
Perkemahan Laurie
Beth adalah penjaga kantor pos mereka. Sebagai anak yang paling banyak berada di rumah, Beth memiliki waktu untuk mengunjungi tempat itu secara teratur, dan ia sangat menyukai tu- gas mengunci pintu mungil itu setiap hari, kemudian membagikan surat-surat yang masuk. Pada suatu hari di bulan Juli, ia datang de- ngan tangan penuh, lantas sibuk berkeliling di rumah membagikan surat dan bingkisan, bagaikan petugas pos sungguhan.
"Ini bunga untuk Ibu! Laurie tidak pernah lupa," katanya, sam- bil meletakkan sebuket bunga segar ke dalam jambangan bunga yang menghiasi "sudut Marmee", dan yang senantiasa diisi bunga segar oleh pemuda yang baik hati itu.
"Miss Meg March, sepucuk surat untukmu, dan sebuah sarung tangan," Beth melanjutkan sembari menyerahkan kedua barang itu kepada kakaknya, yang sedang duduk di dekat ibu mereka sam- bil menjahit pergelangan tangan bajunya.
"Aneh, sepasang sarung tanganku tertinggal di sana, tetapi ini hanya sebelah," ujar Meg sambil menatap sarung tangan katun berwarna abu-abu.
"Mungkinkah kau tidak sengaja menjatuhkan yang sebelah di kebun?"
"Tidak"aku yakin tidak. Hanya ada satu di kantor pos."
"Aduh, aku tidak suka sarung tangan yang hanya sebelah! Ah, tidak apalah, nanti pasti kutemukan. Isi surat ini adalah terjemah- an sebuah lagu Jerman yang kuminta. Kurasa, Mr. Brooke yang mengerjakannya, karena tulisan ini tidak tampak seperti tulisan Laurie."
Mrs. March melirik ke arah Meg, yang tampak sangat cantik dalam gaun pagi dari katun bermotif kotak-kotak, dengan poni ikal menghiasi dahinya. Meg juga terlihat sangat dewasa, menjahit di meja kerja kecilnya yang penuh dengan gulungan putih rapi. Tanpa mengetahui apa yang terlintas di pikiran ibunya, Meg terus menjahit sambil bernyanyi. Jemarinya bergerak lincah sementara di pikirannya berseliweran khayalan-khalayan khas seorang ga- dis muda, khayalan semurni dan sesegar bunga-bunga pansy yang menghiasi ikat pinggangnya. Mrs. March tersenyum. Hatinya te- rasa damai.
"Ada dua surat untuk Dokter Jo, sebuah buku, dan sebuah topi tua aneh yang membuat penuh isi kotak surat, sampai topi itu mencuat keluar," kata Beth sembari tergelak saat ia memasuki ruang belajar, tempat Jo sedang duduk menulis.
"Dasar Laurie jahil! Aku bilang kepadanya bahwa aku berharap topi-topi lebar menjadi mode, karena kulit wajahku selalu terbakar di hari-hari yang terik. Ia membalas, "Kenapa pusing-pusing me- mikirkan mode? Pakai saja topi besar, dan jadilah dirimu sendiri!" Kubilang, tentu saja, asalkan aku punya topi besar, dan inilah yang ia kirim, untuk mengujiku. Topi ini akan kupakai untuk lucu-lucuan, dan akan kutunjukkan kepadanya bahwa aku tidak peduli mode." Lantas, setelah meletakkan topi bertepi lebar itu di kepala patung Plato, Jo membaca surat-suratnya.
Satu surat datang dari ibunya"surat yang membuat pipinya berseri-seri, dan air mata mengambang di matanya, karena berbu- nyi,"
"Sayangku:
"Aku menulis surat kecil ini untuk memberitahukan rasa banggaku melihat usahamu mengendalikan perangaimu. Kau ti- dak mengeluarkan satu patah kata pun tentang percobaan, kega-
galan, ataupun keberhasilanmu. Mungkin, kau berpikir tidak ada yang melihatmu, kecuali Dia yang menjadi tempatmu meminta bantuan setiap hari"sebagaimana yang kulihat dari buku tuntun- anmu yang sampulnya kini lusuh. Tetapi, aku pun melihat apa yang kaulakukan, dan dengan sepenuh hati meyakini ketulusan tekadmu. Terutama, karena usahamu mulai menampakkan hasil. Teruskanlah, Sayang, dengan tabah dan berani, dan percayalah se- lalu bahwa tidak ada orang yang bersimpati lebih dalam kepadamu daripada aku yang mencintaimu:
Ibu."
"Betapa bahagia aku membacanya! Surat ini sama berharganya dengan berjuta-juta uang, dan bergenggam-genggam pujian. Oh, Marmee! Aku memang mencoba! Aku akan terus berusaha, dan ti- dak akan pernah bosan, terlebih karena aku memiliki engkau yang selalu membantuku."
Membenamkan wajahnya di antara kedua lengannya, Jo mem- basahi buku cerita cintanya dengan beberapa tetes air mata baha- gia. Ia benar-benar berpikir tidak ada yang melihat dan menghargai usaha kerasnya untuk berubah menjadi lebih baik, sehingga peng- akuan tersebut terasa berkali-kali lebih berharga, dan berkali-kali lebih menyemangati. Apalagi, datangnya tak terduga, serta berasal dari seseorang yang penilaiannya amat dihormati oleh Jo. Merasa lebih kuat, lebih dari kapan pun juga, Jo menyematkan surat itu di balik pita bajunya, sebagai pengingat sekaligus pelindung terhadap amarah di hatinya, yang dapat datang sewaktu-waktu. Ia kemu- dian membuka suratnya yang lain, siap menghadapi berita baik maupun buruk. Di dalam surat itu, dengan tulisan tangannya yang besar dan indah, Laurie menulis,
"Dear Jo,
Halo!
Beberapa orang gadis dan pemuda dari Inggris akan datang mengunjungiku besok, dan aku sudah berniat akan bersenang- senang. Jika semua lancar, aku akan mendirikan kemah di Long- meadow; aku akan mengajak mereka mendayung dan berperahu, lalu makan siang, lalu bermain croquet"menyalakan api unggun, bersenda gurau, bergaya ala gipsy, dan melakukan berbagai kegi- atan menyenangkan lainnya. Mereka orang-orang baik, dan me- nyukai hal-hal tersebut. Brooke akan ikut, menjaga agar kami para anak-anak lelaki tetap terkendali, sementara Kate Vaughn akan menjadi teladan kesantunan bagi para gadis. Aku ingin kalian se- mua ikut; Beth tidak boleh ditinggal, apa pun alasannya, dan ti- dak ada yang akan mengganggunya. Akan kuatur soal makanan, jadi kalian tidak perlu mengkhawatirkan hal itu"ataupun hal-hal lain"pokoknya, hanya perlu datang. Aku yakin kalian, teman- teman baikku, pasti bersedia!
Yang sedang terburu-buru,
Laurie, sahabatmu."
"Kabar seru!" jerit Jo, terbang keluar ruangan untuk menyam- paikan undangan itu kepada Meg. "Tentu saja kami bisa pergi, ya, Ibu! Pasti akan sangat membantu bagi Laurie, karena aku bisa mendayung, dan Meg bisa menyiapkan makan siang. Amy dan Beth juga pasti akan bisa membantu-bantu."
"Kuharap keluarga Vaughn bukan orang-orang dewasa yang kaku. Apakah kau mengenal mereka, Jo?" tanya Meg.
"Aku hanya tahu mereka terdiri atas empat bersaudara. Kate berusia lebih tua darimu, Fred dan Frank yang kembar kurang- lebih sebaya denganku, dan ada seorang gadis kecil, Grace, yang berusia sembilan atau sepuluh tahun. Laurie mengenal mereka saat di luar negeri, dan ia menyukai kedua anak lelaki Vaughn. Tapi, dugaanku, dari cara mulutnya mengerucut setiap kali berbicara tentang Kate, Laurie tidak terlalu mengaguminya."
"Untunglah pakaian motif Prancis-ku bersih. Pakaian itu se- dang tren, dan tampaknya menarik sekali!" kata Meg puas. "Apa- kah kau punya pakaian yang pantas untuk dipakai, Jo?"
"Baju mendayung merah tua dan abu-abu sudah cukup un- tukku. Aku akan mendayung dan banyak bergerak, jadi aku tidak mau repot-repot memikirkan kepantasan bajuku. Kau ikut, kan, Bethy?"
"Hanya kalau kau tidak akan membiarkan satu pun anak-anak lelaki Vaughn berbicara denganku."
"Tidak satu pun!"
"Aku ingin menyenangkan hati Laurie, dan aku tidak takut akan Mr. Brooke karena ia sangat baik. Tetapi aku tidak ingin ber- main, atau bernyanyi, atau berkata apa pun juga. Aku akan bekerja keras, dan tidak menyusahkan kalian; dan kau akan mejagaku, Jo, jadi aku akan ikut."
"Adikku yang hebat; kau berjuang melawan rasa malumu, dan aku menyayangimu untuk itu. Melawan kelemahan diri tidaklah mudah, seperti juga kuketahui, dan kata-kata penghiburan bisa menyemangatimu. Terima kasih, Ibu," Jo mencium pipi tirus ibu- nya dengan rasa syukur �C sesuatu yang lebih berharga bagi Mrs. March ketimbang mendapatkan kembali rona dan bentuk wajah- nya yang penuh.
"Aku mendapat sekotak permen cokelat, dan gambar yang ingin kusalin," Amy mengumumkan isi suratnya.
"Dan aku mendapat surat dari Mr. Laurence, ia memintaku da- tang dan bermain piano untuknya malam ini, sebelum lampu-lam- pu dinyalakan. Aku akan memenuhi undangannya," tambah Beth, yang persahabatannya dengan pria tua itu semakin akrab.
"Nah, sekarang, mari bersibuk-sibuk dan mengerjakan tugas- tugas dua kali lipat hari ini, agar besok kita bisa pergi dengan pi- kiran bebas," Jo menyarankan sambil bersiap mengganti penanya dengan sapu.
Keesokan harinya, saat matahari mengintip ke dalam ruang ti- dur gadis-gadis itu untuk menyampaikan pesan bahwa hari itu cu- aca akan cerah, ia menemukan pemandangan yang lucu. Masing- masing gadis March telah membuat persiapan untuk acara hari itu dengan cara yang menurut mereka layak. Di atas dahi Meg, terlihat kertas-kertas pengeriting rambut yang lebih banyak dari biasanya; Jo mengoleskan krim dingin banyak-banyak pada wajah- nya; Beth membawa Joanna tidur bersamanya untuk menyiapkan boneka itu menjelang perpisahan mereka, dan Amy menampilkan puncak dari kelucuan mereka dengan menjepit hidungnya meng- gunakan penjepit, demi sedikit memancungkan bagian wajah yang memalukan itu. Penjepit itu merupakan jenis yang biasa dipakai para pelukis untuk menahan kertas di atas papan gambar mereka; sehingga, pemakaiannya kali ini, sebenarnya, cukup benar dan te- pat. Pemandangan yang menggelikan tersebut, sepertinya, mem- buat sang mentari terhibur, karena ia muncul dengan cahayanya yang benderang hingga Jo segera bangkit dan membangunkan sau- dari-saudarinya dengan tawa lepasnya setelah melihat hiasan di hidung Amy.
Cuaca cerah dan tawa merupakan tanda-tanda baik bagi sebuah acara. Tidak lama kemudian, persiapan yang gegap gempita pun berlangsung di kedua rumah. Beth, yang siap paling awal, terus melaporkan apa yang sedang terjadi di rumah sebelah, meramai- kan ruang rias saudari-saudarinya dengan berkali-kali melempar- kan surat dari balik jendela.
"Pria pembawa tenda baru saja berlalu! Aku melihat Mrs. Ba- ker sedang merapikan makan siang di dalam keranjang besar yang indah. Nah, sekarang Mr. Laurence menatap ke arah langit, lalu ke ayam-ayaman penunjuk arah angin. Oh, kalau saja ia juga ikut! Laurie tampak seperti pelaut"pemuda tampan itu! Oh, tolong aku, itu datang kereta penuh orang"ada seorang gadis bertubuh jangkung, seorang gadis cilik, dan dua pemuda mengerikan. Ka- sihan, yang satu agak lemah, ia mengenakan tongkat! Laurie tidak memberitahukan itu kemarin. Ayo, cepatlah kalian! Nanti kita terlambat. Tunggu, kulihat ada Ned Moffat. Lihatlah, Meg! Bu- kankah itu pemuda yang membungkuk kepadamu pada suatu hari ketika kita sedang berbelanja?"
"Benar, itu dia. Aneh, mengapa ia ada di sini? Kupikir ia pergi ke Mountains. Itu Sallie; syukurlah ia kembali tepat pada waktu- nya. Jo, apakah penampilanku sudah baik?" seru Meg panik.
"Manis seperti biasa; angkat ujung rokmu, dan luruskan topi- mu; letaknya yang miring begitu tampak sentimental, dan akan membuatnya terbang begitu tertiup angin. Nah, sekarang, ayo!"
"Oh, oh, Jo! Kau tidak akan mengenakan topi jelek itu, kan? Kelihatannya terlalu janggal! Kau tidak boleh tampak seperti anak lelaki," protes Meg saat Jo, menggunakan pita merah, mengikat- kan topi bergaya kuno dan bertepi lebar yang dikirimkan Leghorn Laurie sebagai lelucon.
"Ah, tetap akan kupakai! Topi ini luar biasa, teduh, ringan, dan besar. Akan menyenangkan, lagi pula, aku tidak keberatan menja- di lelaki, kalau memang nyaman." Dengan kata-kata itu, Jo berja- lan pergi, dan anak-anak lain mengikuti"empat bersaudari yang tampak cerah ceria, tampak memikat dalam pakaian musim panas mereka yang terbaik, dengan wajah riang yang terlindung tepian topi-topi cantik.
Laurie bergegas menyambut keempat gadis March dan mem- perkenalkan mereka kepada teman-temannya dengan sikap yang sopan dan ramah. Halaman rumah berubah fungsi menjadi area menerima tamu, dan untuk beberapa menit, sebuah adegan riuh rendah berlangsung di sana. Meg senang melihat betapa Miss Kate, meskipun berusia dua puluh, mengenakan pakaian bergaya seder- hana yang pasti dapat ditiru oleh gadis-gadis Amerika; dan ia pun tersanjung mendengar kata-kata Mr. Ned yang meyakinkannya bahwa ia datang untuk menemui Meg. Sementara itu, Jo mengerti kenapa Laurie "mengerucutkan mulutnya" saat berbicara tentang Kate, karena gadis muda itu seolah mengisyaratkan sikap "jangan dekati aku", dan tampak sangat berlawanan dengan perilaku gadis- gadis lain yang bebas dan luwes. Beth secara khusus mengamati kedua anak lelaki kembar itu, dan menyimpulkan bahwa anak ber- tongkat yang dilihatnya tadi tidaklah "mengerikan", melainkan lemah lembut dan rapuh, dan karenanya Beth akan bersikap baik kepadanya. Grace, di mata Amy, adalah gadis cilik yang sopan dan ceria. Setelah keduanya saling menatap kikuk selama beberapa me- nit, tiba-tiba Amy dan Grace menjadi sepasang sahabat baru.
Tenda-tenda, bekal makan siang, dan alat-alat croquet telah di- kirim terlebih dahulu, sehingga rombongan itu dapat segera ber- angkat. Dua buah perahu bertolak bersama-sama, meninggalkan Mr. Laurence melambai-lambaikan topinya di tepian sungai, di belakang rumah. Laurie dan Jo mendayung di satu perahu. Mr. Brooke dan Ned mengambil alih perahu kedua, dan Fred Vaughn, salah satu anak kembar yang jahil, terus-menerus berusaha meng- ganggu keduanya dengan mondar-mandir di atas perahu, bagaikan seekor kutu air yang tengah panik. Topi Jo yang lucu layak mendapat ucapan terima kasih karena kegunaannya yang beragam; topi itu memecah kekakuan di awal perkenalan dengan memancing tawa semua orang; menciptakan semilir yang menyegarkan karena tepinya berkelepak ke atas dan ke bawah, dan, seperti kata Jo, bisa melindungi semua orang apabila hujan turun. Kate tampak takjub melihat tingkah laku Jo, terutama saat ia berteriak, "Christopher Columbus!" ketika dayungnya tergelincir jatuh dan Laurie berta- nya, "Temanku yang baik, apakah aku menyakitimu?" saat ia ter- sandung kaki Jo ketika mereka bertukar tempat. Namun, setelah mengenakan kacamatanya dan memperhatikan Jo yang nyentrik dengan saksama, Miss Kate pun menyimpulkan bahwa gadis itu "aneh, tetapi cerdas," kemudian ia tersenyum ke arah Jo dari ke- jauhan.
Meg berada di perahu yang lain, dan tempat duduknya sangat menguntungkan karena berhadapan langsung dengan para pen- dayung, yang sama-sama menyukai pengaturan itu. Mereka pun menangani dayung masing-masing dengan "keterampilan dan ke- gesitan" tinggi. Mr. Brooke adalah pemuda serius dan pendiam, dengan sepasang mata cokelat yang indah dan suara yang terde- ngar menyenangkan. Meg menyukai sikapnya yang tenang, dan menganggapnya bagaikan ensiklopedia berjalan karena penuh de- ngan pengetahuan berguna. Mr. Brooke tidak banyak berbicara de- ngan Meg; tetapi pemuda itu sering melihat ke arahnya, dan Meg merasa yakin Mr. Brooke bukannya tidak menyukainya. Kemu- dian, ada Ned, yang telah kuliah, dan tentu saja memperlihatkan tingkah laku yang dianggap perlu dimiliki oleh semua mahasiswa baru. Ned bukanlah pemuda yang sangat bijak, namun perangai- nya baik dan ceria. Ia orang yang cocok diajak berpiknik. Sallie Gardiner sibuk menjaga agar gaun piqu" putihnya tetap bersih sembari mengobrol dengan Fred yang tidak bisa duduk diam, dan membuat Beth tidak berhenti ketakutan melihat tingkahnya.
Perjalanan ke Longmeadow tidaklah jauh, namun, setibanya di sana, tenda dan gawang-gawang kecil sudah didirikan. Padang hijau yang indah terhampar luas, dengan tiga pohon ek rindang di tengahnya, dan rumput rata yang cocok untuk bermain croquet .
"Selamat datang ke Perkemahan Laurence!" seru tuan rumah muda itu dengan nada gembira ketika mereka semua berlabuh. "Brooke akan menjadi komandan, dan aku komisaris jenderal, sementara pria-pria lain di sini adalah para perwira. Kalian, para gadis, akan menjadi tamu kami. Kemah di sana didirikan untuk kalian, dan pohon ek di sana akan menjadi ruang berkumpul. Di sini adalah tempat kita bersenang-senang, dan pohon ek yang itu adalah dapur perkemahan. Nah, sekarang, mari kita memulai per- mainan sebelum cuaca terlalu panas, lalu kita akan menikmati san- tap siang."
Frank, Beth, Amy, dan Grace, duduk menonton permainan yang dilakukan delapan orang lainnya. Mr. Brooke memilih Meg, Kate, dan Fred, sementara Laurie memilih Sallie, Jo, dan Ned. Anak-anak Inggris bermain dengan baik, tetapi anak-anak Ame- rika lebih baik lagi, dan mengungguli setiap inci area permainan seakan-akan semangat "76 merasuki mereka. Jo dan Fred beberapa kali berselisih, dan mereka nyaris bertengkar. Jo menghampiri ga- wang terakhir, namun pukulannya meleset, dan ia merasa kesal karenanya. Fred berada tidak jauh di belakangnya, dan gilirannya tiba sebelum Jo. Fred memukul, bolanya memantul dari gawang, kemudian mendarat masuk sedikit di sisi lapangan yang salah. Ti- dak ada orang di dekatnya. Setelah berlari untuk memeriksa, Fred mendorong pelan bola tersebut dengan ujung kakinya, membuat bola itu masuk lagi sedikit ke sisi lapangannya.
"Bolaku masuk! Nah, Miss Jo, akan kukejar nilaimu, dan seka- rang aku memukul lebih dulu," seru pria muda itu sembari menga- yunkan tongkat palunya, bersiap-siap memukul bola.
"Kau mendorong bolamu; aku melihatmu. Sekarang giliran- ku," sahut Jo tajam.
"Berani sumpah aku tidak menggerakkannya! Yah, mungkin bola itu bergulir sedikit, tetapi itu, kan, diizinkan. Sekarang, to- long berdiri di pinggir dan biarkan aku memukul."
"Kami di Amerika tidak bermain curang, tapi kau boleh, jika memang memilih begitu," kata Jo dengan marah.
"Semua orang tahu, orang-orang Yankee jelas-jelas yang paling berakal bulus. Nah, begitu," balas Fred sambil memukul bola Jo sampai jauh.
Mulut Jo membuka, dan ia hendak mengucapkan sesuatu yang kasar, namun berhasil menahan diri. Parasnya merona sampai ke dahi. Jo berdiri sesaat, lantas memukul sebuah gawang sekeras mungkin. Sementara itu, bola Fred terpantul lagi. Fred mengu- mumkan bahwa bolanya keluar lapangan dengan kegirangan ber- lebih. Jo pergi mengambil bola di balik semak-semak, terpaksa cu- kup lama mencari. Namun, ketika kembali, ia tampak tenang. Ia lalu menunggu gilirannya dengan sabar. Butuh beberapa pukulan untuk meraih kembali posisinya seperti semula, dan saat ia tiba, tim lawan hampir menang. Bola Kate adalah bola terakhir dan bola itu tergolek di dekat tiang.
"Astaga, semuanya bergantung kepada kita! Selamat tinggal, Kate; Miss Jo berutang satu padaku; permainanmu selesai seka- rang," seru Fred, bersemangat, saat mereka semua mendekat untuk menyaksikan garis akhir.
"Orang-orang Yankee punya cara untuk bermurah hati kepada lawan mereka," ujar Jo, dengan pandangan yang membuat wajah Fred memerah, "terutama saat kami mengalahkan lawan," tam- bahnya. Tanpa menyenggol bola Kate, Jo memenangkan permain- an itu dengan satu pukulan yang cerdik.
Laurie melemparkan topinya. Namun, tiba-tiba ia teringat bah- wa merayakan kekalahan tamu-tamunya bukanlah ide yang baik; karenanya sorakannya tiba-tiba terhenti dan ia berbisik kepada Jo,
"
"Baguslah, Jo! Ia memang curang, aku juga melihatnya. Kita tidak bisa mengatakan itu kepadanya, tetapi ia tidak akan mengu- langi perbuatannya, percayalah kepadaku."
Meg menarik Jo, berpura-pura memintanya membantu menje- pit kepang yang lepas, dan berkata dengan puas,"
"Kejadian tadi sungguh mengerikan; tetapi kau berhasil me- ngendalikan amarahmu, dan aku senang sekali, Jo."
"Jangan puji aku, Meg, karena rasanya aku bisa meninju teli- nganya menit ini juga. Sudah pasti aku akan mendidih kalau saja tadi aku tidak berdiam di dekat semak-semak di sana, sampai ama- rahku berhasil kutekan dan lidahku bisa kutahan. Perasaan itu su-
dah menguap sekarang, jadi kuharap ia tidak akan menggangguku lagi," sahut Jo, menggigit bibirnya, sambil membelalak menatap Fred dari bawah topi besarnya.
"Saatnya makan siang," kata Mr. Brooke sembari melihat ke arah jamnya. "Komisaris Jenderal, bersediakah kau membuat api, dan menyiapkan air, sementara Miss March, Miss Sallie, dan aku menyiapkan meja. Siapa yang bisa menghidangkan kopi yang enak?"
"Jo bisa," jawab Meg, merasa senang bisa mengusulkan adik- nya. Jo, yang merasa yakin bahwa pelajaran memasaknya akhir- akhir ini akan memberinya keberhasilan, pergi mengurus poci kopi, sementara anak-anak lain mengumpulkan kayu kering, dan anak-anak lelaki membuat api serta mengambil air dari mata air di dekat sana. Miss Kate membuat sketsa, dan Frank mengobroldengan Beth, yang sedang membuat alas-alas kecil dari anyaman rumput sebagai piring.
__ADS_1
Sang Komandan dan para perwiranya segera menghamparkan alas piknik dan meletakkan berbagai macam hidangan dan mi- numan di atasnya. Penataan hidangan dipercantik dengan hiasan daun-daun hijau. Jo mengumumkan bahwa kopi mereka telah siap dan semua orang pun duduk untuk menikmati santapan lezat itu. Kemudaan tidak mengenal gangguan pencernaan, dan berolahraga mampu memancing selera makan yang besar. Acara santap siang berlangsung gembira, dan segala hal tampak segar dan lucu. Derai tawa berkali-kali terdengar hingga mengejutkan seekor kuda tua, yang sedang merumput di dekat mereka. Peralatan makan mereka tampak berantakan, namun menggelikan, dan banyak kekacauan terjadi pada gelas-gelas dan piring-piring; biji pohon ek jatuh ke dalam susu, semut-semut hitam kecil turut menikmati hidangan manis tanpa diundang, dan ulat-ulat bulu berayun dari ranting po- hon, untuk melihat apa yang sedang terjadi. Tiga bocah berambut amat terang mengintip dari balik pagar dan seekor anjing nakal menggonggong ke arah mereka dari seberang sungai, sekeras dan sekuat mungkin.
"Ada garam di sini, jika kau mau," kata Laurie sambil menyo- dorkan sepiring buah beri kepada Jo.
"Terima kasih; aku pilih laba-laba," balas Jo, mengangkat dua ekor laba-laba kecil yang tenggelam di saus krim. "Teganya kau mengingatkan aku akan acara santap siang yang kacau itu, padahal acaramu ini berlangsung begitu baik," tambah Jo, tertawa bersama Laurie, dan makan bersama dari satu piring, karena peralatan ma- kan yang dibawa tidak cukup.
"Anehnya, aku merasa sangat bersenang-senang pada hari itu, dan belum dapat melupakannya. Hari ini tidak terjadi berkat aku.
Aku tidak melakukan apa pun. Semua ini adalah hasil kerjamu, Meg, dan Brooke, dan aku sungguh-sungguh berutang kepadamu. Setelah kita tidak lagi sanggup mengunyah, apa lagi yang bisa dila- kukan?" tanya Laurie, yang menyadari bahwa makan siang adalah kartu hiburannya yang terakhir.
"Mengadakan permainan, sampai cuaca tidak panas lagi. Aku membawa permainan kartu "Para Penulis", dan kuyakin Miss Kate tahu permainan lain yang baru dan menyenangkan. Pergi dan bertanyalah kepadanya; ia tamu, dan kau seharusnya lebih sering meladeninya."
"Bukankah kau tamu, juga? Kupikir ia akan cocok dengan Brooke; tetapi pemuda itu tidak berhenti berbicara dengan Meg, dan Kate terus saja mengamati keduanya melalui kacamata ko- nyolnya. Tentu saja aku akan menghampirinya, kau tidak perlu berkhotbah soal kesopanan kepadaku, Jo, tidak cocok."
Miss Kate ternyata memang mengetahui beberapa permainan baru. Kemudian, karena para gadis tidak akan, dan para pemuda tidak dapat, mengunyah apa-apa lagi, mereka pun berpindah ke ruang berkumpul untuk bermain rigmarole .
"Satu orang akan menyampaikan sebuah cerita, mengarang sesuka hati"kalau mau"dan bercerita selama yang ia inginkan, asalkan berhenti di satu titik yang seru. Orang berikutnya melan- jutkan cerita itu, dan melakukan hal yang sama. Setelah semua mendapat giliran, cerita itu pasti akan lucu karena merupakan campuran komedi dan tragedi. Silakan memulai, Mr. Brooke," kata Kate dengan gaya memerintah, yang membuat Meg kaget, ka- rena ia memperlakukan sang tutor dengan rasa hormat yang sama dengan yang ia berikan kepada pria mana pun.
Sambil berbaring di rumput, di dekat kaki kedua gadis muda itu, Mr. Brooke dengan patuh memulai ceritanya. Sepasang mata cokelatnya yang tampan menatap permukaan air sungai yang ber- kilau tertimpa sinar matahari.
"Pada suatu ketika, seorang kesatria pergi menjelajahi dunia untuk mencari kekayaan, karena yang ia miliki hanyalah sebilah pedang dan sebuah perisai. Ia bepergian jauh dan lama, hampir dua puluh delapan tahun, dan mengalami banyak kesulitan, sampai ia tiba di sebuah istana milik raja tua yang baik hati. Sang raja me- nawarkan hadiah kepada siapa pun yang mampu menjinakkan dan melatih seekor kuda muda tampan, namun liar, yang amat disukai sang raja. Kesatria itu setuju untuk mencoba. Usahanya berjalan lambat, namun pasti. Kuda muda itu adalah hewan yang gagah, dan ia segera mulai menyayangi tuan barunya, meskipun hewan itu kadang-kadang bertingkah aneh dan galak. Setiap hari, sambil memberikan pelajaran kepada hewan kesayangan sang raja, sang kesatria menunggangnya berkeliling kota. Di atas punggung si kuda, ia mencari-cari ke segala penjuru seraut wajah cantik yang berkali-kali dilihatnya dalam mimpinya, namun tidak pernah di- temukannya. Pada suatu hari, ketika sedang menyusuri jalan yang sepi, ia melihat seraut wajah cantik di balik jendela sebuah kas- til tua. Hati sang kesatria melonjak senang. Ia mencari tahu sia- pa yang tinggal di dalam kastil itu, dan diberitahu bahwa sebuah mantra telah menawan beberapa putri di sana. Mantra itu mem- buat mereka memintal sepanjang hari, mencoba mengumpulkan uang untuk membeli kebebasan mereka. Sang kesatria sungguh- sungguh berharap ia dapat membebaskan mereka, namun ia sen- diri miskin, dan hanya mampu pergi ke kastil itu setiap hari, dari kejauhan mengamati salah satu wajah di sana, dan berkhayal ia bisa melihat wajah itu di bawah cahaya mentari. Akhirnya, ia me- mutuskan untuk masuk ke dalam kastil itu dan bertanya bagaima- na ia bisa membantu putri-putri itu. Ia pergi dan mengetuk pintu kastil tua itu, lalu pintu besar terbuka dan ia melihat..."
"Seorang gadis luar biasa cantik, yang berseru dengan penuh kebahagiaan, "Akhirnya! Akhirnya!"" Kate, yang pernah membaca novel-novel Prancis dan menyukai gaya berceritanya, melanjut- kan. ""Dialah putri pujaanku!" seru Count Gustave, dan kesatria itu pun berlutut di depan kaki sang putri dengan kebahagiaan me- luap-luap. "Oh, bangkitlah!" kata sang putri, sambil mengulurkan tangannya yang seputih pualam. "Tidak akan! Tidak, sampai kau memberitahuku bagaimana caranya aku bisa menolongmu," sang kesatria berkata mantap sambil tetap berlutut. "Apa yang dapat kaulakukan? Nasib yang kejam mengutukku tetap berada di sini sampai sang tiran dapat dilenyapkan," "Di mana penjahat itu?" "Ia berada di ruang duduk bercat lembayung; pergilah, kesatria pem- berani, dan selamatkan aku dari keputusasaan." "Perintahmu akan kujalankan, dan aku akan kembali, menang, atau mati!" Setelah mengucapkan kata-kata berani itu, sang kesatria bergegas pergi. Dengan keras ia mendorong pintu ruang bercat lembayung itu, lalu melangkah hendak masuk ketika..."
"Sebuah kitab tua besar dan tebal berbahasa Yunani dipukul- kan ke kepalanya oleh seorang pria tua berjubah hitam," kata Ned. "Dengan segera, kesatria kita bangkit, melempar sang tiran ke luar jendela, dan berbalik hendak kembali kepada sang putri dengan membawa kemenangan, kecuali memar di satu alisnya; tetapi ia menemukan pintu yang terkunci, lalu ia merobek tirai, mengubah- nya menjadi tali untuk meluncur turun. Ia telah menuruni separuh tinggi dinding kastil itu, ketika tali tirai itu putus, dan ia pun jatuh dari ketinggian 20 meter, dengan kepala di bawah, ke dalam parit yang mengelilingi kastil itu. Berenang bagaikan seekor bebek, ia meluncur mengelilingi kastil sampai tiba di depan sebuah pintu kecil yang dijaga dua lelaki bertubuh kekar. Ia mengadu kepala mereka sampai pecah bagaikan dua butir kacang. Kemudian, de- ngan kekuatannya yang luar biasa, ia mendobrak pintu, menaiki tangga batu yang tertutup debu setebal satu kaki, katak-katak sebe- sar tinju, dan laba-laba yang pasti akan membuatmu histeris, Miss March. Di puncak tangga, ia bertemu sesosok makhluk yang mem- buat napasnya tertahan dan darahnya serasa membeku..."
"Sosok itu jangkung, berpakaian serbaputih, dengan cadar me- nutupi wajahnya, serta lentera di tangannya yang telah mati," Meg meneruskan. "Sosok itu menyuruh sang kesatria mengikutinya, lalu meluncur tanpa suara sepanjang lorong yang gelap dan dingin bagaikan kuburan. Bayang-bayang patung-patung berbaju zirah berdiri di kedua sisi lorong, kesunyian terasa mencekam, cahaya lentera berubah menjadi biru. Setiap beberapa saat, sosok bagaikan hantu tersebut memalingkan wajahnya ke arah sang kesatria dan menunjukkan sepasang mata yang menyorot jahat dari balik ca- dar putihnya. Mereka sampai di depan sebuah pintu yang ditutupi tirai, dan suara musik indah terdengar dari balik pintu itu. Sang kesatria melompat untuk masuk, tetapi sosok mengerikan itu me- nariknya mundur, dan dengan gerakan mengancam, di hadapan sang kesatria ia melambaikan..."
"Kotak bubuk," kata Jo, dengan suara rendah menyeramkan, yang membuat semua pendengarnya bergidik. ""Terima kasih," kata sang kesatria dengan sopan. Ia mengambil sejumput bubuk, kemudian ia bersin tujuh kali, begitu kerasnya sampai kepala- nya jatuh terlepas. "Ha! Ha!" tawa sang hantu; kemudian, setelah mengintip melalui lubang kunci dan melihat para putri yang se- dang memintal demi kelangsungan hidup mereka, roh jahat itu mengangkat tubuh korbannya dan memasukkannya ke dalam peti timah besar, tempat sebelas kesatria lainnya terbaring berdempet- an tanpa kepala, bagaikan ikan sarden. Tiba-tiba dua belas kesatria tanpa kepala itu bangkit dan mulai..."
"Berdansa ala pelaut," sambar Fred saat Jo berhenti untuk mengambil napas; "dan, ketika mereka sedang menari-nari, kastil tua bobrok itu berubah menjadi kapal perang yang siap siaga. "Te- gakkan layar, gulung tali, kemudikan kapal mengikuti arah angin, dan bersiagalah di balik meriam," raung sang Kapten ketika ba- jak laut Portugis muncul dengan bendera sehitam tinta berkibar- kibar dari tiang utama kapalnya. "Serbu, dan rebut kemenangan, Anak-Anak," perintah sang Kapten. Pertempuran gila-gilaan sege- ra berkobar. Tentu saja, pasukan Inggris menang"mereka selalu menang. Mereka menawan kapten bajak laut itu, lalu berlayar me- lewati sekunar musuh, yang geladaknya penuh dengan mayat, dan dari lubang airnya mengalir darah, sesuai perintah sang Kapten yang berbunyi, "Tebaskan pedangmu, menanglah atau mati." "Ke- lasi, ambil ujung tali layar itu. Naikkan penjahat ini jika ia tidak mau mengakui kejahatannya dengan cepat," perintah sang Kapten Inggris. Sang perompak Portugis mengatupkan mulutnya rapat- rapat dengan keras kepala. Ia berjalan menyusuri papan yang ter- julur ke laut, sementara para awak kapal bersorak-sorai gegap gem- pita. Tapi, penjahat licik itu tiba-tiba terjun ke laut. Ia berenang ke bawah kapal perang itu lantas membalikkannya. Kapal itu pun tenggelam, dengan layar-layar yang masih terkembang. Ia tengge- lam, terus ke dasar laut, laut, laut, tempat..."
"Oh, ya, ampun! Apa yang bisa kukatakan?" seru Sallie, saat Fred mengakhiri ceritanya, yang campur aduk tidak keruan dan penuh dengan istilah-istilah dan fakta-fakta kelautan, yang ia am- bil dari salah satu buku cerita kesukaannya. "Yah, mereka teng- gelam sampai ke dasar, dan seorang putri duyung yang baik hati menyambut mereka, namun putri duyung itu menjadi sedih keti- ka menemukan sebuah peti besar berisi dua belas sosok kesatria tanpa kepala. Dengan baik hati, ia mengawetkan para kesatria itu dengan air laut, berharap ia bisa mengurai misteri tubuh-tubuh itu. Sebagai perempuan, ia merasa ingin tahu. Kemudian, pada suatu hari, datanglah seorang penyelam, dan putri duyung itu berkata kepadanya, "Akan kuberikan peti mutiara ini kepadamu jika kau bisa mengangkatnya ke permukaan." Putri duyung itu sangat ingin tubuh-tubuh malang itu kembali hidup, namun ia tidak sanggup memikul bobot peti itu sendirian. Jadi, sang penyelam mengang- katnya, dan betapa kecewanya ia ketika membuka kotak itu dan tidak menemukan sebutir mutiara pun. Ia meninggalkan peti itu di sebuah padang luas nan sepi, dan peti itu lalu ditemukan oleh..."
"Gadis kecil penggembala angsa, yang memiliki seratus angsa gemuk di padang itu," kata Amy, setelah Sallie kehabisan bahan cerita. "Gadis kecil itu merasa iba kepada mereka, dan bertanya ke- pada seorang perempuan tua, apa yang harus dilakukannya terha- dap mereka. "Angsa-angsamu akan memberitahu engkau, mereka mengetahui segalanya," kata perempuan tua itu. Jadi, gadis itu pun bertanya apa yang harus ia gunakan sebagai kepala baru, karena kepala-kepala lama telah hilang entah ke mana, dan seratus angsa pun membuka seratus paruh mereka, dan berseru..."
"Kubis!" Laurie langsung melanjutkan. "Tepat sekali," kata si gadis kecil, lalu ia berlari ke kebunnya untuk memetik dua belas kubis. Ia menaruh kubis-kubis itu di setiap tubuh dan para kesatria itu pun bangkit seketika serta mengucapkan terima kasih kepada- nya. Mereka merayakan kebangkitan mereka, tidak merasa ada yang janggal, karena di dunia ini terdapat begitu banyak kepala kubis, sehingga tidak ada yang menganggap kepala mereka seba- gai keanehan. Kesatria di awal kisah kita kembali ke kastil untuk menemui gadis cantik yang dirindukannya. Di sana ia mengetahui bahwa para putri telah berhasil menyelesaikan pintalan dan mem- beli kebebasan mereka, dan mereka semua telah menikah, kecuali satu. Pikiran sang kesatria terasa jernih, dan ia pun menaiki kuda- nya, yang setia bersamanya melalui senang dan susah. Ia berge- gas pergi ke kastil untuk melihat siapa yang tertinggal. Mengintip melalui pagar tanaman, ia melihat putri yang dirindukannya sedang memetik bunga-bunga di kebun. "Maukah kau memberikan setangkai mawar kepadaku?" tanyanya. "Kaulah yang harus datang dan mengambilnya; tidak pantas jika aku yang datang kepadamu," sahut gadis itu dengan suara semanis madu. Sang kesatria menco- ba memanjat melalui pagar tanaman, tetapi pagar itu sepertinya tumbuh semakin tinggi; dan ketika ia mencoba menembusnya, pa- gar itu tumbuh semakin tebal, sampai akhirnya ia putus asa. Jadi, dengan sabar, ia mematahkan ranting demi ranting, sampai akhir- nya sebuah lubang kecil pun tercipta. Ia mengintip dan berkata memohon, "Biarkan aku masuk! Izinkan aku masuk!" Akan tetapi, putri cantik tersebut tampaknya tidak mengerti, karena ia terus saja memetiki bunga-bunga mawar dengan tenang, dan membiar- kan sang kesatria berjuang masuk sendiri. Apakah dia berhasil atau tidak, akan kubiarkan Frank menceritakannya."
"Aku tidak bisa; aku tidak mau bermain, aku tidak pernah me- lakukannya," kata Frank, gugup karena perkembangan permainan itu, yang memerlukan perannya untuk menentukan nasib pasang- an aneh dalam cerita itu. Beth menghilang ke balik tubuh Jo, se- mentara Grace telah tertidur.
"Jadi, kesatria malang itu dibiarkan terjebak di dalam pagar tanaman, ya?" tanya Mr. Brooke, masih mengamati sungai, dan memain-mainkan sekuntum mawar liar di lubang kancingnya.
"Kurasa, beberapa saat kemudian, sang putri memberinya se- kuntum bunga dan membukakan pintu untuknya," kata Laurie, tersenyum sendiri, sembari melempari tutornya dengan buah- buah ek.
"Luar biasa omong kosong yang kita buat! Dengan sedikit latihan, kita mungkin bisa melakukan sesuatu yang pintar. Ada yang tahu "Katakan Sejujurnya"?"" tanya Sallie, setelah tawa ceria mereka karena cerita itu mereda.
"Kuharap semuanya jujur," kata Meg, serius.
"Maksudmu, permainan?"
"Apa itu?" tanya Fred.
"Kita menumpukkan tangan, memilih angka, lalu satu per satu menarik tangannya. Orang yang urutan tangannya sesuai dengan angka yang dipilih harus menjawab dengan jujur pertanyaan apa pun yang diajukan oleh pemain lain. Seru sekali."
"Ayo kita coba," kata Jo, yang menyukai eksperimen.
Miss Kate dan Mr. Brooke, Meg, dan Ned menolak; namun Fred, Sallie, Jo, dan Laurie menumpukkan tangan mereka dan me- mulai permainan; dan angka pertama jatuh kepada Laurie.
"Siapa saja pahlawanmu?" tanya Jo.
"Kakekku dan Napoleon."
"Gadis mana yang menurutmu paling cantik?" kata Sallie. "Margaret."
"Siapa yang paling kau suka?" adalah pertanyaan Fred.
"Konyol sekali pertanyaanmu!" dan Jo pun mengangkat bahu dengan kesal sementara yang lain tergelak mendengar nada jawab- an Laurie yang wajar.
"Ayo teruskan! Permainan ini cukup menyenangkan," kata Fred.
"Dan sangat cocok untukmu," balas Jo dengan suara rendah. Berikutnya adalah giliran Jo.
"Apa kekuranganmu yang terbesar?" tanya Fred, jelas-jelas berniat menguji kekuatan watak Jo, yang tak dimilikinya.
"Perangaiku yang mudah marah."
"Apa yang paling kauinginkan?" kata Laurie.
"Sepasang tali sepatu bot," balas Jo, yang sudah menebak mak- sud pertanyaan itu, dan menghindarinya.
"Bukan jawaban jujur; kau harus mengatakan apa yang sangat kauinginkan."
"Cerdas; tidakkah kau berharap kau bisa memberikannya ke- padaku, Laurie?" dan ia pun tersenyum jahil ke arah wajah kecewa Laurie.
"Karakter apa yang paling kaukagumi pada diri seorang pria?" tanya Sallie.
"Keberanian dan kejujuran."
"Sekarang giliranku," ucap Fred, yang gilirannya tiba paling akhir.
"Ayo, kita balas dia," bisik Laurie kepada Jo, yang mengang- guk, dan langsung bertanya,"
"Bukankah kau tadi curang saat bermain croquet?"
"Yah, sedikit."
"Bagus! Bukankah ceritamu tadi diambil dari buku The Sea Lion? tanya Laurie.
"Kira-kira begitu."
"Tidakkah, menurut orang Inggris, mereka adalah bangsa yang sempurna dalam segala hal?" tanya Sallie.
"Aku akan malu jika tidak."
"Ia adalah John Bull sejati. Nah, Miss Sallie, kini giliranmu, tanpa harus diundi. Pertama-tama aku ingin menggodamu sedikit dengan bertanya apakah menurutmu kau ini seorang penggoda," kata Laurie, sementara Jo mengangguk ke arah Fred, sebagai tanda tawaran perdamaian.
"Kau bocah nakal! Tentu saja tidak," seru Sallie, dengan ting- kah laku yang menunjukkan hal sebaliknya.
"Apa yang paling tidak kausukai?" tanya Fred.
"Laba-laba dan puding beras."
"Apa yang paling kausukai?" tanya Jo.
"Berdansa dan sarung tangan Prancis."
"Yah, kupikir "Katakan Sejujurnya" adalah permainan konyol. Mari memulai permainan yang lebih menarik, "Para Penulis", un- tuk menyegarkan pikiran kita," Jo mengusulkan.
Ned, Frank, dan kedua gadis yang lebih kecil turut dalam per- mainan tersebut. Sementara itu, ketiga orang yang lebih tua duduk terpisah dan mengobrol. Miss Kate mengambil buku sketsanya lagi, dan Margaret mengamatinya, sementara Mr. Brooke berba- ring di rumput dengan sebuah buku yang tidak dibacanya.
"Indah sekali sketsamu. Kalau saja aku bisa menggambar," ko- mentar Meg. Nada suaranya bercampur antara kekaguman dan penyesalan.
"Mengapa tidak mempelajarinya? Kupikir, kau pasti punya se- lera dan bakat untuk itu," Miss Kate menjawab dengan murah hati.
"Aku tidak punya cukup waktu."
"Ibumu lebih suka melihat keberhasilan di bidang lain, ya. Ibu- ku juga, tetapi aku membuktikan kepadanya bahwa aku punya ba- kat, yaitu dengan mengambil beberapa pelajaran diam-diam, dan setelah itu dia mengakui bahwa sebaiknya aku mengembangkan bakatku. Tidakkah kau bisa melakukan hal yang sama dengan go- verness atau guru pribadimu?"
"Aku tidak punya guru pribadi."
__ADS_1
"Oh, aku lupa. Gadis-gadis Amerika umumnya pergi berseko- lah, lebih banyak dibandingkan gadis-gadis di Inggris. Menurut Papa, sekolah yang ada di sini bagus-bagus. Kurasa, kau pergi ke sekolah swasta?"
"Tidak. Aku sendiri seorang guru pribadi sekaligus pengasuh."
"Oh, begitu!" ucap Miss Kate. Di balik ucapannya tersirat kata- kata, "Ya ampun, sungguh malang!" karena itulah yang ditunjuk- kan oleh nada suaranya. Sesuatu di wajahnya membuat wajah Meg merona, dan ia pun menyesal telah bersikap terlalu terbuka.
Mr. Brooke mengangkat kepalanya dan cepat-cepat berkata, "Gadis-gadis muda di Amerika menyukai kemerdekaan, sama se- perti nenek moyang mereka, dan dikagumi serta dihormati karena mampu menyokong diri sendiri."
"Oh, ya, tentu saja! Kupikir, hal itu sangat baik dan sudah sela- yaknya. Di Inggris pun ada banyak gadis muda yang terhormat dan sangat berbakat, yang melakukan hal serupa. Mereka dipekerjakan oleh kaum ningrat karena, sebagai putri-putri para pria terhormat, mereka memiliki keturunan yang baik dan sangat terampil," kata Miss Kate, dengan nada menggurui. Nada suara dan kata-katanya melukai harga diri Meg, membuat pekerjaannya terasa bukan ha- nya tidak menyenangkan, tetapi juga rendah.
"Sukakah kau pada lagu Jerman itu, Miss March?" tanya Mr. Brooke untuk memecah keheningan yang canggung.
"Oh, ya! Sangat indah, dan aku sangat berterima kasih kepada siapa pun yang menerjemahkannya untukku." Wajah Meg yang sempat murung kembali bersinar saat ia berbicara.
"Tidakkah kau membaca dalam bahasa Jerman?" Miss Kate bertanya, dengan ekspresi terkejut.
"Tidak terlalu bisa. Ayahku, yang mengajariku, sedang pergi, dan pelajaranku tidak begitu laju saat sendirian, karena tidak ada yang memperbaiki pelafalanku."
"Ayo kita coba sekarang. Di sini ada Mary Stuart karya Schiller, serta seorang tutor yang gemar mengajar," dan Mr. Brooke pun meletakkan buku itu ke pangkuan Meg sambil tersenyum mena- warkan bantuan.
"Aduh, sulit sekali, aku takut mencobanya," ujar Meg, berteri- ma kasih, tetapi juga malu di hadapan gadis muda serbabisa yang duduk di sampingnya.
"Aku mau membaca sedikit, untuk menyemangatimu," dan Miss Kate lantas membaca salah satu baris terindah dalam karya itu. Pengucapannya sempurna, namun tanpa ekspresi.
Mr. Brooke tidak berkomentar sedikit pun ketika Kate me- ngembalikan buku itu kepada Meg, yang berkomentar polos,"
"Kupikir ini puisi."
"Sebagian isinya memang puisi. Coba baca bagian ini."
Mulut Mr. Brooke membentuk senyum misterius saat ia mem- buka halaman yang berisikan curahan hati Mary yang malang.
Meg, dengan patuh mengikuti gerakan rumput panjang yang digunakan sang tutor untuk menunjuk, membaca dengan pelan dan malu-malu, dan tanpa sadar berusaha menciptakan puisi dari kata-kata sulit itu, melalui nada bicaranya yang lembut dan meng- alun. Rumput yang memandunya turun ke bawah mengikuti kata- kata, kemudian, tenggelam dalam bacaan yang menggambarkan adegan sedih, Meg lupa akan pendengarnya. Ia membaca seakan- akan sedang seorang diri, memberikan sedikit sentuhan tragedi pada kata-kata sang Ratu yang sedang bersusah hati. Kalau saja saat itu ia melihat bagaimana sepasang mata cokelat menatapnya penuh kekaguman, pastilah ia langsung berhenti membaca; namun Meg tidak pernah mengangkat kepalanya dari buku itu, dan pela- jaran itu tidak mengalami gangguan.
"Sangat bagus!" kata Mr. Brooke, saat Meg berhenti. Ia meng- abaikan sejumlah kesalahan Meg dan sungguh-sungguh terlihat sebagai orang yang "gemar mengajar".
Miss Kate mengenakan lagi kacamatanya dan, setelah menga- mati tableau di hadapannya, ia menutup buku sketsanya kemudian berkata, dengan nada meremehkan,"
"Aksenmu bagus. Kelak, kau akan menjadi pembaca yang pin- tar. Aku menyarankan agar kau terus belajar, karena bahasa Jer- man adalah keterampilan yang berharga untuk guru mana pun. Nah, aku harus melihat Grace, karena ia berlarian entah ke mana," dan Miss Kate pun berlalu. Ia berkata kepada dirinya sendiri sambil mengangkat bahu, "Aku tidak datang untuk menjadi pendam- ping seorang governess, walaupun ia memang muda dan memeso- na. Orang-orang Yankee ini memang aneh! Jangan-jangan Laurie mendapat pengaruh tidak baik dari mereka."
"Aku lupa bahwa orang-orang Inggris suka menyombong di hadapan paragoverness, dan tidak memperlakukan mereka sebagai- mana kita memperlakukan para governess kita," kata Meg sambil memandang sosok Miss Kate yang menjauh dengan ekspresi kesal. "Tutor pun mengalami kesulitan di sana, seperti yang pernah kualami. Tidak ada tempat seperti Amerika untuk kami para pe- kerja, Miss Margaret," dan Mr. Brooke tampak begitu puas serta riang, sampai Meg merasa malu telah mengeluh tentang kesusah-
annya.
"Kalau begitu, aku bersyukur hidup di sini. Aku tidak menyu- kai pekerjaanku, tetapi aku cukup puas melakukannya, jadi aku ti- dak akan mengeluh; aku hanya berharap aku menyukai mengajar seperti engkau."
"Kurasa kau pun akan menyukainya, kalau kau punya murid seperti Laurie. Aku akan sangat kehilangan dirinya tahun depan," ujar Mr. Brooke yang sibuk membuat lubang di rerumputan.
"Apakah ia akan pergi kuliah?" pertanyaan itulah yang keluar dari mulut Meg, meskipun matanya berkata, "Lalu apa yang akan kaulakukan?"
"Ya, sudah waktunya ia pergi, karena ia sudah hampir siap, dan begitu ia berangkat, aku akan mendaftar sebagai prajurit."
"Wah, aku senang mendengarnya!" seru Meg. "Kupikir, semua pria muda pasti ingin pergi; walaupun berat rasanya bagi para ibu dan saudara perempuan yang tinggal di rumah," ia menambahkan dengan berat hati.
"Aku tidak punya ibu dan tidak punya saudara perempuan, aku juga tidak punya banyak teman. Tidak ada yang akan terlalu pedu- li apakah aku hidup atau mati," Mr. Brooke menjelaskan dengan pahit, sementara dengan spontan tangannya meletakkan sekun- tum mawar layu ke dalam lubang yang telah ia buat, kemudian menutupi lubang itu, seakan menguburkan mawar itu.
"Laurie dan kakeknya pasti peduli, dan kami semua akan tu- rut bersedih jika sesuatu yang buruk menimpa dirimu," kata Meg sungguh-sungguh.
"Terima kasih; senang sekali mendengarnya," ucap Mr. Brooke, kini tampak ceria lagi. Namun, sebelum ia bisa meneruskan kali- matnya, Ned datang, mengendarai seekor kuda tua. Ia hendak me- mamerkan ketangkasannya berkuda di hadapan para gadis muda, dan suasana tenang pada hari itu pun usai sudah.
"Apakah kau senang berkuda?" tanya Grace kepada Amy, saat mereka berdiri beristirahat, setelah berlomba mengelilingi lapang- an, dipimpin oleh Ned.
"Suka sekali; kakakku Meg senang berkuda waktu Papa masih punya banyak uang, tetapi kami tidak punya seekor pun sekarang "kecuali Ellen Tree," tambah Amy, sambil tertawa.
"Ceritakanlah tentang Ellen Tree. Apakah dia seekor keledai?" tanya Grace, ingin tahu.
"Yah, begini, Jo sungguh tergila-gila pada kuda, dan aku pun begitu, tetapi kami hanya punya satu pelana samping yang sudah tua, tanpa seekor kuda pun. Di luar, di kebun kami, terdapat pohon apel, yang satu dahannya terletak cukup rendah; jadi aku mele- takkan pelana itu di sana, mengikatkannya di bagian dahan yang menonjol, dan kami pun berkendara di atas Ellen kapan pun kami mau."
"Lucu sekali!" Grace tergelak. "Aku memiliki seekor kuda poni di rumah, dan menungganginya hampir setiap hari di kebun bersama Fred dan Kate. Sangat menyenangkan. Teman-temanku sering main ke rumahku dan ikut naik kuda poni, dan gelanggang kami, The Row, penuh dengan gadis-gadis dan anak-anak lelaki."
"Wah, kedengarannya menyenangkan! Mudah-mudahan aku bisa pergi ke luar negeri suatu hari nanti, tapi aku lebih ingin pergi ke Roma ketimbang ke Row," kata Amy, yang sama sekali tidak tahu apa itu The Row, dan tidak berniat menanyakannya.
Frank, yang sedang duduk di belakang kedua gadis cilik itu, mendengar obrolan mereka. Ia mendorong tongkatnya dengan ge- rakan tak sabar, sambil menonton pemuda-pemuda lain melakukan gerakan-gerakan gimnastik yang konyol. Beth, yang sedang merapi- kan kartu-kartu permainan "Para Penulis", mengangkat kepalanya dan berkata, dengan sikapnya yang malu-malu namun ramah,
"Barangkali kau lelah; bisakah kuambilkan sesuatu?"
"Kumohon, berbicaralah denganku. Bosan sekali duduk sendi- rian di sini," jawab Frank, yang jelas telah terbiasa menjadi pusat perhatian di rumah.
Bagi Beth yang luar biasa pemalu, permintaan Fred itu sama sulitnya dengan permintaan agar ia berpidato dalam bahasa Latin. Tetapi, tidak ada tempat baginya untuk bersembunyi, tidak ada Jo di situ, jadi ia tidak bisa bersembunyi di balik punggung kakaknya itu, dan pemuda itu menatapnya dengan begitu sungguh-sungguh, hingga Beth pun dengan berani bertekad untuk mencoba.
"Apa yang ingin kaubicarakan?" tanyanya, tangannya dengan gugup memegang kartu-kartu itu, dan ia menjatuhkan separuh kartu saat mencoba mengikatnya menjadi satu.
"Yah, aku ingin mendengar soal kriket, berperahu, dan berbu- ru," ujar Frank, yang belum mampu menyesuaikan minatnya de- ngan kemampuan fisiknya.
"Astaga! Apa yang harus kulakukan? Aku tidak tahu apa pun mengenai hal-hal itu," pikir Beth. Dalam kepanikannya, Beth lupa akan kemalangan anak lelaki di hadapannya, dan ia pun menco- ba membuat Frank bercerita, "Aku tidak pernah melihat kegiatan berburu, tapi kurasa kau tahu segala hal tentang berburu."
"Iya, dulu aku suka berburu; tetapi aku tidak akan pernah ber- buru lagi, karena aku terluka saat melompati pagar jelek berpalang lima. Jadi, tidak akan ada lagi menunggang kuda atau berburu untukku," Frank menjawab dengan helaan napas yang membuat Beth menyalahkan dirinya sendiri karena membuat kesalahan de- ngan mengajukan pertanyaan itu.
"Rusa-rusa kalian jauh lebih cantik ketimbang bison-bison kami di sini," katanya, mencoba mengalihkan topik ke arah pa- dang rumput, dan merasa senang ia telah membaca salah satu buku cerita anak lelaki yang disukai Jo.
Menyebut soal bison ternyata menenangkan dan memuaskan. Lalu, dengan semangat ingin menyenangkan orang lain, Beth me- nekan rasa malunya. Ia bahkan tidak menyadari keterkejutan dan kegembiraan kakak-kakaknya saat melihat pemandangan unik be- rupa Beth yang mengoceh kepada salah satu anak lelaki mengeri- kan, yang pada awalnya mati-matian ia hindari.
"Terpujilah hatinya yang mulia! Beth iba kepadanya, jadi ia bersikap baik kepada anak itu," kata Jo, tersenyum cerah sambil memandang Beth dari lapangan croquet .
"Aku selalu bilang, ia memang malaikat kecil," tambah Meg, seolah-olah hal itu tidak perlu diragukan lagi.
"Sudah begitu lama aku tidak mendengar Frank tertawa be- gitu keras," kata Grace kepada Amy saat mereka berdua duduk mengobrolkan boneka, dan membuat perlengkapan minum teh dari buah-buah ek.
"Kakakku Beth bisa mencelat, jika ia mau," kata Amy, bang- ga akan keberhasilan Beth. Kata yang Amy maksudkan adalah "menawan", tetapi, karena Grace tidak benar-benar mengerti arti kedua kata itu, maka "mencelat" pun terdengar cukup hebat dan meninggalkan kesan yang baik.
Sebuah sirkus mendadak, seekor rubah dan angsa, serta pertan- dingan croquet yang ceria, menutup acara mereka sore itu. Ketika matahari mulai terbenam, kemah pun dirubuhkan, keranjang-keran- jang piknik dibereskan, gawang croquet diangkat, perahu-perahu di- muati, dan rombongan itu kembali menyusuri sungai sambil ber- nyanyi senyaring mungkin. Ned, yang mulai terbawa perasaan, menyanyikan sebuah lagu romantis yang sarat makna tersirat,"
"Sendiri, sendiri, ah! Sedihnya rasa sunyi,"
dan saat sampai di baris �C
"Kami sama-sama muda, kami sama-sama menaruh hati
Oh, mengapa kita harus saling berjauhan?"
ia menatap ke arah Meg dengan ekspresi penuh harap, yang membuat Meg tertawa seketika dan merusak kesungguhan Ned yang bernyanyi dengan penuh perasaan.
"Bagaimana bisa kau begitu kejam terhadapku?" bisiknya, sua- ranya tenggelam oleh koor berisik di bagian utama lagu. "Seharian tadi kau terus-terusan bersama gadis Inggris yang sok itu, dan se- karang kau mengejekku."
"Aku tidak bermaksud begitu, tetapi kau tampak begitu lucu hingga aku tidak bisa menahan tawa," jawab Meg, mengabaikan bagian pertama kata-kata Ned. Memang benar ia sengaja menghin- dari pemuda itu, karena teringat pesta di rumah keluarga Moffat dan pembicaraan yang ia dengar setelahnya.
Ned merasa tersinggung. Ia berpaling kepada Sallie, berharap mendapat penghiburan, dan berkata kepadanya dengan nada kesal, "Dia benar-benar tidak bisa digoda, ya?"
"Tidak sedikit pun; namun ia sungguh baik hati," jawab Sallie, membela temannya, meskipun sekaligus mengakui kekurangan-
nya.
"Ya, memang bukan hatinya yang terserang," kata Ned, men- coba terdengar cerdik, dan berhasil"sebagaimana biasanya para lelaki muda.
Rombongan itu berpisah di halaman yang sama tempat mereka berkumpul, diiringi salam perpisahan yang santun, yakni ucapan selamat malam dan selamat jalan, karena anak-anak Vaughn akan pergi ke Kanada. Saat keempat gadis March berjalan pulang me- lintasi kebun, Miss Kate memandang ke arah mereka, dan berkata, tanpa ada nada mengejek dalam suaranya, "Meskipun sikap me- reka begitu terbuka, gadis-gadis Amerika sangat menyenangkan setelah kita mengenalnya."
Kata-kata itu disambut oleh Mr. Brooke, "Aku setuju dengan- mu."
__ADS_1