Little Women

Little Women
Episode 16


__ADS_3

Surat-Surat dari Rumah



Pada dini hari yang dingin, para gadis March menyalakan lam- pu mereka, dan membaca Alkitab dengan kesungguhan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Kini bayang-bayang kesulitan telah tiba, dan menyadarkan mereka betapa hidup mere- ka selama ini begitu kaya akan sinar mentari. Buku-buku kecil itu penuh dengan bantuan dan kata-kata penenang hati; dan, sambil berpakaian, mereka bersepakat untuk mengucapkan selamat jalan dengan ceria, penuh harap, serta melepas kepergian ibu mereka da- lam perjalanan yang panjang itu tanpa dibebani air mata ataupun keluhan. Semuanya terasa sangat aneh saat mereka turun; di luar masih gelap dan senyap, sementara di dalam rumah begitu terang dan gaduh. Sarapan terhidang pada jam yang tidak biasa, dan bah- kan wajah akrab Hannah tidak tampak wajar, sementara ia sibuk mengurus dapur sambil masih mengenakan topi tidurnya. Koper besar sudah siap, tegak di sisi lorong. Mantel panjang dan topi



Mrs. March diletakkan di sofa, dan ibu mereka sendiri sedang du- duk, mencoba untuk makan. Ia tampak begitu pucat dan lelah aki- bat kurang tidur dan rasa cemas, sampai-sampai para gadis March merasa kesulitan untuk mempertahankan tekad mereka. Air mata terus-menerus mengambang di kedua mata Meg, sementara Jo ha- rus menyembunyikan wajahnya di balik kayu penggiling adonan lebih dari sekali. Amy dan Beth tampak sedih serta bingung, sea- kan duka merupakan pengalaman baru bagi mereka.



Tidak ada yang berbicara banyak. Saat waktunya hampir tiba, dan mereka duduk menunggu datangnya kereta kuda, Mrs. March berbicara kepada anak-anaknya, yang semuanya bersibuk-sibuk di sekitarnya. Satu anak melipat syal, anak yang lain meluruskan ja- ring-jaring rambut, anak ketiga memakaikan lapisan luar sepatu, dan yang keempat mengencangkan kancing tasnya.



"Anak-anak, kutinggalkan kalian bersama Hannah, serta di ba- wah perlindungan Mr. Laurence. Hannah adalah contoh kesetiaan dan keteguhan hati, sementara tetangga kita yang baik hati akan menjaga kalian seolah-olah kalian darah dagingnya. Aku sama se- kali tidak mencemaskan kalian, namun aku masih belum yakin apakah kalian bisa menghadapi kesulitan ini dengan benar. Jangan tenggelam dalam duka atau berkeluh kesah selama aku pergi, atau mengira kalian bisa menenangkan diri dengan melamun, atau mencoba untuk melupakan hal ini. Jadi, lakukanlah kegiatan kali- an seperti biasa, karena bekerja merupakan hiburan yang ampuh. Teruslah berharap, dan sibukkanlah diri; apa pun yang terjadi, ingatlah bahwa kalian tidak akan pernah tak punya ayah."



"Ya, Ibu."



"Meg sayangku, kau harus bijaksana. Jaga adik-adikmu. Minta- lah nasihat Hannah dan, apabila kau masih tidak yakin, mintalah nasihat kepada Mr. Laurence. Bersabarlah, Jo, jangan berputus asa, atau melakukan hal-hal ceroboh; sering-seringlah menulis kepadaku, dan jadilah anak gadisku yang pemberani, sigap membantu, serta periang. Beth, silakan hibur dirimu dengan musik, dan te- ruslah kerjakan tugas-tugas rumahmu. Dan kau, Amy, bantulah kapan pun kau bisa, jadilah anak yang patuh, dan tetaplah merasa aman serta bahagia di rumah."



"Ya, Ibu! Akan kami turuti!"



Derak suara kereta kuda yang mendekat membuat mereka ter- diam, menyimak. Itulah saat yang tersulit, tetapi anak-anak March menjalankan peran mereka dengan baik; tidak ada yang menangis, tidak ada yang berlari masuk, atau mengucapkan keluh kesah. Hati mereka terasa amat berat saat mengirimkan pesan-pesan cinta un- tuk ayah mereka sementara dalam hati mereka tahu bahwa, saat mereka berbicara, pesan-pesan itu mungkin sudah terlambat untuk disampaikan. Mereka mencium ibu mereka dengan tenang, meme- luknya dengan lembut, serta mencoba untuk melambaikan tangan dengan ceria saat kereta itu bergerak menjauh.



Laurie dan kakeknya datang untuk mengucapkan selamat jalan kepada Mrs. March, dan Mr. Brooke tampak begitu teguh, cerdas, serta baik hati, hingga para gadis March menjulukinya "Tuan Hati Besar" pada saat itu juga.



"Selamat tinggal, sayangku! Tuhan memberkati dan menjaga kita semua," bisik Mrs. March, sembari mencium satu per satu wa- jah anak-anaknya, lantas bergegas masuk ke dalam kereta.



Saat kereta semakin menjauh, matahari terbit. Melihat ke be- lakang, Mrs. March melihat sinar mentari menerangi orang-orang yang berdiri dekat pagar, bagaikan pertanda baik. Mereka juga melihatnya, kemudian tersenyum dan melambai-lambai. Dengan begitu, hal terakhir yang dilihat Mrs. March, ketika ia berbelok di sudut jalan, adalah empat wajah cerah. Di belakang mereka, berdiri bagaikan penjaga, adalah Mr. Laurence tua, Hannah yang tegar, dan Laurie yang setia.



"Betapa baiknya semua orang terhadap kami," katanya, berba- lik badan dan menemukan satu lagi bukti dari kata-kata itu di ha- dapannya, dalam bentuk simpati penuh hormat dari wajah seorang pemuda.



"Aku tidak melihat alasan bagi mereka untuk berbuat sebalik- nya," jawab Mr. Brooke sambil tertawa. Suara tawanya menular, sehingga Mrs. March tidak mampu menahan senyumnya. Perja- lanan panjang itu pun dimulai dengan tanda-tanda baik berupa si- nar matahari, senyum, serta kata-kata indah.



"Rasanya seolah ada gempa bumi," kata Jo, setelah tetangga mereka pulang untuk bersantap pagi, meninggalkan gadis-gadis March untuk beristirahat dan menyegarkan diri.



"Memang, rasanya seperti setengah isi rumah ini telah pergi," tambah Meg, muram.



Beth membuka mulut hendak mengatakan sesuatu, tetapi ha- nya dapat menunjuk tumpukan kaus kaki panjang yang telah di- tisik rapi, yang terletak di meja ibu mereka. Kaus-kaus kaki itu menjadi bukti bahwa, di saat-saat terakhir dan di tengah keserba- tergesaannya pun, ibu mereka masih ingat dan mau memperbaiki itu semua untuk mereka. Bukan sesuatu yang hebat, namun apa yang dikerjakan Mrs. March langsung menyentuh hati mereka, dan meskipun telah berjanji akan tetap riang dan tabah, mereka tidak tahan lagi untuk tidak menangis sedih.



Dengan bijaksana, Hannah membiarkan mereka melepaskan perasaan. Ketika tangisan mereka mulai mereda, ia datang untuk menyelamatkan mereka, bersenjatakan sepoci kopi.



"Nah, gadis-gadis mudaku sayang, ingat kata-kata ibu kalian, dan jangan mengeluh; mari nikmati secangkir kopi, lalu kita beker- ja dan menjadikan diri kita kebanggaan keluarga."



Kopi memang manjur. Hannah menunjukkan kelihaiannya menghadapi situasi dengan menyeduhnya pagi itu. Tidak ada yang bisa menolak anggukan yang mengundang, ataupun aroma meng- goda yang keluar dari ujung poci. Mereka pun mendekat ke meja, menukar saputangan dengan serbet makan dan, dalam sepuluh menit, pikiran mereka telah lurus kembali.



""Terus berharap dan tetap sibuk," itulah moto kita. Jadi, mari kita lihat siapa yang paling baik mengingatnya. Aku akan pergi ke rumah Bibi March, seperti biasa; oh, tapi, ia pasti akan menguli- ahiku!" kata Jo, sambil menyeruput kopi, dengan semangat yang mulai bangkit.



"Aku akan pergi ke rumah keluarga King, walaupun aku lebih suka berada di rumah dan mengurus segala sesuatu di sini," ujar Meg, berharap matanya tidak terlalu merah.



"Tidak perlu. Beth dan aku bisa menjaga rumah baik-baik," sa- hut Amy, dengan lagak penting.



"Hannah akan membimbing kami, dan akan ada hidangan enak saat kalian pulang," Beth menambahkan. Tanpa menunda lagi, ia mengeluarkan pel dan ember.



"Kupikir, ketegangan sesungguhnya sangat menarik," Amy menyimpulkan, sambil mengunyah gula dengan sikap serius.



Anak-anak yang lain tidak bisa menahan tawa, dan mereka pun kemudian merasa lebih baik. Meg menggeleng-gelengkan kepala ke arah gadis kecil yang menemukan penghiburannya dalam se- mangkuk gula.



Pemandangan yang berbeda membuat Jo murung lagi. Ketika ia dan Meg berangkat untuk melakukan tugas harian mereka, de- ngan sedih mereka memalingkan wajah ke arah jendela, tempat wajah ibu mereka biasa terlihat. Wajah itu tidak ada; namun Beth ingat akan kebiasaan itu, dan di sanalah ia, mengangguk ke arah kedua kakaknya, tampak seperti sekuntum bunga mawar segar.



"Memang begitulah Beth!" kata Jo, melambaikan topinya, de- ngan ekspresi berterima kasih. "Selamat berpisah, Meggy. Semoga keluarga King tidak menyulitkanmu hari ini. Jangan khawatirkan Ayah, Sayang," tambahnya, saat mereka mengambil jalan berbeda.


__ADS_1


"Dan kuharap Bibi March tidak akan mengoceh. Rambutmu memang menarik, dan tampak sangat jantan serta bagus," kata Meg, mencoba tidak tersenyum ke arah kepala berambut ikal itu, yang tampak amat kecil di atas pundak adiknya yang jangkung.



"Hanya itulah memang penghiburanku," dan, menyentuh pinggir topinya meniru gaya Laurie, Jo pun berlalu, merasa bagai- kan domba yang habis dicukur bulunya di hari yang dingin itu.



Berita tentang ayah mereka membuat hati para gadis March hangat; meskipun sakitnya parah, namun kehadiran dan kerja ke- ras para perawat terbaik telah banyak membantu ayah mereka. Mr. Brooke mengirim berita setiap hari dan, sebagai pemimpin kelu- arga, Meg berkeras bahwa dialah yang harus membacakan setiap berita yang datang, yang dari hari ke hari sepanjang minggu itu terasa semakin membahagiakan.



Pada awalnya, semua anak bersemangat menulis, dan amplop- amplop tebal pun dimasukkan ke dalam kotak surat oleh salah seorang gadis March yang merasa paling berkepentingan atas ko- repondensi dengan Washington. Mengingat salah satu surat itu mengandung catatan-catatan yang khas dari gadis-gadis itu, mari- lah kita ambil satu dari masing-masing dan membacanya:"



"Ibuku yang Tercinta,"



"Rasanya tidak mungkin menggambarkan betapa bahagia kami membaca suratmu yang terakhir. Kabar di dalamnya begitu bagus, hingga kami tidak mampu menahan tawa dan tangis. Be- tapa baiknya Mr. Brooke, dan betapa beruntungnya kita karena urusan Mr. Laurence menahannya begitu lama di sana, mengingat besarnya bantuannya kepadamu dan Ayah. Anak-anak bersikap sangat baik. Jo membantuku menjahit, dan memaksa mengerja- kan macam-macam tugas berat. Kalau saja aku tidak mengenal ketulusan niatnya, yang biasanya tidak bertahan lama, aku pasti khawatir ia bekerja berlebihan. Beth mengerjakan tugas-tugasnya sesetia sang waktu, dan tidak pernah melupakan pesan-pesanmu. Ia sering sedih jika ingat Ayah, dan tampak muram, kecuali saat berada di dekat piano kecilnya. Amy patuh kepadaku, dan aku merawatnya baik-baik. Ia menata sendiri rambutnya, dan aku mengajarinya membuat lubang kancing serta cara menambal kaus kakinya. Ia berusaha keras, dan aku tahu Ibu akan sangat senang melihat kemajuannya saat pulang nanti. Mr. Laurence mengawasi kami seperti induk ayam"begitu istilah Jo; dan Laurie bersikap amat baik serta ramah. Ia dan Jo menjaga keceriaan kami semua, karena kadang kami pun merasa sedih, dan merasa seperti anak- anak yatim piatu sejak kepergianmu. Hannah bagaikan orang suci; ia tidak pernah mengomel, dan selalu memanggilku "Miss Mar- garet", yang memang cukup pantas, serta memperlakukan aku de- ngan hormat. Kami semua sehat serta sibuk; namun, setiap hari dan setiap malam, kami menantikanmu untuk kembali. Tolong sampaikan cinta hangatku kepada Ayah, dan tetaplah memerca- yaiku, anakmu,



Meg."



Surat itu ditulis dengan indah di atas kertas wangi. Secara kese- luruhan benar-benar merupakan kebalikan dari surat selanjutnya, yang ditulis di atas kertas asing yang lebar dan tipis, berhiaskan banyak noda tinta, dengan huruf-huruf berukuran besar yang ujungnya meliuk:"



"Marmee-ku yang Berharga,"



""Hore" tiga kali untuk Ayah tersayang! Brooke hebat sekali langsung mengirimkan telegram dan mengabari kami begitu Ayah membaik. Aku bergegas ke loteng ketika telegram itu datang, dan mencoba berterima kasih kepada Tuhan karena telah begitu baik kepada kita, tetapi aku hanya bisa menangis dan berkata, "Aku ba- hagia! Aku bahagia!" Apakah ucapan itu sama baiknya dengan doa yang biasa? Karena perasaanku sungguh bercampur aduk. Kami mengalami saat-saat yang aneh dan menggelikan; tapi sekarang aku dapat menikmatinya, karena setiap orang benar-benar sangat baik, rasanya seperti hidup di sarang merpati. Ibu pasti akan terta- wa melihat Meg duduk di kepala meja, mencoba bersikap keibuan. Dari hari ke hari ia semakin cantik, hingga kadang-kadang aku merasa jatuh cinta kepadanya. Beth dan Amy bagaikan malaikat, seperti biasa, dan aku, yah, aku Jo, yang tidak mungkin menja- di apa pun selain diriku sendiri. Oh, harus kukatakan aku nyaris bertengkar dengan Laurie. Aku mengutarakan pendapatku tentang suatu hal konyol, lantas ia tersinggung. Aku benar, namun tidak berbicara sebagaimana seharusnya. Ia kemudian bergegas pulang, bersumpah tidak akan datang lagi sampai aku meminta maaf. Ku- katakan kepadanya aku tidak akan memohon maaf, lalu aku me- rasa marah. Hal itu berlangsung sepanjang hari; aku merasa tidak enak, dan begitu merindukanmu. Laurie dan aku sama-sama me- miliki harga diri yang tinggi, sehingga sulit untuk meminta maaf; tetapi kupikir itu salahnya sendiri, karena akulah yang benar. Ia tidak datang; di malam hari, aku teringat kata-katamu ketika Amy jatuh ke sungai. Aku membaca buku kecilku, merasa lebih baik, dan bertekad tidak akan membiarkan hari itu berakhir dengan amarah masih meraja di dadaku. Jadi, aku berlari untuk menyam- paikan penyesalanku kepada Laurie. Aku bertemu dengannya di pagar. Ia ternyata ingin menyampaikan hal yang sama. Kami berdua tertawa, saling meminta maaf, dan dengan segera merasa nyaman kembali.



"Kemarin, saat sedang membantu Hannah mencuci, aku mengarang sebuah sajak. Ayah menyukai tulisan-tulisan konyol- ku, jadi kulampirkan di sini untuk menghiburnya. Sampaikan pe- lukan tererat untuknya, dan cium selusin kali untukmu, dari



Jo si Berantakan."



"Lagu dari Balik Busa Sabun



"Oh, Ratu Bak Cuci, dengan ceria aku bernyanyi



Sementara buih putih membumbung tinggi;




Lalu menjemur baju-baju



Di luar, kubiarkan mereka tertiup angin dan terkena panas



Di bawah langit cerah dan sinar matahari.



"Kalau saja kita bisa membersihkan hati dan jiwa



Dari noda yang sepanjang pekan menerpa



Biarkanlah air dan udara, dengan keajaiban keduanya



Membuat kita sesuci mereka



Jika begitu, pastilah di dunia



Akan ada hari mencuci yang luar biasa!



"Sembari menjalani hidup yang berguna,



Akankah hati lebih ringan terasa;



Pikiran yang sibuk tidak sempat merenungi



Rasa sedih, khawatir, ataupun muram

__ADS_1



Dan akankah kegelisahan terusir pergi



Seiring sapu yang kita goyangkan.



"Aku senang memiliki tugas



Yang harus dikerjakan hari demi hari



Karenanya, aku menjadi sehat, kuat, dan penuh harap



Dan aku belajar berkata dengan ceria,"



"Kepalamu berpikir, hatimu merasa,



Tetapi tanganmulah yang akan bekerja!'"



"Ibu yang Tersayang:



"Hanya ada sedikit ruang untukku menyampaikan cintaku, dan ada bunga-bunga pansy yang kuawetkan di rumah, agar Ayah bisa melihat mereka nanti. Aku membaca setiap pagi, mencoba agar tetap patuh sepanjang hari, dan mengantar diriku sendiri ti- dur dengan menyanyikan lagu Ayah. Aku tidak bisa menyanyikan Land of the Leal lagi, karena lagu itu membuatku menangis. Semua orang bersikap baik, dan kami berusaha tetap berbahagia, sejauh



yang kami bisa, tanpa Ibu. Amy ingin mengisi sisa halaman ini, jadi aku harus berhenti sekarang. Aku tidak pernah lupa menu- tup wadah-wadah sendok dan garpu, memutar jam, dan membuka jendela-jendela setiap hari agar angin menyegarkan kamar-kamar kita.



"Sampaikan cium sayangku kepada Ayah, di pipi yang kata- nya hanya untukku. Oh, pulanglah segera kepada putrimu yang mencintaimu,



Beth Kecil."



"Ma Chere Mamma:



"Kami semua baik-baik aku belajar setiap hari dan tidak pernah mengecohi kakak-kakakku"menurut Meg maksudku menggercokki jadi aku menaruh kedua kata itu di sini agar Mamma bisa mengartikannya. Meg menjagaku dengan baik dan mengizin- kan aku memakan jeli setiap malam bersama teh kata Jo makanan itu bagus untukku karena menjaga perangaiku tetap baik. Laurie tidak lagi bersikap sesongpan yang seharusnya, padahal aku sudan memasuki usia remaja, ia memanggilku Chick dan menyakiti ha- tiku dengan mengoceh dalam bahasa Prancis begitu cepat saat aku berkata Merci atau Bon jour seperti yang suka dilakukan Hattie King. Lengan gaun biruku sudah kusam dan berwarna lebih biru ketimbang baju itu sendiri. Aku merasa tidak enak tapi tidak me- ngeluh dan menanggung kesusahanku dengan baik namun begitu kuharap Hannah mau menaruh kanji lebih banyak di celemekku dan memboleh aku makan buck wheats setiap hari. Boleh, kan? Bu- kankah aku membuat poin yang bagus. Menurut Meg thanda baca dan ejaanku memalukan dan aku pun jadi ktakutan tapi aku punya begitu banyak tugas aku tidak bisa brenti. Adieu, kukirim cinta yang melimpah untuk Papa.



"Putrimu yang menyayang,



Amy Curtis March."



"Miss March yang Terhormat:



"Aku cuma mau britahu smua di sini baek. Anak-anak sangat cerdas dan sangat cepat menangkap. Miss Meg bakal jadi pengurus rumah yang andal; ia ada minat untuk itu, dan cepat banget me- nangkap cara kerja banyak hal. Jo ngalahin smuanya karena slalu mulai lebih dulu, tetapi ia tidak pernah hati-hati, dan kita tidak pernah tahu apa yang akan ia lakukan. Dia nyuci setumpuk baju hari Senin, tapi smua diberi kanji sebelum direndam, ia melun- turkan warna biru pada baju cokelat muda sampai-sampai kukira aku bakal mati ketawa. Beth gadis kecil terbaik. Melihatnya mem- buatku mrasa terbantu karena ia slalu sigap dan bisa diandalkan. Ia suka belajar apa pun juga, dan jauh lebih maju dari usianya; ia juga nyatet pengeluaran dengan bantuanku, dan cukup baik mela- kukannya. Sjauh ini, kami cukup hemat; aku tidak membiarkan anak-anak ngopi, cuma sekali seminggu, sama dengan perintah- mu, dan menghidangkan camilan yang sehat. Amy bertahan tanpa mengeluh, make pakaiannya yang terbaik dan memakan makanan manis. Mr. Laurie seperti biasa penuh dengan lelucon, dan sering kali datang membuat rumah ramai; ia mengangkat semangat anak- anak, jadi aku biarin mereka bermain puas. Si Pak Tua mengi- rimkan banyak sekali benda-benda, dan cukup bikin lelah, tetapi maksudnya baek, dan bukan tugasku untuk berkomentar apa-apa. Rotiku sudah ngembang, jadi cukup untuk sekarang. Sampaikan salamku untuk Mr. March, kuharap sakit paru-parunya tidak da- tang lagi.



"Hormat,



Hannah Mullet."



"Kepada Kepala Perawat Bangsal II:



"Semuanya tenang di Rappahanock, para prajurit dalam kon- disi prima, departemen operasional dijalankan dengan lancar, Garda Dalam Negeri di bawah Kolonel Teddy selalu aktif, Ko- mandan Jenderal Laurence mengulas kinerja para prajurit setiap hari, Perwira Mullet menjaga ketertiban di barak, dan Mayor Lion mengambil alih tugas piket malam. Salvo penghormatan ditem- bakkan dua puluh empat kali setelah menerima kabar baik dari Washington, dan parade baju-baju pun dilaksanakan di markas be- sar. Komandan Jenderal mengirimkan salam hangat, yang diiringi salam dari



Kolonel Teddy."



"Madam yang Terhormat:



"Anak-anak berada dalam keadaan baik; Beth dan cucuku me- lapor setiap hari; Hannah adalah pelayan yang luar biasa, menjaga si cantik Meg bagaikan naga. Turut senang mendengar perkem- bangan baik yang terus berlangsung; kumohon, silakan manfaat- kan jasa Brooke, dan andalkan aku untuk dana tambahan, jika pe- ngeluaranmu melampaui perkiraanmu. Jangan biarkan kebutuhan suamimu tertunda. Puji Tuhan ia membaik.



"Sahabat dan pelayanmu yang setia,



James Laurence."

__ADS_1




__ADS_2