
''kenapa sih jerawat ini selalu menyusahkan ku saja,, kenapa??"
batin liana...
Liana terduduk lesu di pantry , rasanya gamang,, apa yg harus ia lakukan, mengingat ancaman Yudha tadi membuat hatinya dan pikirannnya berantakan,,,
" Hei kamu,,, berikan berkas ini kepada pak Danu, di lantai 9 bagian marketing,,!" titah perempuan tadi yg memanggilnya anti acne,,
Liana tak menjawab ucapan perempuan itu, dia masih sibuk dengan lamunannya,,
braakk..
perempuan itu menggebrak meja,,
"hehh, anti acne, Lo ga denger gue ngomong apa.."
" ehh, ia ia kenapa Bu?? maaf saya melamun .."
pikiran Liana begitu kusut,,, hari ini berlalu dengan sangat membingungkan,,,
***
di tempat parkiran , seorang gadis berdecak kesal menunggu sahabatnya menjemput,,,
tadi pagi Rizal berjanji untuk menjemputnya pulang,, tapi sudah hampir 30 menit ia belum juga datang,,,
Ting,,,
suara pesan masuk...
" Li, sorry aku ga bisa jemput tiba tiba ada urusan mendadak,,,
"ok.."
"euh dasar si Rizal, tau gini langsung pulang tadi"
dari kejauhan sesosok pria tampan memperhatikan nya,, seolah melihat titik terang,, senyum tersungging di bibirnya,, Aryo mengajak Liana pulang bersama,, bak gayung bersambut, akhirnya Liana setuju,,,
Selama di perjalanan mereka berbincang menggunakan bahasa Sunda,, canda tawa pun seolah meruntuhkan perasaan kacau yg Liana rasakan sebelumnya,,, sesama anak desa itu seolah bernostalgia tentang bagai mana rasanya hidup di kampung,,, apa lagi Aryo yg sudah belasan tahun hidup di Jakarta,,,
sungguh hanya kebahagian yg ada di hati Aryo saat ini,, berdua bercengkrama bersama pujaan hatinya...
" Liana jangan panggil aku bapak lagi kalo di luar jam kantor ya..! panggil Aryo aja biar akrab aja"
__ADS_1
" ga enak atuh pak ih, biar gimanapun bapak lebih tua dari aku, masa panggil nama,, apa lagi bapak atasan aku,,," sanggah Liana
" Ya manggil apa aja yg penting jangan panggil bapak aja,,"
" kalo aku panggil mas Aryo gimana? pak??
" aku bukan orang Jawa kali,, dari pada mas,, kalo aa aja gimana ? ga papa kan??"
" ya udah atuh aa aja, mulai sekarang aku panggil a Aryo ya??"
"kalo gitu aa panggil kamu neng Liana boleh ya..!"
" hahay,, neng sareng AA atuh"
mereka berdua tertawa bahagia,, lain halnya dengan Aryo yg menganggap Liana sebagai pujaan hatinya,, sebaliknya Liana merasa seperti mendapatkan seorang aa ( kakak) baru di hidupnya,,
sepertinya Liana tidak menyadari perasaan Aryo kepadanya,,
setelah perjalanan beberapa waktu, mobil Brio hitam milik aryo berhenti di depan sebuah rumah,,
tadinya Aryo mengajaknya untuk makan terlebih dahulu, tapi Liana menolak dengan alasan lelah,,
tanpa membersihkan tubuhnya dahulu, Liana langsung tumbang di kasur lepet miliknya,,
" Ya Allah, apa yg harus aku lakukan,, jika aku menolaknya, dia akan menyulitkan hidupku,, tapi jika aku menerimanya aku tak sanggup jika harus mempermainkan ikatan suci pernikahan, aku hanya ingin menikah dengan lelaki yg aku cintai dan mencintaiku""
Ting..
" gimana Liana udah di fikirkan baik baik tawaran saya???"
ternyata pesan dari Yudha,, sebenarnya ia ingin menolaknya,, tapi .
" beri saya waktu pak.."
" ok. . saya yakin kamu ga akan di rugikan dengan ini"
tanpa membalas lagi, dia teringat sebentar lagi ada kelas,,,
dia mencoba menghubungi Rizal untuk memintanya mengantar ke kampus, tapi entah apa yg terjadi hari ini seolah Rizal menghindarinya,,,
padahal uang di dompetnya sudah semakin menipis, walau hanya untuk sekedar ongkos saja,,,
Liana berdiri di jalan menunggu angkot lewat,, 5 menit 10 menit 15 menit angkot tujuannya tak kunjung datang,,,
__ADS_1
tak berapa lama mobil mewah berwarna putih mengklakson dirinya,,
tid...tid... tid...
Seorang pria membuka kaca mobilnya,,,
" Masuk lah...!"
" Pak Yudistira .." Liana menundukan kepalanya
" mau kemana? ayo aku antar..!"
ajaknya
" Ga papa pak, saya naik angkot aja.." tolak Liana dengan halus
" ga bisa, ini perintah, saya ga terima penolakan" tegasnya lagi
sungguh kalimat itu lagi, kata kata yg secara harfiah meng artikan bahwa dirinya lah yg berkuasa,,
apa pun yg dia inginkan harus dia dapatkan,, apapun caranya,,
hufth.. Liana menarik nafas panjang..
" baiklah.."
dia membuka pintu belakang mobil.
" ehh mau kemana? enak aja duduk di belakang emang gue supir, duduk depan sini..!"
" maaf pak,, "
di perjalanan tak ada canda tawa seperti halnya tadi saat ia di antar oleh Aryo, justru suasananya berbanding terbalik bagi Liana, terasa sangat mencekam ,,,
" kamu pikirkan baik baik liana, saya jamin kamu ga akan rugi menerima tawaran saya,, anggap saja kamu bekerja dengan saya, saya akan bayar kamu setimpal dengan apa yg kamu lakukan"
" tapi bagai mana dengan keluarga saya pak,, ?"
" sama halnya kamu berakting menjadi istri yg baik di depan keluarga saya, saya juga akan melakukan hal yang sama dengan kamu,"
" Saya mohon, hanya kamu yg bisa melakukannya, saya ga bisa memberikan tawaran ini kepada orang lain,,
" saya malu"
__ADS_1