Little Women

Little Women
Episode 15


__ADS_3

Telegram



"November adalah bulan yang paling tidak enak sepanjang tahun," ucap Margaret, berdiri di dekat jendela pada suatu sore yang terasa hambar, sambil menatap ke arah kebun yang



tertutup es.



"Justru karena itulah aku terlahir pada bulan ini," Jo menyahut dengan serius, tidak menyadari ada noda tinta di hidungnya.



"Apabila sesuatu yang menyenangkan terjadi pada bulan ini, maka November layak dianggap menyenangkan," kata Beth, yang pandangannya terhadap apa pun selalu positif, termasuk terhadap bulan November.



"Mungkin saja. Tetapi, tidak ada hal baik pernah menghampiri keluarga ini," balas Meg, yang sedang gusar. "Kita bersusah pa- yah hari demi hari, tanpa perubahan, dan hanya sedikit bersenang- senang. Terus berputar seperti itu, tidak ada bedanya."



"Ya, ampun, betapa muramnya kita ini!" seru Jo. "Memang ti- dak heran, sayangku yang malang, karena kau melihat gadis-gadis lain bersenang-senang, sementara kau harus bekerja dan bekerja,sepanjang tahun. Oh, betapa aku berharap dapat memperbaiki na- sibmu, sebagaimana yang kulakukan untuk tokoh-tokoh perempu- anku! Kau cukup cantik dan pantas, jadi akan kukarang agar ada seorang kerabat kaya meninggalkan harta kekayaannya untukmu, tanpa diduga-duga. Setelah itu, kau akan menjadi seorang ahli wa- ris yang mendadak jadi kaya, bisa memarahi siapa pun yang mem- buatmu tersinggung, berpelesir ke luar negeri, pulang kembali dan menjadi nyonya dari seorang pria, dan bermandikan kemewahan serta keanggunan."



"Tidak ada lagi harta kekayaan yang ditinggalkan dengan cara seperti itu sekarang ini. Para pria harus bekerja, dan para wanita menikah demi uang. Dunia ini sungguh tidak adil," ujar Meg de- ngan pahit.



"Jo dan aku akan mendulang kekayaan untuk kalian semua. Tunggulah sepuluh tahun lagi dan lihat saja nanti," kata Amy, yang duduk di sudut membuat "pai lumpur", demikian julukan Hannah untuk burung-burung, buah-buahan, dan macam-macam wajah yang dibuatnya dari tanah liat.



"Tidak sabar rasanya, dan maaf, tapi aku tidak punya cukup banyak keyakinan terhadap tinta dan tanah liat, meskipun aku sa- ngat berterima kasih atas niat baik kalian."



Meg menghela napas, lantas memalingkan lagi wajahnya ke arah kebun yang membeku oleh cuaca dingin. Jo mengerang, dan menelekan kedua sikunya di atas meja, dengan sikap putus asa. Namun, Amy justru bertepuk-tepuk penuh semangat; dan Beth, yang duduk di tepi jendela lain, berkata dengan tersenyum, "Dua hal menyenangkan akan terjadi sebentar lagi; Marmee akan mun- cul dari jalan itu, dan Laurie sedang berjalan melintasi kebun, seo- lah-olah ia punya kabar baik untuk disampaikan."



Kedua orang tersebut tiba. Mrs. March masuk dan mengu- capkan pertanyaannya yang biasa, "Ada surat dari ayah kalian,Anak-Anak?" dan Laurie berkata, dengan gayanya yang memi- kat, "Adakah dari kalian yang ingin ikut berkeliling? Sedari tadi aku mengerjakan soal-soal matematika sampai kepalaku terasa berputar, dan aku ingin menyegarkan diri dengan berjalan-jalan sebentar. Hari ini memang terasa hambar, tetapi udaranya tidak begitu buruk, dan aku ingin mengantar Brooke pulang, jadi akan menyenangkan bepergian di dalam kereta. Ayo, Jo, kau dan Beth mau ikut, kan?"



"Tentu saja."



"Aku ingin sekali, tetapi aku sibuk," kata Meg sambil menge- luarkan jahitannya dari dalam keranjang. Ia setuju dengan ibunya bahwa, setidaknya bagi dirinya, yang terbaik adalah untuk tidak terlalu sering ikut berkeliling dengan pemuda itu.



"Adakah yang bisa kulakukan untukmu, Madam March?" ta- nya Laurie, membungkuk ke arah kursi Mrs. March dengan tatap- an dan nada sayang yang selalu diperlihatkan Laurie kepadanya.



"Tidak, terima kasih, Nak. Hanya tolong mampirlah sebentar di kantor pos, kalau bisa. Hari ini adalah hari kami menerima su- rat, tetapi pengantar pos belum tiba. Ayah seteratur matahari, teta- pi mungkin ada sedikit hambatan saat pengantaran."



Dering tajam memotong kata-kata Mrs. March, dan satu menit setelahnya Hannah datang membawa sepucuk surat.



"Salah satu telegram mengejutkan, Bu," katanya, memegang benda itu seolah-olah akan meledak dan menimbulkan kerusakan.



Begitu mendengar "telegram", Mrs. March langsung merebut kertas itu, membaca dua baris di dalamnya, kemudian terenyak di kursinya dengan wajah pucat pasi, seakan kertas kecil tersebut telah menembakkan peluru ke dadanya. Laurie berlari menuruni tangga untuk mengambil air minum, sementara Meg dan Hannah memeganginya, dan Jo membaca keras, dengan suara bergetar,"



"Mrs. March:



Suamimu sakit keras. Datanglah segera.



S. Hale,



Rumah Sakit Blank, Washington."



Betapa senyap ruangan itu saat semua orang mendengarkan dengan napas tertahan! Betapa anehnya, bahkan langit di luar pun menggelap! Dan betapa tiba-tibanya seisi dunia terasa berbalik, ketika gadis-gadis itu mengerumuni ibu mereka, dengan perasa- an seakan sumber kebahagiaan dan penopang kehidupan mereka akan direnggut. Mrs. March segera menenangkan diri; ia memba- ca ulang pesan itu, merentangkan kedua lengan untuk merangkul putri-putrinya dan berkata, dengan nada yang tidak akan pernah mereka lupakan, "Aku akan segera berangkat, walaupun mungkin sudah terlambat; oh, Anak-Anak, Anak-Anak! Bantu aku menang- gung hal ini!"



Selama beberapa menit, tidak ada suara lain di ruangan itu ke- cuali isak tangis bercampur kata-kata menenangkan yang diucap- kan terbata-bata, usaha meyakinkan akan adanya bantuan, serta bisikan-bisikan penuh harap, yang menghilang lagi ditelan air mata. Hannah yang malang adalah yang pertama pulih, dan de- ngan kebijaksanaan yang tidak disadarinya sendiri, ia memberikan contoh baik kepada yang lain. Bagi Hannah, bekerja adalah pena- war untuk sebagian besar kesulitan.



"Tuhan akan menjaga pria baik itu! Aku tidak akan menghabis- kan waktu untuk menangis. Lebih baik kusiapkan barang-barang- mu, Bu," katanya sungguh-sungguh, sambil mengusap wajah de- ngan kain celemeknya, memberi majikannya jabat tangan hangat dengan tangannya yang kasar, kemudian berlalu untuk melanjut- kan kerjanya, dan tampak benar-benar sangat sibuk, bagaikan ada tiga perempuan dalam satu tubuhnya.



"Ia benar; tidak ada waktu untuk menangis sekarang. Tenang- lah, Anak-Anak, dan biarkan aku berpikir."


__ADS_1


Anak-anak malang itu mencoba untuk tenang sementara ibu mereka duduk tegak, tampak pucat, namun tenang, dan menying- kirkan dukanya untuk berpikir serta membuat rencana.



"Di mana Laurie?" tanyanya, setelah selesai menata pikiran- nya, dan telah memutuskan hal pertama yang harus dilakukan.



"Saya di sini; oh, izinkan saya membantu!" seru anak itu, berge- gas masuk dari ruang sebelah, tempatnya menunggu sebelumnya. Ia merasa tidak berhak menyaksikan kesedihan keluarga March.



"Kirimkan sebuah telegram jawaban, mengatakan aku akan da- tang segera. Kereta berikutnya akan berangkat esok pagi-pagi; aku akan naik kereta itu."



"Ada lagi? Kuda-kuda sudah siap; aku bisa pergi ke mana pun juga,"melakukan apa pun juga," katanya, tampak siap untuk ter- bang, bahkan ke ujung dunia.



"Antarkan suratku untuk Bibi March. Jo, pena dan kertas."



Dengan merobek lembar kosong dari halaman-halaman yang baru ditulisinya, Jo menarik meja ke hadapan ibunya. Ia tahu, uang untuk perjalanan panjang dan sedih itu harus dipinjam, dan ia me- rasa ia mampu melakukan apa pun juga untuk sedikit memenuhi kebutuhan ayahnya.



"Sekarang, pergilah, Nak; tapi jangan sampai melukai dirimu karena memacu kudamu terlalu cepat; tidak perlu seperti itu."



Peringatan Mrs. March jelas tidak diindahkan; lima menit se- telahnya, Laurie melintas dari balik jendela, di atas kudanya, dan menunggangnya seolah-olah nyawanya bergantung pada kecepat- an lari kuda itu.



"Jo, pergilah ke balai pertemuan, dan katakan kepada Mrs. King aku tidak bisa datang. Dalam perjalanan, beli benda-benda ini. Akan kutuliskan. Aku akan memerlukannya, dan aku harus bersiap-siap untuk melakukan perawatan. Persediaan di rumah sakit tidak selalu baik. Beth, pergi dan mintakan beberapa botol anggur tua kepada Mr. Laurence; aku tidak malu harus meminta untuk ayah kalian, karena ia harus mendapatkan yang terbaik dari segalanya. Amy, katakan kepada Hannah untuk menurunkan ko- per hitam; dan Meg, bantu aku mencari barang-barangku, karena aku merasa agak bingung saat ini."



Menulis, berpikir, dan memberikan perintah secara sekaligus sepertinya memang membingungkan perempuan malang itu. Meg memohon agar ibunya bersedia duduk diam sebentar di kamarnya, dan membiarkan mereka bekerja. Semua orang bergerak ke sana kemari, bagaikan daun-daun kering yang tertiup angin; ketente- raman dan kedamaian di rumah itu hilang seketika, seolah-olah kertas tadi mengandung mantra jahat.



Mr. Laurence datang terburu-buru bersama Beth, membawa segala macam bantuan yang bisa dipikirkan pria tua itu untuk Mr. March serta janji-janji menenangkan untuk melindungi anak-anak March selama ibu mereka pergi"sesuatu yang membuat Mrs. March amat lega. Tidak ada yang tidak ditawarkan Mr. Laurence, mulai dari pakaian tidurnya hingga dirinya sendiri sebagai penga- wal dalam perjalanan. Namun, tawarannya yang terakhir mustahil untuk diterima. Mrs. March menolak dengan tegas, perjalanan itu terlalu panjang dan melelahkan untuk orang setua dia; namun eks- presi kelegaan tampak di wajahnya ketika Mr. Laurence memberi- kan tawaran itu, karena kegelisahan bukanlah teman yang baik da- lam perjalanan. Mr. Laurence melihat ekspresi itu. Ia menautkan alisnya, menggosok-gosokkan tangannya, dan tiba-tiba berbalik pergi, sambil mengatakan ia akan segera kembali. Tidak ada yang sempat memikirkannya lagi sampai, saat Meg terburu-buru me- masuki ruangan dengan sepasang sepatu karet di satu tangan dan secangkir teh di tangan lain, dan ia berpapasan dengan Mr. Brooke.



"Aku turut sedih mendengar kabar ini, Miss March," ujarnya. Nada suaranya yang pelan dan lembut terdengar damai bagi jiwa Meg yang sedang terguncang. "Aku datang untuk menawarkan diriku mengawal ibumu. Mr. Laurence memberiku tugas untuk kulakukan di Washington, dan aku akan sangat senang kalau bisa membantu ibumu di sana."



Sepasang sepatu karet jatuh ke lantai, dan cangkir teh itu pun nyaris mengikuti, ketika Meg mengulurkan tangannya, dengan wajah penuh rasa syukur, sampai Mr. Brooke merasa ekspresi itu layak diberikan untuk pengorbanan yang jauh lebih besar, ketim- bang apa yang akan ia lakukan saat itu.



"Betapa baiknya kalian semua! Aku yakin, Ibu akan setuju; dan sungguh melegakan mengetahui bahwa ada seseorang yang akan menjaganya. Terima kasih, terima kasih banyak!"




Ketika Laurie tiba membawa surat dari Bibi March, segalanya telah selesai diatur. Bersama surat tersebut dilampirkan uang se- jumlah yang diminta, serta beberapa baris yang mengulang kata- kata yang sering diucapkan Bibi March, bahwa ia selalu tidak setuju akan keputusan March bergabung di ketentaraan, selalu meramalkan hal itu akan sia-sia, dan berharap lain kali nasihatnya akan didengarkan. Mrs. March membakar surat tersebut, mema- sukkan uang ke dalam dompetnya, dan melanjutkan persiapan. Bibirnya dikatupkan rapat-rapat, sesuatu yang pasti dipahami oleh Jo jika ia ada di sana.



Sore yang singkat itu pun berlalu; semua barang telah dibeli, dan Meg serta ibunya sibuk menyelesaikan beberapa jahitan penting, sementara Beth dan Amy membuat teh, dan Hannah menye- lesaikan menyetrika baju dengan tergesa-gesa. Akan tetapi, Jo be- lum juga muncul. Mereka semua mulai gelisah; Laurie pergi untuk mencarinya, karena tidak ada yang bisa menduga gagasan aneh apa yang masuk ke kepala Jo. Akan tetapi, mereka tidak berpapasan, dan Jo pun tiba dengan ekspresi misterius, campuran antara se- nang dan takut, puas serta penyesalan, yang membuat keluarganya bingung saat melihat wajahnya"sebingung saat mereka melihat gulungan uang yang diletakkan Jo di hadapan ibunya. Dengan ter- bata-bata, Jo berkata, "Itu sumbangan dariku agar Ayah bisa tetap nyaman, dan supaya ia bisa pulang!"



"Sayangku, dari mana kau mendapatkannya? Dua puluh lima dolar! Jo, kuharap kau tidak melakukan apa pun yang sembrono?"



"Tidak, sungguh, uang itu milikku. Aku tidak meminta, me- minjam, atau mencurinya. Aku memperolehnya; dan kurasa kali- an tidak akan menyalahkan aku, karena aku hanya menjual benda milikku."



Sambil berbicara, Jo melepas topinya, dan serentak semua orang menjerit menyaksikan rambut lebat Jo kini hilang.



"Rambutmu! Rambutmu yang indah!" "Oh, Jo, bagaimana bisa? Rambut cantikmu," "Anakku sayang, ini sama sekali tidak perlu." "Ia tidak seperti Jo yang biasa kukenal, tetapi aku sangat menyayanginya untuk itu!"



Di tengah keributan semua orang, dan Beth yang merengkuh lembut kepala kakaknya, Jo menampilkan sikap tak acuh, yang tidak dapat menipu siapa pun. Katanya, sambil mengacak-acak rambut cokelat pendek di kepalanya, dan berusaha mencoba tam- pak menyukai potongan barunya, "Rambutku tidak memengaruhi nasib negara ini, jadi tidak perlu menangisinya, Beth. Pengorban- an ini bagus bagi diriku karena aku sudah menjadi terlalu bangga akan rambutku. Pikiranku akan lebih jernih tanpa gumpalan tebal di atasnya. Kepalaku terasa sangat ringan dan dingin, dan tukang cukur tadi berkata tidak lama lagi rambut pendek ikal akan tum- buh, membuatku tampak seperti anak lelaki, menarik, serta mudah diatur. Aku puas; jadi, kumohon, ambillah uang itu, dan mari kita menikmati makan malam."



"Ceritakanlah segalanya, Jo; aku belum puas, tetapi aku me- mang tidak bisa memarahimu, karena aku tahu betapa engkau dengan sukarela mengorbankan kebanggaanmu, sebagaimana ka- tamu tadi, demi cintamu. Namun, sayangku, ini sungguh tidak perlu, dan aku khawatir kau akan menyesalinya dalam beberapa hari ini," kata Mrs. March.



"Tidak akan!" balas Jo tegas, merasa sangat lega bahwa perbu- atannya tidak menuai kekesalan.



"Apa yang membuatmu melakukannya?" tanya Amy, yang merasa lebih baik memotong kepala cantiknya daripada mencukur habis rambutnya.



"Yah, aku begitu ingin melakukan sesuatu untuk Ayah," Jo menjelaskan, sembari mereka duduk di sekeliling meja. Orang- orang muda memang tetap mampu makan, bahkan di tengah ke- sulitan. "Aku tidak ingin meminjam uang banyak seperti Ibu, dan aku tahu Bibi March pasti akan mengoceh. Ia selalu begitu kalau ada yang meminta uang, bahkan meminjam beberapa sen pun akan membuatnya mengomel. Meg telah menyerahkan upah tiga bu- lanannya untuk membayar pondokan Ibu di sana, dan aku hanya punya beberapa potong baju. Lalu, tiba-tiba pikiran nakal menyer- gapku, dan aku bertekad untuk memiliki sejumlah uang, meskipun harus menjual hidungku untuk itu."



"Kau tidak perlu merasa nakal, anakku, kau tidak punya per- lengkapan musim dingin, hanya membeli benda-benda paling se- derhana, dengan hasil kerja kerasmu sendiri," ujar Mrs. March, dengan tatapan yang membuat hati Jo hangat.

__ADS_1



"Tadinya, aku sama sekali tidak terpikir akan menjual rambut- ku. Aku hanya terus memikirkan apa yang bisa kulakukan, dan rasanya aku bisa saja masuk ke sebuah toko mewah dan meng- ambili apa saja yang kuperlukan. Di jendela salon, aku melihat buntut-buntut rambut dengan tanda harga tersemat; ada satu yang berwarna hitam, panjang, tetapi tidak setebal rambutku, dihargai empat puluh dolar. Gagasan itu muncul begitu saja, bahwa aku pu- nya satu hal yang bisa kujadikan uang dan, tanpa berhenti untuk berpikir, aku berjalan masuk, kemudian bertanya apakah mereka membeli rambut, serta berapa yang akan mereka bayarkan untuk rambutku."



"Aku tidak bisa membayangkan kau berani melakukannya," komentar Beth dengan nada terkagum-kagum.



"Oh, si tukang cukur adalah pria kecil yang sepertinya tujuan hidupnya adalah meminyaki rambutnya. Awalnya, ia hanya me- natapku, seolah-olah ia belum pernah melihat seorang gadis ma- suk ke tokonya dan menawarkan rambutnya. Ia berkata rambutku tidak berguna, bahwa warnanya tidak sesuai mode, dan ia tidak pernah membayar mahal untuk rambut apa pun juga; pekerjaan mengolah rambutlah yang membuatnya mahal, dan seterusnya. Hari sudah semakin sore, dan aku takut, jika tidak segera dilaku- kan, maka aku tidak akan pernah melakukannya. Dan kalian tahu, bukan, bahwa sekali aku memulai sesuatu, aku melakukannya sampai tuntas. Jadi, aku memohon kepadanya untuk mengambil rambutku, kemudian menceritakan mengapa aku begitu terburu- buru. Memang konyol, kuakui itu, tetapi ceritaku mengubah pi- kirannya. Aku menjadi bersemangat, dan menyampaikan ceritaku dengan berantakan, dan istrinya turut mendengarkan, kemudian berkata dengan baik hati,""



""Ambillah, Thomas, turuti gadis muda ini; aku sendiri akan melakukan hal yang sama untuk Jimmy, kapan pun juga, kalau saja aku punya segumpal rambut yang berharga untuk dijual.'



"Siapa Jimmy?" sela Amy, yang selalu meminta penjelasan di tengah-tengah cerita.



"Anaknya, katanya, yang juga sedang menjadi tentara. Bukan- kah hal-hal seperti itu membuat orang asing menjadi ramah? Ia te- rus saja berbicara sementara suaminya memotong rambutku, dan dengan begitu mengalihkan perhatianku."



"Tidakkah kau merasa gelisah waktu guntingnya mulai memo- tong rambutmu?" tanya Meg dengan suara bergetar.



"Aku menatap rambutku untuk terakhir kalinya ketika pria itu menyiapkan peralatannya, dan itulah momen terakhirku. Aku ti- dak pernah menangisi hal kecil seperti itu; walau, harus kuakui, aneh rasanya ketika aku melihat rambutku tersayang diletakkan di atas meja, dan hanya bisa merasakan ujung-ujung rambut yang kasar di kepalaku. Rasanya hampir seperti kehilangan kaki atau le- ngan. Istrinya melihatku menatap rambut itu, dan ia memilihkan seikat rambut yang panjang untuk kenang-kenangan. Akan kube- rikan kepadamu, Marmee, sebagai pengingat akan rupaku yang dulu; rambut pendek ini terasa begitu nyaman, kurasa aku tidak akan memelihara surai lagi."



Mrs. March melipat seikat rambut ikal berwarna cokelat kayu, kemudian membaringkannya di samping seikat rambut pendek berwarna abu-abu di mejanya. Ia hanya berkata, "Terima ka- sih, Sayang," namun ekspresi wajahnya membuat anak-anaknya mengubah topik pembicaraan. Mereka berbicara riang mengenai kebaikan hati Mr. Brooke, memikirkan hari yang cerah keesok- annya, dan masa-masa bahagia yang akan dilalui saat kelak ayah mereka pulang untuk memulihkan kesehatannya.



Tidak ada yang ingin pergi tidur. Pada pukul sepuluh malam, Mrs. March akhirnya meletakkan pekerjaannya yang telah usai dan berkata, "Ayo, Anak-Anak." Beth langsung duduk di depan piano dan mulai memainkan himne kesukaan ayah mereka; se- mua orang bernyanyi dengan berani, namun satu per satu terdiam, hingga tinggal Beth bernyanyi sendirian, bernyanyi dari hatinya, karena musik selalu merupakan penghibur bagi Beth.



"Pergilah tidur, jangan berbicara lagi, karena kita harus bangun pagi-pagi sekali besok, dan akan memerlukan istirahat yang cukup. Selamat malam, anak-anakku," kata Mrs. March, setelah himne itu berakhir dan tidak ada yang hendak menyanyikan lagu lain.



Satu per satu anak-anak March mencium ibu mereka dengan lembut, lalu pergi tidur dalam diam, seolah-olah ayah mereka yang sakit terbaring di ruang sebelah. Beth dan Amy segera tertidur meskipun kesulitan besar mengadang, namun Meg berbaring de- ngan mata terbuka, memikirkan hal-hal serius yang belum pernah ia ketahui dalam hidupnya yang muda. Jo berbaring tidak berge- rak. Meg mengira ia telah tertidur, saat isakan lirih membuatnya berseru tertahan, dan tangannya menyentuh pipi yang basah,"



"Jo, Sayang, ada apa? Apakah kau menangisi Ayah?"



"Tidak, tidak kali ini."



"Lalu apa?"



"Ram...rambutku," tangis Jo meledak, dan ia mencoba dengan sia-sia untuk meredakan emosinya di atas bantal.



Tangisnya sama sekali tidak terdengar lucu di telinga Meg, yang mencium dan mengelus lembut pahlawan yang terluka itu.



"Aku tidak menyesal," Jo memprotes sambil terisak. "Akan kulakukan lagi besok, jika bisa. Hanya saja, diriku yang bangga hati dan egois menangis dengan konyol begini. Jangan katakan ke- pada siapa pun"sudah berlalu sekarang. Kupikir kau sudah tidur,jadi aku ingin mengeluarkan keluhan pribadi atas mahkotaku yang hilang. Mengapa kau masih bangun?"



"Aku tidak bisa tidur, aku merasa sangat gelisah," Meg meng- aku.



"Pikirkanlah sesuatu yang menyenangkan, dan kau pun akan segera tertidur."



"Aku sudah mencoba, tetapi justru merasa semakin sulit tidur."



"Apa yang kaupikirkan?"



"Wajah-wajah tampan; khususnya mata," jawab Meg sambil tersenyum kepada dirinya sendiri di dalam gelap.



"Warna apa yang paling kausukai?"



"Cokelat"biasanya"tetapi biru pun indah."



Jo tertawa, dan Meg dengan tajam langsung menyuruhnya diam. Setelah itu, dengan senang hati Meg berkata akan menge- riting rambutnya, lantas ia jatuh tertidur dan bermimpi tinggal di kastil impiannya yang indah.



Jam menunjukkan waktu tengah malam, tidak ada lagi suara- suara di setiap ruangan. Sebuah sosok berjalan pelan dari satu tempat tidur ke tempat tidur lain, memperbaiki letak selimut di sana-sini, membetulkan bantal, berhenti beberapa saat untuk mengamati setiap wajah dengan lembut dan mengecup wajah- wajah itu dengan bibir yang teberkati, diiringi doa khusyuk yang hanya diucapkan oleh para ibu dalam keheningan. Ketika ia meng- angkat tirai untuk mengintip ke arah kegelapan malam, bulan tiba- tiba muncul dari balik awan, dan bersinar bagaikan seraut wajah yang menenteramkan hati anak manusia, seolah-olah berbisik di tengah kesenyapan malam, "Tabahlah, hati yang baik! Akan selalu ada cahaya di balik awan gelap."

__ADS_1




__ADS_2