Little Women

Little Women
Episode 19


__ADS_3

Surat Wasiat Amy



Sementara banyak hal sedang berlangsung di rumah, Amy mengalami masa-masa sulit bersama Bibi March. Penga- singan ini amat memengaruhinya dan, untuk pertama kalinya, ia menyadari betapa ia begitu dicintai serta dimanjakan di rumah. Bibi March tidak pernah memanjakan siapa pun; perempuan tua itu tidak pernah menyukai sikap itu. Namun, Bibi March ingin bersikap baik karena perilaku sopan Amy kecil membuatnya se- nang. Lagi pula, di hatinya yang tua, anak-anak kemenakannya se- lalu punya tempat istimewa, walaupun ia menganggap tidak pan- tas baginya untuk mengakuinya secara terbuka. Jadi, Bibi March sungguh-sungguh mencoba untuk menyenangkan Amy. Tetapi, aduh, betapa salah caranya! Ada orang-orang tua yang jiwanya te- tap muda meskipun kulit mereka mengeriput dan rambut mereka memutih, yang bisa menerima keceriaan dan kesembronoan anak- anak, yang bisa membuat mereka merasa nyaman, yang mampu menyembunyikan pelajaran bijak di balik cara-cara yang ringan, serta memberikan dan menerima persahabatan dengan amat manis. Sayang, Bibi March tidak dikaruniai bakat seperti itu, hingga ia membuat Amy gelisah setengah mati dengan banyaknya aturan dan perintah, caranya yang kaku, dan ceramahnya yang panjang serta bertele-tele. Amy yang di matanya lebih patuh dan ramah di- banding kakak-kakaknya, membuat Bibi March merasa berkewa- jiban untuk terus mencoba dan berusaha sekeras-kerasnya meng- hapus efek buruk dari pendidikan di rumah kemenakannya yang penuh kebebasan sekaligus kemanjaan. Jadi, ia membimbing Amy dan mengajarkan kepadanya pelajaran yang ia terima enam puluh tahun yang lalu. Proses ini menimbulkan perasaan tak berdaya da- lam diri Amy, dan membuat gadis kecil itu merasa bagaikan lalat yang terperangkap di jaring laba-laba galak.



Setiap pagi Amy disuruh mencuci cangkir-cangkir, kemudian mengelap sendok-sendok antik, poci teh bulat, serta kaca-kaca, sampai semuanya mengilap. Setelah itu, ia harus membersihkan kamar-kamar dari debu"tugas yang sungguh sulit! Tidak ada se- titik debu pun yang lolos dari mata Bibi March. Semua perabot di sana memiliki kaki-kaki berlekuk, serta banyak sekali ukiran, yang tidak pernah dibersihkan dengan benar. Tugas berikutnya adalah memberi makan Polly, menyisir anjing, dan naik-turun tangga selusin kali untuk mengambilkan atau mengantarkan se- suatu. Bibi March tidak terlalu rajin, dan ia jarang meninggalkan tempat duduknya di kursi kebesarannya. Setelah semua tugas yang melelahkan itu, Amy harus belajar, dan inilah tantangan bagi se- genap kekuatan moral yang dimilikinya, yang harus ia hadapi se- tiap hari. Setelah semua itu, barulah ia diizinkan beristirahat atau bermain selama satu jam. Masa satu jam tersebut sangat ia nik- mati. Laurie datang setiap hari, dan membujuk Bibi March begitu rupa sampai Amy diperbolehkan pergi keluar dengannya. Mereka berjalan-jalan, berkuda, dan bersenang-senang. Seusai makan si- ang, ia harus membaca dengan suara keras, kemudian duduk diam sementara perempuan tua itu tertidur, biasanya selama satu jam, setelah mendengarkan halaman pertama dibacakan. Sehabis mem- baca, muncul lagi tugas menyulam atau mengelap barang-barang, kemudian Amy menjahit sampai petang. Dari luar ia tampak pa- tuh, namun hatinya memberontak. Pada petang hari, ia diizinkan bermain-main sampai tiba saatnya minum teh. Malam hari adalah waktu yang terburuk karena Bibi March senang mendongeng pan- jang-panjang tentang masa mudanya. Ceritanya luar biasa mem- bosankan, sampai-sampai Amy selalu berniat untuk menangisi nasibnya sebelum tidur setiap malam, walaupun pada umumnya ia sudah terlelap sebelum sempat mengeluarkan satu ada dua titik air mata.



Kalau bukan karena Laurie dan Esther si pelayan tua, ia me- rasa tidak akan mampu melalui hari-hari yang sulit itu. Burung kakaktua itu sendiri sudah cukup untuk membuat Amy merasa kewalahan. Si burung, begitu menyadari Amy tidak menyukai- nya, langsung membalas dendam dengan menjadi senakal yang ia bisa. Burung itu menarik rambut Amy saat ia berada di dekatnya, menumpahkan roti dan susunya setelah sangkarnya dibersihkan untuk membuat Amy kesal, dan membuat Mop menyalak dengan mematuki anjing itu sementara Bibi March sedang terkantuk-kan- tuk. Si burung juga menjuluki Amy dengan macam-macam nama di hadapan orang lain, dan secara umum berperilaku layaknya bu- rung tua yang pantas mendapat hukuman. Selain itu, Amy juga tidak tahan melihat anjing gendut dan pemberang, yang mendesis dan menggonggong kepadanya sementara Amy membersihkan pa- sirnya. Apabila ada sesuatu yang ingin ia makan, anjing itu akan berbaring pada punggungnya, keempat kaki terjulur ke atas, dan menampilkan ekspresi terdungu"kira-kira selusin kali dalam se- hari. Koki di rumah itu seorang pemarah, sementara tukang kereta sudah tuli, sehingga hanya Esther-lah satu-satunya yang memper- hatikan keberadaan Amy.



Esther adalah perempuan Prancis yang telah tinggal bersama "Madam""begitu ia memanggil majikannya"selama bertahun- tahun. Ia agak menguasai Bibi March, karena perempuan tua itu ti- dak sanggup berbuat apa-apa tanpa dirinya. Nama aslinya Estelle, tetapi Bibi March memerintahkan agar nama itu diganti. Ia setuju, dengan syarat ia tidak akan pernah diminta untuk berganti agama. Esther menyenangi mademoiselle"si nona cilik. Jika Amy duduk bersamanya, sementara ia merapikan renda-renda Madame, ia menghibur Amy dengan cerita-cerita aneh mengenai kehidupan- nya di Prancis. Ia juga membiarkan Amy menjelajahi rumah besar itu, melihat-lihat berbagai benda cantik serta unik yang disimpan di dalam lemari-lemari dan laci-laci besar yang antik. Bibi March orang yang suka menimbun barang, persis burung magpie. Kesuka- an Amy adalah lemari bergaya India penuh dengan laci-laci ganjil, lubang-lubang kecil, serta tempat-tempat penyimpanan rahasia untuk macam-macam ornamen"sebagian berharga, sebagian lagi unik, tetapi semuanya kurang-lebih adalah benda antik. Memper- hatikan dan menata benda-benda itu memberikan rasa puas bagi Amy, terutama tempat-tempat perhiasan. Di dalamnya, di atas dudukan terbuat dari beludru, bersandarlah aksesoris yang meng- hiasi diri seorang gadis muda pada masa empat puluh tahun yang lalu. Ada pula gaun merah tua yang dikenakan Bibi March saat ia melakukan debutnya sebagai gadis lajang, mutiara yang diberikan ayahnya pada hari pernikahannya, berlian dari kekasihnya, cincin dan pin duka cita, bandul-bandul kalung berbentuk aneh berhias- kan foto-foto kawan-kawannya yang telah tiada, hiasan berbentuk pohon dedalu yang terbuat dari rambut, dan gelang-gelang bayi yang dahulu kala dikenakan putri kecilnya. Jam besar milik Paman March, dengan segel merah yang sudah dimainkan oleh begitu banyak tangan kanak-kanak juga ada di sana. Kemudian, di dalam sebuah kotak, berbaring sendirian, adalah cincin pernikahan Bibi March, kini terlalu kecil untuk jarinya yang telah menggemuk. Cincin itu disimpan dengan hati-hati, seakan merupakan perhias- an yang paling berharga dari semuanya.



"Mana yang akan dipilih oleh Mademoiselle, jika ia diizinkan?" tanya Esther, yang selalu duduk di dekat Amy untuk mengawasi serta menyimpan kembali benda-benda berharga itu.



"Aku paling suka berlian, tetapi di sini tidak ada kalung, pa- dahal aku sangat suka kalung, karena kelihatannya sangat cantik. Andaikan aku disuruh memilih, aku akan memilih ini," Amy menjawab sambil dengan penuh kekaguman menatap serangkaian manik-manik yang terbuat dari emas dan kayu eboni, dan yang di ujungnya tergantung salib berat, terbuat dari bahan yang sama.



"Aku juga menyukainya, tetapi bukan sebagai kalung; ah, bu- kan! Bagiku, benda ini disebut rosario, dan karena itu akan kugu- nakan selayaknya seorang Katolik yang baik," kata Esther, ikut menatap penuh harap benda indah itu.



"Apakah gunanya sama dengan serangkaian manik-manik kayu beraroma harum yang digantung di atas kacamu?" tanya Amy.



"Ya, benar, untuk berdoa. Para santo dan santa akan sangat se- nang jika seseorang menggunakan rosario sebagus ini, dan bukan menggunakannya sebagai aksesori untuk bergaya."



"Esther, kau sepertinya selalu menemukan penghiburan dan kedamaian dalam doa-doamu, dan selalu tampak tenang dan damai sehabis berdoa. Kuharap aku bisa begitu."



"Jika Mademoiselle seorang Katolik, ia pun akan menemukan kedamaian sejati. Namun, kau bukan seorang Katolik. Mungkin ada baiknya jika kau menyisihkan waktu setiap hari untuk bermeditasi dan berdoa, seperti yang dilakukan majikanku yang baik hati, kepada siapa aku bekerja sebelum di sini. Ia punya kapel ke- cil, dan di sanalah ia menemukan ketenangan jiwa saat menemui kesulitan."



"Bolehkah aku melakukannya?" tanya Amy yang, di saat sen- dirinya, merasa membutuhkan bantuan dalam bentuk apa pun. Ia juga menyadari bahwa, tanpa Beth untuk mengingatkan, ia dengan mudah melupakan kitab kecilnya.



"Hal itu akan sangat bermanfaat. Dengan senang hati akan kubereskan ruang pakaian yang kecil untukmu, kalau kau mau. Tidak perlu mengatakan apa pun kepada Madame, tetapi saat ia tidur, pergilah kau ke sana, duduklah untuk sesaat, dan pikirkan hal-hal baik, kemudian mohonlah kepada Tuhan untuk menjaga kakakmu."



Esther adalah pribadi yang saleh, dan nasihatnya diberikan de- ngan tulus. Hatinya memang pengasih, dan ia sangat bersimpati kepada kakak-beradik March dalam masa sulit itu. Amy menyukai usulnya, kemudian mengizinkan Esther membereskan ruang pa- kaian kecil di sebelah kamarnya, dan berharap hal itu akan mem- bantunya.



"Kalau saja aku tahu ke mana benda-benda indah akan pergi jika nanti Bibi March wafat," katanya, dengan perlahan meletak- kan lagi rosario yang mengilap itu, dan menutup kotak-kotak per- hiasan itu satu demi satu.



"Kepadamu dan kepada kakak-kakakmu. Aku tahu itu; Madam yang mengatakannya kepadaku. Akulah saksi dalam surat wasi- atnya, dan memang itulah yang akan terjadi," bisik Esther, terse-



nyum.



"Bagus sekali! Tapi seharusnya ia membiarkan kami memiliki- nya sekarang. Pe-nun-da-an ini sangat disayangkan," ujar Amy, melempar tatapan terakhir ke arah berlian-berlian.



"Masih terlalu dini bagi gadis-gadis muda untuk mengenakan benda-benda ini. Anak pertama yang bertunangan akan menda- patkan mutiara"begitu kata Madame. Juga, kurasa, kau akan mendapatkan cincin berwarna biru toska itu saat giliranmu tiba, karena Madame menyukai perilaku baikmu serta sikapmu yang memikat."

__ADS_1



"Begitukah? Oh, pasti senang sekali kalau aku bisa memiliki cincin itu sekarang! Kelihatannya jauh lebih cantik ketimbang cin- cin Kitty Bryant. Yah, sekarang, aku jadi menyukai Bibi March," dan Amy pun mencoba mengenakan cincin biru itu dengan wajah gembira, serta tekad teguh untuk memilikinya.



Sejak hari itu, Amy menampakkan kepatuhan yang patut di- teladani. Bibi March mengagumi keberhasilan bimbingannya de- ngan puas. Sementara itu, Esther meletakkan sebuah meja kecil di ruang pakaian kecil, dan melengkapinya dengan bangku ren- dah untuk berlutut. Di atas meja, ia mendudukkan sebuah gambar, yang diambilnya dari salah satu kamar yang tertutup. Bagi Esther, gambar itu tidak bernilai apa pun. Namun, karena ingin mencipta- kan situasi ideal, ia pun meminjamnya. Ia tahu, Bibi March tidak akan tahu, ataupun peduli. Akan tetapi, gambar itu sesungguhnya adalah tiruan yang berharga dari salah satu gambar terkenal di du- nia. Sepasang mata Amy yang mencintai keindahan tidak pernah lelah memandangi seraut wajah lembut di antara wajah-wajah suci lainnya, sementara pikiran-pikirannya sendiri sibuk berseliwer- an. Di atas meja, Amy menaruh Kitab Suci, buku lagu pujian, dan sebuah jambangan bunga yang selalu diisi dengan bunga-bunga terbaik yang dibawakan Laurie setiap hari. Amy menyempatkan diri masuk ke ruangan itu setiap hari, untuk "duduk sendirian, memikirkan hal-hal baik, dan berdoa agar Tuhan menjaga kakak- nya." Esther memberinya rosario bermanik-manik hitam dan salib perak, tetapi Amy hanya menggantungkannya dan tidak menggunakannya, karena tidak tahu bagaimana rosario itu akan sesuai dengan doa-doa Protestan.



Amy kecil melakukan ritual itu dengan sungguh-sungguh. Berada sendirian di luar rumahnya yang nyaman, ia merasakan kebutuhan akan uluran tangan, untuk digenggamnya erat-erat. Dorongan alamiah membuatnya berpaling kepada sang Sahabat yang kuat sekaligus lembut, yang cinta kebapakannya paling lekat di hati semua anak-Nya yang masih kecil. Ia merindukan bim- bingan ibunya untuk memahami serta mengatur dirinya sendiri. Namun, ia sudah diajarkan ke mana harus mencari, dan dengan sebaik mungkin ia mencoba menemukan jalan tersebut, serta ber- jalan di atasnya dengan keyakinan penuh. Di sisi lain, Amy adalah pengembara muda, dan pada saat itu bebannya terasa terlalu berat. Ia mencoba melupakan kesusahannya, mencoba selalu ceria dan dengan senang melakukan tugas-tugasnya sebaik mungkin, wa- laupun tidak ada yang melihat ataupun memberinya pujian. Da- lam usahanya untuk menjadi sangat, sangat baik, ia memutuskan untuk membuat surat wasiat, seperti yang dilakukan Bibi March. Amy berjaga-jaga kalau-kalau ia benar-benar sakit kemudian mati, barang-barang peninggalannya dapat dibagikan dengan adil serta murah hati. Hanya memikirkan ia harus menyerahkan benda-ben- danya saja hatinya terasa tercubit. Baginya, benda-benda itu sama berharganya dengan semua perhiasan Bibi March.



Pada salah satu jam istirahatnya, Amy menuliskan dokumen penting itu sebaik mungkin, dengan sedikit bantuan dari Esther untuk istilah-istilah hukum. Kemudian, setelah perempuan Pran- cis baik hati itu membubuhkan namanya, Amy pun merasa lega. Ia lantas meletakkannya untuk diperlihatkan kepada Laurie, yang diinginkan Amy sebagai saksi kedua. Hari itu hujan, jadi ia per- gi ke atas untuk menghibur diri di dalam salah satu kamar besar, bersama Polly untuk menemaninya. Kamar yang ia tuju kali itu menyimpan satu lemari penuh dengan pakaian-pakaian tua. Esther membiarkan Amy bermain dengan baju-baju tersebut, dan inilah kegiatan yang paling disukai Amy. Ia senang membalut dirinya dengan gaun-gaun brokat yang warnanya telah pudar, kemudian berjalan di depan cermin panjang, membungkuk, lantas berkeliling menyapukan ujung baju, menghasilkan suara gemerisik yang di- senanginya. Amy begitu sibuk pada hari itu, hingga ia tidak men- dengar Laurie membunyikan bel, ataupun melihat wajah Laurie saat mengintipnya. Amy asyik berjalan hilir-mudik, mengibaskan kipas tangan dan melemparkan kepalanya yang berlapiskan tur- ban berwarna merah muda menyala, kontras dengan gaun brokat berwarna biru dan gaun rajutan berwarna kuning. Ia mengenakan sepatu berhak tinggi, sehingga harus berjalan dengan hati-hati. Se- bagaimana diceritakan Laurie kepada Jo setelahnya, pemandangan itu amatlah lucu"Amy berjalan hilir-mudik mengenakan jaket in- dah, dengan Polly mengepak dan mengikuti di belakangnya, me- niru Amy semampunya. Sesekali, Polly berhenti untuk tertawa, atau berseru, "Hebat, ya, kita? Ayo sini, penakut! Tahan lidahmu! Cium aku, Sayang; ha! Ha!"



Setelah mati-matian menahan ledakan tawa agar tidak me- nyinggung tuan putri yang terhormat, Laurie mengetuk, dan di- persilakan masuk.



"Duduk dan beristirahatlah dulu sementara aku membereskan



barang-barang ini. Setelah itu, aku mau meminta nasihatmu atas sesuatu hal yang sangat penting," kata Amy, usai menunjukkan "harta karunnya" dan mengusir Polly ke sudut ruangan. "Burung itu adalah cobaan dalam hidupku," lanjutnya, melepaskan gundu- kan kain dari kepalanya, sementara Laurie duduk melintang di se- buah kursi. "Kemarin, ketika Bibi sedang tidur, dan aku berusaha sediam tikus, Polly mulai berteriak-teriak dan terbang di sangkarnya; jadi kubiarkan ia keluar. Di dalam sangkar, aku menemukan seekor laba-laba besar. Kucolok-colok laba-laba itu sampai ia kelu- ar, dan melarikan diri ke bawah rak buku. Polly segera berlari me- ngejarnya, menunduk dan mengintip ke bawah rak sambil berkata, dengan caranya yang kocak dan satu mata terpicing, "Mari keluar dan berjalan-jalan, Sayang." Aku tidak mampu menahan tawa, dan tawaku membuat Polly mengumpat, membangunkan Bibi, serta membuatnya memarahi kami berdua."



"Apakah laba-laba itu menerima ajakan si burung tua?" tanya Laurie sambil menguap.



"Ya. Ia keluar, dan Polly lantas melarikan diri, ketakutan se- tengah mati, kemudian dengan susah-payah memanjat kursi Bibi sambil berseru-seru, "Tangkap dia! Tangkap dia! Tangkap dia!" se- mentara aku mengejar laba-laba itu."



"Bohong! Duh!" burung kakaktua itu berteriak sambil mema- tuki sepatu Laurie.




"Nah, aku sudah siap," kata Amy, menutup lemari, dan me- ngeluarkan secarik kertas dari sakunya. "Tolong, aku ingin kau membacanya dan katakan kepadaku apakah ini sudah sesuai hu- kum dan sudah benar. Aku merasa harus menuliskannya, karena hidup penuh dengan ketidakpastian, dan aku tidak ingin ada perse- lisihan setelah aku mati."



Laurie menggigit bibirnya. Ia berpaling dari wajah serius Amy, kemudian mulai membaca tulisan berikut, dengan tingkat kesung- guhan yang patut dipuji, mengingat kesalahan eja yang tertera:



"SURAT WASIAT DAN PESANKU YANG TERAKHIR .



"Saya, Amy Curtis March, menulis ini dalam keadaan sehat, dengan ini memberikan dan meninggalkan semua harta kepunya- an saya"kepada, yang disebutkan:"yaitu



"Kepada ayah saya, saya berikan karya-karya saya yang ter- baik, sketsa, peta, dan benda-benda seni lainnya, termasuk pigura. Saya tinggalkan pula uang senilai $100, yang bebas digunakannya untuk apa pun juga.



"Kepada ibu, saya berikan semua pakaian saya, kecuali cele- mek biru dengan saku,"juga kesukaan saya, dan medali saya, de- ngan penuh cinta.



"Kepada kakak tercinta Margaret, saya berikan cincin toskha (jika saya mendapatkannya), juga kotak hijau dengan merpati di atasnya, dan sehelai renda sungguhan milik saya untuk menghias lehernya, serta gambar sketsa wajahnya buatan saya, sebagai peng- ingat akan "gadis kecilnya".



"Kepada Jo, saya berikan bros, bros yang dibetulkan meng- gunakan lilin penyegel, tempat tinta terbuat dari perunggu"ia menghilangkan tutupnya"dan kelinci gipsum saya yang berhar- ga, karena saya sangat amat menyesal telah membakar tulisannya.



"Kepada Beth (jika ia hidup lebih lama dari saya) saya berikan boneka-boneka dan meja kecil, kipas, kerah linen, dan sandal ru- mah yang baru, jika ia masih bisa mengenakannya dalam keadaan kurus setelah sembuh nanti. Dan dengan ini, saya juga menyam- paikan permintaan maaf saya karena pernah mengejek Joanna.

__ADS_1



"Kepada sahabat dan tetangga saya Theodore Laurence, saya tinggalkan kumpulan prakarya kertas, dan kuda terbuat dari tanah liat, meskipun menurutnya kuda itu tidak memiliki leher. Juga, sebagai balasan dari kebaikannya pada masa sulit, saya berikan karya seni saya mana pun yang ia sukai"Noter Dame adalah yang terbaik.



"Kepada penderma yang terhormat Mr. Laurence, saya ting- galkan sebuah kotak ungu dengan kaca pada tutupnya, yang akan cocok untuk pena-penanya, dan yang akan mengingatkannya akan seorang gadis yang telah tiada, yang selalu berterima kasih kepada- nya atas bantuannya kepada keluarganya, terutama kepada Beth.



"Kepada teman kesayangan saya, Kitty Bryant, saya tinggal- kan celemek biru dan cincin bermanik berwarna emas, dengan kecupan sayang.



"Kepada Hannah, saya berikan kotak yang ia inginkan, dan semua kain perca, dengan harapan ia "akan mengingat saya, saat melihatnya."



"Dan sekarang, setelah membagi harta benda saya yang pa- ling berharga, saya harap semua pihak akan puas dan tidak akan menyalahkan pihak yang telah pergi. Saya memaafkan kesalahan semua orang, dan yakin kita akan bertemu kembali saat sangkaka- la dibunyikan. Amin.



"Pada wasyat dan pesin ini, saya bubuhkan tulisan dan tanda tangan, tertanggal pada hari kedua puluh bulan Nov. Tahun Ma- sehi 1861.



"Amy Curtis March.



"Saksi-saksi: Estelle Valnor, Theodore Laurence."



Nama yang terakhir itu ditulis menggunakan pensil, dan Amy menjelaskan bahwa Laurie harus menulis ulang dengan tinta, lan- tas menyegelnya dengan benar untuk Amy.



"Apa yang menyebabkanmu menulis surat ini? Apakah ada orang yang mengatakan kepadamu bahwa Beth membagi-bagikan barang-barangnya?" tanya Laurie dengan muram, saat Amy mele- takkan sedikit selotip merah, dengan lilin, batang stempel, dan alas stempel di hadapannya.



Amy pun menjelaskan; lalu bertanya, gelisah, "Memang ada apa dengan Beth?"



"Maafkan aku. Tetapi, aku telah mengatakannya, jadi akan kuceritakan. Ia menjadi sangat sakit pada suatu hari, dan berka- ta kepada Jo bahwa ia ingin memberikan pianonya kepada Meg, burungnya kepadamu, dan boneka tua malang itu kepada Jo, yang akan menjaganya demi Beth. Ia meminta maaf karena hanya dapat meninggalkan sangat sedikit barang, kemudian memberikan bebe- rapa untai rambut untuk kami semua, serta cintanya untuk Kakek. Ia tidak pernah berpikir untuk membuat surat wasiat."



Laurie berbicara sambil memberikan tanda tangan serta me- nyegel surat Amy. Ia tidak mengangkat wajahnya sampai sebulir besar air mata jatuh ke atas kertas. Wajah Amy diliputi kecemasan mendalam, tetapi ia hanya berkata, "Tidakkah terkadang ada yang



menambahkan pesan tambahan di dalam wasiat mereka?"



"Ya, pernyataan yang ditulis tangan, namanya codicil."



"Tambahkan satu di suratku �C bahwa aku mau semua rambut- ku dipotong dan diberikan kepada teman-temanku. Tadinya tidak terpikir olehku; tetapi aku ingin melakukannya, meskipun hal itu akan merusak penampilanku."



Laurie pun menambahkan pesan tersebut, tersenyum mende- ngar pengorbanan terakhir dan terbesar dari Amy. Setelah itu, ia menemani dan menghibur Amy selama satu jam, dan sangat terta- rik mendengar pengalamannya di rumah itu. Tetapi, saat tiba wak- tunya untuk pergi, Amy menahannya, dan dengan bibir gemetar ia berbisik, "Apakah kondisi Beth sungguh-sungguh dalam bahaya?"



"Maafkan aku, tetapi sepertinya memang begitu. Tapi, kita harus mengharapkan yang terbaik, jadi jangan menangis, Manis," dan Laurie pun merangkul Amy dengan sikap layaknya seorang kakak lelaki. Rangkulannya terasa amat nyaman bagi Amy.



Sepulangnya Laurie, Amy masuk ke dalam kapel mungilnya. Duduk di tengah keremangan, ia berdoa untuk Beth dengan air mata mengalir deras dan rasa pedih di hatinya. Sejuta cincin toska tidak bisa menghiburnya karena rasa kehilangan akan kakaknya yang mungil dan lembut hati.


__ADS_1



__ADS_2