
Hari-Hari yangGelap
Beth ternyata memang mengidap scarlet fever, dan sakitnya jauh lebih parah dari yang diduga oleh siapa pun, kecuali oleh Hannah dan Dr. Bangs. Gadis-gadis lain tidak tahu apa-apa me- ngenai penyakit itu, dan Mr. Laurence tidak diizinkan menjenguk, jadi Hannah melakukan segala sesuatu dengan caranya sendiri. Dr. Bangs berusaha sekeras dan sebaik mungkin, namun ia me- nyerahkan sebagian besar tugas perawatan kepada Hannah yang amat terampil. Meg tetap di rumah, agar tidak menulari anak-anak keluarga King, dan menjaga kerapian rumah. Ia merasa gelisah, juga sedikit bersalah, karena menulis surat tanpa menceritakan sedikit pun tentang sakit yang diderita Beth. Menurutnya, ber- bohong kepada ibunya tidak bisa dibenarkan. Akan tetapi, ia te- lah diperintahkan untuk menurut kepada Hannah, dan Hannah sangat melarang "Mrs. March dikasih tahu, lantas khawatir un- tuk hal kecil begini." Jo mengabdikan dirinya kepada Beth siang
dan malam; tugasnya tidak sulit, karena Beth sangat sabar, dan menanggung penyakitnya tanpa mengeluh selama ia masih bisa mengendalikan dirinya. Akan tetapi, ada saat-saat ketika serangan demamnya memuncak, ia mulai berbicara dengan suara pecah dan terpatah-patah, mencoba menekan-nekan selimut, seakan-akan ia sedang memainkan piano kesayangannya, dan mencoba bernyanyi dengan tenggorokan begitu bengkak hingga tidak ada nada yang keluar. Ada pula saat-saat ketika ia tidak mengenali wajah-wajah keluarganya, dan memanggil mereka dengan nama yang salah, ke- mudian memanggil-manggil ibunya dengan suara memelas. Dan ketika itu terjadi, Jo menjadi ketakutan, Meg mulai merengek agar diizinkan menceritakan keadaan mereka kepada Mrs. March, dan bahkan Hannah berkata ia "akan mempertimbangkannya, walau- pun belum ada bahaya." Sepucuk surat dari Washington menam- bah kegundahan mereka, karena kondisi Mr. March kembali me- nurun, dan sepertinya untuk waktu yang cukup lama ia belum bisa dibawa pulang.
Hari-hari itu terasa gelap, rumah terasa sunyi dan mencekam. Saat bekerja dan menunggu, hati gadis-gadis March terasa sangat berat, sementara bayang-bayang kematian seolah melingkupi ru- mah yang biasanya penuh tawa riang itu! Pada saat itulah Mar- garet, duduk sendirian dengan air mata berkali-kali membasahi pekerjaannya, menyadari betapa kayanya ia dahulu, dikelilingi hal-hal yang lebih berharga daripada semua benda mewah yang bisa dibeli dengan uang; ia merasa kaya akan cinta, perlindungan, kedamaian, dan kesehatan, serta karunia sejati yang benar-benar dibutuhkan dalam hidup. Lalu, giliran Jo, yang sepanjang waktu duduk di dalam kamar yang remang-remang, menjaga dan mera- wat adiknya yang sedang menderita. Suara Beth yang mengibakan terngiang-ngiang di telinga Jo, dan Jo pun melihat keindahan dan kebaikan yang sesungguhnya dari watak Beth. Jo merasakan betapa dalam dan lembutnya tempat yang diisi Beth di dalam hati me- reka semua, dan ia pun mengakui betapa berartinya mimpi-mim- pi Beth yang tidak egois; yang ingin hidup untuk orang lain, dan menjaga seisi rumah tetap bahagia dengan memperlihatkan keba- jikan-kebajikan sederhana yang sesungguhnya layak dimiliki seti- ap orang, layak dicintai, dan dihargai lebih dari bakat, harta, atau- pun kecantikan. Sementara itu, Amy, di pengasingannya, begitu merindukan rumah sampai merasa ia mau bekerja menggantikan Beth, serta merasa bahwa pekerjaan apa pun tidak lagi terasa sulit atau menyebalkan. Hatinya pedih saat ia teringat betapa seringnya Beth dengan sukarela mengerjakan tugas-tugas yang diabaikannya. Laurie selalu ada di rumah keluarga March di saat-saat tak terduga, bagaikan hantu penunggu, dan Mr. Laurence mengunci piano be- sar di rumahnya, karena ia tidak tahan saat teringat pada seorang tetangga cilik yang membuat sore-sorenya terasa menyenangkan baginya. Semua orang merindukan Beth. Pengantar susu, tukang roti, penjual sayuran, dan penjual daging menanyakan keadaan- nya. Mrs. Hummel yang malang datang untuk meminta maaf atas kebodohannya, dan mengambil kain untuk membungkus jenazah Minna; para tetangga mengirimkan aneka macam benda yang me- nurut mereka bisa menghibur Beth dan doa-doa tulus mereka pan- jatkan untuk gadis kecil itu. Banyaknya teman yang memperhati- kan Beth mungil yang pemalu mengejutkan bahkan mereka yang sehari-hari hidup bersamanya.
Sementara itu, Beth masih terbaring di tempat tidur, ditemani Joanna di sisinya. Bahkan dalam sakitnya yang parah, Beth tidak pernah melupakan anak asuhnya yang mengibakan itu. Beth juga merindukan kucing-kucingnya, tetapi mereka tidak diizinkan masuk karena bisa-bisa tertular. Dan pada saat-saat yang sunyi, ia bahkan mengkhawatirkan Jo. Beth mengirimkan pesan-pesan penuh rasa sayang kepada Amy, meminta saudara-saudaranya mengirimkan pesan kepada ibu mereka bahwa ia akan menulis kembali sebentar lagi; dan sering kali meminta pensil dan kertas karena ingin mencoba menulis sesuatu sebab ia khawatir ayah me- reka mengira ia telah melupakannya. Akan tetapi, kesadarannya dengan cepat menurun, dan Beth pun terbaring jam demi jam, ber- golek-golek gelisah sambil meracau, atau jatuh tertidur begitu rupa hingga ia melewatkan makan dan minum. Dr. Bangs datang dua kali sehari, Hannah terjaga sepanjang malam, Meg menyiapkan kertas telegram di mejanya agar bisa dikirimkan sewaktu-waktu, dan Jo tidak pernah beranjak dari sisi Beth.
Hari pertama di bulan Desember merupakan hari yang sangat dingin bagi mereka. Angin kering bertiup kencang, salju turun le- bat, dan tahun itu seolah bersiap untuk menghadapi hari terakhir- nya. Ketika Dr. Bangs datang pagi itu, ia menatap Beth lekat-lekat dan lama, menggenggam tangannya yang panas selama semenit, lalu, sambil meletakkannya kembali, berkata dengan nada rendah kepada Hannah,"
"Jika Mrs. March bisa meninggalkan suaminya, sebaiknya ia diminta pulang."
Hannah mengangguk tanpa berbicara. Bibirnya bergetar geli- sah. Meg terduduk di kursi seolah-olah segenap kekuatannya teri- sap habis saat mendengar kata-kata itu dan Jo, setelah berdiri sesaat dengan wajah seputih kertas, berlari ke ruang duduk, menyambar kertas telegram, mengenakan mantelnya, dan bergegas pergi me- nembus badai. Tidak lama kemudian ia kembali masuk rumah.
Tanpa suara, ia melepaskan mentelnya. Laurie datang membawa surat yang mengabarkan bahwa kondisi Mr. March kembali mem- baik. Jo membacanya dengan rasa syukur, tetapi sebuah beban be- rat masih menggayuti hatinya, dan wajahnya terlihat begitu sedih sampai Laurie bertanya cepat,"
"Ada apa? Apakah keadaan Beth memburuk?"
"Aku telah meminta Ibu pulang," kata Jo, melepaskan sepatu botnya dengan ekspresi sangat sedih.
"Bagus, Jo! Apakah kau melakukannya atas inisiatifmu sendi- ri?" tanya Laurie lagi, sambil menuntun Jo untuk duduk di kursi di lorong dan membantu melepaskan sepatunya, karena kedua ta- ngan Jo gemetar begitu kencang.
"Tidak. Dokter yang menyuruh."
"Oh, Jo, apakah begitu buruk?" seru Laurie terperanjat.
"Ya. Ia tidak mengenali kami, bahkan tidak lagi berbicara ten- tang sekumpulan merpati hijau, julukannya untuk daun-daun ang- gur yang merambat di dinding. Ia tidak tampak seperti Beth adik- ku, dan tidak ada orang yang membantu kami untuk menanggung beban ini; Ibu dan Ayah tidak ada, dan Tuhan terasa begitu jauh sampai aku tidak tahu Dia ada di mana."
Air mata mengalir deras membasahi pipi Jo. Ia merentangkan tangannya dengan putus asa, seakan sedang meraba-raba di tengah kegelapan, dan Laurie meraihnya, berbisik, sebaik yang ia bisa de- ngan suara tercekat,"
"Aku di sini, berpeganglah kepadaku, Jo, sayang!"
Jo tidak mampu berkata-kata, tetapi ia menurut dan "berpe- gang." Genggaman hangat tangan seseorang yang dikenalnya me- nenangkan hatinya yang pedih. Tangan itu terasa seakan mem- bimbingnya lebih dekat kepada tangan Yang Maha Kuasa, dan hanya tangan itulah yang akan mampu mengangkatnya di tengah segala kesulitan. Laurie ingin dapat mengeluarkan kata-kata lem- but serta menghibur, tetapi tidak ada kata-kata pantas yang terlin- tas di benaknya. Ia hanya berdiri diam, dan dengan lembut meng- usap-usap kepala Jo yang tertunduk, seperti yang sering dilakukan Mrs. March. Itulah hal terbaik yang bisa dilakukan Laurie; jauh le- bih ampuh daripada kata-kata apa pun, karena Jo dapat merasakan simpatinya tanpa harus diungkapkan dengan kata-kata. Dalam diam, Jo bisa merasakan dirinya dihibur dan hatinya yang pedih ditenangkan; kasih sayang yang tulus mampu mengobati kesusah- an. Tidak lama kemudian, ia mengeringkan air matanya, kemudi- an mengangkat kepala dengan ekspresi penuh rasa terima kasih.
"Terima kasih, Teddy; aku merasa lebih baik sekarang. Aku tidak lagi merasa begitu sedih, dan akan kucoba menanggungnya dengan lebih baik jika itu terjadi."
__ADS_1
"Teruslah berharap untuk yang terbaik; itu akan sangat mem- bantumu, Jo. Sebentar lagi, ibumu akan kembali berada di tengah kalian, dan segalanya akan baik kembali."
"Aku senang sekali kondisi Ayah membaik; Ibu tidak akan me- rasa terlalu bersalah karena harus meninggalkannya. Astaga! Rasa- nya, semua kesusahan datang bertubi-tubi, dan akulah yang harus memikul beban terberat," Jo menghela napas. Dibentangkannya saputangannya yang basah di pangkuannya, agar mengering.
"Tidakkah Meg turut memikul beban ini?" tanya Laurie, tajam.
"Oh, tentu saja. Ia mencoba, tetapi ia tidak mencintai Bethy sebagaimana aku; dan ia tidak akan merindukannya seperti aku. Beth adalah hati kecilku, dan aku tidak sanggup kehilangan dia! Tidak sanggup! Tidak sanggup!"
Jo kembali menutup wajahnya dengan saputangan yang basah, dan ia kembali menangis tersedu-sedu. Sejauh ini, ia selalu berusa- ha tegar, tanpa pernah mengeluarkan setetes air mata pun. Laurie mengusapkan tangannya pada matanya. Ia tidak mampu berbicara sampai perasaan tercekat di lehernya terasa mereda, dan bibirnya tidak lagi gemetar. Ia mungkin bersikap kurang jantan, tetapi ia tidak mampu menahannya, dan aku senang untuk itu. Kemudi- an, setelah isak tangis Jo mereda, ia berkata penuh harap, "Aku tidak percaya Beth akan mati; ia begitu baik, dan kita semua begitu menyayanginya. Aku tidak percaya Tuhan akan mengambilnya begitu cepat."
"Orang-orang baik dan dicintai selalu mati," keluh Jo, tetapi ia pun berhenti menangis, karena kata-kata sahabatnya membuat semangatnya bangkit, meskipun ia masih dibayangi keraguan dan ketakutan.
"Kasihan kau! Kau kelelahan. Tidak biasanya kau begitu putus asa. Tenangkanlah dirimu, akan kukembalikan keceriaanmu de- ngan segera."
Laurie turun, melompati dua anak tangga sekaligus, sementara Jo membaringkan kepalanya yang lelah di atas tudung cokelat kecil milik Beth. Tidak ada yang terpikir untuk memindahkan tudung itu dari meja tempat Beth meninggalkannya. Tudung itu pastilah mengandung sihir, karena roh penuh kepasrahan dari pemiliknya seolah-olah merasuki Jo. Saat Laurie datang kembali membawa segelas anggur, Jo menerimanya sambil tersenyum, lalu berkata dengan tegar, "Aku minum demi kesehatan Beth! Kau memang dokter yang baik, Teddy, dan sahabat yang sangat bisa diandalkan; bagaimana aku bisa membalasmu?" tambahnya. Anggur itu terasa menyegarkan tubuhnya, dan kata-kata Laurie menenangkan pikir- annya yang kalut.
"Akan kukirimkan tagihanku nanti. Malam ini, akan kuberi- kan sesuatu yang akan menghangatkan sisi-sisi hatimu, lebih baik ketimbang berliter-liter anggur," ujar Laurie, tersenyum lebar de- ngan ekspresi seakan menyembunyikan kepuasan.
"Apa itu?" seru Jo, untuk sesaat melupakan kesedihannya kare- na termakan rasa ingin tahu.
Laurie berbicara begitu cepat. Wajahnya merona merah dan untuk sesaat ia menjadi amat bersemangat. Ia telah menyimpan rahasia ini karena takut akan mengecewakan gadis-gadis March,atau melukai perasaan Beth. Wajah Jo langsung memucat. Ia me- lompat bangkit dari kursi, dan begitu Laurie berhenti berbicara, Jo mengejutkannya dengan mengalungkan kedua lengannya ke seke- liling leher pemuda itu. Jo pun berseru-seru gembira, "Oh, Laurie! Oh, Ibu! Aku sangat senang!" Ia tidak lagi menangis, melainkan tertawa histeris, gemetar, lantas menggelantung pada sahabatnya seolah-olah kabar mendadak itu membuatnya kebingungan. Lau- rie, yang jelas-jelas terkejut, tampak mampu mengendalikan diri dengan baik. Ia menepuk-nepuk punggung Jo untuk menenang- kannya dan, melihat sahabatnya telah pulih dari kesedihan, me- lanjutkan dengan satu atau dua kecupan malu-malu yang mem- buat Jo segera tersadar. Sambil berpegangan pada sisi tangga, ia melepaskan pelukannya dan berkata, terengah-engah, "Oh, tidak! Maafkan aku; aku sungguh tidak sopan. Tapi kau begitu baik kare- na telah melakukannya tanpa mengacuhkan Hannah, sampai aku tidak bisa menahan diri. Ceritakanlah kepadaku, dan jangan beri aku anggur lagi; kurasa anggur itulah yang membuatku hilang ken- dali!"
"Aku tidak keberatan!" Laurie tergelak sembari membetulkan dasinya. "Yah, aku semakin gelisah melihat kalian, Kakek juga. Kami pikir, Hannah terlalu jauh mengambil kendali, dan ibumu harus tahu keadaan ini. Ia tidak akan memaafkan kita jika Beth "yah, jika sesuatu terjadi. Jadi, aku meminta persetujuan Kakek bahwa sudah saatnya kami bertindak, dan kemarin aku langsung pergi ke kantor pos, karena kulihat dokter tampak sangat murung, dan Hannah hampir memenggal kepalaku ketika aku mengusul- kan untuk mengirim telegram. Aku tidak pernah bisa tahan dipe- rintah, jadi kubulatkan keputusanku, dan langsung kulaksanakan. Ibumu akan datang, aku tahu. Kereta terakhir tiba pada pukul dua pagi. Aku akan menjemputnya, sementara kau mengendalikan emosimu dan menjaga Beth agar tetap tenang, sampai ibumu tiba."
"Laurie, kau sungguh malaikat! Bagaimana aku bisa berterima kasih kepadamu?"
"Coba peluk aku lagi; aku menyukainya," kata Laurie, tampak jahil"sesuatu yang sudah cukup lama tidak ia tampilkan.
"Tidak, terima kasih. Akan kulakukan kepada orang terdekat- mu, saat kakekmu datang. Jangan menggodaku. Pulanglah dan beristirahatlah, kau akan terjaga separuh malam ini. Diberkatilah engkau, Teddy; diberkatilah engkau!"
Jo bergerak mundur ke suatu sudut dan, begitu menyelesaikan kata-katanya, menghilang ke dalam dapur. Di sana, ia duduk di de- pan lemari, dan memberitahu sekelompok kucing bahwa ia sedang, "Bahagia, oh, sangat bahagia!" Laurie pergi dengan perasaan bahwa ia berhasil menghibur sahabatnya.
"Dia bocah paling suka ikut campur yang pernah kulihat; te- tapi aku memaafkannya, dan kuharap Mrs. March sedang berada dalam perjalanan," ujar Hannah, menunjukkan kelegaan, saat Jo memberitahukan kabar baik itu.
Meg sempat ribut sesaat, lalu merenungi surat tadi, sementa- ra Jo membereskan kamar tempat si sakit terbaring dan Hannah "menyiapkan beberapa kue pai kalau-kalau ada tamu mendadak." Udara segar seolah berembus di rumah itu. Ada sesuatu yang men- cerahkan kamar-kamar yang sunyi, lebih terang dari sang mentari. Segalanya seketika kelihatan kembali penuh harapan; burung Beth mulai bercicip lagi, dan setangkai mawar yang sudah separuh ter- tiup angin terlihat merekah di antara pot-pot Amy di jendela. Api perapian seolah menyala dengan lebih ceria, dan setiap kali gadis- gadis di rumah itu berpapasan, senyum merekah di wajah-wajah pucat mereka, seiring dengan pelukan dan bisikan menyemangati, "Ibu akan datang, Sayang! Ibu akan datang!" Setiap orang berba- hagia, kecuali Beth. Ia masih terus diselubungi kabut tebal, tidak sadar terhadap harapan maupun kegembiraan, keraguan ataupun bahaya. Pemandangan yang memedihkan hati"wajah yang se- belumnya selalu merona lembut kini begitu berubah dan kosong, tangan-tangan yang sebelumnya selalu sibuk kini lemas terkulai, mulut yang tadinya tersenyum sekarang tanpa ekspresi, dan ram- but yang tadinya cantik tertata, sekarang menjadi kasar dan ku- sut di atas bantal. Begitulah keadaannya sepanjang hari. Sesekali, ia terbangun hanya untuk menggumamkan, "Air!" dengan bibir begitu kering, hingga para penjaganya kesulitan memahami kata- katanya. Sepanjang hari, Jo dan Meg mengawasi Beth, mengamati, menunggu, dan memasrahkan keadaan kepada Tuhan serta ibu mereka. Salju turun pada hari itu, angin dingin mengamuk, dan waktu berjalan sangat lambat. Tapi, akhirnya, malam pun datang. Setiap kali jam berubah, Jo dan Meg, yang masih duduk di ke- dua sisi tempat tidur, saling memandang dengan mata bercahaya, karena setiap jam yang berlalu membawa ibu mereka kian dekat. Dokter sempat datang, dan berkata bahwa perubahan, baik atau- pun buruk, kemungkinan akan terjadi pada tengah malam"dan ia akan datang lagi pada saat itu.
Hannah, yang kelelahan, berbaring di sofa yang terletak di kaki tempat tidur, dan dengan segera tertidur. Mr. Laurence berjalan mondar-mandir di ruang duduk, ia merasa lebih baik menghadapi pemberontakan ketimbang kecemasan Mrs. March yang nanti akan datang. Laurie berbaring di karpet, pura-pura beristirahat, padahal ia memandang perapian dengan tatapan serius yang mem- buat kedua mata hitamnya yang indah tampak lembut sekaligus jernih.
__ADS_1
Kedua gadis March tidak akan pernah melupakan malam itu. Rasa kantuk sama sekali tidak dapat menghinggapi mereka sela- ma mereka berjaga, sementara hati mereka dikuasai perasaan tidak berdaya, yang biasa kita rasakan pada saat-saat seperti itu.
"Jika Tuhan membiarkan Beth hidup, aku tidak akan pernah mengeluh lagi," bisik Meg dengan sungguh-sungguh.
"Jika Tuhan membiarkan Beth hidup, akan kucoba untuk men- cintai dan mengabdi kepada-Nya seumur hidupku," kata Jo, de- ngan semangat yang sama besar.
"Kalau saja aku tidak punya hati... rasanya sakit sekali seka- rang," ucap Meg setelah terdiam sesaat.
"Kalau hidup sering ditimpa kesulitan seperti ini, aku tidak tahu bagaimana kita bisa melaluinya," tambah adiknya, seolah ke- habisan semangat.
Tepat ketika itu, jam menunjukkan pukul dua belas tengah ma- lam, dan keduanya mengalihkan perhatian kepada Beth, karena mereka mengharapkan perubahan terpancar pada wajahnya. Ru- mah begitu sunyi, sesunyi kuburan, dan hanya suara angin men- deru-deru yang memecah kesenyapan. Hannah yang kelelahan te- rus tidur. Sebuah bayangan pucat seakan jatuh di atas tempat tidur kecil itu, dan tidak ada yang menyaksikannya kecuali Jo dan Meg. Satu jam berlalu, tanpa ada yang terjadi kecuali kepergian Laurie, tanpa suara, ke stasiun. Satu jam lagi berlalu, dan masih belum ada yang tiba. Jo dan Meg dihantui kegelisahan akan kemungkinan terhambatnya ibu mereka akibat badai, atau kecelakaan dalam per- jalanan atau, yang terburuk, sesuatu telah terjadi di Washington.
Jam menunjukkan pukul dua lewat ketika Jo, yang berdiri di jendela dan berpikir betapa menjemukannya dunia ini di bawah lapisan salju yang terhampar luas, mendengar suara gerakan dari arah tempat tidur. Ia segera berbalik dan melihat Meg berlutut di depan kursi santai ibu mereka, menyembunyikan wajahnya. Rasa takut yang dingin menjalari Jo saat ia berpikir, "Beth sudah tiada, dan Meg tak berani memberitahu aku."
Dengan seketika, Jo kembali ke sisi tempatnya berjaga. Di ma- tanya yang sedang dilanda ketegangan, perubahan besar seakan sedang terjadi. Rona merah akibat demam, dan ekspresi kesakitan, sudah hilang. Terbujur diam tak bergerak, wajah mungil Beth tam- pak begitu pucat dan damai, hingga Jo tidak merasakan keingin- an untuk menangis ataupun meratap. Membungkuk di atas wajah adik kesayangannya, ia mencium dahi yang terasa lembap itu, de- ngan cinta di bibirnya, sambil berbisik pelan, "Selamat jalan, Beth tersayang; selamat jalan!"
Seolah-olah dibangunkan oleh sesuatu, Hannah tiba-tiba ter- jaga. Ia bergegas menghampiri tempat tidur, menatap Beth, me- raba nadinya, mendengarkan bunyi napas di bibirnya, kemudian, sambil menutupi kepalanya dengan celemek, duduk bergoyang- goyang, dan mengoceh, "Demamnya telah pergi; ia tidur enak; kulitnya berkeringat, dan ia bernapas lancar. Oh, puji syukur! Oh, ya, ampun!"
Sebelum Jo dan Meg bisa memercayai kabar gembira itu, dok- ter datang dan mengatakan hal yang sama. Wajahnya tidak tam- pan, tetapi bagi Jo dan Meg, ia tampak sangat tampan ketika terse- nyum, dan berkata, dengan pandangan kebapakan ke arah mereka, "Ya, anak-anakku; kurasa gadis kecil ini akan bertahan. Jagalah agar rumah tetap tenang; biarkan ia tidur, dan saat ia bangun, be- rikan..."
Keduanya tidak pernah mendengar apa yang harus diberikan; mereka telah menghilang ke lorong yang gelap dan duduk di ujung tangga, saling menggenggam tangan dengan erat, merayakan ka- bar gembira itu dalam diam, karena hati mereka terlalu penuh un- tuk bisa berbicara. Saat mereka kembali ke kamar untuk menerima
kecupan dan pelukan dari Hannah, mereka menemukan Beth ber- baring dengan satu tangan mengalasi pipinya, seperti biasa. Pu- catnya yang mengerikan telah hilang, dan Beth bernapas dengan tenang, seakan ia baru saja tertidur.
"Kalau saja Marmee tiba sekarang juga!" kata Jo, seiring de- ngan mulai memudarnya malam musim dingin.
"Lihat ini," kata Meg, menghampiri Jo dengan setangkai ma- war putih yang separuh mekar. "Kupikir, bunga ini akan siap un- tuk diletakkan di dalam genggaman Beth esok jika ia"meninggal- kan kita. Tetapi, bunga ini mulai mekar tadi, dan sekarang akan kuletakkan di jambangan di sini, agar saat Beth terjaga, hal per- tama yang akan ia lihat adalah bunga kecil ini, serta wajah Ibu."
Di mata Meg dan Jo, belum pernah mentari terbit dengan be- gitu indahnya, dan belum pernah dunia terasa begitu membahagi- akan, selain pada saat itu, ketika mereka menatap datangnya pagi setelah malam yang begitu panjang dan menegangkan, tanpa tidur sepicing pun.
"Di luar sana tampak bagaikan dunia peri," kata Meg, terse- nyum pada diri sendiri, sembari berdiri di balik tirai, mengamati pemandangan yang memukau itu.
"Terpujilah Tuhan!" seru Jo, sambil beranjak berdiri.
Ya, suara bel terdengar dari pintu di bawah, diikuti teriakan Hannah, dan suara Laurie yang membawa berita gembira, "Hai kalian! Ibu pulang! Ibu pulang!"
__ADS_1