
Laurie Berulah dan Jo Menggalang Perdamaian
Keesokan harinya, wajah Jo tampak muram. Rahasia yang di- ketahuinya terasa berat, dan sulit bagi Jo untuk tidak tampak misterius ataupun penting. Meg menyadari hal ini, tetapi enggan bertanya lebih jauh. Menurut pengalamannya, cara terbaik untuk menghadapi Jo adalah dengan berbuat sebaliknya, dan ia mera- sa yakin Jo akan menceritakan semuanya justru apabila ia tidak bertanya. Jadi, betapa terkejutnya Meg ketika sikap diam Jo terus berlanjut, dan Jo bertingkah sok tahu dan seperti mengguruinya. Sikap Jo itu membuat Meg kesal, yang membalas dengan menahan mulut dan menjaga harga dirinya, serta berkonsentrasi membantu ibu mereka. Di tengah situasi itu, Jo terpaksa menghibur dirinya sendiri. Mrs. March telah menggantikan Jo sebagai perawat, dan ia menyuruh putrinya itu beristirahat, berolahraga, atau bermain-main setelah begitu lama berada di dalam rumah. Amy tidak ada, jadi hanya bersama Laurie-lah Jo bisa berkegiatan. Tetapi, mes- kipun sangat menikmati persahabatan Laurie, Jo sedang merasa tidak nyaman bersamanya, karena anak itu keterlaluan usilnya, sehingga Jo takut rahasianya akan terbongkar.
Kekhawatiran Jo terbukti menjadi kenyataan; segera setelah pemuda jahil itu mencium adanya sebuah misteri, ia langsung berusaha mengoreknya, membuat Jo merasa amat kesulitan. Ia membujuk, menyogok, mengejek, mengancam, dan mengomel; berpura-pura tidak acuh, dengan harapan Jo akan kelepasan bicara; mengatakan ia sudah tahu, dan bahwa ia tidak peduli. Namun, ke- gigihannya tidak membuahkan hasil, dan ia pun terpaksa berpuas diri dengan menebak-nebak bahwa rahasia itu pasti menyangkut Meg dan Mr. Brooke. Merasa gusar karena tutornya tidak memer- cayainya untuk hal ini, ia pun berpikir keras untuk merencanakan pembalasan yang setimpal.
Sementara itu, Meg sama sekali telah lupa akan adanya rahasia tersebut. Perhatiannya terserap penuh pada persiapan menyambut kepulangan ayah mereka. Akan tetapi, tiba-tiba, pada suatu hari dia berubah; selama satu atau dua hari Meg tidak seperti dirinya yang biasa. Ia kerap terkejut saat diajak bicara, wajahnya memerah jika ditatap, menjadi sangat pendiam, dan duduk menjahit dengan ekspresi takut serta gelisah. Saat ditanya oleh Mrs. March, Meg menjawab ia baik-baik saja, sementara kepada Jo ia hanya diam, serta meminta dibiarkan sendiri.
"Ia merasakannya"cinta, maksudku"dengan cukup cepat. Ia menampilkan semua gejalanya, cerewet dan gampang kesal, ke- hilangan selera makan, sulit tidur, dan bersikap murung di sudut ruangan. Aku memergokinya menyanyikan sebuah lagu tentang "Brook yang bersuara merdu," dan sekali mendengarnya berkata,
"John," seperti Ibu, kemudian wajahnya menjadi semerah bunga poppy. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Jo, tampak siap untuk mengambil tindakan apa pun, sedrastis apa pun.
"Tidak ada, kecuali menunggu. Biarkan ia sendiri, bersikap ba- iklah kepadanya dan bersabarlah. Kepulangan Ayah akan menye- lesaikan segalanya," jawab ibunya.
Esoknya, Jo membagi-bagikan surat dari kantor pos kecil me- reka. "Ini ada surat untukmu, Meg, dilem baik-baik. Aneh sekali! Teddy tidak pernah mengelem suratnya untukku," kata Jo.
Mrs. March dan Jo lantas sibuk membaca surat-surat mereka sendiri, dan terkejut saat mendengar pekikan Meg. Mereka meno- leh dan mendapati Meg sedang membaca suratnya dengan ekspresi ketakutan.
"Anakku, ada apa?" seru ibunya, berlari ke arah Meg, sementa- ra Jo mencoba mengambil secarik kertas yang telah menciptakan kekacauan itu.
"Ada kesalahan"Laurie tidak mengirimkannya"oh, Jo, ba- gaimana mungkin kau tega?" dan Meg pun menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, menangis seakan-akan hatinya telah be- nar-benar patah.
"Meg, aku tidak melakukan apa-apa! Apa yang ia bicarakan?" seru Jo, bingung.
Sinar mata Meg memancarkan kemarahan sembari ia menarik secarik kertas kusut dari sakunya, melemparnya kepada Jo, dan berkata menuduh,"
"Kau menulisnya, dan anak bandel itu membantumu. Bagai- mana kau bisa begitu kasar, kejam, dan jahat kepada kami berdua?"
Jo nyaris tidak mendengar kata-katanya, karena ia dan ibunya segera sibuk membaca surat tersebut, yang ditulis dengan tulisan tangan yang tidak mereka kenali.
"Margaret tersayang,"
"Aku tidak bisa lagi menahan hasratku, dan harus mengetahui nasibku sebelum aku kembali. Aku belum punya keberanian un- tuk mengatakan ini kepada orangtuamu, tetapi aku yakin mereka akan setuju jika mengetahui bahwa kita saling mencintai. Mr. Lau- rence akan membantuku mendapatkan posisi yang baik. Setelah itu, gadisku yang manis, kau akan membuatku bahagia. Kumohon, jangan katakan apa pun dulu kepada keluargamu, tetapi titipkan- lah jawaban singkatmu kepada Laurie, untuk
John
Yang setia kepadamu."
"Dasar anak bengal! Ternyata inilah yang ia maksudkan de- ngan balas dendam karena aku menjaga janjiku kepada Ibu. Akan kumarahi ia habis-habisan, akan kuseret dia ke sini untuk memin- ta maaf," Jo berseru, terbakar amarah, dan ingin segera menjatuh- kan hukuman. Akan tetapi, Mrs. March menahannya dan berkata, dengan ekspresi yang jarang ia perlihatkan,"
"Berhenti, Jo, kau harus menjelaskan peranmu dulu. Kau sudah begitu sering memainkan lelucon, aku mau tahu apakah kau terli- bat dalam hal ini."
"Aku bersumpah, Ibu, tidak! Aku tidak pernah melihat surat itu sebelumnya, dan tidak tahu apa-apa mengenainya, sungguh demi hidupku!" balas Jo dengan sungguh-sungguh. Mrs. March dan Meg memercayainya. "Kalau aku memang terlibat, aku pasti melakukannya dengan lebih baik, dan menulis surat yang lebih masuk akal. Kupikir, kau pasti telah mengenal Mr. Brooke dan tahu bahwa ia tidak akan pernah menulis sesuatu seperti ini," tam- bahnya, dengan kesal melempar kertas itu.
"Tulisan tangannya mirip," kata Meg lemas, membandingkan- nya dengan surat lain di tangannya.
"Oh, Meg, kau belum membalasnya, kan?" Mrs. March ber-
seru.
"Sudah!" dikuasai rasa malu, Meg menyembunyikan wajahnya lagi.
"Jadi begitu, ya! Biarkan aku menyeret anak bengal itu ke sini untuk menjelaskan perbuatannya dan dimarahi. Aku tidak akan berhenti sampai berhasil menangkapnya;" dan Jo pun kembali ber- anjak ke pintu.
"Hus! Biar Ibu yang menangani masalah ini, karena situasinya lebih buruk dari dugaanku. Margaret, ceritakan semuanya," perin- tah Mrs. March, duduk di dekat Meg, sembari tetap memegangi Jo, takut kalau-kalau anak itu tiba-tiba berlari ke luar.
"Aku menerima surat pertama dari Laurie, yang mengesankan ia tidak tahu apa-apa," Meg memulai penjelasannya tanpa meng- angkat kepala. "Awalnya, aku khawatir, dan berniat bercerita kepa- da Ibu; namun lalu aku teringat bahwa Ibu menyukai Mr. Brooke, jadi kupikir Ibu tidak akan keberatan apabila aku menyimpan ra- hasia kecil ini selama beberapa hari. Aku begitu konyol hingga aku tidak ingin ini diketahui orang lain. Sementara memikirkan apa yang hendak kukatakan, aku merasa seperti tokoh gadis di dalam buku-buku, yang juga mengalami situasi yang sama. Maafkan aku, Ibu, inilah balasan atas kekonyolanku; sekarang, tidak mungkin aku berhadapan lagi dengannya."
"Apa yang kautulis?" tanya Mrs. March.
"Aku hanya mengatakan bahwa aku masih terlalu muda untuk memutuskan hal seperti itu; bahwa aku tidak ingin menyimpan rahasia dari orangtuaku, dan ia harus berbicara kepada Ayah. Aku berterima kasih atas kebaikan hatinya, dan sementara ini akan te- rus menjadi temannya, namun tidak lebih."
Mrs. March tersenyum, seakan merasa puas, dan Jo bertepuk tangan, berseru sambil tertawa,"
"Kau ini memang hampir setara dengan Caroline Percy, yang merupakan teladan sikap bijak dan hati-hati! Teruskan, Meg. Apa balasannya?"
"Ia menulis dengan cara yang sama sekali berbeda; ia menga- takan tidak pernah mengirim satu pun surat cinta, dan sangat menyesal bahwa adikku yang liar, Jo, telah bertindak terlalu jauh dengan menyalahgunakan nama kami berdua. Suratnya sangat so- pan dan penuh rasa hormat, tetapi bayangkan betapa buruknya itu bagiku!"
Meg bersandar kepada ibunya, tampak putus asa, sementara Jo berjalan hilir-mudik di ruangan itu, sambil mengumpati Laurie. Tiba-tiba saja ia berhenti, kemudian mengangkat kedua surat tadi. Setelah mengamati keduanya dengan teliti, ia pun menyimpul- kan, "Kurasa Brooke tidak pernah melihat kedua surat ini. Ted- dy yang menulis keduanya, dan menyimpan surat darimu untuk menggangguku, karena aku menolak untuk mengatakan rahasiaku kepadanya."
"Jangan simpan rahasia apa pun, Jo; katakanlah kepada Mar- mee, dan jauh-jauh saja dari masalah, seperti yang selama ini kula- kukan," Meg memperingatkan.
"Oh, Meg! Marmee-lah yang menyampaikan rahasia itu."
"Cukup, Jo. Aku akan di sini menenangkan Meg, dan kau per- gilah memanggil Laurie. Akan kuselesaikan masalah ini sampai ke akarnya dan menghentikan permainannya, sekali untuk sete- rusnya."
Jo langsung melesat pergi dan Mrs. March dengan hati-hati menceritakan perasaan Mr. Brooke yang sebenarnya kepada Meg. "Nah, Sayang, bagaimana dengan perasaanmu sendiri? Apakah kau cukup mencintainya hingga mau menanti sampai ia bisa me- nyediakan rumah untukmu, ataukah kau lebih suka tetap bebas sementara ini?"
"Rasanya, aku begitu takut dan cemas, aku tidak ingin beru- rusan dengan kekasih untuk sementara waktu"mungkin, tidak akan," Meg menjawab kesal. "Kalau John benar tidak tahu akan kekacauan ini, jangan ceritakan apa pun kepadanya, dan mintalah agar Jo dan Laurie menahan lidah mereka. Aku tidak mau diper- mainkan dan diganggu, ataupun menjadi sasaran kekonyolan me- reka"sungguh memalukan!"
Melihat Meg, yang biasanya berperangai tenang, tampak ma- rah dan terluka harga dirinya akibat lelucon yang keterlaluan tersebut, Mrs. March menenangkannya dengan menjanjikan ke- rahasiaan penuh di masa mendatang. Meg pergi ke ruang belajar begitu ia mendengar suara langkah Laurie di lorong. Mrs. March menerima pelaku permainan itu sendirian. Jo tidak mengatakan mengapa Laurie diminta datang, karena khawatir anak itu tidak akan bersedia ikut. Namun, begitu melihat wajah Mrs. March, Laurie langsung mengerti. Ia berdiri memutar-mutar topinya de- ngan sikap seseorang yang merasa bersalah, dan dengan begitu serta-merta mengungkapkan kenakalannya. Jo diminta keluar dari ruangan, tetapi ia berkeliaran di sekitar lorong bagaikan prajurit pengawal, karena khawatir tawanan mereka akan melarikan diri. Suara-suara di ruang duduk naik dan turun selama setengah jam. Akan tetapi, tidak seorang pun di antara gadis-gadis March tahu apa yang terjadi.
Saat mereka dipanggil masuk, Laurie berdiri di sisi ibu mere- ka dengan ekspresi seseorang yang bertobat, hingga Jo memaaf- kannya seketika, walaupun ia tidak memperlihatkan perasaannya. Meg menerima permintaan maafnya, dan menjadi sangat lega setelah diyakinkan bahwa Brooke sama sekali tidak mengetahui peristiwa itu.
"Sampai mati pun aku tidak akan mengatakan apa-apa kepa- danya"kuda liar sekalipun tidak akan bisa menarik keluar rahasia ini dari mulutku; jadi maafkanlah aku, Meg, dan akan kulakukan apa pun juga untuk menunjukkan betapa menyesalnya aku," tam- bah Laurie, tampak sangat malu akan perbuatannya.
__ADS_1
"Akan kucoba; tapi apa yang kaulakukan itu sangatlah tidak pantas. Aku tidak pernah mengira kau bisa begitu jahil dan keji, Laurie," jawab Meg, mencoba menyembunyikan kebingungannya di balik sikapnya yang sedikit galak.
"Perbuatanku itu memang keji dan tidak bisa dimaafkan. Aku pantas dihukum dan tidak diajak bicara selama sebulan penuh; tapi kau tidak akan begitu, kan?" setelah itu, Laurie melipat tangannya, dengan sikap yang sangat memohon, serta memutar bola matanya dengan cara penuh penyesalan, sembari berbicara menggunakan nada suaranya yang paling memikat, sampai-sampai siapa pun akan merasa sulit untuk tetap kesal kepadanya, meskipun ia te- lah melakukan kesalahan besar. Lantas, Laurie menyatakan akan menebus kenakalannya dengan segala macam pertobatan, serta merendahkan dirinya seperti seekor cacing di hadapan sang putri yang terluka hatinya. Pernyataan ini membuat Meg memaafkan- nya, dan wajah tegang Mrs. March mengendur, walaupun ia tetap berusaha tampil tegas.
Jo berdiri menjaga jarak dengan sikap dingin. Ia mencoba me- ngeraskan hatinya terhadap Laurie, namun hanya berhasil me- munculkan ekspresi ketidaksetujuan pada wajahnya. Laurie mena- tapnya satu kali, dua kali, namun sikap Jo tidak melunak. Laurie merasa terluka, kemudian berbalik memunggungi kawannya itu sampai Mrs. March dan Meg selesai bicara. Setelah itu, Laurie membungkuk dalam-dalam kepada Jo, dan keluar tanpa mengata- kan apa-apa lagi.
Segera setelah Laurie pergi, Jo menyesal, dan berharap tadi ia memperlihatkan bahwa ia juga memaafkannya. Meg dan Mrs. March naik ke lantai atas, meninggalkan Jo yang merasa kesepian, dan merindukan Teddy. Ia menahan diri untuk sesaat, namun lantas menyerah pada dorongan yang dirasakannya dan, berbekalkan sebuah buku untuk dikembalikan, Jo pun pergi ke rumah besar di sebelah.
"Apakah Mr. Laurence ada di tempat?" tanya Jo, kepada seo- rang pelayan, yang sedang menuruni tangga.
"Ya, Nona; tapi sepertinya ia tidak bisa ditemui untuk semen- tara."
"Mengapa; apakah ia sakit?"
"Ah, tidak, Nona! Akan tetapi, ia tadi bertengkar dengan Mr. Laurie, yang sedang kesal karena sesuatu, dan membuat Tuan Lau- rence sangat marah, jadi saya tidak berani dekat-dekat dia."
"Di mana Laurie?"
"Di kamarnya. Saya sudah mengetuk, tetapi ia tidak mau membukakan pintu. Saya tidak tahu bagaimana nasib makan si- ang, karena hidangannya sudah siap, dan tidak ada seorang pun yang mau turun makan."
"Akan kulihat ada apa. Aku tidak takut kepada mereka."
Jo naik ke atas lalu mengetuk pintu kamar belajar Laurie.
"Hentikan itu, atau akan kubuka pintu ini dan membuatmu berhenti!" teriak si pemuda dari dalam kamarnya, dengan nada
mengancam.
Jo segera mengetuk lagi dengan keras. Pintu tiba-tiba membu- ka, dan Jo pun melompat masuk, sebelum Laurie pulih dari rasa kagetnya. Melihat bahwa anak itu memang benar-benar sedang ma- rah, Jo, yang tahu cara menghadapinya, segera memperlihatkan ekspresi penuh sesal. Ia lantas menjatuhkan diri ke lantai dengan penuh gaya, berlutut dan berkata memohon, "Mohon maafkan aku karena tadi aku begitu marah. Aku datang untuk berbaikan, dan aku tidak akan pergi sebelum berhasil."
"Tidak apa; bangunlah, jangan konyol begitu, Jo," adalah ja- waban ringan Laurie atas permintaan maaf Jo.
"Terima kasih, aku akan berdiri sekarang. Boleh aku bertanya apa yang telah terjadi? Sepertinya pikiranmu agak kacau."
"Aku diguncang-guncang, dan aku tidak akan membiarkan- nya!" Laurie menggeram, gusar.
"Siapa yang melakukannya?" Jo bertanya mendesak.
"Kakek. Kalau orang lain, pastilah aku sudah..." dan pemuda yang terluka perasaannya itu menyelesaikan kalimatnya dengan melakukan gerakan keras menggunakan lengan kanannya.
"Itu kan bukan masalah besar. Aku juga sering mengguncang- mu, dan kau tidak keberatan," kata Jo.
"Huh! Kau anak perempuan, lagi pula kita kan bermain-main. Tapi, tidak akan kubiarkan pria lain mengguncang diriku."
"Hanya karena aku tidak mau memberitahukan alasan ibumu memanggilku. Aku sudah berjanji untuk tidak mengatakan apa pun, dan tentu saja aku tidak akan mengingkari janjiku."
"Tidakkah kau bisa memuaskan keingintahuan kakekmu de- ngan cara lain?"
"Tidak; ia menuntut jawaban yang sebenarnya, seluruhnya, dan tidak kurang sedikit pun. Kalau saja aku bisa bercerita tanpa me- nyebut nama Meg, aku pasti sudah mengakui perbuatanku kepa- danya. Tetapi karena tidak bisa, aku pun menahan lidahku, dan mendengarkan omelan orang tua itu sampai ia memegang kerah kemejaku dan mengguncang-guncang aku. Setelah itu, amarahku timbul, dan aku melarikan diri, takut kehilangan kendali."
"Ia tidak boleh begitu, tetapi aku tahu ia pasti menyesal. Pergi sana, dan berbaikanlah. Akan kutemani kau."
"Lebih baik aku mati! Aku tidak mau dikuliahi dan diserang semua orang, hanya karena sedikit kenakalan. Aku benar-benar menyesal soal Meg, dan sudah meminta maaf layaknya seorang pria; tetapi aku tidak mau mengalaminya lagi, karena kali ini aku tidak bersalah."
"Kakekmu kan tidak tahu itu."
"Harusnya dia percaya kepadaku dan tidak bertindak seakan- akan aku ini masih bayi. Tak ada gunanya, Jo; Kakek harus belajar bahwa aku mampu mengurus diriku sendiri, dan tidak butuh ba- nyak nasihat atau bimbingan."
"Kau sungguh keras kepala!" keluh Jo. "Lalu bagaimana kau akan menyelesaikan masalah ini?"
"Yah, Kakek yang harus minta maaf, dan percaya kepadaku jika kukatakan aku tidak bisa menceritakan masalahnya."
"Laurie! Ia tidak akan mau melakukan itu."
"Aku tidak mau turun sampai ia meminta maaf."
"Nah, Teddy, cobalah berpikir waras; biarkanlah masalah ini berlalu. Akan kujelaskan apa yang kubisa. Kau tidak mungkin ber- ada di sini terus-terusan, jadi apa gunanya bersikap melodramatis begitu?"
"Aku memang tidak berencana tinggal lama-lama di sini. Aku ingin menyelinap lalu pergi, entah ke mana. Setelah Kakek me- nyadari kepergianku, sikapnya pasti akan berubah."
"Pasti; tapi kau sebaiknya tidak pergi begitu saja dan membu- atnya cemas."
"Jangan berkhotbah. Aku ingin pergi ke Washington, mene- mui Brooke; pasti seru di sana, dan aku akan bersenang-senang setelah segala kesulitan ini."
"Betapa asyiknya! Ah, kalau saja aku juga bisa pergi!" kata Jo, segera lupa akan perannya sebagai Pembimbing begitu mendengar gambaran seru tentang kehidupan di ibu kota.
"Kalau begitu, ikutlah! Kenapa tidak? Kau bisa pergi dan mem- buat kejutan untuk ayahmu, dan aku akan mengejutkan si Brooke.
Pasti jadi lelucon yang hebat! Mari kita wujudkan, Jo! Kita tinggal- kan surat yang mengatakan bahwa kita baik-baik saja, dan segera pergi. Aku punya cukup uang; pasti tidak apa-apa, tidak akan ber- bahaya, karena kau toh mengunjungi ayahmu."
Untuk sesaat, Jo tampak akan setuju; rencana liar itu terdengar memikat baginya. Ia sudah bosan merawat si sakit dan berhari-hari terkurung di dalam rumah. Ia menginginkan perubahan. Gagasan akan bisa menemui ayahnya bercampur dengan daya tarik petua- langan, barak tentara, rumah sakit, kebebasan, dan kegembiraan. Matanya menyala-nyala saat ia menatap penuh harap ke arah jen- dela. Namun pandangannya jatuh ke rumah tua di seberang sana, dan ia pun menggelengkan kepala dengan sedih.
"Kalau saja aku anak lelaki, kita akan melarikan diri bersama, dan bersenang-senang. Tapi, aku anak perempuan yang malang, yang harus berperilaku pantas, dan berdiam di rumah. Jangan goda aku, Teddy, dengan rencana gila itu."
"Itulah serunya!" Laurie yang emosinya sedang meluap angkat bicara. Ia bertekad melepaskan diri, entah bagaimana caranya.
__ADS_1
"Tahan kata-katamu!" seru Jo, sambil menutupi kedua telinga- nya. "Basa-basi dan sikap sok santun adalah musuhku, dan bisa- bisa aku memutuskan untuk ikut kau. Tapi, aku datang ke sini untuk berbuat baik, bukan mendengarkan hal-hal yang bisa mem- buatku tergoda."
"Aku tahu Meg akan menolak mentah-mentah tawaran itu, te- tapi kukira kau punya nyali lebih besar," Laurie membujuk lagi, kali ini lebih halus.
"Anak bandel, diamlah kau. Duduklah dan renungi dosa-dosa- mu, jangan membuat aku menambah dosaku sendiri. Kalau aku bisa membuat kakekmu meminta maaf karena telah menggun- cang-guncang kau, apakah kau mau membatalkan rencana itu?" tanya Jo dengan serius.
"Ya, tapi kau, kan tidak akan melakukannya?" sahut Laurie, yang sebenarnya ingin "berbaikan", namun merasa harga dirinya yang tersinggung harus dihibur terlebih dahulu.
"Kalau aku bisa menghadapi yang muda, aku pasti bisa meng- hadapi yang tua," gumam Jo sembari berlalu, meninggalkan Laurie mengamati peta jalur kereta api, dengan kedua tangan menyangga kepalanya.
"Masuk!" suara parau Mr. Laurence terdengar lebih parau dari biasanya saat ia menjawab ketukan Jo di pintu.
"Ini aku, Sir, datang untuk mengembalikan sebuah buku," kata Jo, datar, sambil melangkah masuk.
"Mau meminjam lagi?" tanya pria tua itu, tampak sedang mu- ram dan kesal, tetapi mencoba untuk tidak memperlihatkannya.
"Ya, kalau diizinkan. Aku suka sekali cerita Sam, dan kupi- kir aku mau melanjutkan dengan membaca jilid kedua," jawab Jo, berharap bisa mengambil hati Mr. Laurence dengan menunjukkan kesukaannya akan Boswell"s Johnson, yang direkomendasikan pria tua itu.
Alis lebat Mr. Laurence mengendur. Ia lalu mendorong tangga ke rak tempat buku-buku cerita Johnson diletakkan. Jo menaiki tangga itu lalu duduk di anak tangga teratas, berpura-pura mencari buku yang ia maksud, sementara pikirannya bekerja, mencari-cari cara terbaik untuk membicarakan tujuan kunjungannya yang sebe- narnya. Mr. Laurence sepertinya melihat bahwa ada sesuatu yang sedang dipikirkan Jo. Ia berjalan mondar-mandir dengan langkah- langkah cepat di sekeliling ruangan, lantas membalikkan tubuh dan menghadap ke arah Jo. Mr. Laurence berbicara begitu tiba-tiba sampai Rasselas jatuh berdebum ke lantai.
"Apa lagi yang diinginkan anak itu? Jangan coba-coba melin- dunginya! Aku tahu ia telah bertingkah keterlaluan dan dimarahi
waktu aku melihat ia pulang. Aku tidak bisa mengorek satu kata pun dari mulutnya. Waktu kuancam bahwa aku akan memaksa- nya mengungkapkan rahasianya, ia berlari ke atas dan mengunci diri di kamarnya."
"Ia memang telah berbuat salah, tetapi kami telah memaafkan- nya, dan berjanji untuk tidak menceritakan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun," kata Jo dengan ragu-ragu.
"Itu tidak cukup baik; ia tidak boleh berlindung di balik janji- janji kalian, gadis-gadis berhati lembut. Jika ia berbuat salah, ia harus mengaku, meminta maaf, dan dihukum. Ayo, cepat katakan, Jo! Aku tidak mau dipermainkan."
Mr. Laurence tampak begitu galak dan ia berbicara dengan be- gitu tajam, sampai Jo merasa lebih baik ia melarikan diri saja, kalau bisa. Akan tetapi, ia sedang bertengger di puncak tangga, sedang- kan Mr. Laurence berdiri di bawah, bagaikan singa yang mengha- langi jalannya, jadi ia harus menghadapinya dengan tabah.
"Betul, Sir, aku tidak bisa bercerita apa-apa karena Ibu kami telah melarang. Laurie telah mengaku, meminta maaf, dan mene- rima hukuman yang cukup layak. Kami tidak berdiam diri untuk melindunginya, melainkan melindungi orang lain, dan campur ta- nganmu akan menciptakan keruwetan. Kumohon, jangan; sebagi- an dari masalah ini adalah salahku, tetapi semuanya sudah dilurus- kan sekarang, jadi mari kita lupakan saja, dan mengobrol tentang Rambler, atau hal lain yang menyenangkan."
"Peduli amat dengan Rambler! Turunlah dan katakan sejujur- nya bahwa cucuku yang bengal itu tidak melakukan apa pun yang kurang ajar, atau tindakan tak tahu terima kasih lainnya. Setelah segala kebaikan yang kalian berikan kepadanya, apabila ia melaku- kan sesuatu, akan kuhajar anak itu dengan tanganku sendiri."
Ancaman itu terdengar mengerikan, tetapi tidak membuat Jo khawatir, karena ia tahu pria tua yang pemarah itu tidak akan pernah memukul cucunya, lepas dari apa pun yang ia ucapkan. De- ngan patuh Jo turun, kemudian menceritakan perihal kenakalan Laurie seringan mungkin, tanpa menyebut-nyebut Meg, atau me- nutupi kebenaran.
"Hum! Ha! Yah, jika anak itu menahan diri karena ia telah ber- janji, dan bukan karena keras kepala, maka aku memaafkannya. Ia memang anak yang keras kepala dan sulit diatur," kata Mr. Lau- rence sambil mengacak-acak rambutnya sampai ia tampak seperti habis diterjang badai. Setelah itu, ia mengendurkan kedua alisnya yang bertaut dengan ekspresi lega.
"Aku pun begitu; tapi satu kata baik saja sudah cukup untuk menundukkan aku, meskipun sepasukan kuda dan selaksa praju- rit tidak mampu," sahut Jo, mencoba menyampaikan hal-hal baik mengenai sahabatnya, yang seolah masuk dari satu kesulitan ke kesulitan lain.
"Menurutmu aku tidak baik kepadanya, ya?" adalah jawaban tajam Mr. Laurence.
"Oh, tidak begitu, Sir; kadang kala Anda terlampau baik, dan hanya sedikit kesal saat ia menguji kesabaran Anda. Tidakkah me- nurut Anda juga begitu?"
Jo telah memutuskan untuk berbicara terus terang, dan ia ber- usaha untuk tetap tenang setelah berkata-kata dengan berani. De- ngan lega, juga terkejut, ia menyaksikan pria tua di hadapannya melempar kacamatanya ke meja sampai berbunyi berkeretak, lalu berseru lantang,"
"Kau benar, anakku! Aku menyayangi anak itu, tetapi ia sering menguji kesabaranku sampai ke ambang batas, dan aku tidak tahu bagaimana situasi ini akan berakhir jika kami terus bermusuhan." "Dapat kukatakan"ia pasti akan kabur." Begitu selesai mengu- capkannya, Jo langsung menyesal; ia hanya berniat memperingatkan Mr. Laurence bahwa Laurie tidak suka terlalu dikekang, dan berharap Mr. Laurence mau lebih sabar terhadap Laurie.
Akan tetapi, wajah Mr. Laurence berubah seketika. Ia duduk dengan sorot mata cemas, memandang foto seorang pemuda tam- pan yang tergantung di atas mejanya. Pria di foto itu adalah ayah Laurie, yang dulu melarikan diri semasa muda, kemudian menikah dengan gadis Italia, melawan perintah ayahnya yang bagaikan dik- tator. Jo merasa Mr. Laurence sedang teringat, sekaligus menyesali masa lalu, dan segera menyesal karena tidak bisa menahan kata- katanya.
"Ia tidak akan melakukannya, kecuali ia benar-benar kalut, dan hanya sesekali melontarkannya sebagai ancaman, ketika le- lah belajar. Sering kali aku sendiri berpikir ingin melakukannya, terutama sejak aku memotong rambutku. Jadi, jika kelak Anda kehilangan kami, Anda boleh memasang pengumuman pencarian untuk dua anak lelaki, dan mencari mereka di antara penumpang kapal dengan tujuan India."
Jo berbicara sambil tertawa, dan Mr. Laurence tampak lega, kini menganggap situasi itu sebagai lelucon.
"Kau anak cerdik, bagaimana mungkin kau berani bicara begi- tu? Mana rasa hormatmu kepadaku, dan mana sopan santunmu? Dasar anak muda! Mereka adalah siksaan bagi kami, tetapi kami tidak dapat hidup tanpa mereka," katanya, sambil mencubit pipi Jo dengan jenaka.
"Pergilah dan panggillah Laurie untuk makan siang bersama. Katakan kepadanya, semuanya sudah beres dan baik, dan minta dia untuk tidak marah lagi kepada kakeknya; aku tidak mau meli- hatnya begitu."
"Ia enggan turun, Sir; ia masih sedih karena Anda tidak memer- cayai kata-katanya, ketika ia berkata ia tidak dapat menceritakan apa pun. Kurasa, guncangan-guncangan tadi menyakiti hatinya."
Jo berusaha menampilkan wajah memelas, tetapi ia pasti telah gagal, karena Mr. Laurence malah tertawa. Jo tahu, itu tanda kea- daan telah kembali normal.
"Aku menyesal telah melakukannya, dan mungkin aku harus berterima kasih karena ia tidak mengguncang-ku. Tapi, sebenar- nya apa yang diharapkan anak itu?" kata Mr. Laurence yang tam- pak malu telah bersikap kelewatan.
"Kalau boleh kusarankan, tulislah surat permintaan maaf, Sir . Katanya, ia tidak mau turun sampai mendapat surat seperti itu; dan ia mengoceh soal Washington, juga bersikap aneh. Permin- taan maaf resmi akan membuatnya melihat betapa konyolnya di- rinya, dan akan membuatnya tenang dengan cepat. Coba saja; ia suka bercanda, dan cara ini lebih baik daripada menceramahinya dengan nasihat panjang. Biar aku yang membawanya ke atas; akan kuberitahu dia tentang tugas dan kewajibannya."
Mr. Laurence menatap Jo dengan tajam, mengenakan lagi ka- camatanya dan berkata, pelan, "Kau ini memang licin! Tapi aku tidak keberatan diatur-atur olehmu dan Beth. Sini, beri aku secarik kertas dan mari selesaikan masalah konyol ini."
Surat tersebut ditulis dengan gaya yang layak disampaikan oleh seorang pria setelah membuat pria lainnya merasa tersing- gung. Jo mengecup puncak kepala Mr. Laurence yang licin tanpa rambut, kemudian berlari ke atas untuk menyelipkan permohonan maaf itu dari bawah pintu. Lalu, melalui lubang kunci, Jo berniat menasihati kawannya untuk menurut, bersikap sopan, serta se- jumlah hal lain yang sepertinya mustahil. Namun, Jo menemu- kan bahwa pintu kamar Laurie telah kembali terkunci, sehingga ia memasrahkan segalanya kepada surat dari Mr. Laurence. Ia baru saja hendak pergi dengan diam-diam ketika tiba-tiba Laurie me- luncur turun menggunakan pegangan tangga dan menunggunya di bawah. Dengan ekspresi wajahnya yang tenang, Laurie berkata, "Betapa baiknya kau, Jo! Tidakkah kau terkena dampratannya?" tambahnya sambil tergelak.
"Tidak; sikapnya secara keseluruhan cukup baik."
"Ah! Aku memang salah! Bahkan kau sendiri tadi mengomeli- ku, sampai aku merasa lebih baik aku mati saja," katanya, meminta maaf.
"Jangan bicara seperti itu. Kau harus memulai lagi, dengan membuka lembaran baru, Teddy, anakku."
"Aku sering membuka lembaran baru, kemudian menodai ha- laman itu, seperti aku menodai buku-buku pelajaranku; dan aku membuat begitu banyak awal yang baru, sepertinya tidak akan pernah ada habisnya," katanya, sedih.
"Pergi dan santaplah makan siangmu; kau pasti akan merasa lebih baik setelahnya. Pria selalu mengoceh saat mereka lapar," dan Jo pun bergegas keluar dari pintu depan setelah mengucapkan kalimat itu.
"Kau melabeli kaumku," sahut Laurie, mengutip Amy, sambil beranjak untuk dengan patuh menemui kakeknya dan berbaikan. Sepanjang sisa hari itu Mr. Laurence bersikap sebaik dan setenang malaikat, dan luar biasa penuh hormat kepada cucunya itu.
Dengan begitu, semua orang mengira masalahnya telah selesai, dan awan-awan gelap pun menjauh ditiup angin. Akan tetapi, ke- nakalan yang keterlaluan itu telah terjadi; dan meskipun yang lain telah melupakannya, Meg selalu mengingatnya. Ia tidak pernah merujuk pada satu nama khusus, tetapi ia sering memikirkan pria ini, dan memimpikannya lebih sering dari biasanya. Sekali wak- tu, Jo, yang sedang membongkar meja kakaknya untuk mencari prangko, menemukan sobekan kertas bertuliskan kata-kata "Mrs. John Brooke". Jo mengerang sedih, lantas melempar kertas itu ke perapian. Di dalam hatinya, ia merasa keisengan Laurie justru te- lah mempercepat datangnya hari yang ia benci.
__ADS_1