
''Duhh gimana ini, bisa ga ya aku makan pake sumpit, biasanya kan pake tiga jari,sunah rosul" batinnya
"kenapa di liatin aja, makanan itu di makan bukan di liatin,,"
" ia pak,"
Yudha hanya tersenyum melihat Liana yg sedikit kesulitan menggunakan sumpit,, tapi untung nya dia gadis yg pintar dengan belajar sekali dua kali mencoba dia sudah lihai menggunakannya,,
Gadis itu merasa berpasang pasang mata menyorot tajam kearah mereka berdua entah apa yg di pikirkan mereka semua, bagi Liana ia merasa tersudut terintimidasi seolah olah mereka membully dirinya,,,
" cowo nya ganteng banget"
"ia cewenya ko gitu ya?"
"heem, ko mau ya, pake pelet kali"
sayup sayup terdengar suara orang orang yg berbisik tentang mereka,
Liana menunduk malu...
"baru makan bareng aja udah di bully, apa lagi kalau menjadi istrinya nanti,, bukan hanya di bully, mungkin di aku di racun kali, sama fans fans nya pak Yudistira" batinnya, ia bergidik ngeri membayangkan semua itu terjadi padanya,,,,
" pak,, saya mau pulang.."
dengan nada sedih Liana memohon kepada Yudha,,
" Sebentar lagi saya masih lapar"
Liana hanya mengangguk,
Jujur berada di dekat Yudha membuat reputasinya semakin buruk,, 🤦🏻♀️
" Aaaaaa,,"
tiba tiba Yuda mengarahkan sumpitnya di depan mulut Liana,,,
" buka mulutnya ! , makan aja biar mereka semakin kepanasan." bisiknya di telinga Liana,,
Liana hanya menurut..
Yudha hanya tersenyum mendengar orang orang merancau kasar lagi tentang mereka,,
Yudha menggeser tubuhnya mendekati Liana, lalu ia mengusap ngusap rambut Liana,,,
Liana ingin menepis tangan Yudha tapi ia mengurungkan niatnya melihat Yudha yg menggelengkan kepalanya pelan,,
" Gila ini orang, seneng banget ngeliat aku di bully gini,," batin Liana
wajah Liana sudah memerah seperti kepiting rebus,, bukan hanya karena ia malu terus jadi tatapan sinis orang orang,, tapi juga karena perlakuan manis dari Yudha,,,
waktu berjalan begitu lambat, jika bisa ia akan mempercepatnya.
berada di sisi seorang seperti Yudha membuat Liana merasa seperti remahan biskuit yg tiada artinya,,
detik , menit , jam pun berlalu,, malam itu berakhir dengan Yudha mengantar kembali Liana pulang,,,
__ADS_1
.....
keesokan pagi nya...
seperti biasa Rizal telah menunggunya di depan jalan,, hari ini ia akan mengantarkan Liana berangkat kerja,,
"hayu, Li.. udah siap ???"
wajah Rizal begitu berseri pagi ini senyuman selalu tersungging di bibir manisnya itu,,,
" Let's go mamen" sahut Liana ,
baru saja ia duduk manis di jok belakang motor matic milik sahabatnya itu,, ponsel Rizal berdering,, tampak raut bahagia di wajah Rizal,,
" Li sorry banget, aku ga jadi nganter kamu,, ini ada urusan yg urgent banget,, ga bisa di tinggal..
please ya jangan marah... please Li yah..!!"
" ihh kamu mah zal, ya udah deh ga papa"
"ini buat ongkos,, sorry ya ..!"
Rizal memberikan uang satu lembar pecahan 50 ribu,
lalu ia menyalakan mesin motornya,,
" ehh, ga usah Zal aku masih ada uang kok.."
tapi Rizal terlanjur pergi,,,
Liana hanya terbengong melihat uang di tangannya,,
Lama sudah Liana menunggu angkot.
tid tid,,,
Sebuah mobil berhenti tepat ti depan tubuh gadis itu,
" Hayu, angkat sareng ..!"
(ayo, berangkat bareng)
senyum manis tersungging di pipi gadis itu,
" iia pak, ehh a ,,," jawabnya singkat,,
dia memasuki mobil pria itu masih dengan senyum yg melekat di pipinya,,,
" please, Neng Liana jangan kebanyakan senyum kaya gitu,, itu terlalu manis,, aa takut nantinya aa bisa diabetes karena ngeliat senyuman kamu terus" batin Aryo,,
hanya dalam hati saja Aryo berani mengatakannya,, ia merasa belum saatnya ia mengungkapkan perasaan nya, ini terlalu cepat baginya,,
Dalam hati Liana kebaikan Aryo kepadanya mungkin atas dasar perintah Yudha, tapi terserahlah karena ia merasa senang saat berbincang dengan Aryo apa lagi Aryo pandai mencairkan suasana.
tak seperti bossnya itu yg menebar aura mencekam saat bersamanya, walaupun semalam Yudha bersikap manis padanya...
__ADS_1
Tak terasa mobil pun berhenti di parkiran Wirayudha grup,
mereka turun bersamaan.
" Untung ga ada orang, kalau ada yg liat bahaya, bisa di rundung lagi aku,," batinnya sambil melirik ke kanan dan ke kiri..
" a aku duluan,,"
Tanpa menunggu jawaban ia segera berlari meninggalkan pria yg hatinya sedang melayang terbang kelangit ketujuh, karena di panggil aa..
" padahal kalo di banding cewe lain dia masih kalah cantik, tapi buat gue dia yg paling cantik,, dasar neng Liana kesayangan aa Aryo"
Aryo masih larut dengan lamunannya,, sementara Yudha sedang menunggunya dalam risau...
Ting..
"Lo dimana? jemput gue sekarang, gue lagi males nyetir"
" Oke" balasnya
''ihh dasar baru juga gue nyampe,"
Apapun alasannya Aryo tak pernah sekalipun menolak perintah Yudha,,
semenjak pak Adit membawanya ke Jakarta, Aryo sudah menganggap Yudha seperti adiknya sendiri.
Semenjak kepulangan Yudha dari London Aryo diangkat menjadi asisten pribadi Yudha,.
bukan tanpa alasan pak Adit mengangkat Aryo, Aryo di anggap sebagai penyeimbang bagi Yudha,
Yudha memiliki sifat keras kepala, dingin, emosional, apapun yg dia mau harus ia dapatkan.
Sementara Aryo lebih kalem pandai mencairkan suasana dan berfikiran dewasa.
mungkin jika tanpa kebaikan hati pak Adit, Aryo tak mungkin berada di posisi sekarang, menjadi asisten pribadi seorang wakil direktur, mungkin ia sekarang hanya jadi orang biasa saja..
"Kenapa mukanya di tekuk gitu boss.. ?"
sindir Aryo sambil terkekeh..
"Pagi-pagi mood gue udah drop"
Yudha mengusap kasar wajahnya.
"biasa Mamah Dedeh , pagi pagi udah nyeramahin gue"
Hahaahaha Aryo tertawa renyah, menertawai bossnya itu,,,
"Hari ini cancel semua jadwal meeting gue..!"
" ga bisa gitu yud, Minggu lalu kita cancel, masa sekarang kita cancel lagi."
"Ya kalo gitu, Lo yg handle semuanya, ga pake tapi, ini perintah....''
" gue ga terima penolakan,," potong Aryo,,,
__ADS_1
" Nah itu tau"
.....