
"Anak itu persis cyclops*, Ya?" Kata Amy pada suatu hari ketika melihat Ryan sedang menunggang kuda.
"Berani-beraninya kamu bilang begitu!" Matanya, kan, lengkap! Dan kedua matanya pun sangat hangat mempesona!" Teriak Jo memprotes perkataan Amy terhadap sahabatnya.
"Aku tidak mengomentari matanya,kok. Aku juga tidak tahu kenapa kamu jadi uring-uringan begitu? Aku kan, hanya mengagumi caranya mengendalikan kuda!" Bantah Amy.
"Ya, ampun! Maksud si bebek ini centaur**, dan dia mengatakannya sebagai cyclops!" Teriak Jo sambil tertawa.
"Kamu tidak perlu sekasar itu! Masalahnya, kan, hanya kesleo lidah," kata Amy mengelak. "Ah ... andai aku punya beberapa persen saja dari uang yang bisa di habiskan Ryan untuk membeli kuda itu!"
"Memangnya kenapa? Tanya Meg lembut.
"Aku sangat membutuhkan uang. Utangku sudah bertumpuk," jawab Amy memelas.
"Utang? Apa maksudmu?" Tanya Meg terkejut.
"Aku berutang paling sedikit selusin lemon," suara Amy pelan.
"Memangnya, sekarang lemon lagi ngetren, ya?" Tanya Meg lagi.
Amy menjawab dengan antusias, "Ya. Lemon memang lagi ngetren. Kalo tidak mau di sebut cewek kampungan, kamu harus memilikinya. Cewek-cewek pada mengisap di kelas. Waktu istirahat, mereka menukarnya dengan pensil, cincin karet, boneka kertas atau apa saja. Jika ada seorang anak perempuan berteman dengan anak perempuan lainnya, dia pasti akan memberinya lemon. Tapi, kalau seorang anak perempuang membenci anak perempuan lainnya, dia akan mengemut-**** lemon itu persis didepan wajahnya tanpa memberikannya sedikitpun. Mereka mencoba secara bergiliran. Aku sudah banyak mencoba, tetapi belum pernah memberi. Aku harus memberinya karena itu merupakan utang budi pertemanan."
"Berapa lemon yang kamu perlukan untuk melunasi utang budi mu?" Tanya Meg sambil membuka dompetnya.
__ADS_1
"Mungkin dua lusin," jawab Amy sambil menunduk.
"Nihh, uangnya! Tapi, jangan boros!" Meg menyodorkannya kepada Amy.
"Oh, terima kasih! Betapa menyenangkannya bisa mengitungi uang!" Amy menerima dengan senang hati.
Keesokan harinya, Amy tidak sabar untuk memamerkan bungkusan lemonnya dengan penuh kebanggaan. Berapa menit kemudian, beredar desas-desus bahwa Amy March mempunyai dua puluh empat lemon lezat di laci bangkunya.
Setelah beredar info itu, tiba-tiba Gissca Marselin mengundang Amy ke "Pesta" lemon di pojok kelas. Qilla kingsley bahkan memaksa Amy agar mau menerima pinjaman jan tangan mewahnya sampai istirahat. Sementara, Jenny Landfly, seorang perempuan berlidah tajam yang pernah menyebarkan isu bahwa Amy tidak mampu membeli lemon, mendadak jadi super ramah. Tapi, Amy tidak akan pernah melupakan ejekan Nona Jenny yang menyakitkan; tentang hidung pesek nya yang seperti terlindas kereta kuda, Amy cepat-cepat mengirimkan Nona Jenny sepucuk "telegram" yang berbunyi, "kamu tidak perlu tiba-tiba jadi sopan begitu karena kamu tidak akan pernah memperoleh sebuah lemon pun dariku!"
Pagi itu, seorang tokoh terhornat mengunjungi sekolah Amy. Kebetulan, sekolah sedang mengadakan pameran lukisan seluruh siswa. Tapi, yang dapat penghargaan dan pujian paling hangat adalah Lukisan-lukisan Amy yang indah. Hal ini, membuat Nona Jenny sang musuh bebuyutan Amy menjadi iri.
Setelah itu Jenny langsung berpura-pura mengajukan pertanyaan penting kepada pak Davis, kepala sekolah, tentang kebiasaan siswa membewa lemon ke sekolah.
Jelas sekali, pagi ini Pak Davis terlalu banyak minum kopi yang sedikit banyak mengganggu sarafnya. Kelakuannya menjadi segila nenek sihir dan sebuas beruang. Sangat mengerikan!
Nona Jenny yang masih menyimpan dendam kepada Amy, berpura-pura terkejut dan menjungkirkan meja Amy. Lemon-lemon pun menggelinding dari laci dan kelas pun menjadi ricuh.
"Nona-nona Muda, perhatian!"jerit Pak Davis.
Ruang kelas tiba-tiba menjadi hening. Lima puluh pasang mata dengan patuh menatap wajahnya yang memuakkan.
"Nona March, kemari! Punguti lemon-lemonmu yang menggelinding itu!" Perintah Pak Davis.
__ADS_1
Dengan penuh derita, Amy mematuhi perintah tersebut.
"Kamu yakin tidak ada lagi?" Ulang Pak Davis dengan nada nyinyir.
"Saya tidak pernah berbohong pak!" Jawab Amy terbata-bata.
"Begitu, ya ? Sekarang, buang benda-benda menjijikan itu keluar! Satu per satu!" Kali ini suara Pak Davis semakin keras.
Amy bolak-balik melemparkan lemonnya ke tong sampah dengan hati teriris-iris. Ini sudah keterlaluan. Semua mata memandang Pak Davis yang tidak punya perasaan dengan penuh dendam, kecuali Nona Jenny. Malah, salah satu pecinta lemon benar-benar mencucurkan air matanya melihat kejadian ini.
Setelah Amy selesai, Pak Davis berdehem dan berkata dengan gaya yang paling mengesalkan.
"Nona-nona Muda, kalian harus ingat apa yang saya katakan minggu lalu dan saya tidak pernah menjilat ludah saya sendiri. Nona March, silahkan sit up!"
Amy merasa terlalu hina untuk menangis atau memohon. Amy menggigit bibirnya, lalu melakukan sit up beberapa kali. Untuk pertama kalinya. Dia merasa sangat dipermalukan dan deserang di depan umum.
"Sekarang, berdiri di depan papan pengumuman sampai waktu istirahat," kata Pak Davis puas, memutuskan hukumannya.
Ini benar-benar penderitaan yang mengerikan dan Jenny ikut andil di dalamnya.
Awas! Aku akan menceritakan kejadian ini dirumah!
Kata Amy dalam hati.
__ADS_1