Little Women

Little Women
*Little Women Part6* (IMPIAN BETH)


__ADS_3

Ketika Jo menceritakan petualangan nya di rumah keluarga lawrence, seluruh keluarga March merasa ingin datang ke sendiri kerumah tersebut. Masing-masing menemukan sesuatu yang di anggap menarik. Meg ingin sekali melihat semua ruangan disana, sedangkan Beth tidak tahan ingin mencoba pianonya. Sementara itu, Amy ingin melihat lukisan-lukisan dan patung-patung indah di dalamnya.


"Ma, kenapa kakek Jhoon tidak suka mendengar kan Ryan bermain piano?" Tanya Jo.


"Mama tidak tahu pasti. Tapi, mungkin karena dulu papa Ryan nekat menikahi mama Ryan yang pemain piano Italia. Tapi, kakek Jhoon tidak menyetujui pernikahan itu. Keduanya meninggal dunia ketika Ryan masih kecil, lalu kakek Ryan membawanya. Kasihan anak itu. Dia lahir di Italia dan tidak begitu kuat. Kakek itu begitu ketakutan kehilangan dirinya sehingga sangat berhati-hati. Ryan, secara naluriah suka musik karena dia mirip ibunya. Dan menurut Mama, kakeknya sangat khawatir akan hal ini."


"Ohh ... karena itulah dia tampan dan memiliki mata serta rambut gelap seperti orang Italu. Ya, Tuhan .... kisah yang romantis,ya?" Seru Meg.


"Romantis apanya? Tragis, tahu!" Timpal Jo.


Sejak Jo datang kerumah keluarga Lawrence, mereka jadi lebih akrab. Bahkan, suatu hari, kakek Jhoon datang berkunjung dan berbincang-bincang dengan Mama.


"Sekarang, Ryan sudah meninggalkan musiknya. Dua sudah tidak tergila-gila lagi dengan musik dan saya gembira karenanya. Tapi sekarang, piano itu menderita dan ingin dimaninkan. Apakah anak-anak anda ada yang false, Nyonya?" Tanya Kakek Jhoon Boy.


Beth yang mendengar percakapan itu menekan tangan nya erat-erat agar tidak sampai bertepuk tangan. Ini seperti godaan yang tidak mampu ditolaknya. Tapi, ketika kakek Jhoon bangkit untuk permisi, Beth memberanikan diri untuk berbicara. "Tuan, aku Beth. Aku sangat suka musik dan bisa bermain piano. Kalau tuan berkenan, aku bisa datang dan memainkan nya," kata Beth sambil menunduk malu.


"Datang dan lakukanlah apa pun yang kamu ingin kan" kata kakek bersahabat.

__ADS_1


"Terimakasih. Betapa baiknya anda, Tuan!" Kata Beth tak bisa lagi berkata-kata.


Laki-laki tua itu merapikan helai-helai rambut yang jatuh di kening Beth yang lembut. "Aku pernah punya seorang cucu dengan mata sepertimu. Selamat siang, sampai jumpa!"


Beth memeluk mamanya, kemudian berlarindengan tergesa-gesa untuk menyampaikan berita tersebut kepada saudari-saudarinya. Saking gembira, malam harinya Beth sampai mengigau memainkan piano, padahal, yang di pencet-pencetnya adalah muka Amy yang tidur di sebelahnya.


Sejak saat itu, Beth pergi kerumah kakek Jhoon setiap hari untuk memaikan pianonya. Beth sangat gembira telah mendapatkan kesempatan ini. Untuk mengungkapkan rasa terimakasihnya, suatu hari Beth memberikan sepasang sandal rumah buatannya sendiri kepada kakek Jhoon Boy.


Beth baru saja tiba ditikungan jalan sambil membawa keranjang penuh belanjaan ketika melihat mama dan saudari-saudarinya melambai-lambaikan tangan dari balik jendela. Begitu Beth memasuki halaman rumah, pintu langsung terbuka.


"Beth cepatlah! Ada surat dari kakek Jhoon!" Teriak mama dan ketiga saudaranya.


"Dasar mulut ember!" Bentak Jo.


Beth bergegas menuju teras dengan hati berdebar-debar didepan pintu, ketiga saudaranya mengampit nya. Seakan-akan, dia sedang di antar kesebuah upacara kemenangan.


Semua telunjuk dan suara menunjukke satu arah. "Lihat di sana! Lihat di sana!"

__ADS_1


Tiba-tiba, wajag Beth menjadi pucat pasti karena terkejut sekaligus senang. Sebuah piano mengkilat berdiri di sana. Sepucuk surat tetgeletak di atas tutupnya dengan tulisan "Nona Elizabeth March".


"Untukku?" Kata Beth terkejut. Tangannya berpegangan pada tubuh Jo seolah-olah tubuhnya akan terjatuh.


"Ya, untukkmu, adikku tersayang! Bukankah laki-laki tua itu sangat baik? Coba baca suratnya!" Teriak Jo sambil mengguncang-ngguncang bahu adiknya, lalu memberikan surat tersebut.


"Kamu saja yang membacanya! Rasanya aku tidak kuat! Ini terlalu indah!".


Jo membuka surat tersebut dan mulai membacanya.


"Yang terhormat Nona Elizabeth March ...."


"Oh, betapa indah kedengaranya! Aku harap, suatu saat nanti ada orang yang menulis begitu kepada ku" kata Amy dengan mata menerawang.


Jo lanjut membaca surat itu yang didengarkan oleh mama dan ketiga saudaranya,


Dalam hidupku, aku telah memiliki banyak sekali pasangan sandal di rumah. Tapi,aku tidak pernah memiliki sepasang sandal dirumah yang benar-benar cocok dengan kaki ku seperti yang Nona hadiahkan untukku. Aku tidak mau berutang budi. Jadi, aku yakin, Nona tidak akan berkeberatan jika "Pak Tua" ini menghadiahkan sesuatu yang pernah menjadi milik cucu perempuannya yang telah tiada. Dengan hati tulus dan rasa terima kasih yang tak terhingga, aku tetap akan menjadi sahabat Nona.

__ADS_1


               Jhoon Boy.


__ADS_2