Little Women

Little Women
Episode 20


__ADS_3

Curahan Hati Anak-Anak March



Aku tidak punya cukup kata yang bisa kupakai untuk meng- gambarkan pertemuan antara seorang ibu dan putri-putri- nya. Saat itu sangat indah untuk dialami, tetapi sangat sulit untuk diceritakan, jadi akan kutinggalkan momen itu kepada imajinasi pembaca. Aku hanya bisa mengatakan bahwa rumah keluarga March seketika menjadi benderang karena hadirnya kebahagiaan yang murni, dan bahwa harapan baik Meg akhirnya terwujud, ka- rena saat Beth terjaga dari tidurnya yang panjang, dua hal pertama yang dilihatnya adalah setangkai mawar kecil dan wajah ibunya. Terlalu lemah untuk berpikir, Beth hanya tersenyum, lalu berge- rak mendekat kepada lengan-lengan penuh cinta di sekelilingnya, merasa bahwa kerinduannya yang mendalam akhirnya terpenuhi. Setelah itu, ia kembali tertidur, sementara kedua kakaknya me- nunggui ibu mereka, karena Mrs. March tidak ingin melepaskan sebuah tangan kurus yang bergayut padanya, bahkan di saat ia tidur. Hannah, yang merasa tidak mampu mengungkapkan ke- girangannya dengan cara lain, "menciptakan" sarapan yang luar biasa lezat untuk sang musafir. Meg dan Jo menyuapi Mrs. March layaknya burung-burung bangau yang setia, sambil mendengar- kan ibu mereka bercerita dengan suara lirih tentang keadaan Mr. March, janji Mr. Brooke untuk tetap tinggal dan merawatnya, perjalanan pulang yang terhambat badai salju, serta rasa lega yang sulit diungkapkan, yang dirasakan Mrs. March saat melihat wajah penuh harap milik Laurie begitu ia tiba dalam keadaan letih, geli- sah, dan kedinginan.



Betapa hari itu adalah hari yang aneh, sekaligus membahagia- kan! Suasana sangat cerah dan ceria, dan seisi dunia seakan keluar menyambut turunnya salju pertama. Di dalam rumah, suasana be- gitu sunyi dan berbeda; semua orang tertidur setelah lelah berja- ga, dan keheningan hari Sabat melingkupi rumah itu, sementara Hannah yang terkantuk-kantuk berjaga di depan pintu. Dengan perasaan sangat lega karena beban berat mereka kini terangkat, Meg dan Jo memejamkan mata-mata mereka yang lelah, berbaring beristirahat bagaikan sebuah perahu setelah diterjang badai, dan kini aman berlabuh di pelabuhan yang tenang. Mrs. March meno- lak meninggalkan sisi Beth, tetapi ia beristirahat di kursi besarnya. Kerap kali, ia terbangun untuk melihat, menyentuh, dan bersikap amat melindungi putrinya itu, seperti seseorang yang baru saja mendapatkan hartanya kembali.



Sementara itu, Laurie menemani Amy dan menceritakan se- mua kejadian itu dengan begitu baik, sampai-sampai Bibi March ikut "terisak" terharu, dan tidak sekali pun berkata, "Sudah kubi- lang." Dalam peristiwa itu, Amy berhasil bertahan dengan baik. Kupikir, semua pikiran baik yang ia sampaikan di dalam kapel pastilah telah membuahkan hasil. Ia mengeringkan air matanya dengan cepat, menahan ketidaksabarannya untuk bertemu dengan ibunya, dan bahkan tidak lagi memikirkan cincin toska ketika de- ngan sungguh-sungguh Bibi March menyetujui pendapat Laurie betapa Amy bersikap layaknya "wanita muda yang pantas." Polly pun tampak terkesan, karena ia berseru, "Anak baik," memberkati kancingnya, dan memohon agar Amy mengajaknya "keluar dan berjalan-jalan, Manis," dengan nada yang paling lembut. Amy pas- ti akan dengan senang hati pergi keluar untuk menikmati cuaca musim dingin yang cerah; namun, ia melihat bagaimana Laurie nyaris jatuh tertidur meskipun berusaha sekuat tenaga untuk me- nutupi kelelahannya. Amy lantas meminta Laurie beristirahat di sofa, sementara ia menulis surat untuk ibunya. Cukup lama wak- tu yang dibutuhkan Amy untuk menyelesaikan suratnya. Saat ia kembali, Laurie sudah berbaring dengan kedua tangan di bawah kepalanya, tertidur lelap. Bibi March menutup tirai-tirai dan du- duk tanpa melakukan apa pun, memperlihatkan kebaikan yang ti- dak biasanya ia tunjukkan.



Waktu terasa berlalu lambat dan mereka yakin Laurie tidak akan bangun hingga malam hari. Dan aku pun yakin itulah yang akan terjadi, kalau ia tidak terbangun oleh seruan bahagia Amy saat melihat ibunya. Pada hari itu, kurasa ada cukup banyak gadis kecil yang berbahagia di sekitar kota itu, tetapi, menurut penda- patku, Amy adalah gadis kecil yang paling bahagia dari semuanya, saat ia duduk di pangkuan ibunya dan menceritakan semua kesu- litannya, menerima penghiburan dan pujian dalam bentuk senyum manis serta usapan lembut. Mereka duduk berdua di dalam kapel, yang sama sekali tidak membuat ibunya keberatan ketika Amy menjelaskan tujuan tempat tersebut.



"Sebaliknya, aku malah sangat menyukainya, Sayang," kata- nya. Tatapannya berpindah dari rosario yang berdebu ke kitab ke- cil yang tampak lusuh, serta gambar indah yang dihiasi rangkaian daun hijau segar. "Adalah hal yang sangat baik untuk memiliki tempat di mana kita bisa menyendiri, saat ada hal-hal yang meng- ganggu atau membuat kita bersedih. Ada banyak sekali masa sulit dalam kehidupan ini, tetapi kita akan selalu mampu menanggung- nya jika kita meminta bantuan dengan cara yang benar. Kurasa, gadis kecilku telah memetik pelajaran ini?"



"Ya, Ibu, dan setelah pulang nanti, aku ingin membereskan satu sudut di ruang pakaian besar untuk buku-bukuku, serta tiruan gambar itu. Aku sedang mencoba membuatnya. Aku belum bisa meniru wajah wanita itu, ia terlalu indah bagiku, tetapi bayi di sana itu cukup baik, dan aku sangat menyukainya. Aku senang memikirkan bahwa dulu Dia juga seorang bayi kecil, karena de- ngan begitu aku tidak lagi merasa Dia begitu jauh, dan hal ini membantuku."



Saat Amy menunjuk bayi Kristus yang sedang tersenyum di pangkuan ibunya, Mrs. March melihat sesuatu terpasang di jari ta- ngan yang terangkat itu, dan ia pun tersenyum. Ia tidak mengata- kan apa pun, namun Amy memahami sorot matanya, dan setelah diam sesaat, berkata dengan serius,"



"Aku ingin memberitahu Ibu tentang ini tadi, tetapi aku lupa. Bibi memberikan cincinnya kepadaku hari ini; ia memanggilku dan menciumku, kemudian mengenakan cincin ini di jariku. Ka- tanya, aku sangat baik di matanya, dan ia ingin selalu dekat de- nganku. Ia memberikan pengganjal lucu agar batunya tidak lepas, karena ini masih terlalu besar. Aku ingin mengenakannya, Ibu; boleh, ya?"



"Cincinmu sangat indah, tetapi kurasa kau masih terlalu muda untuk perhiasan seperti itu, Amy," sahut Mrs. March, menatap tangan mungil yang tampak sehat dan berisi itu, dengan cincin berbatu warna biru langit di jari telunjuk, dan pengganjal mata cincin aneh yang membentuk dua tangan mungil berwarna emas, bertautan.



"Aku akan berusaha agar tidak sombong," kata Amy. "Kurasa, aku tidak menyukainya sekadar karena keindahannya; aku ingin mengenakannya seperti seorang gadis dalam sebuah cerita yang mengenakan gelangnya, agar aku selalu ingat."



"Maksudmu ingat kepada Bibi March?" tanya ibunya, tertawa.



"Bukan"agar aku selalu ingat untuk tidak bersikap egois." Amy tampak begitu sungguh-sungguh dan tulus, sehingga ibunya berhenti tertawa dan mendengarkan dengan sikap hormat ketika Amy menjelaskan rencana kecil itu.



"Akhir-akhir ini aku berpikir banyak tentang "sekumpulan ke- nakalanku", dan sikap mementingkan diri sendiri adalah kenakal- anku yang terbesar. Jadi, aku ingin berusaha keras untuk meng- hilangkannya, kalau bisa. Beth tidak egois, dan karena itu semua orang menyayanginya, serta merasa begitu sedih saat membayang- kan harus kehilangan dia. Tidak ada yang akan merasa sama bu- ruknya jika aku sakit, dan aku memang tidak layak mendapat per- hatian sedemikian besar; tetapi aku ingin dicintai dan dirindukan oleh banyak orang, jadi aku ingin mencoba dan menjadi seperti Beth, semampuku. Aku mudah melupakan tekadku; namun, kalau aku punya sesuatu yang selalu kukenakan untuk mengingatkanku,



kurasa aku bisa berusaha lebih baik. Bolehkah aku mencoba cara



ini?"



"Ya, walaupun aku lebih yakin pada sudut merenung di ruang pakaian di rumah. Silakan kenakan cincinmu, Sayang, dan laku- kanlah yang terbaik. Kurasa, kau akan berhasil, karena niat yang baik bernilai separuh dari keseluruhan perjuanganmu. Nah, seka- rang, aku harus kembali kepada Beth. Jaga semangatmu, putri ke- cilku, dan tidak lama lagi kita akan berkumpul kembali."



Malam itu, sementara Meg menulis untuk ayah mereka, un- tuk melaporkan kedatangan Mrs. March dengan selamat, Jo pergi ke atas, ke kamar Beth. Ia menemukan ibunya di tempatnya yang biasa. Jo berdiri sesaat sambil jarinya memutar-mutar rambutnya, menandai sikap cemas, dan menampilkan ekspresi bingung.

__ADS_1



"Ada apa, Sayang?" tanya Mrs. March, sambil menjulurkan ta- ngannya, dan wajah yang mengundang rasa percaya.



"Aku ingin mengatakan sesuatu, Ibu."



"Tentang Meg?"



"Betapa cepatnya Ibu menebak! Ya, memang tentang Meg, dan meskipun ini hal kecil, tetapi pikiranku terganggu."



"Beth sedang tidur, bicaralah pelan-pelan, dan ceritakan kepa- daku. Kuharap pemuda Moffat itu tidak bertamu ke sini?" tanya Mrs. March tajam.



"Tidak; kalau ia berani datang, sudah kubanting pintu rumah di mukanya," jawab Jo, sambil mengambil tempat duduk di lan- tai, di dekat kaki ibunya. "Musim panas lalu, Meg meninggalkan sepasang sarung tangan di rumah keluarga Laurence, dan hanya satu yang dikembalikan. Kami semua sudah melupakan perihal sa- rung tangan itu, sampai Teddy mengatakan kepadaku bahwa Mr. Brooke-lah yang menyimpannya. Ia menaruhnya di dalam saku mantelnya, dan sekali waktu sarung tangan itu terjatuh. Teddy menggodanya, dan Mr. Brooke pun mengakui bahwa ia menyukai Meg, walaupun tidak berani mengatakannya terang-terangan, ka- rena Meg masih begitu muda, dan ia terlalu miskin. Nah, bukan- kah ini situasi yang mengerikan?"



"Apakah menurutmu Meg menyukainya?" tanya Mrs. March, dengan pandangan gelisah.



"Mana kutahu! Aku tidak tahu apa-apa soal cinta, dan omong kosong lain seputarnya!" kata Jo, dengan ekspresi lucu, campuran rasa tertarik sekaligus benci. "Dalam novel-novel, tokoh-tokoh ga- dis menunjukkan mereka jatuh cinta dengan sikap mudah terkejut dan wajah merona, kaki menjadi lemas, tubuh mengurus, juga ber- tingkah dungu. Meg tidak sesuai dengan satu pun gambaran itu; ia tetap makan dan minum, juga tidur, seperti orang-orang normal. Ia menatapku lurus-lurus saat aku berbicara tentang pria itu, dan hanya merona sedikit saat Teddy bercanda tentang muda-mudi yang saling jatuh cinta. Aku telah melarangnya bicara tentang itu, tetapi ia tidak mengindahkan peringatanku."



"Jadi, menurutmu Meg tidak tertarik kepada John?"




"Mr. Brooke; aku memanggilnya "John" sekarang; di rumah sa- kit, kami jadi terbiasa melakukannya, dan ia menyukainya."



"Oh, ya, ampun! Sudah kuduga, Ibu pasti memihak dia; ia begi- tu baik kepada Ayah, dan Ibu tidak akan mengusirnya, melainkan membiarkan Meg menikahinya, jika Meg bersedia. Kejam sekali! Merayu Pa dan menjerat hatimu, hanya agar Ibu menyukainya;" lantas Jo menarik-narik rambutnya penuh kemarahan.



"Sayangku, jangan marah. Akan kuceritakan bagaimana itu terjadi. John pergi denganku atas permintaan Mr. Laurence. Ia be- gitu baik terhadap ayahmu yang malang, sehingga kami tidak bisa tidak menyayanginya. Ia sangat terbuka dan bersikap terhormat menyangkut perasaannya terhadap Meg, karena ia mengakui kepa- da kami bahwa ia mencintai Meg, tetapi ia berniat membeli rumah yang nyaman terlebih dahulu sebelum meminta Meg menikahi- nya. Ia hanya ingin kami izinkan untuk tetap mencintai Meg, dan ia akan berusaha keras untuk itu, ia juga ingin kami menghormati haknya untuk membuat Meg jatuh hati kepadanya, jika bisa. Ia pe- muda yang hebat, dan kami tidak bisa menolak untuk memenuhi permintaannya; tetapi aku tidak akan membiarkan Meg mengikat- kan dirinya saat ia masih begitu muda."



"Tentu saja tidak! Itu konyol sekali! Aku tahu ada sesuatu yang sedang terjadi; aku bisa merasakannya; dan ternyata hal ini lebih buruk dari yang kubayangkan. Oh, kalau saja aku bisa menikahi Meg dan menjaganya agar tetap aman di sini."



Keinginan Jo yang aneh itu membuat Mrs. March tersenyum. Namun, ia kemudian berkata serius, "Jo, aku menceritakan ini se- cara rahasia, dan kuharap kau tidak mengatakan apa-apa kepada Meg. Jika John kembali ke sini, aku akan bisa melihat mereka ber- dua, aku akan bisa menilai dengan lebih baik perasaan Meg kepa- danya."



"Ia akan menatap sepasang mata tampan yang selalu ia bicara- kan, dan setelah itu semuanya akan terjadi. Hati Meg begitu lem- but, bisa-bisa langsung meleleh seperti mentega di bawah panas matahari apabila ada satu orang saja yang menatapnya dengan cara yang sentimental. Ia membaca surat-surat pendek pria itu lebih sering ketimbang membaca surat Ibu, dan mencubitku saat aku berkomentar, dan menyukai mata cokelat, dan tidak berpikir bah- wa John adalah nama yang buruk, dan ia akan jatuh cinta, kemu- dian mengakhiri masa-masa kebersamaan kami yang damai dan menyenangkan. Aku bisa membayangkannya! Mereka akan bersi- kap layaknya sepasang kekasih di rumah ini, dan kita akan harus menyingkir. Perhatian Meg akan tersita, dan ia tidak akan mem- perlakukan aku seperti biasanya. Brooke, entah bagaimana, akan berhasil mengumpulkan uang, membawa Meg pergi, dan membu- at keluarga ini berlubang. Dan hatiku pun akan remuk, lantas se- galanya akan terasa pahit, luar biasa pahit. Oh, ya ampun! Kenapa kami tidak terlahir sebagai laki-laki? Dengan begitu, masalah ini tidak akan pernah ada!"



Jo menyangga dagunya di atas lutut. Sikapnya gusar, dan ia menggoyang-goyangkan tinjunya ke arah John yang menurutnya patut dihukum. Mrs. March menghela napas, kemudian Jo mena- tap ke arahnya dengan lega.



"Kau juga tidak suka, kan, Ibu? Aku senang sekali; mari minta pria itu untuk menjauh, tanpa mengatakan apa pun kepada Meg, kemudian meneruskan bersikap ceria sebagaimana biasa."

__ADS_1



"Seharusnya aku tidak menghela napas, Jo. Adalah hal yang wajar dan benar bahwa kalian, pada waktunya, akan pergi untuk tinggal di rumah masing-masing. Tapi aku pun ingin agar anak- anak gadisku tetap tinggal di rumah selama mungkin; dan aku me- nyesal bahwa hal ini terjadi begitu cepat, pada Meg yang baru ber- usia tujuh belas tahun, sementara John akan memerlukan waktu sebelum ia bisa menyediakan rumah untuk Meg. Ayahmu dan aku telah setuju bahwa Meg tidak boleh mengikatkan dirinya, dengan cara apa pun, ataupun menikah, sebelum usia dua puluh. Jika Meg dan John saling mencintai, mereka bisa menunggu, dan mengu- ji cinta mereka sementara itu. Meg adalah pribadi yang bermoral tinggi, dan aku tidak khawatir John akan memperlakukannya de- ngan kurang baik. Anakku yang cantik dan berhati lembut! Kuha- rap hidupnya akan selalu bahagia."



"Tidakkah Ibu berharap ia akan menikah dengan pria kaya?" tanya Jo; suara ibunya bergetar saat mengucapkan kata-kata ter- akhir.



"Uang adalah hal yang baik dan berguna; dan kuharap anak- anakku tidak akan pernah merasa terlalu kekurangan, ataupun tergoda karena memiliki terlalu banyak. Aku akan sangat senang jika John punya posisi yang stabil di sebuah pekerjaan, yang akan memberinya penghasilan cukup besar untuk menjaganya bebas dari utang, dan dapat membuat Meg nyaman. Aku tidak mengi- nginkan kekayaan berlebih, jabatan tinggi, ataupun gelar-gelar isti- mewa untuk anak-anakku. Jika gelar dan uang datang bersama cin- ta dan kebajikan, aku akan menerimanya dengan rasa syukur, dan merasa senang atas keberuntungan kalian. Tetapi, dari pengalam- an, aku tahu betapa kebahagiaan yang sejati bisa dirasakan dalam sebuah rumah sederhana yang para penghuninya bekerja mencari nafkah dengan sungguh-sungguh, dan sedikit kesulitan menjadi bumbu bagi kemewahan-kemewahan yang sesekali hadir. Bagiku,



tidak apa jika Meg harus memulai dengan sederhana, karena, jika aku tidak salah, ia akan sangat kaya apabila dimiliki oleh seorang pria berhati baik, dan hal itu lebih baik ketimbang harta benda."



"Aku mengerti, Ibu, dan setuju denganmu; tetapi aku kecewa pada Meg, karena aku ingin ia menikah dengan Teddy kelak, dan duduk bergelimang kenyamanan setiap hari. Bukankah hal itu akan menyenangkan?" tanya Jo, menatap ibunya dengan wajah lebih cerah.



"Anak itu lebih muda usianya darinya, kau tahu," kata Mrs. March, tetapi Jo memotongnya,"



"Oh, itu tidak masalah; ia cukup dewasa untuk usianya, dan ia jangkung, dan sikapnya pun bagaikan pria sejati, jika ia mau. Ia juga kaya, murah hati, dan baik, dan menyayangi kita semua. Menurutku, sayang sekali jika rencanaku ini gagal."



"Ibu rasa, Laurie tidak cukup dewasa untuk Meg. Lagi pula, saat ini, ia masih terlalu labil untuk dapat diandalkan"oleh siapa pun juga. Tidak usah membuat rencana, Jo, biarkan waktu dan hati yang menyatukan teman-temanmu. Kita tidak bisa turut campur dalam hal-hal seperti ini, dan akan lebih baik apabila tidak membi- arkan "omong kosong cinta", seperti istilahmu, mengusasai pikiran kita, apalagi merusak persahabatan."



"Yah, tidak akan kubiarkan seperti itu. Aku hanya tidak suka melihat situasinya menjadi rumit, dan saling berjalin, padahal sedikit tarikan di sini, dan sedikit pengenduran di sana, bisa me- luruskan semuanya. Ah, kalau saja dengan meletakkan setrika di kepala bisa menjaga kita agar tetap menjadi anak-anak selamanya. Tapi bunga-bunga akan mekar, dan anak kucing akan menjadi ku- cing"sungguh sayang!"



"Apa itu yang kaukatakan tentang setrika dan kucing?" tanya Meg, sembari menyelinap masuk ke dalam kamar, dengan sepucuk surat yang telah selesai ditulis di tangannya.



"Hanya salah satu ocehan konyolku. Aku hendak tidur; ayo, Peggy," kata Jo, sambil berdiri dari duduknya.



"Cukup baik, dan ditulis dengan indah. Tolong tambahkan salam sayangku untuk John," kata Mrs. March setelah membaca sekilas surat itu, dan menyerahkannya kembali kepada Meg.



"Apakah Ibu baru saja memanggilnya "John"?" Meg bertanya, tersenyum, dengan pandangan polos menatap ke arah mata ibu-



nya.



"Ya; ia bagaikan seorang anak bagi kami, dan kami sangat me- nyayanginya," jawab Mrs. March, membalas pandangan Meg de- ngan tatapan menyelidik.



"Aku senang mendengarnya; ia begitu kesepian. Selamat ma- lam, Ibu sayang. Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan betapa senangnya aku karena Ibu telah pulang," adalah jawaban tenang Meg.



Kecupan yang diberikan ibunya adalah kecupan yang sangat lembut; dan, saat Meg berlalu, Mrs. March berkata, antara merasa puas dan menyesal, "Ia belum mencintai John, tetapi tidak lama lagi ia akan belajar untuk itu."


__ADS_1



__ADS_2