauba- yangkan dalam hal ini. Tidak, aku tidak akan berhenti; aku kece- wa padamu, dan kini semangatku untuk menjenguk ayahmu sudah hilang. Jangan harapkan apa-apa dariku saat kau menikah nanti. Teman-teman Mr. Brooke-mu itu harus mengurusmu. Aku tidak akan berurusan lagi denganmu selamanya."

__ADS_1



Lantas, sambil membanting pintu di depan wajah Meg, Bibi March pergi dalam keadaan murka. Tampaknya, perempuan tua itu pergi dengan membawa serta segenap kekuatan Meg. Begitu di- tinggalkan sendirian, Meg berdiri sejenak, tidak tahu harus mena- ngis atau tertawa. Sebelum ia bisa memutuskan, Mr. Brooke kem- bali di hadapannya, dan berkata dalam satu tarikan napas, "Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mendengarkan, Meg. Terima kasih telah membelaku, dan kepada Bibi March yang membukti- kan bahwa kau memang peduli kepadaku sedikit."



"Aku tidak tahu seberapa besar, sampai ia menghinamu," Meg mengaku.



"Dan aku tidak perlu pergi menjauh, tetapi boleh tetap di sini dan berbahagia"boleh, bukan, Meg?"



Ini adalah kesempatan kedua untuk menyampaikan kata-kata pidatonya, serta memperlihatkan caranya keluar dari situasi itu de- ngan anggun, tetapi Meg tidak pernah terpikir untuk melakukan keduanya. Ia lantas mempermalukan dirinya selamanya di mata Jo dengan berbisik pelan, "Ya, John," kemudian menyembunyikan wajahnya pada jaket Mr. Brooke.



Lima belas menit setelah kepergian Bibi March, Jo menuruni tangga pelan-pelan. Ia berhenti sebentar di muka pintu ruang du- duk dan, mendengar tidak ada suara dari dalam, ia mengangguk dan tersenyum, dengan ekspresi puas, lantas berkomentar kepada dirinya sendiri, "Meg telah mengusirnya sesuai rencana, dan ma- salah itu selesai. Kini, aku akan mendengar kisahnya, dan tertawa keras-keras."



Akan tetapi, Jo yang malang tidak bisa tertawa. Di ambang pintu, ia terpaku melihat pemandangan yang tersaji di hadapan- nya, dan ia pun menatap dengan mulut ternganga dan mata terbe- lalak. Bagi Jo, yang masuk untuk merayakan jatuhnya si musuh, serta memuji keteguhan tekad kakaknya karena telah mengusir kekasih yang tidak ia sukai, pemandangan yang dilihatnya benar- benar membuatnya terguncang; musuhnya duduk santai di sofa, sedangkan kakaknya yang bertekad teguh duduk di pangkuan pria itu, dengan ekspresi menyerah dan pasrah. Situasi di luar dugaan itu sungguh-sungguh mengejutkannya hingga Jo terpekik, seakan tubuhnya disiram seember air dingin. Mendengar suara aneh itu, sepasang kekasih tersebut berpaling dan melihatnya. Meg melom- pat berdiri, tampak bangga sekaligus malu. Namun, "pria itu", be- gitu Jo memanggilnya, malah tertawa, dan berkata santai, sembari mengecup tamu yang terguncang itu, "Adik Jo, berikan selamat kepada kami!"



Kata-kata itu bagaikan garam ditaburkan pada luka yang ter- buka! Tidak mungkin tertanggungkan! Dan, setelah memperli- hatkan gerakan-gerakan ganjil dengan tangannya, Jo menghilang tanpa kata. Ia bergegas ke atas, mengejutkan kedua pasien dengan berseru-seru tragis sambil berlari masuk ke kamar, "Oh, seseorang harus turun sekarang juga! John Brooke sedang bertingkah kacau, dan Meg menyukainya!"



Mr. dan Mrs. March secepat kilat meninggalkan kamar. Se- mentara itu, Jo melemparkan dirinya ke tempat tidur, lantas me- nangis dan berkata-kata dengan gusar, sambil menceritakan kabar buruk itu kepada Beth dan Amy. Namun begitu, kedua gadis kecil tersebut justru menganggap peristiwa di bawah sebagai hal yang menarik dan menyenangkan. Tidak mendapatkan penghiburan apa pun dari keduanya, Jo mengungsi ke loteng, dan mencurahkan isi hatinya kepada para tikus.



Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di ruang duduk pada sore itu, tetapi ada banyak pembicaraan yang dilakukan. Mr. Brooke yang pendiam membuat teman-temannya tercengang dengan ke- luwesannya berbicara, serta semangat yang diperlihatkannya saat ia menyampaikan isi hatinya, rencananya, serta membujuk mereka untuk mengatur segala sesuatunya sebagaimana yang ia harapkan.



Bel minum teh berbunyi sebelum ia selesai menggambarkan surga yang ingin ia persembahkan kepada Meg. Dengan bangga, Mr. Brooke menggandeng Meg untuk menyantap hidangan sore. Keduanya tampak begitu bahagia, sampai Jo tidak tega untuk ber- sikap cemburu, ataupun menampakkan kekesalannya. Amy luar biasa terkesan melihat dalamnya perasaan John, sekaligus sikap Meg yang santun dan terhormat. Wajah Beth bersinar-sinar dari kejauhan, sementara Mr. dan Mrs. March mengamati pasangan muda itu dengan ekspresi lembut dan senang, sehingga jelaslah su- dah bahwa Bibi March memang benar saat menjuluki mereka "ti- dak ada bedanya dengan dua orang bayi." Tidak ada yang makan berlebihan, tetapi semua orang tampak riang. Ruangan tua itu pun, secara ajaib, tampak lebih terang, seiring dengan mekarnya kisah cinta pertama di keluarga March.



"Sekarang, kau tidak bisa berkata "tidak satu pun hal menye- nangkan terjadi," ya, Meg?" kata Amy, mencoba memutuskan bagaimana ia akan menempatkan pasangan merpati ini di dalam sketsa yang ingin ia buat.



"Tidak, kuyakin tidak bisa. Betapa banyak yang telah terjadi setelah aku mengucapkan kata-kata itu! Rasanya, sudah setahun berlalu," jawab Meg, yang sedang berada di dalam sebuah mimpi indah, dan terangkat jauh ke atas melebihi hal-hal biasa seperti roti dan mentega.



"Kali ini, kebahagiaan demi kebahagiaan datang menggantikan kesusahan. Kupikir, akan ada banyak perubahan dan semuanya sedang dimulai," komentar Mrs. March. "Di dalam sebagian be- sar keluarga, berbagai peristiwa terjadi silih berganti dalam satu tahun. Ini tahun yang sangat penting bagi kita, dan aku bersyukur semuanya berakhir dengan baik."



"Mudah-mudahan tahun depan berakhir dengan lebih baik," gumam Jo. Amat sulit baginya melihat Meg begitu terserap per- hatiannya terhadap seorang asing di hadapannya, karena hanya ada beberapa orang yang sungguh-sungguh dicintai oleh Jo, dan ia sangat takut akan kehilangan cinta mereka, atau jika cinta itu berkurang.



"Semoga, tahun ketiga dari tahun ini akan berakhir jauh lebih baik; maksudku, mungkin"apabila aku berhasil mewujudkan ren- cananku," timpal Mr. Brooke sambil tersenyum ke arah Meg, sea- kan segalanya sekarang telah menjadi mungkin baginya.



"Tidakkah itu terlalu lama untuk menunggu?" tanya Amy, yang begitu tak sabar ingin segera menyaksikan sebuah pernikah-



an.



"Masih ada banyak sekali yang perlu kupelajari sebelum aku benar-benar siap, tiga tahun justru akan terasa singkat bagiku," sa- hut Meg, dengan ekspresi manis yang selama ini belum pernah tampak di wajahnya.



"Kau hanya perlu menunggu. Aku yang akan bekerja keras," kata John, mengawali kerjanya dengan memungut serbet Meg, de- ngan ekspresi yang membuat Jo menggeleng-gelengkan kepalanya. Terdengar pintu depan terbanting, dan Jo pun berkata kepada diri- nya sendiri dengan lega, "Ini Laurie datang; sekarang, barulah kita akan bercakap-cakap dengan pikiran waras."



Tapi, Jo lagi-lagi keliru. Laurie datang dengan bersemangat, meluap-luap dengan keriangan. Ia membawa buket bunga yang di- rangkai dengan gaya pesta pernikahan untuk "Mrs. John Brooke", Jelas, di kepalanya, ia menganggap jalinan percintaan itu terjadi berkat pengaturannya yang luar biasa cerdik.



"Aku tahu Brooke akan melakukannya dengan caranya"ia memang selalu begitu, sekali ia membuat keputusan akan sesuatu, maka ia akan mewujudkannya, meskipun langit runtuh," terang Laurie, setelah ia selesai mempersembahkan hadiah serta membe- rikan ucapan selamatnya.



"Terima kasih banyak atas rekomendasimu. Kuanggap hal itu sebagai pertanda baik, dan dengan ini kau kuundang untuk meng- hadiri pernikahanku," ucap Mr. Brooke, yang sedang merasa begi- tu damai di hadapan seluruh umat manusia, termasuk di hadapan muridnya yang badung itu.



"Aku pasti datang, bahkan kalaupun aku sedang berada di ujung dunia. Ekspresi wajah Jo sendiri, pada hari itu, pastilah se- padan dengan perjalanan jauh yang harus kutempuh. Nona, kau tidak tampak ceria; ada apakah?" tanya Laurie, mengekor Jo ke sudut ruang duduk, di mana semua orang berkumpul untuk me- nyambut Mr. Laurence.



"Aku tidak menyetujui perjodohan ini, tetapi sudah kuputus- kan aku akan menerimanya, dan tidak akan mengatakan apa pun untuk menentangnya," kata Jo serius. "Kau tidak mengerti, betapa berat bagiku untuk melepaskan Meg," lanjutnya. Suaranya sedikit bergetar.



"Kau tidak menyerahkannya. Kau hanya membaginya," kata Laurie, menghibur.



"Tetap saja, keadaannya tidak akan pernah sama lagi. Aku te- lah kehilangan sahabat terbaikku," keluh Jo.



"Kan kau masih memiliki aku. Aku tahu, aku tidak terlalu ber- harga. Tetapi aku akan selalu bersamamu, Jo, setiap hari sepanjang hidupku; aku berjanji!" dan Laurie memang bersungguh-sungguh akan ucapannya.



"Aku tahu kau bersungguh-sungguh dalam hal itu, dan aku sa- ngat berterima kasih. Kau selalu berhasil menghiburku, Teddy," balas Jo, menjabat tangan Laurie dengan penuh rasa terima kasih.



"Yah, sekarang, jangan kesal lagi. Nah, begitu. Tidak apa-apa. Ia pria yang baik dan Meg bahagia; Brooke akan sibuk dan tidak lama kemudian menemukan tempat tinggal; Kakek akan menga- wasinya, dan pasti akan sangat menyenangkan apabila kita dapat bertamu, menemui Meg di rumah mungilnya sendiri. Kita akan bersenang-senang setelah Meg pergi, kemudian tanpa terasa aku akan sudah menyelesaikan kuliah, dan setelahnya kita akan per- gi ke luar negeri, atau berjalan-jalan, atau apa pun. Tidakkah itu mengasyikkan?"



"Ya, aku pikir pun begitu. Tapi tidak ada yang tahu apa yang bisa terjadi dalam tiga tahun," kata Jo merenung.



"Betul sekali! Tidakkah kau berharap, kau bisa melihat ke masa depan, dan mengetahui di mana kita masing-masing kelak? Aku ingin sekali," kata Laurie.



"Aku tidak, karena aku mungkin akan melihat peristiwa-peris- tiwa menyedihkan, padahal semua orang tampak begitu bahagia saat ini. Kurasa, situasi ini tidak bisa lebih sempurna lagi," dan pandangan Jo pun perlahan mengitari ruangan. Sorot matanya pelan-pelan berubah menjadi berbinar-binar, karena situasi yang ada menimbulkan kemungkinan-kemungkinan indah di masa depan.



Ayah dan Ibu duduk bersama, diam-diam menikmati kembali bab pertama perjalanan kasih mereka, yang bermula sekitar dua puluh tahun yang lalu. Amy sedang menggambar Meg dan Mr. Brooke, yang duduk terpisah, dan sedang tenggelam di dalam du- nia mereka sendiri. Cahaya dari dunia tersebut menyentuh wajah keduanya dengan keindahan yang tidak bisa ditiru sang artis cilik. Beth berbaring di sofanya sambil mengobrol riang dengan sahabat tuanya, yang menggenggam tangan Beth seakan baginya tangan itu adalah kekuatan yang akan membimbingnya melalui jalan da- mai yang Beth lalui. Jo sendiri mengambil tempat di kursi rendah kesukaannya, dengan ekspresi serius dan pendiam yang mengua- sainya, sementara Laurie bersandar di belakang kursinya. Dagu- nya berada tepat di atas rambut ikal Jo. Laurie tersenyum lebar, kemudian mengangguk ke arah Jo melalui sebuah kaca panjang yang memantulkan bayangan mereka berdua.



Dengan ini, tirai pun diturunkan di atas kisah Meg, Jo, Beth, dan Amy. Apakah tirai itu akan dibuka kembali, bergantung pada reaksi yang nanti diterima oleh babak pertama dalam drama kelu- arga ini, yang kuberi judul Gadis-Gadis March."


__ADS_1



__ADS_2